MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Membongkar Rahasia Sukses Dibalik Sosok Mahasiswa Kreatif

diposting oleh alhada-fisip11 pada 13 July 2013
di Esay - 0 komentar

Kreativitas merupakan hal yang sangat penting untuk dipupuk dan ditumbuh-kembangkan pada setiap orang agar mereka dapat menciptakan, menemukan atau pun menghasilkan sesuatu yang unik, menarik, lebih bermanfaat, dan juga tentunya memiliki nilai ekonomi. Di zaman yang semakin modern seperti sekarang ini, persaingan di segala bidang terutama dalam bidang bisnis sangatlah ketat, sehingga kreativitas menjadi kunci utama yang harus dimiliki oleh setiap orang agar dapat memenangkan persaingan dalam dunia kerja. Di samping itu,  kebutuhan akan teknologi untuk membantu meringankan pekerjaan manusia sangat dibutuhkan, mengingat semakin sibuk dan kompleksnya kegiatan atau masalah-masalah yang harus diselesaikan dan dihadapi oleh setiap orang.

 

Mengingat sangat pentingnya kreativitas, setiap orang termasuk para mahasiswa perlu memilikinya, karena mahasiswa merupakan manusia intelektual yang populer disebut sebagai agen of change. Di samping itu, dalam dunia akademis, mahasiswa harus mampu menghasilkan suatu penemuan baru (berpartisipasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan) atau pun mengkreasikan suatu hal yang sudah ada menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi umat manusia (baca: inovasi). Selain itu, kreativitas juga penting dimiliki oleh mahasiswa yang kelak akan bersaing di berbagai bidang dalam dunia kerja agar mereka dapat menguasai pasar dan memperoleh pendapatan finansial yang tinggi.

 

Sayangnya, saat ini  masih banyak dijumpai mahasiswa yang belum mengembangkan kreativitasnya secara optimal. Jika kita ingat, salah satu tujuan universitas adalah untuk mengembangkan kualifikasi mahasiswa, termasuk salah satunya mengembangkan sisi kreativitas mahasiswa. Cara yang dapat ditempuh yaitu dengan mengadakan suatu kegiatan yang bersifat edukatif sehingga kegiatan tersebut dapat membangkitkan semangat para mahasiswa untuk bisa berkreasi dan berinovasi (Yuanita, 2010). Tetapi pada kenyataannya, jumlah lulusan mahasiswa yang menganggur atau jarak yang lama antara kelulusan dengan mendapatkan pekerjaan masih cukup tinggi. Jumlah pengangguran intelektual di Indonesia mencapai 1,1 juta orang. Jumlah ini meningkat 15,71 persen dibandingkan 2010. (Primartantyo, 2012). Ini adalah salah satu indikator bahwa mahasiswa Indonesia kurang begitu kreatif ataupun inovatif.

 

Selain itu menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran di Indonesia pada Februari 2012 masih mencapai 6,32% atau 7,61 juta orang. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang kesulitan untuk mendapatkan akses pekerjaan. Masyarakat juga kurang berani untuk berinovasi  menciptakan lapangan kerja baru.

 

Data yang kami peroleh dari kemahasiswaan Universitas Airlangga menunjukkan, jumlah mahasiswa Universitas Airlangga tahun 2010 sebesar 24.143 mahasiswa, tetapi hanya sebesar 269 kelompok mahasiswa yang  proposalnya dinilai  memiliki nilai kreatif yang layak untuk didanai oleh Dikti di ajang PKM (Program Kreativitas Mahasiswa). Memang hal ini hanya menggambarkan secara parsial serta menjadi secuil indikator saja untuk mengukur tingkat kreativitas di kalangan mahasiswa Universitas Airlangga. Meski begitu tetap dianggap perlu adanya upaya untuk meningkatkan kreativitas mahasiswa.

 

Untuk menjawab permasalahan seperti ini salah satu kiat yang dapat dilakukan adalah dengan belajar dan memahami kehidupan orang-orang sukses yang memiliki kreativitas tinggi dalam mengembangkan kemampuannya, sehingga kita bisa mencontoh perilaku dan usaha-usaha kreatif yang mereka lakukan. Agar kita bisa belajar dari orang-orang kreatif, pada kesempatan kali ini kami akan mengungkap kehidupan mahasiswa yang telah sukses menciptakan karya kreatif yang mereka tekuni melalui penelitian (metode kualitatif) yang telah kami lakukan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mendalam tentang kehidupan dan seluk-beluk mahasiswa kreatif perguruan tinggi negeri di Surabaya, agar kepribadian yang dapat menumbuh-kembangkan kreativitas dalam diri mereka dapat kita pelajari sehingga kita bisa menjadi sosok kreatif seperti mereka.

 

Pengertian Kreativitas

Dalam judul penelitian ini (Mahasiswa Kreatif Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya (Studi Deskriptif Tentang Kehidupan Mahasiswa Kreatif)) terdapat kata kunci utama yang perlu dibahas lebih lanjut yaitu “kreativitas”. Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk karya baru maupun sesuatu yang diperbaharuhi dari karya yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya (Craft, 2000).

 

Kreativitas dalam perkembangannya sangat terkait dengan empat aspek, yaitu:

  1. Aspek Pribadi: Ditinjau dari aspek pribadi, kreativitas muncul dari interaksi pribadi yang unik dengan lingkungannya
  2. Aspek Pendorong: Ditinjau dari aspek pendorong kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan internal maupun eksternal dari lingkungannya.
  3. Aspek Proses: Ditinjau sebagai proses, menurut Torence (1988) kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai, dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan hasil-hasilnya
  4. Aspek Produk: Definisi produk kreativitas menekuni bahwa apa yang dihasilkan dari proses kreativitas adalah sesuatu yang baru, orisinil, dan bermakna.

 

Kreativitas tidak serta merta timbul, tetapi melalui proses. Proses kreatif menurut Bobbi De Porter dan Mike Hernacki (2001:301) dalam bukunya Quantum Learning mengalir melalui lima tahap, antara lain: (1) Persiapan: Mendefinisikan masalah, tujuan atau tantangan, (2) Inkubasi: Mencerna fakta-fakta dan mengolahnya dalam pikiran, (3) Iluminasi: Mendesak kepermukaan, gagasan-gagasan muncul, (4) Verivikasi: Memastikan apakah solusi itu benar-benar memecahkan masalah, dan (5) Aplikasi: Mengambil langkah-langkah untuk menindak lanjuti solusi tersebut.

 

Menurut Colin Rose dan Malcom J. Nichol (2002:275) dalam bukunya Accelerated Learning, “Menjadi kreatif tidak hanya berpangku tangan menunggu kilatan ilham. Kreativitas menuntut banyak usaha keras dan mensyaratkan persiapan matang.” Dari uraian itu dapat kita tafsirkan bahwa kreativitas bukanlah sebuah pemberian (gift), yang secara otomatis dimiliki individu. Kreativitas dalam konteks ini mengindikasikan adanya sebuah proses, dapat ditumbuh-kembangkan dengan usaha keras dan belajar dari kehidupan orang lain yang telah sukses mengembangkan kemampuannya dan menghasilkan sesuatu. Oleh karena itu, kreativitas dapat dimiliki oleh siapa saja yang menginiginkannya, sehingga adalah mitos kalau kreativitas hanya dimiliki oleh seseorang karena takdir semata (bawaan sejak lahir).

 

Rahasia Sukses Sosok Mahasiswa Kreatif

Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan dengan sejumlah informan yang dibagi menjadi tiga tipe, yakni informan subyek, informan non subyek, dan informan kunci; dapat kita peroleh beberapa poin penting yang melatarbelakangi kreativitas mereka. Pertama, kreativitas dapat dimiliki oleh siapa saja yang tekun dan giat mengembangkan kemampuannya. Dari ketiga informan subyek penelitian kami, semuanya telah menghasilkan karya yang tidak serta merta langsung jadi, akan tetapi memerlukan proses belajar untuk mematangkan kemampuan diri mereka. Ilmu pengetahuan yang diperoleh dari jurusannya juga berperan sebagai referensi hardskill dalam pembentukan kreativitas, di samping hobi yang terus dikembangkan, serta berbagai kemampuan softskill yang seringkali diperoleh di luar kegiatan akademis dan cenderung berbanding lurus dengan jam terbangnya.

 

Kedua, keadaan finansial seperti apapun tidak menghalangi seseorang dalam mengembangkan kemampuannya untuk menjadi sosok yang kreatif. Seluruh informan subyek dalam penelitian ini berasal dari latarbelakang keluarga yang berbeda-beda termasuk kondisi ekonomi keluarga mereka. Ada yang mengalami keterbatasan finansial dan karenanya menjadi terdorong untuk menghasilkan karya-karya bernilai ekonomis atau mengikuti ajang perlombaan sebagai jalan memperoleh pendapatan keuangan. Ada juga yang berasal dari keluarga mampu sehingga berbagai kebutuhannya dapat tercukupi, tetapi justru dengan demikian mendorongnya untuk menunjukkan eksistensi diri sebagai mahasiswa mandiri dengan mencukupi keperluan dirinya melalui karya-karya kreatif yang dihasilkan. Kondisi finansial pada masing-masing orang bukan merupakan faktor utama  dalam membentuk sosok kreatif, akan tetapi lebih pada motivasi untuk berkreasi entah berangkat dari kondisi macam apapun.

 

Ketiga, kondisi terdesak bisa mendorong tumbuhnya kreativitas pada diri seseorang. Sering kita jumpai orang-orang yang tidak akan maksimal jika bekerja atau berkarya dalam suasana good mood. Meskipun informan kami juga menyatakan demikian, tetapi mereka juga mengakui bahwa kondisi yang mendesak, seperti bekerja di bawah tekanan, batas waktu yang singkat, dan sebagainya akan mempengaruhi proses kreatif mengalir lebih lancar. Kondisi yang dirasa santai justru membuatnya merasa tidak berkembang, sehingga perlu tekanan yang dapat memicu kreativitas.

 

Keempat, ingin meningkatkan prestise dan ingin membanggakan orang tua dapat menjadikan seseorang lebih giat dalam mengembangkan kemampuannya. Keinginan untuk meningkatkan prestise atau citra diri dapat memberikan semangat yang kuat untuk mengembangkan kreativitas seseorang sehingga dengan kreativitas yang dimiliki tersebut bisa menjadikan seseorang memperoleh prestasi-prestasi yang membanggakan, dari prestasi yang didapat inilah yang akan meningkatkan citra diri di mata orang lain. Selain itu memiliki figur orang-orang yang dicintai (terutama orang tua) dan keinginan untuk menyenangkannya juga berperan dalam mendorong dan membentuk karakter kreatif seseorang.

 

Berikutnya yang kelima, membangun relasi yang baik dengan banyak orang dapat membantu seseorang lebih mudah mengembangkan kreativitasnya karena akan mendapatkan banyak bantuan dan masukan yang bersifat membangun dari banyak orang baik itu berupa informasi atau pengalaman baru yang berhubungan dengan pengembangan kreativitasnya, maupun dukungan moral dan materil.

 

Keenam, menetukan skala priotitas agar bisa mengatur waktu sehingga memiliki kesempatan untuk mengembangkan kreativitas. Kesibukan aktivitas sehari-hari terutama kegiatan kuliah biasanya berbenturan dengan hobi yang ingin dikembangkan dan pencarian pengalaman di luar kampus. Seseorang yang cenderung mengarahkan hatinya secara penuh untuk bergelut dalam hobi yang disenangi akan mengancam perkuliahannya. Namun terfokus pada bidang akademis saja juga akan mengurangi intensitas berkreasi. Untuk itu perlu ketegasan dalam menentukan skala prioritas, sehingga faktor kesehatan fisik juga dapat terjaga melalui istirahat yang cukup agar menunjang pengembangan kreativitas, di samping menjalani kegiatan perkuliahnya dengan baik.

 

Ketujuh, bekerja dalam bidang yang disukai atau yang menjadi hobi agar bisa maksimal dalam mengembangkan kemampuannya di bidang yang ditekuni tersebut. Kecintaan pada hal yang dilakukan akan mentenagai seseorang sehingga hasil yang diraih pun akan memuaskan. Bidang yang disukai tentu berhubungan dengan suasana hati (seperti disinggung pada poin ketiga), sehingga akan berbeda dengan melakukan sesuatu pada bidang yang tidak terlalu disukai atau bahkan sama sekali tak disukai.

 

Kedelapan, dukungan dari berbagai pihak, seperti dari orang tua dalam bentuk yang dilakukan secara rutin dapat menjadikan pekerjaan (usaha) di bidang yang ditekuni memperoleh hasil yang maksimal. Hal itu biasanya lebih berupa dukungan moral, seperti mendo’akan, mencurahkan perhatian dan kasih sayang serta kata-kata penyemangat. Selain dari orang tua, dukungan dari teman-teman atau orang-orang disekitar juga sangat berpengaruh dalam memaksimalkan pengembangan kreativitas, seperti informasi-informasi baru seputar pengembangan kreativitas yang bisa didapatkan, pengalaman-pengalaman baru, dan juga dukungan moral seperti penyemangat serta dukungan materil. Hal itu bisa didapatkan jika mempunyai banyak relasi seperti yang telah dijelaskan pada poin ke-5.

 

Kesembilan, mampu secara sadar mengesampingkan hal-hal yang dapat memecah konsentrasi dan fokus, seperti percintaan atau melakukan hal-hal yang hanya bersifat bersenang-senang yang bisa menjadi penghambat dalam mengembangkan kreativitas. Menurut pendapat salah seorang informan, dengan menjauhi urusan percintaan dapat membuatnya tetap fokus dalam mengembangkan kreativitasnya. Perilaku bersenang-senang atau berfoya-foya juga merupakan hal yang dihindari oleh semua informan subyek penelitian ini.

 

Yang terakhir, upaya untuk menghilangkan stigma negatif pada dirinya dan kelompoknya membuat seseorang lebih bersemangat dan memiliki tekat yang kuat dalam mengembangkan kemampuannya untuk menjadi sosok yang kreatif. Stigma yang melekat pada seseorang akan tergantung pada latar belakang dan lingkungannya. Keinginan untuk mematahkan anggapan-anggapan merugikan itu juga akan mendorong seseorang untuk lebih kreatif, dengan menghasilkan karya-karya sebagai pembuktian untuk menyanggahnya.

 

 

Daftar Pustaka 

  • Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Craft, Anna. 2000. Membangun Kreativitas Anak. Depok: Inisiasi Press.
  • Denzin, Norman K. dan Yvonna S. Lincoln. 2009. Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Habib, Muhammad Alhada Fuadilah, dkk. 2012. Mahasiswa Kreatif Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya (Studi Deskriptif Tentang Kehidupan Mahasiswa Kreatif). Proposal penelitian PKM-P. Surabaya: tidak diterbitkan.
  • Habib, Muhammad Alhada Fuadilah, dkk. 2013. Mahasiswa Kreatif Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya (Studi Deskriptif Tentang Kehidupan Mahasiswa Kreatif). Laporan penelitian PKM-P. Surabaya: tidak diterbitkan.
  • Hari. 2009. Rangkuman Teknik Sampling Pada Data Kuantitatif dan Cara Menentukan Ukuran Sampel, http://har-stkip.blogspot.com/2009/02/rangkuman-teknik-sampling-pada-data.html, September 2012.
  • Nia, 2012. BPS: Jumlah Pengangguran di Indonesia 7,61 Juta, Turun6%,http://finance.detik.com/read/2012/05/07/141833/1911053/4/bps-jumlah-pengangguran-di-indonesia-761-juta-turun-6, September 2012.
  • Porter, Bobbi De dan Mike Henacki. 2001. Quantum Learning. Bandung: Kaifa.
  • PPMB UNAIR. Profil Singkat, http://ppmb.unair.ac.id/?view=profil.html&p=3, September 2012.
  • Primartantyo, Ukky. 2012. Satu Juta Intelektual di Indonesia Menganggur,http://www.tempo.co/read/news/2012/04/13/173396869/Satu-Juta-Intelektual-di-Indonesia-Menganggur, September 2012.
  • Strauss, Anselm dan Juliet Corbin. 2009. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif: Tatalangkah dan Teknik-teknik Teoritisasi Data. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Suyanto, Bagong; dkk. 2011. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :