MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Evolusi Agama dari Sudut Pandang Sosiologis

diposting oleh alhada-fisip11 pada 04 February 2014
di Makalah - 0 komentar

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Evolusi adalah suatu fenomena yang muncul pada kepercayaan-kepercayaan atau agama, agar lebih adaptatif dan dapat diterima, lebih otonom dan kompleks, agar lebih dapat diterima oleh masyarakat penganutnya. Fenomena inilah yang oleh ahli disebut sebagai evolusi agama. Manusia sebagai makhluk yang mempunyai logika tentu memandang fenomena berbeda dengan kesimpulan yang dihasilkan oleh orang lain. Ketika suatu fenomena yang dianggap diluar batas kekuatan manusia muncul, maka ada yang menyebutnya sebagai tuhan, tapi adapula yang lebih cerdas yang menganggap bahwa ada sesuatu yang berkuasa atas fenomena itu.

 

Sejak berkembangnya agama pada masyarakat primitip, agama berkembang tanpa manusia merasa perlu mendifinisikan artinya, namun sejak perkembangan ilmu pengetahuan, manusia berusaha untuk mengerti hakekat agama yang sudah dianut manusia sejak kehadiran manusia dimuka bumi itu. Beberapa pendekatan akan studi tentang agama-agama yang dilakukan, mulai dari pendekatan antropologis, sosiologis, sejarah, teologis, psokologis, dan sebagainya.

 

Bila masa rasionalisme menghadirkan pemikiran filsafat alami (natural philosophy) seperti yang dipopulerkan oleh G.W.F. Hegel, studi ANTROPOLOGI AGAMA mengalami perkembangan penting setelah Charles Darwin mengemukakan teori evolusinya mengenai perkembangan biologis kehidupan mahluk dari sederhana sampai kompleks, demikian juga kemudian agama dianggap sebagai mengalami perkembangan yang sama pula. Ini kemudian dikenal sebagai teori evolusi agama yang dikaitkan dengan nama E.B. Taylor, J.G. Frazer, dan W. Robertson Smith sekitar tahun 1870-1920.

 

Tokoh-tokoh itu mencari identitas periode tertentu yang telah dijalani manusia, dengan memperhatikan karakter keyakinan yang dianut pada era yang susul-menyusul. Mereka menamakan fase-fase kehidupan beragama menurut mereka sendiri, umumnya bersifat spekulatif, teori dari sifat-sifat dominan yang hadir di dalam masing-masing. Khususnya Sir J.G. Frazier dalam bukunya The Golden Bough menyebut agama akan berkurang artinya begitu ilmu pengetahuan menggantikannya sebagai salah satu tahap dalam perkembangan pemikiran manusia.

 

Memasuki abad XX terjadi pendekatan studi agama yang berbeda dari sebelumnya, dan pertanyaan mengenai perkembangan agama berubah bentuknya. Sebagai pengganti pertanyaan mengenai evolusi tentang bagaimana agama semula berkembang, ahli sosiologi memilih untuk menanyakan fungsi apa (functionalism) yang ditunjukkan agama dalam kondisi masyarakat tertentu dimana agama itu berkembang. E.E. Evans-Pitchard menyebutnya ‘agama adalah apa yang diperbuat oleh agama itu.’ Bronislaw Malinowsky (1884-1942) mengabaikan dimensi sejarah dan memilih untuk mempelajari secara intensif peran yang dilakukan oleh agama di kepulauan Trobrian yang ditulisnya dalam bukunya berjudul Magic, Science and Religion.

 

Studi SOSIOLOGI AGAMA berkembang pesat pada awal abad XX, khususnya dengan tulisan Emile Durkheim (1858-1917) yang terkenal, yaitu ‘The Elementary Forms of the Religious Life.’ Durkheim juga memberi nilai lebih pada teori proyeksi, dan juga sama dengan Freud dipengaruhi tulisan W. Robertson Smith. Namun berbeda dengan Freud, sekalipun Durkheim menerima pendekatan evolusi atas agama, tetapi tidak menerima pandangan yang menyebutkan bahwa ide keagamaan sekedar konsep yang menyesatkan yang dihasilkan pikiran manusia. Disini Durkheim menggabungkan sebagian ide psikologi Freud dan spekulasi Frazer. Durkhem diyakinkan bahwa ada sesuatu yang nyata benar dalam agama, dan bahwa manusia tidak menipu dirinya sendiri.

 

Dalam melihat realitas yang mendasari perilaku beragama ia juga menerima sebagian penjelasan teologis, dan yang berkaitan dengan realitas yang mempengaruhi agama ia percaya itu adalah masyarakat (society) itu sendiri. Durkheim sangat terobsesi ide kemasyarakatan sama halnya dengan Freud yang terobsesi pikiran bawah sadar. Ia percaya adanya realita yang berbeda bekerja dalam kelompok-kelompok sosial yang darinya kehidupan individu dihasilkan. Agama adalah aktivitas manusia yang berbicara mengenai realitas selagi menggunakan kata-kata tentang tuhan.

 

Dalam satu segi, Durkheim menerima pandangan yang sama seperti Feuerbach bahwa manusia biasanya percaya dan bebicara mengenai Tuhan selagi berbicara mengenai kelompok sosialnya sendiri tanpa menyadarinya. Tetapi bagi Durkheim, yang tidak percaya akan adanya Tuhan yang hadir dalam diri-Nya sendiri secara independen diluar manusia, masyarakat baginya begitu penting sehingga bisa menggantikan kedudukan Tuhan. Masyarakat ada sebelum seseorang lahir dan akan tetap ada sesudah seseorang mati. Masyarakat memberikan ide dan bahasa untuk berfikir dan berbicara, masyarakat melindungi seseorang dan membuat manusia merasa berguna dalam hidupnya. Jadi, sekalipun kenyataannya manusia memproyeksikan semuanya itu kepada figur tuhan, ide-ide itu benar, dan lebih dari itu, hal itu perlu bila masyarakat ingin disatukan sebagai komunitas moral.

 

Anggapan awal kami manusia sebagai manusia yang berbudaya tentu saja akan berubah-ubah dalam beragama, baik dari segi ritualnya maupun dari keteraturan-keteraturan keagamaan lainnya. Manusia akan terus bekembang menjadi lebih komplek kebudayaannya, dari segala dimensi, termasuk agama. Apakah perubahan itu menjadi lebih buruk dari sebelumnya ataukah menjadi yang lebih baik. Apakah yang dimaksud dengan evolusi agama? Bagaimana bentuk evolusi agama? Apakah agama-agama samawai seperti Islam juga berevolusi? Bagaimana akhirnya masyarakat mempercayai satu Tuhan atau lebih, dan bagaimana hal itu berproses, dan berubah untuk tujuan tertentu adalah hal yang akan dicoba dijelaskan dalam makalah ini dengan judul “Evolusi Agama Dari Sudut Pandang Sosiologis”.

 

B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:

  1. Bagaimana teori evolusi agama menjelaskan mengenai asal-usul agama?
  2. Bagaimana teori evolusi agama menjelaskan mengenai tahap-tahap perkembangan agama?
  3. Bagaimana teori revalensi sebagai penemuan terbaru dari Andrew Lang menanggapi teori evolusi agama?

 

C.    Tujuan

Tujuan dari makalah ini yaitu untuk mengetahui:

  1. Penjelasan teori evolusi dalam yang mengkaji asal-usul agama yang berkembang di masyarakat
  2. Penjelasan teori evolusi agama yang mengkaji tahap-tahap perkembangan agama di masyarakat
  3. Penjelasan teori Revlensi dari Andrew Lang yang menentang teori evolusi agama dan menganggap bahwa agama merupakan wahyu dari tuhan

 

D.    Manfaat

Manfaat yang diharapkan oleh penulis dari penyusunan makalah ini yaitu menguatkan iman para pemeluk agama agar mereka mengetahui bahwa agama yang mereka yakini adalah benar adanya “wahyu dari Tuhan” dan bukan semata-mata buatan manusia yang berkembang dan berevolusi menurut kehendak manusia. Kemudian semoga dengan disusunnya makalah ini bisa menanamkan nilai pancasila terutama sila pertama yaitu “Ketuahanan Yang Maha Esa” yang menyakini adanya Tuhan YME dengan sepenuh hati dan dengan iman yang sebenar-benarnya.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. ASAL-USUL AGAMA

Apakah agama selalu muncul dalam komunitas masyarakat? Sosiologi akan menjawab” ya”, karena beragama adalah kecondongan manusia untuk mempercayai adanya kekuatan melebihi kekuatan manusia, dan hal itu adalah naluri alamiah manusia. Bagaimana naluri itu muncul dan menjadi sebuah agama coba dijelaskan oleh beberapa sosiolog. Seperti Dadang Kahmad yang mengemukakan teori asal-usul agama.

 

1. Teori Jiwa

Pada mulanya manusia dengan melihat hal-hal yang disekitarnya meyakini bahwa alam ini dihuni oleh materi seperti yang mereka lihat dan rasakan. Selanjutnya manusia mulai meyakini adanya jin dan roh, hingga mereka beranggap bahwa dunia ini tidak hanya dihuni zat material tapi juga oleh hal-hal yang immaterial. Mereka beranggapan bahwa roh dan jiwa itu kekal dan mempunyai kekuatan yang bisa menjaga kehidupan ataupun menghancurkannya. Akhirnya merekapun menganggapnya tuhan dan menyembahnya.

 

2. Teori Batas Akal

Akal manusia tidak bisa menerangkan seluruh gejala yang terjadi di dunia ini, sedangkan manusia terbiasa memecahkan masalah dengan akalnya, meskipun akal manusia selalu berkembang seiring dengan perkembangan teknologi, tapi tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh akal. Karena itu manusia menginginkan sesuatu yang bisa menjelaskan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh akal. Mulanya manusia memakai magic, tapi seterusnya merekapun sadar bahwa hal itu tidak bisa menjawab semuanya hingga akhirnya mereka mulai mencari agama.


3. Teori Krisis Dalam Hidup 

Ketika manusia mengalami hal-hal hebat dalam hidup yang berupa musibah tau bencana, kematian, sakit dan lainnya yang tidak bisa dicegah dengan materi baik berupa harta, merekapun mulai mencari agama sebagai upaya penenangan diri dalam situasi krisis tersebut.

 

4. Teori Sentimen Masyarakat.

Menurut teori ini agama muncul sebagai akibat getaran dari rasa emosi jiwa manusia sebagai makhluk yang bermasyarakat. Agama bukan lahir dari anggapan tentang wujud supranatural tapi sebagai kesatuan masyarakat.

 

5. Teori Kekuatan Luar Biasa.

Adalah bentuk preanimisme dalam agama, yaitu yang mempercayai bahwa fenomena-fenomena yang muncul di alam seperti hujan, angin adalah tuhan yang layak disembah.

 

6. Teori Wahyu

Bahwa agama berasal dari perintah Tuhan yang Ia wahyukan melalui utusannya, agama seperti ini dikenal dengan sebutan agama samawi.

 

B. PERKEMBANGAN AGAMA

 

1. Teori Evolusi Agama

Evolusi adalah perubahan secara berangsur-angsur dan bertahap. Sedangkan agama adalah seperangkat, perlambang dan paktek berdasarkan ide yang sakral. Yang dimaksud dengan sakral adalah yang berkaitan dengan hal-hal penuh misteri baik yang sangat mengagumkan maupun menakutkan.

 

Adapun evolusi agama dalam bahasa sederhana adalah perubahan agama secara bertahap. Menurut R.N.Bellah bahwa evolusi agama adalah proses meningkatnya diferensiasi dan kompleksitas untuk lebih beradaftasi terhadap lingkungannya, sehingga agama tersebut bisa lebih diterima dan lebih otonom daripada sebelumnya.

 

Siapakah atau apakah yang berevolusi? Bellah melanjutkan bahwa yang berevolusi adalah agama sebagai sistem simbol. Simbol ini diperlukan karena inti krilaku keagamaan tidak bisa diekspresikan, maka untuk lebih menghidupkan zat sakral dalam agama maka dibuatlah simbol.

 

Yang dimaksud dengan agama sebagai suatu sistim simbol adalah perangkat-perangkat agama yang menjadi lambang dari identitas agama. Seperti shalat dalam Islam, gereja dalam agama Kristen, api dalam agama Majusi.

 

Adapun menurut Greefitz agama sebagai sistim simbol adalah:

  1. keteraturan umum, hal ini cendrung berubah sepanjang waktu, setidak-tidaknya dalam hal tertentu ke arah yang lebih diferensiasi dan komplek dan mendalam. Seperti ketika anggapan bahwa memakai serban dalam shalat bukan lagi sebagai suruhan agama melainkan diluar agama. Ketika hal ini terjadi maka agama Islam telah berevolusi. Atau juga seperti ketika keyakinan ketabuan menikah bagi pendeta dalam agama Kristen telah runtuh, dan para penganut agama ini telah berubah keyakinan bahwa hal itu tidak dilarang agama.
  2. konsepsi-konsepsi tindakan keagamaan dari sifat pelaku keagamaan. Seperti konsep pajak yang berubah di Indonesia menjadi salah satu bagian dari zakat, atau keyakinan orang bahwa mengingat tuhan dalam arti yang umum telah bisa menggantikan kedudukan shalat. 
  3. Tapi dua teori ini belumlah implisit, karena dalam agama itu sendiri terjadi perubahan dalam anggapan siapa tuhan yang sebenarnya, seperti anggapan bahwa hujan itu adalah tuhan yang kemudian mengkat menjadi ada kekuatan yang bisa menurunkan hujan. Bukankah hal itu juga merupakan evolusi?. Mungkin hal yang seperti inilah yang dianggap oleh Bellah sebagai evolusi dalam dalam dimensi lain. Termasuk dimensi sosial-budaya.

 

2. Tahap-Tahap Evolusi

Seperti yang kita kemukakan pertama kali bahwa evolusi adalah perubahan secar bertahap, artinya agama melalui tahapan-tahapan tertentu dalam perubahannya. Bellah mengungkapkan 5 tahapan yang biasanya dilalui oleh agama dalam evolusi, hal ini ia simpulkan setelah meneliti beberapa agama di Eropa, India dan Cina. Ia pun mengakui bahwa teorinya ini adalah hal yang paling umum yang dapat dilihat.

 

Meskipun ia mengemukakan 5 tahapan evolusi yaitu fase primitf, fase arkaik, fase historis, fase pramodern dan fase modern tapi ia juga mengakui bahwa memang kecendrungan para ahli untuk membaginya kepada 4 tahap bahkan 3 tahap adalah hal yang sangat wajar, karena dalam beberpa fase tertentu hampir-hampir tidak berbeda.

 

Kerancuan pembagian ini menurut sebagaian ahli adalah karena kemiripan beberapa fase, yang paling sering digabung adalah fase pramodern dengan fase modern, kemudian fase primitif dan arkaik. Menurut Bellah bahwa fase pramodern ini sebenarnya hanyalah transisi menuju fase modern. Dengan dasar inilah kami tuliskan 4 tahapan tersebut.

 

a. Fase Primitif

Pada fase ini manusia sebagaimana fitrahnya cenderung untuk meyakini adanya kekuatan yang lebih besar dari kekuatan manusia. Baik berupa roh atau benda seperti langit, gunung dan lainnya, juga fenomena alam seperti gempa, kemarau dan lainnya. Tapi manusia primitif tidak menyembah semua hal ini karena anggapan tidak semuanya layak disembah, seperti angin yang tidak akan mereka sembah apabila mereka belum menyaksikan betapa dahsyatnya peran angin dalam kehidupan mereka.

 

Tindakan keagamaan pada fase ini adalah identifikasi dan partisipasi. Ritual mereka adalah untuk menyatukan diri dengan yang mereka sembah tanpa ada perantara, semua yang hadir ikut berparsitipasi. Masing-masing berusaha menghilangkan jarak dengan yang mereka sembah.

 

Maka dalam ritual ini mereka melalui 4 tahapan yaitu:

  • persajian(offering), meskipun tidak diketahui bahwa apakah hal itu sama dengan sesajen, kurban, ataukah malah yang dianggap persajian itu adalah persajian diri ataukah niat untuk bersatu.
  • Pengancuran (destruction), pribadi penyembah berusaha dihancurkan untuk dapat bersatu dengan tuhan.
  • Perubahan identitas (transformation), bahwa dalam keadaan menyatu dengan tuhan ia mengharapakan pribadi baru, identitas baru setelah selesainya acara.
  • Penjelmaan kembali ( returncommunion ), dengan hal ini ia akan menjadi manusia yang lebih baik dan sempurna.

 

Pada fase primitif ini organisasi keagamaan dan sosial adalah satu yang tak terpisah. Peran dalam agama juga berperan dalam sosial. Maka usia dan keturunan adalah hal yang sangat penting bagi pemimpin agama.

 

b. Fase Arkaik (kuno/purba)

Pada dasarnya masa arkai dengan primitif tidaklah jauh berbeda, hal itulah yang menjadi sebab ketidak sepakatan ahli dalam membagai masa ini kepada dua fase. banyak hal dari wujud agama merupakan warisan dari masa primitf tapi lebih sistimatis dandiv style= terperinci.

 

Gambaran khas fase ini adalah munculnya cult (peneyembahan yang tersistimatisi), peran ahli agamapun semakin signifikan. Tuhan yang mereka sembah semakin sedikit, seperti tuhan kilat dan hujan adalah satu. Demikian juga dengan fenomena dan benda lain dengan cara dan proses yang bermacam-macam.

 

Tindakan keagamaan arkaik berbentuk cult, dimana perbedaan manusia sebagai subjek cult dengan tuhan sebagai objek jauh lebih jelas daripada agama primitif. Oleh karena ini pembagian, perincian tentang komunikasi dengan tuhan sangatlah penting pada masa ini.

 

Adapun organisasi keagamaan keagamaan pada masa ini juga berfungsi sebagai organisasi sosial. Anggapan bahwa para bangsawan adalah keturunan tuhan menjadikan peran dwifungsi ahli agama ini tetap dipertahankan. Raja adalah penghubung kepada tuhan adalah kecenderungan umum fase ini.

 

Pada fase ini setiap klan dari masyarakat biasanya mempunyai cult tersendiri dan terpisah dari yang lainnya. Persaingan antara cult-cult ini dapat ditafsirkan sebagai usaha dan perjuangan untuk memperebutkan sikap baik tuhan terhadap klan atau paling tidak agar tuhan tidak berpindah ke klan lainnya.

 

c. Fase Historis

Dikatakan fase historis adalah karena masyarakatnya kurang lebih melek hurup. Hal yang paling khas dari fase ini adalah dualistik agama, yaitu pemisahan kehidupan dunia dan akhirat yang tidak dikenal pada fase sebelumnya. Dan unsur keagamaanpun berpusat tentang akhirat. Semacam syurga dan neraka telah dikenal pada tahap ini.

 

Maka tindakan keagaaman pada fase ini bertujuan untuk mencari keselamatan akhirat. Unsur berkurbanpun tetap ada tapi dengan makna baru yaitu pencarian terhadap ridho tuhan, bebeda dengan sebelumnya yang semata mengharapkan hujan, angin atau lainnya. Agama historis cenderung terpisah dari dunia, bahkan ketika dicoba untuk menggabungkannya terjadi pertentangan bahkan relatif tidak diterima.

 

d. Fase Pramodern-Modern

Karakter agama pada fase ini adalah lenyapnya pen-strukturan dunia dan akhirat, meski faham dualisme tetap ada tapi dengan makana baru bahwa kedua dunia itu tidak dapat dipisahkan secara komplit, keselamatan tidaklah dapat dicapai dengan menarik diri dari dunia. Masyarakat pada fase inipun berusaha menyeimbangkan antara keduanya.

 

Simbol agama fase ini berpusat pada hubungan langsung antar individu dan kenyataan transendental, seperti keyakinan berpakaian sopan adalah untuk keselamatan dunia dan akhirat. Maka tindakan pada fase ini meliputi segala kehidupan, tentu saja hal ini akan menjadi sebab merosotnya beberapa praktek keagamaan tertentu. Dan sebagai gantinya adalah penyembahan tuhan dalam setiap detik kehidupan. Penekanannya pada keyakinan internal seseorang dan mengabaikan tindakan atau praktek tertentu.

 

Salah satu ciri agama dalam fase modern adalah munculnya sekularisme. Sekularisme adalah faham yang menganut keduniawaian atau kebendaan, juga proses melepaskan diri dari kontrol agama. Agama dan modernisasi adalah suatu masalah yang sangat menarik dalam sosiologi. Kebanyakan dari mereka berpendapat bahwa modernisasi telah merubah pandangan manusia terhadap agama.

 

Istilah modern berarti mengacu kepada “ sekarang ini”. Sedangkan menurut Koentjoro Ningrat bahwa modernisasi adalah usaha sadar yang dilakukan oleh suatu lembaga atau negara untuk menyesuaikan diri terhadap keadaan dunia dan zamannya.

 

Begitulah agama semakin berkembang hingga timbul kecendrungan merosotnya dualisme, merosotnya nilai terhadap akhirat. Orang lebih tertarik dengan aktivitas dunia dan tidak bergantung pada ahli-ahli agama untuk mencari kebenaran. Apakah Islam sejak lahir mengikuti tahap-tahap evolusi ini?. menurut Sayyid Qutub, fase diatas atau yang lebih dikenal dengan fase evolusi tidak mesti dilalui oleh setiap agama, dan Islam adalah salah satunya.

 

Memang jikalau kita melihat ke sejarah agama Islam dan sejarah perdaban ummat Islam dan membandingkannya dengan tahapan evolusi ini, kita akan menemukan bahwa Islam sejak lahirnya bisa dikatakan pada tahap yang ke empat, bahkan tahap ke-empat inipun belum bisa menggambarkan Islam secara tepat.

 

Kenapa Islam tidak berevolusi seperti yang lainnya?. Masih menurut Sayyid Qutub bahwa hal ini adalah karena Islam adalah agama samawi. Memang bukan jawaban yang logis bagi ilmu sosiologi, tapi bagaimanapun juga memang hal itu tidak bisa dipungkiri, karena tidak mungkin Muhammad sebagai manusia biasa bisa mensistimatiskan agama Islam sesempurna ini hanya dalam beberapa tahun saja yang pada agama-agama lain hal ini berproses melalui ratusan tahun dalam setiap tahapnya.

 

EVOLUSI AGAMA DALAM PENDEKATAN LAIN

 

Kita telah menyebutkan teori evolusi menurut Bellah, kami akan mengungkapkan beberapa teori lain yang kami anggap lebih sederhana,seperti:

 

Taylor berpendapat bahwa evolusi agama mulai dari anymisme sebagai bentuk agama yang paling awal dan berubah menjadi dinamisme dan menjadi politheisme hingga menjadi monotheisme. Lain halnya dengan Mahmud Yunus yang menganggap bahwa agama lahir dari bentuk dinamisme menuju anymisme dan dari politheisme menjadi monotheisme.

 

1. Anymisme dan Dinamisme

Kebanyakan ahli agama berpendapat bahwa dinamisme lebih dahulu muncul ketimbang anymisme. Masyarakat primitif pada walnya memandang pohon, laut adalah tuhan yang layak disembah karena memberikan mudharat dan manfaat bagi kehidupan mereka. Seperti hujan yang diharapkan dan gunung merapi yang ditakuti. Merkapun menyembahnya.

 

Faham ini selanjutnya berevolusi kepada kepercayaan bahwa sebenarnya kejadian, fenomena dan benda-benda alam hanyalah kejadian dari kekuasaan sesuatu dibalik fenomena atau benda tersebut. Dengan anggapan seperti itu maka mereka mulai mneyembah roh ( dalam arti wujud non materi atau materi yang halus) atau kekuatan yang mendatangkan gempa, angin, yang menjadikan pohon berbuah dan lain sebagainya, maka dinamisme ini pun berevolusi menjadi anymisme.

 

Hilangnya kesuburan tanah, musim hujan yang menjadi musim kering adalah bukti bagi mereka bahwa tuhan itu tidak menetap dan berpindah-pindah.

 

2. Politheisme

Masyarakat primitf yang mempercayai kekuatan atau roh pada dasarnya menyembah banyak tuhan, tuhan yang berkuasa atas angin, laut, matahari, bulan dan lain sebagainya mereka percayai sebagai tuhan. Tapi tidak semuanya mereka sembah atau paling tidak seringnya mereka sauatu tuhan tidak sama dengan tuhan yang lainnya. Hal ini dikarenakan bahwa kekuatan tuhan itu tidak sama, ada yang lemah dan ada yang kuat.

 

Maka tuhan yang dalam anggapan mereka yang mempunyai kekuatan yang paling dahsyatlah yang layak disembah, dan merekapun memberikan nama sesuai dengan fungsi tuhan itu, seperti tuhan angin, tuhan kesuburan dan lainnya. Hal ini menjadikan mereka menyembah berbagai tuhan yang berbeda dengan yang lainnya. Masyarakat yang hidup dengan berburu tentu akan menyembah tuhan pohon misalnya, lain halnya yang hidup digurun tentu mereka akan lebih sering menyembah tuhan hujan.

 

Dalam poltheisme terdapat pertentangan antara satu dewa dengan yang lainnya, seperti tuhan kemarau dan tuhan hujan, antara Wishnu dan Shiwa. Juga ketika terjadi musibah besar kebingungan kepada tuhan yang manakah mereka harus meminta. Dengan melalui beberapa tahap manusia mencoba mengatasi berbagai kelemahan ini, mencoba mencari penjelasan yang lebih menyeluruh hingga tidak ada pertentangan keyakinan dalam dirinya, hingga ia pun sampai kepada kesimpulan bahwa hanya ada satu tuhan yang pantas disembah. Dengan begitu agama telah berevolusi menjadi monotheisme.

 

3. Henotheisme dan Monotheisme

Monotheisme adalah agama yang mempercayai dan menyembah satu tuhan dan menyangkal adanya tuhan yang lain yang mereka sembah. Sedangkan henotheisme adalah agama yang mempercayai dan menyembah satu tuhan meskipun tidak menyangkal adanya tuhan yang lain. Kami memandang bahwa henotheime ini adalah transisi dari polytheisme menuju monotheisme murni. Kepercayaan henotheisme seperti terdapat di Yunani.

 

Ketika suatu kepercayaan atau agama mulai mengangap bahwa ada tuhan yang layak disembah dan adapula yang tidal layak karena beberapa hal, termasuk kalah dalam bersaing dengan tuhan yang lain, atau karena tugasnya telah selesai, dan lain sebagainya. Ketika anggapan ini muncul dalam suatu agama maka agama itu berpeluang untuk menjadi monotheisme murni.

 

Agama wahyu adalah agama yang tidak berevolusi dengan tahapan seperti ini, karena sejak diketahui oleh manusia agama itu telah sempurna. Islam adalah contoh paling sempurna agama wahyu monotheis dalam segala dimensinya.

 

Tapi beberapa agama samawi juga berubah menjadi polytheisme, atau oleh penganutnya masih dianggap sebagai monotheisme tapi dengan konsep yang sangat tidak jelas dan rancu. Contoh yang paling tepat adalah agama Kristen yang mengakui satu tuhan tapi menyembah tiga tuhan yang mereka anggap sebagai kesatuan (trinitas).

 

Hal senada juga diutarakan oleh Dadang Kahmad, ia membagi evolusi agama kepada tiga tingkatan, yaitu: Yang paling rendah adalah mempercayai bahwa ada makhluk halus yang menempati suatu tempat di sekitar manusia, makhluk ini mampu berbuat diluar batas kemampuan manusia, kepercayaan seperti ini sering disebut dengan animisme.

 

Selanjutnya adalah, ketika manusia mengalami gejala-gejala di dunia, ia pun menganggap bahwa gejala itulah tuhannya, tapi kemudian ia mulai berubah keyakinan bahwa gejala itu hanyalah perwujudan dari tuhan yang sebenarnya.

 

Tingkatan tertinggi ditandai dengan munculnya penyusunan tingkatan dalam masyarakat juga negara, hingga hal itu berimbas kepada pengkategorian tuhan, dan mebaginya kepada beberapa tigkatan, hinga nantinya mereka sadar bahwa ternyata tuhan yang lain adalah perwujudan daru satu tuhan sejati.

 

C. Teori Revelansi dari Andrew Lang

Teori ini menyatakan bahwa kelakuan keagamaan pada manusia itu terjadi karena adanya wahyu dari Tuhan. Teori ini disebut teori Wahyu Tuhan. Bentuk kepercayaan seperti ini menurut Andrew Lang, merupakan bentuk kepercayaan yang sudah tua usianya, bahkan merupakan bentuk agama tertua dalam perjalanan sejarah agama- agama.

 

Andrew Lang dalam buku 'The Making of Religion' (1989) membuktikan dari hasil penelitiannya bahwa teori evolusi agama tidak cocok dengan apa yang sebenarnya telah terjadi dalam sejarah agama. Dalambukunya tersebut, dia mengemukakan bahwa:

 

"Teori evolusi agama sedang dirumuskan kembali dengan anggapan bahwa Monotheisme telah terjadi pada bayang-bayang masa pra-sejarah. Dipelopori oleh Pastor William Schmidt dari Wina, para anthropolog telah memperlihatkan bahwa ratusan agama suku bangsa yang terpencil sampai pada masa kini tidaklah primitif dalam arti agama asali yang belum berkembang. Bangsa-bangsa ini mempunyai ingatan tentang "Sang Hiang Tunggal", Sang Pencipta Allah Bapa yang lemah lembut, Allah ini tidak lagi dipuja, sebab tidak ditakuti ... Dengan demikian kita melihat bahwa evolusi agama yang mulai dari Animatisme primitif, tidak lagi dapat diterima sebagai axioma (kenyataan), dan bahwa beberapa antropolog percaya bahwa Monotheisme mungkin saja lebih primitif daripada Animisme."


Hasil penelitian dari Andrew Lang tersebut didukung juga oleh hasil penelitian lebih lanjut dari antropolog modern yaitu Sir James Frazer. Ia mengemukakan adanya tiga masalah yang dihadapi oleh agama primitip, yaitu

(i) hal-hal gaib/sihir/magi (magic) dan hubungannya dengan agama dan pengetahuan;

(ii) totemisme (penghormatan patung) dan aspek sosiologis keyakinan kuno; dan

(iii) kultus kesuburan dan tanam-tanaman.

 

Dalam buku 'The Golden Bough,' Frazer menunjukkan dengan jelas bahwa animisme bukan satu-satunya keyakinan pada budaya primitip. Orang primitip berusaha untuk menguasai alam untuk tujuan praktis, ini dilakukannya secara langsung melalui upacara dan mantra, menguasai angin dan iklim, dan binatang dan panen agar mengkuti kemauannya. Baru setelah usahanya menguasai alam ini mengalami kesulitan barulah manusia mencari usaha meminta bantuan roh-roh yang lebih tinggi seperti setan, roh nenek-moyang atau dewa-dewi. Disinilah Frazier membedakan antara kepercayaan Ilmu Gaib (Magic, yaitu keyakinan bahwa manusia dapat menguasai alam) dan Agama (Religion, yaitu pengakuan akan keterbatasan manusia dan pencarian kuasa yang lebih tinggi darinya sejalan perkembangan pengetahuan).

 

Dari banyak pengamat antropologi agama, ditemukan dalam semua agama primitip adanya keyakinan akan kekuatan (power/force) supranatural yang tidak berpribadi yang menggerakkan semua hal yang ada disekitar kehidupan orang-orang dan juga dalam realita yang suci. Mana inilah dan bukan animisme yang merupakan esensi ilmu gaib agama pra-animisme. Kepercayaan akan Mana yang juga sering disebut sebagai dinamisme (dynamism) yang berasal dari istilah Melanesia dan secara umum kemudian digunakan oleh para ahli antropologi.

 

Keberadaan Mana jelas diakui oleh semua ahli yang umumnya sepakat untuk mempercayai bahwa Mana adalah kekuatan yang tidak berpribadi (impersonal power) . Emile Durkheim dalam penelitiannya akan suku-suku Indian di Amerika mengemukakan bahwa umumnya suku-suku itu mempercayai adanya 'kekuatan unggul' (pre-eminent power) yang bisa dimanfaatkan, karenanya banyak yang kemudian menganggapnya sebagai 'semacam dewa yang berkuasa' sehingga banyak yang menyebutnya sebagai 'roh besar' (great spirit), tetapi dari penelitian suku-suku itu sendiri ternyata bahwa pernyataan terakhir mengenai roh besar itu tidak didukung kenyataan.

 

Sementara itu, pakar- pakar agama Islam berpendapat bahwa benih agama muncul dari penemuan manusia terhadap kebenaran, keindahan, dan kebaikan.

 

Manusia pertama, yang diperintahkan oleh Allah untuk turun ke bumi , diberi pesan agar mengikuti petunjuk-Nya, jika petunjuk tersebut sampai kepadanya (QS 2:38). Petunjuk pertama yang melahirkan agama, menurut mereka, adalah ketika Adam ­­(dalam perjalanannya di bumi ini) menemukan ketiga hal yang disebutkan di atas. Sebagai ilustrasi , dapat diduga bahwa Adam menemukankeindahan pada alam raya, pada bintang yang gemerlapan, kembang yang mekar dan sebagainya. Dan ditemukan kebaikan pada angin sepoi yang menyegarkan di saat ia merasa gerah kepanasan atau pada air yang sejuk di kala ia sedang kehausan. Kemudian, ditemukannya kebenaran dalam ciptaan Tuhan yang terbentang di alam raya dan di dalam dirinya sendiri. Gabungan ketiga hal ini melahirkan kesucian. Sang manusia memiliki naluri ingin tahu, berusaha untuk mendapatkan apakah yang paling indah,benar dan baik ? jiwa dan akalnya mengantarkannya bertemu dengan yang Mahasuci dan ketika itu ia berusaha untuk berhubungan dengan-Nya, bahkan berusaha untuk mencontoh sifat- sifat-Nya. Dari sinilah agama lahir, bahkan dari sini pula dilukiskan proses beragama sebagai “ upaya manusia untuk mencontoh sifat- sifat yang Mahasuci”. Dalam hadits Nabi saw . diperintahkan untuk itu, yaitu “ Takhallaqu bi Akhlaqillah” (berakhlaklah kalian dengan Akhlak Allah).

 

Menurut ajaran islam, pada dasarnya manusia itu mula-mula dalam keadaan satu dan menyembah kepada Tuhan yang satu, yang kepercayaan yang dibawa oleh para Nabi. Nabi Adam nenek moyang  manusia pertama yang mula-mula diberi dan ditugaskan mengajarkan ketauhidan kepada anak cucunya, kemudian setelah wafat maka umatnya kehilangan pemimpin dan mulai ada penyimpangan dan ada kekacau-balauan umat tersebut.  Kemudian datanglah Nabi Idris dan Nuh u. yang memimpin manusia setelah kucar-kacir yaitu meneruskan ajaran-ajaran dan tuntunan yang dibawa oleh Nabi Adam u.

 

Setelah Nabi Nuh wafat manusia kehilangan lagi pemimpinnya dan kacaulah kembali, sampai datangnya utusan Allah yang bernama Nabi Ibrahim u. Pendapat ahli-ahli Islam yang menyatakan bahwa asal-usul manusia menyembah Tuhan yang satu sesuai dengan Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 213 yang artinya :

 

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”

 

Jadi dengan ayat tersebut mengertilah kita, bahwa manusia itu pada mulanya semua dalam satu agama dan kepercayaan yaitu semua mempercayai Allah atau bersatu dalam ketauhidannya. Adapun waktunya boleh jadi ketika manusia masih dalam alam arwah, atau mungkin ketika umat masih berada di zaman antara Nabi Adam u. dan Nabi Idris u. Ketika itu seluruh umat manusia adalah bersatu dalam keTuhanan.

 

 

 

BAB III

PENUTUP 

 

A. Kesimpulan

Dar penjelasan diatas dapat kita ketahui bahwa teori-teori terdahulu menjelaskan bahwa agama merupakan bentukan dari masyarakat yang berevolusi seiring dengfan perkembangan masyarakat. Mulai dari Dinamisme yaitu kepercayaan terhadap benda-benda di sekitar yang diyakini memiliki kekuatan ghaib, kemudian berkembang menjadi dinamisme yaitu kepercayaan terhadap mahluk halus dan roh, lalu berkembang menjadi Politeisme yang mempercayai bahwa dunia ini dikuasai oleh banyak dewa, selanjutnya berkembang lagi menjadi Pantheisme yang mempercayai bahwa segalanya (alam semesta) adalah Tuhan, dan kemudian berkembang lagi menjadi Monisme yang merupakan aliran metafisika yang menganggap bahwa struktur kenyataan bersifat tunggal dan Tuhan melebur menjadi satu dalam dunia, dan terakhir berkembang lagi menjadi Monoteisme yang menyakini bahwa Tuhan itu satu.

 

Namun saat ini di dunia ilmu pengetahuan telah ditemukan bukti-bukti terbaru bahwa agama itu tidak berevolusi, sejak zaman dahulu pada masyarakat primitif sekalipun sudah dikenal kepercayaan Monotheisme yang menganggap bahwa Tuhan itu satu. Penemuan dari Andrew Lang ini telah mematahkan teori bahwa agama itu berevolusi dan berkembang mengikuti perkembangan kebudayaan masyarakat. Penemuan dari Andrew Lang ini telah membuktikan bahwa agama itu merupakan wahyu dari Tuhan dan bukan merupakan bentukan dari masyarakat yang telah dilontarkan oleh teori-teori terdahulu.

 

B. Saran

Dari penjelasan diatas, penulis menyarankan kepada pembaca agar terus mengembangka penelitian-penelitian untuk melanjutkan dan memperbaiki teori dari Andrew Lang dengan menemukan bukti-bukti lain yang lebih otentik bahwa agama itu tidak berevolusi, namun agama merupakan wahyu Tuhan yang kebenarannya tidak diragukan lagi.

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

  • Depdikbud, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
  • Dadang Kahmad, 2000. Sosiologi Agama, Bandung: Remaja Rosda Karya.
  • Elizabeth.K.nottingham. 2000, Agama Dan Masyarakat, Jakarta: Raja Grapindo.
  • Judistira.K.Garna, 1997. Antropologi Agama, Bandung: Pustaka Utama.
  • Koentjoro Ningrat, 1976. Kebudayaan Mentalitik dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia.
  • Nurcholish Majid, 1998. Islam Kemodernan Dan keindonesiaan, Bandung: Mizan.
  • Roland Robertson, tim Penerjemah, 1998. Agama Dalam Analisa Dan Interprestasi Sosial, Jakarta: Rajawali Press.
  • Thomas,F,Odea, tim penerjmah, 1992. Sosiologi Agama, Jakarta: Rajawali Press.
  • Zakiyah Drajat, 1996. Perbandingan Agama, Jakarta: Bumi Aksara, Jakarta.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :