MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Perbandingan Teori Antonio Gramsci dengan Teori Paulo Freire Tentang Stratifikasi Sosial

diposting oleh alhada-fisip11 pada 02 November 2013
di Pengetahuan Akademik - 0 komentar

            Menurut Antonio Gramschi stratifikasi sosial bisa terbentuk di dalam suatu masyarakat apabila ada seseorang/sekelompok orang yang bisa menghegemoni seseorang/kelompok orang lainnya untuk bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh kelompok tersebut. Konsep hegemoni di sini yaitu suatu pengaruh (bujukan/rayuan) yang dilakukan oleh seseorang/kelompok orang untuk mempengaruhi seseorang/kelompok orang yang lain secara halus agar bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang tersebut. Pengaruh yang diberikan disini dilakukan denan cara seolah orang yang dipengaruhi tersebut tidak merasa bahwa sedang dipengaruhi, caranya dengan menumbuhkan suatu kesadaran palsu. Misalkan saja sebuah perusahaan alat kesehatan pelancar peredaran darah, mereka mempengaruhi masyarakat dengan cara memberikan pengertian kepada masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan tubuh, kemudian memberikan pengertian tentang bahayanya peredaran darah yang tidak lancar, lalu memberikan kesadaran bahwa saat ini di masa yang semakin modern ini banyak sekali makanan yang menyebabkan racun mengendap dalam darah sehingga menghambat peredaran darah, selain itu mereka juga menakut-nakuti masyarakat dengan dalil; jika peredaran darahnya tidak lancar akan berakibat fatal, dan sebagainya. Akhirnya timbullah kesadaran palsu di masyarakat akan pentingnya alat kesehatan yang berfungsi untuk melancarkan peredaran darah tersebut. Akhirnya masyarakat tersebut merasa bahwa mereka perlu memeiliki alat tersebut karena mereka merasa sadar akan pentingnya alat yang ditawarkan untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Parahnya lagi, si penghegemoni tersebut terus menggembor-gemborkan akan pentingnya kesehatan diatas segala-galanya sehingga masyarakat yang sebenarnya tidak memiliki uang yang cukup, rela berhutang ke tetangga atau bahkan ke bang titil (rentenir) demi mendapatkan barang tersebut. Akhirnya masyarakat yang terhegemoni tersebut dengan tidak sadar menganggap bahwa dirinya telah sadar akan pentingnya kesehatan diri sehingga sebisa mungkin dan dengan cara apapun harus memiliki benda itu. Kasus seperti ini masih cukup banyak saya temui di desa saya terutama ketika musim panen tiba, banyak sekali pedagang-pedagang peralatan elektronik berdatangan untuk menawarkan barang-barangnya dengan cara menumbuh kembangkan kesadaran palsu di masyarakat. Contoh kasus lain yang saya temui di desa saya yaitu ketika menjelang pemilu kepala desa, para calon kepala desa yang notabennya berasal dari keluarga mampu (kaya) sebelumnya tidak mau berpanas-panasan di tengah sawah, tidak mau menjenguk tetangganya yang sedang sakit, dan tidak mau berjama’ah di masjid, saat ini kerika menjelang pemilu para kepala desa tersebut rajin beribadah ke masjid, rajin mengikuti majelis-majelis ta’lim, rajin menyumbang untuk acara bakti sosial, bahkan rajin berinteraksi dengan masyarakat di tengah sawah yang panas walaupun hanya sekedar “say hello”. Para calon kepala desa tersebut mempengaruhi dengan cara halus, masyarakat desa setempat agar sadar bahwa yang pantas dia pilih ketika pemilu nanti adalah dia. Mereka memainkan politik pencitraaan agar masyarakat merasa perlu dan butuh sosok pemimpin seperti dia (padahal biasanya juga tidak sebaik itu), namun karena bentuk kebaikan yang dia berikan sebelum pemilu tersebut berhasl menghegemoni masyarakat, akhirnya masyarakat banyak yang terpengaruh untuk memilih calon kepala desa tersebut. Dengan adanya keadaan hegemoni seperti ini, muncullah stratifikasi sosial di masyarakat antara seseorang/sekelompok orang yang berhasil menghegemoni masyarakat menduduki strara atas dan seseorang/sekelompok orang yang terhegemoni (terbujuk rayuan gombal) masuk ke dalam strata bawah. Jadi menurut Antonio Gramschi dasar pembentukan strata pada masyarakat adalah adanya hegemoni (pengaruh secara halus).

            Kemudian menurut Teori Paulo Freire, dasar pembentukan stratifikasi sosial di masyarakat adalah adanya penindasan di ranah pendidikan. Jadi teori freire ini mengemukakan bahwa lembaga pendidikan formal (sekolah) merupakan sebuah lembaga yang menciptakan suatu strata karena adanya penindasan di dalamnya. Misalkan saja sebagai contoh nyata yaitu seorang guru yang memberikan tugas kepada muritnya secara sewenang-wenang tanpa memikirkan kesibukan dan urusan pribadi muritnya. Dulu ketika saya SMA pernah suatu ketika dari ke-4 guru yang mengajar mata pelajaran di hari selasa, memberikan tugas secara bersamaan kepada muritnya, dan semuanya guru tersebut mengharuskan untuk mengumpulkan tugas tersebut besok, guru yang mengajar di jam terakhir sudah diberitahu oleh siswanya bahwa guru-guru sebelumnya sudah memberikan tugas yg banyak, namun sang guru tersebut tidak mau tahu dan memutuskan bahwa tugas tetap diadakan, bahkan beliau mengancam kalau ada yang sampai tidak mengerjakan tugas atau mengerjakan tugas namun dengan sembarangan (sembrono) akan diberi nilai jelek. Karena hal itu kami mengerjakan tugas sampai jam 3 pagi, padahal besok pagi harus masuk sekolah jam 7 pagi. Hal ini merupakan contoh nyata bentu penindasan yang dilakukan di lembaga sekolah. Selain penindasan antara guru dan murit, di sekolah juga terdapat penindasan yang dilakukan oleh senior kepada juniornya. Contoh nyata yaitu ketika acara MK (Malam Keakraban) di Sosiologi UA yang berbama “Prolog”, disitu terjadi sebuah penindasan yang dilakukan senior kepada junior. Seorang junior akan disalahkan berbicara atau menjawab apapun (semuanya serba salah), sementara senior akan selalu berada di pihak yang benar. Hal tersebut biasanya kita kenal dengan nama pasal MK yang bunyi; pasal satu bahwa senior akan selalu berada pada posisi yang benar, dan pasal ke-2 berbungi bahwa jika senior salah kembali pada pasal pertama. Hal ini jelas dan bahkan sangat jelas terjadi suatu penindasan yang dilakukan oleh senior terhadap junior di lembaga pendidikan. Ketika MK para mahasiswa baru menjadi bulan-bulanan, dikerjain habis-habisan, dan dicemo’ohi sesuka hati senior. Mahasiswa baru hanya bisa pasrah dan menerima permainan dari sang senior. Disinilah terbentuk suatu startifikasi sosial di mana seorang guru dan senior (pada contoh kasus diatas) menduduki strata atas, sementara murit dan junior menduduki strata bawah. Jadi Teori Paulo Freire ini mengatakan bahwa dasar pembentukan stratifikasi sosial di masyarakat adalah adanya penindasan secara nyata di lembaga pendidikan (sekolah).

            Jika kita bandingkan antara teori Antonio Gramschi dan teori Paulo Fraire diatas sudah jelas bahwa perbedaannya dapat kita lihat dari bentuk dan dasar dari tercintanya stratifikasi sosial tersebut. Teori Gramschi menjelaska bahwa dasar dari terbentuknya stratifikasi sosial yaitu adanya seseorang/kelompok orang yang mempengaruhi seseorang atau kelompok orang lainnya dengan cara halus (bentuknya halus), tanpa kekerasan, dan bahkan dengan menciptakan suatu kesadaran palsu di masyarakay yang disebut dengan istilah hegemoni, sementara itu teori Fraire mengemukakan bahwa sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan yang mencintakan sebuah stratifikasi sosial dan stratifikasi sosial tersebut terbentuk secara nyata berupa penindasan. Inilah yang menbedakan antara ke-2 teori diatas.

 

Sumber: Penjelasan dari dosen dalam mata kuliah "Stratifikasi Sosial", Kamis, 10 Oktober 2013, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :