MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Teori Emile Durkheim Tentang Agama dan Bunuh Diri

diposting oleh alhada-fisip11 pada 04 November 2013
di Pengetahuan Akademik - 0 komentar

Jelaskan secara rinci Teori Emile Durkheim tentang Collective Consciusness, dalam hubungannya dengan teori Agama dan Teori Bunuh Diri?

 

Collective Consciusness atau yang disebut kesadaran kolektif merupakan sebuah konsensus masyarakat yang mengatur hubungan sosial diantara masyarakat yang bersangkutan. Kesadaran kolektif ini merupakan bentuk tertingi dari kehidupan psikis/kejiwaan dan merupakan suatu “kesadaran dari kesadaran” yang berada di luar dan di atas individu-individu dan dengan kesadaran yang demikian itu maka masyarakat merupakan suatu yang lebih baik dari pada individu.

 

Jika dikaitkan dengan teori bunuh diri, menurut Emile Durkheim kecenderungan melakukan bunuh diri seseorang itu dipengaruhi oleh derajad integrasi sosialnya. Kuatnya integrasi sosial seseorang dalam suatu masyarakat akan mengurangi kecenderungan orang untuk melakukan bunuh diri. Sementara itu, derajad integritas sosial tersebut di dalam kerangka sosiologi Emile Durkheim sebenarnya tergantung dari kesadaran kolektif yang ada di dalam kesatuan masyarakat tersebut sebagai jiwa kelompok yang mempengaruhi kehidupan individu-individu anggota masyarakat dihayati sepenuhnya. Dengan kata lain, kuatnya kesadaran kolektif sebagai jiwa kelompok di dalam masyarakat akan semakin memperkokoh integrasi sosialnya.

 

Secara rinci teori ini didukung dari hasil penelitian yang dialkukan oleh Durkheim terhadap tingkat bunuh diri yang dilakukan oleh penganut agama Katolik dan Protestan. Penganut agama Protestan memperoleh kebebasan yang jauh lebih besar untuk mencari sendiri hakekat ajaran-ajaran kitab suci, sedangkan dalam ajaran Katolik tafsir agama lebih ditentukan oleh para Pater (pemuka-pemuka gereja), sementara itu ajaran Protestan menolak ajaran-ajaran tradisional sebagaimana ditafsirkan oleh pemuka-pemuka gereja tersebut. Akibatnya kepercayaan bersama dari orang-orang protestan menjadi berkurang sehingga timbul suatu keadan di mana penganut ajaran Protestan tidak lagi menganut ajaran-ajaran/tafsir yang sama, sehingga sekarang ini terdapat banyak gereja-gereja protestan (sekte-sekte). Dengan kata lain terdapat perbedaan derajad integrasi sosial diantara penganut agama Protestan dan Katolik. Dan terbukti bahwa integrasi sosial yang rendah dari penganut ajaran Protestan tersebut menyebabkan angka bunuh diri dari penganut ajaran agama Protestan lebih besar dibandingkan dengan penganut ajaran agama Katolik.   Kemudian Durkheim juga melihat rendahnya angka bunuh diri dikalangan penganut agama Yahudi karena tingginya derajad integritas diantara penganut ajaran agama tersebut. Tingginya derajad integritas tersebut dikarenakan penganut Yahudi merupakan golongan miniritas di Jerman (yang dijadikan lapangan penyelidikannya) dan sebagai golongan minoritas, mereka terintegrasi dengan sangat kokoh.

 

Penelitian ini juga dilakukan dikalangan keluarga dan mendapatkan hasil bahwa angka bunuh diri seorang yang sudah menikah (berkeluarga) lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak berkeluarga. Hal tersebut dikarenakan orang yang sudah berkeluarga akan lebih terintegrasi dengan keluarganya dibandingkan yang tidak berkeluarga. Kemudian penelitian ini dilanjutkan dikalangan kesatuan polik dan mendapatkan hasil bahwa golongan militer memiliki angka bunuh diri yang lebih rendah dibandingkan golongan sipil dalam keadaan perang dan begitu sebaliknya, dalam keadaan damai golongan militer memiliki angka bunuh diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan golongan sipil. Hal tersebut dikarenakan dalam keadaan perang golongan militer akan lebih terintegrasi dengan baik (disiplin yang keras) dibandingkan dalam keadaan damai yang cenderung menurunkan disiplinnya sehingga integrasinya menjadi lemah. Sementara itu dalam keadaan damai derajad integrasi golongan sipil lebih kuat dibandingkan dengan dalam keadaan perang.

 

Jika dikaitkan dengan Teori Agama, menurut Emile Durkheim asal mula agama berasal dari masyarakat itu sendiri. Masyarakatlah yang secara kolektif mengkonstruksikan hal-hal yang mereka anggap suci (sakral) dan yang mereka anggap duniawiah. Anggapannya tersebut didukung dari hasil penelitian yang ia lakukan terhadap masyarakat di pedalaman Australia. Masyarakat tersebut secara kolektif menganggap bahwa sebuah benda yang dinamakan “Totem” itu sebagai benda yang suci dan diangap sebagai Tuhan sehingga mereka tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan yang berlaku karena mereka merasa diawasi oleh Totem tersebut. Totem yang mereka anggap suci tersebut tidak lain adalah sebuah simbol belaka yaitu simbol dari Tuhan yang mereka konstruksikan sendiri.

 

Durkheim mengatakan ada dua hal paling pokok dalam agama, yaitu apa yang disebut sebagai kepercayaan dan apa yang disebut sebagai ritus/upacara-upacara, dan ke-2 hal tersebut tidak bisa dipisahkan. Kepercayaan agama merupakan kepercayaan kepada hal-hal yang dianggap suci/sakral, sehingga orang bertingkah laku tertentu terhadap hal-hal yang dilakukan di dalam hubungannya dengan hal-hal tersebut.

 

Agama dianggap sebagai sarana untuk memperkuat kesadaran kolektif diantara masyarakat yang diwujudkan melalui upacara-upacara/ritus-ritusnya. Upacara-upacara keagamann tersebut dianggap dapat memperkuat kesadaran kolektif diantara para pemeluknya dan setelah selesai melakukan upacara keagamann tersebut, kesadaran kolektif itu dibawa dalam kehidupannya sehari-hari dan lama kelamaan akan luntur dan akan diperkuat lagi dengan mengikuti upacara keagamaan lagi.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :