MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Teori Konflik Menurut George Simmel

diposting oleh alhada-fisip11 pada 04 November 2013
di Pengetahuan Akademik - 0 komentar

Jelaskan asumsi-asumsi teori konflik sebagai dikemukakan oleh George Simmel, dan gunakan teori tersebut untuk menganalisis fenomena konflik di masyarakat Indonesia akhir-akhir ini, serta berikan contohnya?

 

Menurut George Simmel, dalam perubahan sosial yang terjadi di masyarakat di dalamnya selalu mencangkup yang namannya harmoni dan konflik, penarikan dan penolakan, cinta dan kebencian, dsb. Pendek kata Simmel melihat hubungan manusia selalu ditandai oleh adanya ambivalensi atau sikap mendua. Simmel tidak pernah memimpikan suatu masyarakat yang tanpa mengalami friksi terutama antar individu dan masyarakat. Bagi Simmel, konflik merupakan suatu yang essensial dari kehidupan sosial sebagai suatu hal yang tidak dapat dihilangkan di dalam komponen kehidupan sosial. Menurutnya adalah naif jika konflik dipandang sebagai suatu yang negatif dan konsensus dipandang sebagai suatu yang positif. Masyarakat yang baik bukanlah masyarakat yang bebas dari konflik. Perdamaian dan permusuhan, konflik dan ketertiban sebenarnya bersifat korelatif, keduanya sama-sama memperteguh dan juga menghancurkan bagian-bagian dari adat istiadat yang ada sebagai dialektika abadi dari kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, adalah kesalahan sosiologis apabila memisahkan antara keteraturan dan ketidak teraturan misalkan konflik dan konsensus, sebab keduanya bukanlah realitas yang berbeda melainkan hanya beda dalam aspek formalnya belaka dari suatu realitas yang sama.

 

Contoh nyata dari realitas sosial yang dapat dijelaskan oleh teori konflik dari George Simmel yaitu konflik yang terjadi di desa saya yaitu di Desa Ringinanyar, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Ketika ada pemilihan calon kepala desa, terdapat konflik antara masyarakat pemilih calon kepala desa “A” dan calon kepala desa “B”. Masyarakat dalam satu RT yang dahulunya hidup rukun dalam sebuah konsensus yang harmonis karena beda pilihan kini menjadi pecah dan timbul konflik, konflik tersebut tidak hanya konflik secara sembunyi-sembunyi (konflik batin) melainkan secara terang-terangan mereka saling menghina dan mengolok sehingga antar warga satu RT pecah “Satru” dan timbullah konflik. Konflik ini pun terjadi di lingkungan pondok pesantren yang ada di desa tersebut, salah satu pondok pesan tren pecah menjadi dua hanya gara-gara masalah perbedaan calon kepala desa yang hendak di pilih. Dalam keadaan konflik, timbullah suatu konsensus diantatar mereka yang memiliki satu pilihan calon kepala desa yang sama. Konsessus yang dialami oleh warga RT terwujud dari rapat-rapat (pertemuan) yang mereka lakukan setiap malam untuk menyususn strategi agar calon kepala desa pilihannya bisa menang dan terpilih menjadi kepala desa. Sementara itu, di pihak pondok pesantren konsensus tersebut terwujud dari didirikannya pondok pesantren baru (pecahan dari pondok pesantren lama) yang sepandangan di salah satu musholla dan mereka mengokohkan kegiatannya agar kualitas pondok pesantrennya tidak kalah dengan pondok pesantren yang lama.

 

Dari contoh kasus di atas dapat kita ketahui bahwa dalam sebuah konflik terdapat pula konsensus sebab keduanya merupakan dualisme dalam masyarakat yang tidak dapat dipisahkan. Dan dari konflik itu lah terjadi sebuah perubahan sosial di desa tersebut yang pada kenyataanya memiliki fungsi semakin bersemangatnya masing-masing kelompok untuk meningkatkan kualitasnya agar tidak kalah dengan kelompok saingannya.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :