MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Bentuk-bentuk Sekularisme di Indonesia

diposting oleh alhada-fisip11 pada 04 February 2014
di Esay - 1 komentar

Sebelum menjelaskan tentang contoh-contoh sekularisme di Indonesia, saya akan menjelaskan mengenai konsep dari sekularisme terlebih dahulu. Sekularisme secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan atau negara harus berdiri terpisah dari agama. Jadi Sekularisme adalah pemikiran yang memisahkan antara agama dengan kehidupan duniawi. Menurut pemikiran ini, agama dianggap hanya sebagai urusan ibadah saja, terkait dengan bagaimana beribadah kepada sang Pencipta. Sementara untuk urusan kehidupan duniawi, agama tidak boleh ikut campur. Pendukung sekularisme menyatakan bahwa meningkatnya pengaruh sekularisme dan menurunnya pengaruh agama di dalam negara tersekularisasi adalah hasil yang tak terelakan dari “pencerahan” yang karenanya orang-orang mulai beralih kepada ilmu pengetahuan dan rasionalisme dan menjauh dari agama dan takhyul. Sementara penentang sekularisme melihat pandangan diatas sebagai arrogan, mereka menganggap bahwa pemerintahan yang sekular menciptakan lebih banyak masalah dari pada menyelesaikannya, dan bahwa pemerintahan dengan etos keagamaan adalah lebih baik.

 

Sekularisme di Indonesia ibarat gurita yang kaki-kakinya menjerat erat semua sisi kehidupan. Hampir tidak ada satu pun sendi kehidupan yang terlepas dari jeratan sekularisme, mulai dari sisi-sisi kehidupan pribadi sampai kehidupan bermasyarakat dan bernegara, semua terwarnai oleh ajaran sekuler. Berikut beberapa contoh dari kenyataan sekulerisme di Indonesia:

 

1.      Tidak Perduli Dengan Urusan Duniawi

Contohnya seperti orang-orang beragama yang tidak mau memberi sedekah untuk pembangunan jalan raya atau rumah sakit (sebagai fasilitas umum) karena dianggap hal itu merupakan urusan negara, bukan urusan agama, sehingga mereka hanya mau bersedekah untuk hal-hal yang berbau agama seperti pembangunan masjid, pembangunan pondok pesantren dan hal-hal yang berbau agama lainnya termasuk ritual keagamaan lainnya. Selain itu, orang yang tidak peduli dengan ilmu ekonomi atau tidak mau menganalisis perkembangan ekonomi umatnya karena dianggap masalah duniawi, hal tersebut sebenarnya merupakan bentuk sekulerisme dikalangan umat beragama sendiri. Intinya dalam kehidupan sehari-hari masih banyak yang menganggap beda (memisahkan) antara perintah Allah dan  perintah dari negara.

 

2.      HAM Sebagai dasar Hukum

Sebagaimana yang telah kita ketahui dan nyata di tanah air kita ini, terlihat dengan jelas bahwa hukum atau Undang-Undang di Indonesia tidak berdasarkan agama islam lagi, bahkan hampir seluruhnya hukum di Indonesia bersekularisme dan membatasi hukum yang berdasarkan Kitab Suci Alquran. Misalkan saja hukum qishas dalam Islam dianggap sangat kejam, tidak memenuhi nilai-nilai Islam dan penuh dengan pembalasan. Ini tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusian, maka hukum Islam dianggap salah karena menyalahi hak seorang manusia. Tidak ada prisip moral diajarkan melainkan sebuah kejahatan. Hukuman syariah Islam yang dijalankan oleh Provinsi NAD dimana pemerintah provinsinya memberlakukan hukum cambuk dirasa tidak manusiawi oleh pengamat HAM di Ibu kota.

 

3.      Kondisi Ekonomi

Kapitalisme sebagai sistem ekonomi juga merupakan anak kandung dari sekularisme. Prinsip-prinsip yang diajarkannya seperti kebebasan individu, persaingan bebas, mekanisme pasar, dan sebagainya ternyata telah menghancurkan dunia. Kalaupun ada yang untung, itu hanya dinikmati oleh mereka yang kuat. Sedangkan mayoritas manusia yang lemah, harus rela menderita dalam kemiskinan, keterbelakangan, dan penderitaan akibat kapitalisme. Hal ini bisa dibuktikan, baik di Indonesia, AS maupun di belahan bumi lainnya. Indonesia yang sebenarnya secara resmi menganut sistem ekonomi pancasila (demokrasi ekonomi) namun pada kenyataannya hal itu cuma sekedar dijadikan hiasan yang tertulis di undang-undang tanpa diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Hal tersebut dapat kita lihat dengan jelas bahwa kehidupan ekonomi di indonesia lebih condong kepada ekonomi kapitalis dimana pemilik modal lah yang dapat menguasai pasar, sementara rakyat kecil tetap hidup menderita dalam belenggu kemiskinan.

 

4.      Budaya Sekularisme

Mungkin tidak aneh lagi, bayangan sekulerisme bagaikan sebuah kebutuhan trend anak muda dewasa ini, harus sesuai dengan perkembangan zaman. Kita disajikan dengan gaya hidup ala barat, jauh dari nilai-nilai budaya Indonesia apalagi mengikuti syariat Islam. Program TV, Media, Internet sebagai wadah untuk mempromosikan pemikiran yang mereka bawa kepada masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia sudah disuguhkan melalui media, segala bentuk budaya barat, mulai dari remaja, dewasa dan orangtua. Mereka telah mengatur sendiri sesuai level yang akan mereka pengaruhi, jadi tidak aneh lagi, kalau seorang wanita memakai celana pendek, karena sesuai dengan trendnya bukan sesuai dengan Syariat lagi.

 

5.      Pendidikan

Manajemen pendidikan kita telah dirasuki oleh pengaruh sekuler, terbukti dengan bahan Filsafat lebih wajib dipelajari dibanding Tauhid. Referensi Keyakinan lebih dikuasai oleh pemikiran para  filsuf dibanding dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kisah pengunjingan yang dilakukan di UIN Bandung menjadi bukti ketajaman gerakan yang dilakukan untuk menanamkan pada mahasiswa tentang pemikiran mereka. Dunia Intelektual sangat berperan dalam masyarakat, karena itu perlu untuk menghancurkan pondasi dengan memasukkan studi-studi sekuler dalam label pendidikan Nasional di Indonesia. Kurikulum pendidikan di Indonesia pun sudah sangat jelas memisahkan antara ilmu agama (pendidikan agama) dan ilmu umum (pendidikan sains), banyak tenaga pengajar (guru) ilmu umum yang tidak memperkenankan muritnya mengkait-kaitkan sains dengan ajaran agama, hal tersebut terbukti dari tidak diperbolehkannya menulis suatu artikel ilmiah yang bersumber (berreferensi) dari kitab suci agama.

 

6.      Media Massa

Siapa saja yang mengamati media massa Indonesia akan dengan mudah menyimpulkan bahwa ia berada dalam genggman sekularisme. Itu ditandai oleh kebebasan yang tanpa batas dalam menyatakan pendapat. Dengan dalih kebebasan berekspresi  atau menyatakan pendapat, semua pemikir-pemikir sesat seperti JIL, kaum sekuler dan lain-lainnya bebas berbicara apa saja. Dan lebih parah lagi, sebagian besar yang disesatkan oleh media massa tersebut adalah umat Islam. Tidak jarang kita dapati di koran-koran nasional kita, tulisan tentang kecaman terhadap penerapan syari’at Islam, dukungan terhadap pornografi dan porno aksi, pengolok-olokan terhadap sebagian hukum Islam dan sebagainya.

 

Media massa kita tidak mengenal batas-batas syari’at,  baik dalam pemikiran maupun dalam akhlak. Tidak sedikit pemikiran-pemikirannya yang menyimpang dari aqidah Islam bahkan telah keluar dari Islam, nampang di televisi atau muncul di koran-koran dan majalah. Penyimpangan dari sisi akhlak juga terlihat sangat jelas. Wanita-wanita yang mengumbar aurat semakin membanjiri pertelevisian dan media massa kita. Bahkan majalah paling porno sedunia telah mengantongi izin terbit dari pemerintah. Padahal para ulama dan masyarakat telah lantang berteriak menolaknya. Sedang stasiun-stasiun televisi swasta berlomba-lomba menampilkan para penyanyi wanita dan artis-artis erotis dalam rangka menyedot iklan dan untungan materi.

 

7.      Memelintir Ayat-ayat Al-Quran

Banyak ayat AlQuran yang dinilai sempit oleh banyak pemikir liberal. Seperti ayat Al-Quran yang mengatur tentang perkawinan seperti pada QS An-Nisaa : 4 disalah artikan sebagai petunjuk untuk melakukan poligami. Padahal ayat tersebut merupakan salah satu bukti bahwa islam memuliakan wanita. Bahwa jika seseorang tidak dapat berperilaku adil pada wanita yang akan dinikahinya disarankan untuk hanya menikai satu wanita. Kemudian islam sudah dengan jelas memisahkan antara peran wanita dan pria terutama ketika sudah berumah tangga, namun hal tersebut ditentang oleh kaum feminisme yang menganggap agama mendiskriminasi kaum wanita sehingga ajaran agama dinilai tidak adil dan harus dipisahkan dengan kehidupan duniawi agar keadilan dan kesamaan hak antara pria dan wanita dapat ditegakkan.

 

8. Hubungan antara Laki-laki dan Perempuan

Hubungan antara laki-laki dan perempuan sebelum menikah (pacaran) saat ini sudah merupakan hal yang biasa dan lumrah dilakukan. Bahkan mereka hampir menganggap hal itu wajib dilakukan, karena untuk melihat apakah comfortable atau tidak  pasangannya. Mereka sangat khawatir setelah menikah akan terjadi ketidakcocokan bidang seks diantara mereka. Bahkan setelah menikah mereka masih saling menanyakan di antara teman mereka apakah mereka cukup puas dalam bidang seks dengan pasangannya. Mereka tidak memperdulikan sama sekali ajaran agama yang mengharamkan pacaran apalagi sampai melakukan hubungan seks bebas. Menurut mereka campur tangan ajaran agama hanya menghalangi mereka untuk mendapatkan pasangan hidup yang comfortable dan juga menghalangi mereka untuk mendapatkan kesengangan dimasa mudanya. Untuk itu mereka benar-benar tidak perduli akan ajaran agama dan memisahkannya dengan kehidupan “gaul” anak muda jaman sekarang yang menganggap pacaran dan melakukan hubungan seks bebas merupakan suatu hal yang wajar dilakukan.

 

Dari penjelasan diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa sekularisme adalah satu paham yang memisahkan antara urusan agama dan kehidupan dunia seperti politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Dan paham sekularisme tersebut sudah banyak kita jumpai pada sendi-sendi kehidupan di Indonesia bahkan tidak menutup kemungkinan sering kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari baik secara sadar maupun tidak sadar.

1 Komentar

afdhal ilahi

pada : 09 February 2015


"ok ni,, visit back"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :