MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Review Artikel Teori Karl Mark tentang Stratifikasi Sosial

diposting oleh alhada-fisip11 pada 02 November 2013
di Pengetahuan Akademik - 0 komentar

Review Artikel Teori Karl Mark

(Bahari, Yohanes. 2010. Karl Mark: Sekelumit Tentang Hidup dan Pemikirannya. Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora. 1: 1-9)

 

Menurut pandangan Karl Mark, stratifikasi sosial yang terjadi di masyarakat itu terbentuk karena adanya perbedaan kepemilikan modal / capital yang dimiliki oleh masyarakat. Modal yang dimiliki oleh masyarakat tersebut memiliki pengertian yang luas mencangkup nilai, simbol, peran dan sebagainya (baik yang nampak maupun yang tidak nampak) sehingga bisa berupa uang, ilmu pengetahuan, alat-alat produksi, tanah, bangunan, dan sebaganya yang bisa digunakan sebagai sarana untuk memproduksi barang dan atau jasa.

 

Dengan adanya perbedaan kepemilikan modal tersebut, Karl Mark selanjutnya membagi masyarakat kedalam dua kelas yaitu kelas atas (Kelas Borjuis) yaitu kelas pemilik modal yang menguasai alat-alat produksi, kemudian kelas bawah (Kelas Proletar) yaitu kelas pekerja (kaum buruh) yang bekerja pada kaum pemilik modal dan hidupnya sangat tergantung pada kaum pemilik modal.

 

Jika suatu kelompok manusia mampu menguasai sumber – sumber produksi dan alat produksi yang cukup banyak seperti memiliki tanah yang cukup luas dan mempekerjakan banyak orang untuk menggarap dan mengolah tanahnya tersebut maka orang ini disebut sebagai kelas pemilik modal. Sedangkan jika ada sekumpulan orang yang hidup hanya dengan mengandalkan tenaga kerjanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bekerja sepanjang hari pada kelas pemilik modal maka inilah kelas bawah yang disebut dengan kelas pekerja (buruh).

 

Sistem Stratifikasi tergantung pada hubungan kelompok-kelompok manusia terhadap sarana-sarana produksi. Diantaranya ada yang disebut dengan Kelas modern, Yaitu mereka yang disebut pemilik tenaga kerja pemilik modal dan tuan-tuan tanah yang sumber keuangannya tergantung pada penerimaan upah, laba dan sewa tanah, dan berikutnya ada kelas rendah yang terdiri dari para pekerja atau kaum buruh dalam perusahaan milik kelas modern.

 

Pembagian kerja dengan tugas tertentu dalam proses produksi mengakibatkan pembagian produk yang tidak sama maka timbulah yang namanya hak milik. Hak milik disini bukanlah hak milik pribadi berupa barang-barang konsumsi, melainkan milik pribadi berupa sarana-sarana produksi seperti alat, uang (modal). Dengan modal inilah orang dapat menyuruh orang lain bekerja untuk dirinya dan pemilik modal dapat menguasai tenaga kerja orang-orang lain.

 

Hubungan antar kelas borjuis dan kelas proletar terjadi sangat tidak seimbang dan timpang. Hal ini disebabkan karena yang hanya diuntungkan atas terjadinya hubungan antara kedua kelas ini yaitu kaum pemilik modal sedangkan kelas pekerja hanya dibutuhkan untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi kelas pemilik modal tersebut. Pekerja hanya dipakai sebagai objek yang untuk diperas tenaganya dan di manfaatkan keberadaanya untuk memenuhi keinginan dari pemilik modal. Sedangkan untuk kebutuhan hidup dan upah yang diberikan sangat rendah sementara kelas ini bekerja seharian tanpa diberi jaminan kesejahteraan, jaminan kesehatan, jaminan hari tua dan jasa atas produksinya. Hal ini dapat dijadikan oleh pemilik modal sebagai ajang untuk memperdaya dan akhirnya membuat kelas buruh menjadi tertindas dan teralienasi.

 

Hubungan antar kelas tidaklah untuk saling melengkapi satu sama lain dan tidak dalam bentuk hubungan yang harmonis melainkan hubungan dengan ketidaksesuaian dalam ketidak samaan sosial sehingga terbentuklah hubungan eksploitasi yang dilakukan oleh pemilik modal terhadap kelas pekerja (buruh)

Hubungan produksi tidak hanya berarti teknologi tetapi juga hubungan sosial yang dimasuki manusia apabia ia turut serta dalam kehidupan ekonomi, pabrik-pabrik modern dengan menggunakan mesin adalah suatu hubungn produksi sosial, orang memasuki hubungan sosial.

 

Dengan adanya pembagian kelas maka munculah hubungan produksi yang timpang , dimana kelas borjuis menikmati surplus produksi lebih besar dibanding kelas proletar. Kelas borjuis dapat hidup lebih lama tanpa kelas proletar sebaliknya kelas proletar tidak dapa hidup tanpa kelas borjuis.

 

Tiap kelas dalam masyarakat memiliki ciri khas tertentu yang dapat menimbulkan konflik antar kelas karena masyarakat secara sistematis menghasilkan perbedaan pendapat antara orang-orang atau golongan yang berbeda tempat / posisi dalam suatu struktur sosial dan dalam hubungannya dengan sarana-sarana produksi. Posisi dalam masyarakat seperti ini akan selalu mendorong mereka untuk melakukan tindakan yang bertujuan utnuk memperbaiki nasib mereka.

 

 

 

Review Artikel Keadaan Empiris yang Terjadi di Masyarakat Kaitannya dengan Teori Karl Mark

(Kholek, Abdul. 2010. Outsourcing Sebuah Pengingkaran Kapitalisme Terhadap Hak-hak Buruh. Sidoarjo: Unsuri Press)

 

Kapitalisme dalam persfektif Marx, tidaklah secara sederhana berarti sebuah sistem produksi bagi pasar, tetapi juga sistem yang dalam keadaan kekuatan buruh telah menjadi komoditi yang diperjualbelikan di pasar seperti objek-objek pertukaran lainnya. Kondisi inilah yang mewarnai sistem perburuhan dewasa ini. Sistem outsourcing telah melegalkan perbudakan buruh, eksploitasi secara besar-besaran, pengurasan keringat dan tenaga buruh demi akumulasi modal yang sebesar-besarnya.

 

Outsourcing merupakan mekanisme perburuhan diera modern, sebagai imbas dari eksploitasi dan ekspansi perusahaan multi nasional dalam lingkaran kapitalisme global. Tenaga kerja (buruh) merupakan komoditi yang dikebiri hak-hak kemanusiaannya. Inilah wajah dari kapitalisme sebagai sebuah sistem yang menggerogoti tubuh-tubuh buruh dengan harga dan imbalan yang tidak seimbang. Hal ini tentunya sangat ironis, buruh sebagai tulang punggung produksi tidak mendapatkan upah yang sesuai dengan kerja yang mereka lakukan. Esensi dari kapitalisme yaitu sistem upah yang dalam keadaan ini, buruh tidak mempunyai hak pemilikan terhadap barang-barang yang dibuatnya; buruh tidak menjual buah-buahan dari kerjanya, melainkan kerja itu sendiri.

 

Sistem perburuhan melalui outsourcing merupakan anak kandung dari rahim kapitalisme. Memahami fenomena tersebut dapat menggunakan alat analisis dari dua teori besar Marx yaitu teori nilai surplus untuk melihat mekanisme outsourcing dan teori alienasi untuk melihat kondisi buruh didalam sistem outsourcing.

 

Outsourcing merupakan turunan dari kapitalisme global. Dikatakan juga sebagai anak kandung yang lahir dari rahim kapitalis, kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari sifat dasar kapitalis yaitu eksploitatif dan ekspansif. Perusahaan-perusahaan transnasional dan multi nasional, semakin kuat mengcengkram Negara-negara yang sedang berkembang. Ekspansi dan eksploitasi yang besar-besaran dilakukan demi akumulasi modal. Sebagai contoh perusahaan NIKE yang membuka lokasi pabrik baru di Cina, Indonesia dan Thailand dimana upah sangat rendah.

 

Ekspansi besar-besaran perusahaan transnasional diiringi juga dengan model dan format kerja yang mereka persiapkan (outsourcing), untuk diterapkan di wilayah pengembangan perusahaan. Ini merupakan implementasi dari ciri globalisasi dimana perusahaan transnasional melakukan peningkatan konsentrasi dan monopoli berbagai sumberdaya dan kekuatan ekonomi. Karena itu globalisasi adalah proses yang tidak adil dengan distribusi-distribusi keuntungan maupun kerugian yang juga tidak seimbang.

 

Dewasa ini hampir seluruh industri baik kecil maupun skala besar yang dimiliki oleh para kapitalis melalukan praktek outsourcing. Ada beberapa alasan industri melakukan outsourcing yaitu pertama, efisiensi kerja dimana perusahaan produksi dapat melimpahkan kerja-kerja operasional kepada perusahaan outsourcing; kedua, resiko operasional perusahaan dapat dilimpahkan kepada pihak lain. Sehingga pemanfaatan faktor produksi bisa dimaksimalkan dengan menekan resiko sekecil mungkin; ketiga, sumber daya perusahaan yang ada dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain yang lebih fokus dalam meningkatkan produksi; keempat, mengurangi biaya pengeluaran (capital expenditure) karena dana yang sebelumnya untuk investasi dapat digunakan untuk biaya operasional; kelima perusahaan dapat mempekerjakan tenaga kerja yang terampil dan murah; keenam, mekanisme kontrol terhadap buruh menjadi lebih baik.

 

Hubungan industrial di Indonesia sepanjang perjalanannya sering menunjukkan bahwa buruh ditempatkan sebagai faktor produksi mirip sebagai faktor produksi yang dikonstruksikan Karl Marx. Outsourcing didefinisikan sebagai model kerja yang menambahkan unsur ’pelaksana perkerjaan’ diantara relasi buruh dan modal. Kondisi tersebut menjadikan hubungan perburuhan semakin kabur, dan memperlemah bergaining position buruh terhadap pemilik modal.

 

Dalam model kerja outsourcing adanya pergeseran ruang lingkup hubungan industrial. Awalnya yang terkenal dengan istilah tripartit atau hubungan antara buruh, pengusaha dan pemerintah. Dalam model outsourcing menjadi empat lingkaran hubungan yaitu buruh, perantara atau broker (perusahaan oustsourcing), perusahaan inti (pemilik modal) dan pemerintah. Outsourcing sebagai sebuah model perburuhan baru, melalui beberapa tahapan dalam perekrutan. Ketersediaan tenaga kerja yang tinggi di pasar tenaga kerja mengakibatkan turunnya harga buruh. Menurut Marx tersedianya tentara-tentara cadangan yang banyak mengakibatkan terjadinya penindasan terhadap hak-hak buruh. Eksploitasi, PHK dan lain sebagainya diputuskan secara sepihak oleh pemilik modal.

 

Hubungan industrial dalam model kerja outsourcing, menjadikan buruh tidak mempunyai kejelasan dalam hubungan, berimbas pada tidak jelasnya posisi buruh bagaimana mereka menuntut hak-haknya. Buruh dituntut untuk memenuhi persyaratan dalam outsourcing, jam kerja yang padat, upah yang tidak seimbang, tidak adanya kesempatan untuk bergabung dalam organisasi buruh, karena waktu yang habis dalam kontrak kerja. Pelanggaran terhadap perjanjian akan langsung berakibat pada pemberhantian secara langsung oleh manajemen perusahaan outsourcing. Dan digantikan oleh tenaga-tenaga outsourcing lainnya sebagai tentara-tentara cadangan.

 

Buruh dalam model kerja outsourcing menjadi sosok barang yang diperjualbelikan dengan harga murah, tidak harus menunggu rongsok dan bisa langsung mengganti dengan barang yang lain, dengan kualitas yang lebih bagus dan harga yang murah. Buruh adalah alat atau faktor produksi setelah modal, signifikannya peran buruh sehingga ketidakhadiran buruh, berakibat pada tidak akan tercipta akumulasi modal (capital). Idealnya buruh ditempatkan ditempat yang layak dan dihargai dengan nilai yang tinggi, kerena merakalah yang turut langsung menciptakan produk yang akan dikonsumsi konsumen.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :