MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Keluarga Modern

diposting oleh alhada-fisip11 pada 28 March 2013
di Makalah - 1 komentar

 

 

 

KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan pada kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikantugas makalah Sosiologi Keluarga yang berjudul “KELUARGA MODERN DI INDONESIA” tepat pada waktunya.

 

Saya menyadari bahwa makalah yang saya selesaikan ini masih jauh dari kesempurnaan. Seperti halnya pepatah “ tak ada gading yang tak retak “, oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran dari semua kalangan yang bersifat membangun guna kesempurnaan makalah saya selanjutnya.

 

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Serta saya berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi semua kalangan.

Amin

 

 

 

 

                                                                                                            Surabaya, 14 Maret 2013

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN


a. Latar Belakang

Di zaman modern ini, seolah batasan siapa pencari nafkah utama menjadi semu. Sebagian keluarga masih mengandalkan ayah sebagai pencari nafkah utama, sebagian lain justru ibu yang mampu jadi ”pemasok” dana terbesar di keluarga, atau bahkan anak-anak yang diperalat jadi sumber dana andalan keluarga. Waduh, malah jadi semrawut pikiran kita kalau disuguhi realitas demikian. Memang itulah beberapa kenyataan di zaman modern yang menimbulkan timpangnya kerekatan. Penggalan pertanyaan di atas hanya pengantar contoh renggangnya keterlibatan dalam keluarga. Lantas ada apa dengan keluarga Indonesia? Keluarga selama ini diterjemahkan dalam arti yang baku.

 

Pada dasarnya, masyakat beserta pola pikir mereka selalu berkembang menuju perubahan baik itu perubahan yang membangun atau malah perubahan yang merusak. Bersamaan dengan itu, produk dari kebudayaan mereka pun akan berubah seiring dengan kompleksitas kebutuhan yang harus mereka penuhi di zaman itu. Dalam memahami bentuk keluarga dalam masyarakat modern, tentu akan sangat berbeda dengan masyarakat yang masih konservatif, kuno, atau klasik dalam hal ini bisa kita konotasikan kepada masyarakat pedesaan. Konsep bentuk keluarga modern sering kali ditujukan untuk menunjuk pola hubungan keluarga yang terjalin dalam sebuah keluarga yang hidup di perkoataan oleh karena lingkungan dan kebutuhan mereka yang cenderung lebih kompleks.

 

Tak dapat dipungkiri, bentuk keluarga klasik dan keluarga modern bukan suatu fenomena yang sama sekali terpisah. Namun, keduanya mempunyai hubungan yang erat sebagai sebuah pola perubahan sosial dalam sebuah masyarakat. Realitas membuktikan bahwa telah terjadi perubahan secara signifikan ke arah bentuk yang dalam bab selanjutnya akan lebih dikenal sebagai bentul-bentuk keluarga yang konjugal. Oleh karena itu, pembahasan mengenai bentuk keluarga modern ini sebenarnya tak bisa lepas dari pembahasan mengenai bentuk keluarga klasik juga.

 

Karena perubahan sosial terkadang menciptakan suatu bentuk realitas baru dalam sebuah masyarakat, kemudian memahami keluarga dalam prespektif klasik saja tidaklah cukup untuk memahami realitas sosial yang ada dalam sebuah masyarakat secara menyeluruh tanpa mengetahui unit sosial terkecil dalam masyarakat secara keseluruhan itu sendiri yaitu keluarga.

 

Pentingnya keluarga dalam ranah sosiologis kemudian membuat kita mau tidak mau harus bisa memahami keluarga secara menyeluruh tak terkecuali dengan perubahan-perubahan yang ada karena arus sosial seperti dikatakan oleh Emile Durkheim dalam sebuah teori tersohornya terkait dengan fakta sosial selalu menimbulkan dampak yang signifikan terhadap fakta itu sendiri.

 

Memahami permasalahan diatas, mengetahui berbagai komponen dan bentuk keluarga yang telah mengalami perubahan dirasa penting untuk dipelajari dan diperdalam melalui bahasan-bahasan yang akan dipaparkan dalam makalah ini. Sehingga, kedepannya kita bisa lebih mudah memahami realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat secara makro setelah terlebih dahulu memahami mereka (masyarakat) dalam tatanan mikro.

 

Apakah fungsi-fungsi keluarga dalam klasik masih tetap sama atau telah mengalami perbedaan, seberapa besar perbedaan tersebut membuat nilai-nilai yang dijunjung tinggi (sebelumnya) ikut bergeser, bagaimana arah pergeseran atau perubahan yang terjadi, serta seberapa besar dampak dan efek yang ditimbulkan oleh perubahan akan secara rinci dijelaskan dalam bab-bab berikutnya. Begitu pula dengan faktor-faktor lain dan aspek yang bersifat esensial dalam bentuk keluarga modern kemudian akan dibahas juga dalam bab-bab yang lain.

 

b. Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari keluarga?

2. Apa definisi dari modern?

3. Apa definisi dari keluarga modern ?

4. Apa karakteristik keluarga modern di Negara Indonesia?

 

c. Tujuan

1. Menjelaskan definisi dari keluarga

2. Menjelaskan definisi dari modern

3. Menjelaskan definisi dari keluarga modern

4. Menjelaskan dan menyebutkan karakteristik keluarga modern di Negara Indonesia

 

 

 

BAB II

Pembahasan


PENGERTIAN KELUARGA MODERN

1. Definisi Keluarga

Keluarga merupakan kelompok primer yang terpenting dalam masyarakat. Secara historis keluarga terbentuk paling tidak dari satuan yang merupakan organisasi terbatas, dan mempunyai ukuran yang minimum, terutama pihak-pihak yang pada awalnya mengadakan suatu ikatan. Dengan kata lain, keluarga tetap merupakan bagian dari masyarakat total yang lahir dan berada di dalamnya, yang secara berangsur-angsur akan melepaskan ciri-ciri tersebut karena tumbuhnya mereka ke arah pendewasaan. Keluarga sebagai organisasi, mempunyai perbedaan dari organisasi-organisasi lainnya, yang terjadi hanya sebagai proses. Salah satu perbedaan yang cukup penting terlihat dari bentuk hubungan anggota-anggotanya yang lebih bersifat “gemeinschaft” dan merupakan ciri-ciri kelompok primer, yang antara lain Mempunyai hubungan yang lebih intim, Kooperatif, Face to face dan masing-masing anggota memperlakukan anggota lainnya sebagai tujuan bukannya sebagai alat untuk mencapai tujuan.

 

Keluarga adalah komposisi dari ayah, ibu, dan anak-anak yang bertempat tinggal dalam satu atap serta diperkuat oleh sentimen baik secara tradisional maupun emosional yang menimbulkan suatu pengalaman bersama. Rumah adalah suatu tempat utama dan pertama untuk berkumpul dalam melaksanakan tugas sosial dalam bentuk tugas-tugas rumah tangga. Keluarga melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan cita-cita masyarakat. Keluarga merupakan kesatuan dari orang-orang yang berinteraksi dan berkomunikasi untuk menciptakan peran-peran sosial bagi suami-istri, ayah-ibu, orangtua-anak, putera-puteri. Peran-peran tersebut dibatasi oleh masyarakat yang sebagian merupakan tradisi dan sebagian lagi merupakan emosi yang menghasilkan ciri keluarga.

 

2. Definisi Modern

Istilah atau kata modern berasal dari kata latin yang berarti “sekarang ini ”. Dalam pemakaiannya kata modern mengalami perkembangan, sehingga berubah menjadi sebuah istilah. Kalau sebuah ” kata” hanya mengandung makna yang relatif sempit, sedangkan sebuah ” istilah”  akan mengandung makna yang relatif lebih luas. Modern sebagai sebuah istilah dalam  masyarakat kita sudah mulai familiar, walaupun masih banyak yang verbalisme.

 

Istilah modern ini terutama ditujukan untuk perubahan sistem kehidupan (  dalam kontek lebih luas : peradaban ), yakni dari peradaban yang bersifat telah lama menjadi peradaban yang bersifat baru. Kapan perubahan itu mulai terjadi, agak sulit juga melacaknya. Hanya saja ada orang yang mengira, misalnya ada orang mengatakan pada zaman Renaissance gejala perubahan itu sudah kelihatan. Ada juga yang mengatakan perubahan yang drastis terjadi pada masa revolusi industri, diteruskan dengan revolusi kebudayaan. Pada negara tertentu ditandai oleh terjadinya perubahan politik yang sangat mendasar, misalnya di Uni Soviet (sekarang Rusia) apa yang disebut dengan Peresteroika dan Glasnot. Di dunia Islam, perubahan dan pembaruan terjadi setiap lahirnya seorang Nabi dan Rasul.

 

Perlu disadari bahwa perubahan peradaban tersebut tidak dilewati begitu saja. Setiap langkah perubahan sering mendatangkan kegoncangan dibidang sosial, bidang politik, ekonomi dan bidang-bidang lainnya. Berbagai bentuk persiapan untuk  melaksanakan  perubahan harus direncanakan secara baik dan cermat untuk memudahkan bagaimana memulainya maupun untuk menghadapi akses yang akan ditimbulkannya di dalam berbagai pranata sosial. Tujuannya adalah agar proses perubahan tersebut sesuai dengan harapan dan dapat pula memajukan kehidupan masyarakat pendukungnya serta meminimalisir dampak negatifnya. Proses yang seperti ini dinamakan dengan modernisasi.

 

3. Definisi Keluarga Modern

            Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa keluarga modern adalah suatu bentuk keluarga yang mengikuti trend (peradaban terbaru) sebagai akibat dari penyesuaian-penyesuaian terhadap gejala-gejala baru yang disebabkan oleh semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai contoh, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, seorang wanita yang dahulu hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga yang mengurusi pekerjaan rumah, sekarang sudah banyak yang menganyam pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi dan mereka juga sudah banyak yang bekerja di berbagai sektor baik jasa, dagang, kerajinan, dsb. Mereka sudah tidak lagi melulu hanya bekerja di rumah namun bersamaan bekerja disektor lain. Selain itu, teknologi juga sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan keluarga, saat ini banyak kita temukan anggota keluarga yang secara fisik berkumpul di rumah, akan tetapi mereka asyik berhubungan dengan rekan-rekan mereka diluar, baik dengan cara menggunakan telefon, SMS, BBM, facebook, twitter, dsb. Selain teknologi informasi penggunaan teknologi lain seperti mesin cuci, rice cooker, kulkan, kompor gas dsb yang memudahkan pekerjaan keluarga menjadi salah satu ciri dari keluarga modern, namun dibalik-kemudahan-kemudahan yang dihasilkan oleh teknologi modern tersebut, dapat melunturkan rasa saling tolong menolong diantara anggota keluarga dalam hal melakukan pekerjaan rumah, sehingga mereka akan semakin individuslis dalam keluarganya.

 

KARAKTERISTIK KELUARGA MODERN

Secara umum saat ini di era globalisasi dan modernisasi kondisi keluarga atau struktur keluarga yang berhubungan denga peran mulai berubah karena masyarakat saat ini makin kompleks. Hal ini  dipengaruhi oleh beberapa sebab ,antara lain :

 

  • Pergeseran dari extended family menjadi nuclear family karena anggotanya semakin menurun.
  • Single parent meningkat karena adanya perceraian
  • Orang berumah tangga tanpa menikah meningkat karena kumpul kebo
  • Rumah tangga yang sendiri atau mandiri meningkat.
  • Adanya pekerjaan perempuan di luar keluarga sehingga pembagian kerja dalam rumah tangga berubah
  • Status perceraian relatif biasa

 

Salah satu cara berfikir mengenai alasan mengapa terjadi perubahan sosial dan transformasi sosial dalam keluarga yaitu karena suatu masyarakat dan masing-masing bagiannya mempunyai kebutuhan untuk menyesuaikan dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik mereka, atau lebih tepatnya menyesuaikan dengan perubahan yang relevan di dalam lingkungan keluarga. Keluarga berubah sejalan dengan perubahan jaman. Perubahan yang diinginkan biasanya diharapkan bermuara pada kesejahteraan dan kebahagiaan, namun kenyataannya yang sering terjadi adalah lain. Kenyataan itu sering diingkari sehingga masalah yang muncul menjadi tambah besar dari yang seharusnya. Sejahtera dan bahagia tidak hanya sebagai tujuan keluarga, tetapi lebih luas dari itu, yaitu tujuan hidup. Untuk mencapainya banyak upaya yang dilakukan. Di antaranya adalah dengan meningkatkan level pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Mencapai pendidikan yang tinggi dan masuk dalam pasar kerja berarti mengubah siklus hidup dari orientasi yang tradisional ke modern. Ini belum cukup, sebab berpendidikan dan bekerja berarti pula menunda usia kawin, terutama bagi perempuan. Keadaan ini sangat berperan dalam penurunan fertilitas yang bagi sebagian besar negara berkembang menjadi sasaran penting. Artinya, ukuran keluarga menjadi lebih kecil. Ternyata perubahan ukuran ini membawa perubahan ke berbagai aspek kehidupan keluarga antara lain, dengan rata-rata jumlah keluarga yang mengecil mengakibatkan bentuk keluarga luas (extended family) bergeser ke bentuk keluarga inti (nuclear family). Perlu dicatat bahwa jumlah anak dalam keluarga yang mengecil sejalan dengan penurunan fertilitas bukan satu-satunya penyebab di sini. Namun implikasi dari keluarga kecil terhadap kehidupan sosial dan ekonomi cukup besar. Dengan jumlah yang sedikit dan meningkatnya kemampuan ekonomi menyebabkan bantuan, dukungan ekonomi dan sosial seperti mengasuh anak, dari anggota keluarga luas berkurang. Pada masa transisi seperti ini tampaknya keuntungan ekonomis lebih berpihak pada generasi muda dibanding generasi tua, serta perempuan dibanding laki-laki. Dengan jumlah anak sedikit rata-rata anggota keluarga yang muda mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik. Sementara itu, kelompok usia lanjut mulai kurang diabaikan oleh generasi yang lebih muda. Pergeseran bentuk keluarga ini jelas berdampak psikologis bagi anggota-anggotanya. Tidak selamanya dampak tersebut negatif, seperti kurang hangatnya hubungan antar anggota keluarga, tetapi juga positif seperti otonomi individu.

 

Dalam usaha untuk mengkaji masalah keluarga pada masa kini, maka suatu hal yang sangat relevan untuk dipikirkan adalah masalah industrialisasi dan keluarga. Dimana terjadi suatu perubahan struktur dari masyarakat yang agraris menjadi industrialis. Goode mengemukakan pada masa kini bersamaan dengan proses industrialisasi dapat diamati suatu perubahan ke arah bentuk yang disebut keluarga konjugal. Secara singkat, keluarga konjugal menurut Goode adalah keluarga dimana keluarga batih menjadi semakin mandiri melakukan peran-perannya lebih terlepas dari kerabat-kerabat luas pihak suami istri. Secara ekonomi keluarga konjugal itu berdiri sendiri, tempat tinggal juga secara sendiri, tidak bersatu dengan kerabat luas. Seacar psikologis, satuan yang kecil ini menjadi semakin berdikari. Ini berarti juga bahwa hubungan emosional di antara suami istri lebih sentral dalam kehidupan keluarga yang memang menyebabkan hubungan mereka menjadi akarab. Akan tetapi kemungkinan keluarga pecah juga lebih besar karena yang mengikatnya adalah terutama suami istri itu saja. Sedangkan dalam keluarga tradisional masih ada anggota keluarga luas yang mengikat keluarga kecil.

 

Sistem ekonomi yang bertopang pada industri, sistem keluarga juga telah berubah dari yang tradisional menjadi modern. Keluarga modern diamsusikan memiliki ciri-ciri tipe keluarga konjugal. Seperti yang telah disebutkan diatas, keluarga konjugal suami istri terlibat dalam hubungan yang setaraf, mempunyai hubungan personal yang akrab, antara anak dan orang tua terdapat hubungan yang tidak otoriter atau berciri demokratis, para remaja kawin dalam umur yang tidak terlalu muda. Perubahan yang berlangsung terhadap keluarga hanya dapat dipahami sepenuhnya bila kita berangkat dari pengetahuan baseline mengenai keluarga dan hal itu harus dilandaskan pada pengenalan sejarah dari keluarga sebagai pranata sosial.

 

Dalam kajian perubahan keluarga ketika masyarakat mengalami proses industrialisasi, gejala wanita bekerja tentulah menjadi perhatian besar. Adanya perluasan bidang pekerjaan dan pertumbuhan kemandirian keluarga sebagai fenomena yang muncul dalam masyarakat modern mempengaruhi pola pikir khususnya kaum perempuan untuk ikut ambil bagian dalam arena yang penuh persaingan tersebut. Dahulu perempuan dituntut untuk selalu berada di dalam rumah mengurus rumah tangga, anak dan suami, tetapi di jaman modern saat ini kaum perempuan tidak mau lagi selalu berada di lingkungan rumah tangga yang serba terbatas sehingga mereka tidak bisa mengembangkan diri dan kariernya. Dengan perkembangan jaman para perempuan tidak mau lagi hanya berdiam diri di rumah dan menggantungkan ekonominya pada suami. Namun dalam kenyataan sebenarnya bnayak tantangan ternyata presentase wanita bekerja meningkat juga dan kemungkinan besar terjadi karena di pasaran tenaga kerja yang memperoleh pekerjaan yang ditawarkan adalah yang mampu.

 

Di indonesia kelihatannya arti keluarga luas masih tetap besar, walaupun perubahan masyarakat telah berlangsung ke arah struktur ekonomi yang industrial. Kemungkinan sifat keluarga itu masih tetap akan bertahan, karena individualisme tidak merupakan ciri menonjol. Tetapi kita tidak dapat memsatikan apakah hal itu akan bertahan terus bila proses industrialisasi akan meningkat. Karena itu, maka pengkajian mengenai sistem keluarga dalam masyarakat kita yang sedang berubah akan semakin penting.

 

Dalam usaha kita untuk mengkaji masalah keluarga pada masa kini,maka suatu hal yang sangat relevan untuk dipikirkan adalah masalah industrialisasi dan keluarga. Dalam buku Goode yang berjudul World Revolution and Family Patterns mengemukakan bahwa pada masa kini bersamaan dengan proses industrialisasi dapat diamati suatu perubahan yang terjadi secara global,yaitu bahwa keluarga di mana-mana mengalami perubahan ke arah bentuk yang dia sebut sebagai keluarga konjugal. Secara singkat keluarga konjugal menurut Goode adalah keluarga di manakeluarga batih menjadi semakin mandiri melakukan peran-perannya lebih terlepas dari kerabat luas puhak suami atau istri.

 

Secara ekonomi keluarga konjugal itu berdiri sendiri,tempat tinggal juga secara tersendiri,tidak bersatu dengan kerabat luas. Secara psikologis  satuan yang kecil ini menjadi semakin berdikari. Ini berarti juga bahwa hubungan emosional di antara suami istri menjadi lebih sentral dalam kehidupan keluarga yang memang menyebabkan hubungan mereka menjadi akrab. Akan tetapi kemungkinan keluarga pecah juga lebih besar karena yang mengikatnya adalah terutama suami dan istri itu saja,sedangkan dalam keluarga tradisionalmasih ada anggota keluarga luas yang mengiokat keluarga kecil.

 

KELUARGA MODERN DI INDONESIA

Ada yang mendefinisikan dengan batasan ikatan perkawinan, ada juga yang mendefinisikannya sebagai unit terkecil masyarakat dan bila secara administrasi adalah semua yang tergabung dalam kartu keluarga.Pandangan tersebut sudah tepat. Namun jika mengaitkan peran keluarga terhadap dampak sosial di zaman modern ini, akan lebih mengena bila mendudukkan keluarga itu sebagai ”organisasi terkecil” bukan lagi sekedar unit terkecil yang statis dalam masyarakat. Kita tahu bahwa organisasi itu idealnya memiliki sifat interaktif, saling ketergantungan,pekat dalam komunikasi, dan memiliki tujuan-tujuan dalam arah yang sama.

 

Di zaman modern ini, keberadaan setiap anggota keluarga berdasar ikatan perkawinan di dalam satu tempat, satu rumah cenderung tidak populer lagi. Kondisi perekonomian yang berkembang, geografis yang berubah, banyak menjadikan mereka hidup berpencar untuk mencari nafkah, belajar,berkarya dengan mobilitas antar wilayah dan lain seperti contohnya di kota Jakarta. Anak rantau makin banyak, bisnis rumah kos, kontrakan dan juga asrama sudah menjamur. Budaya asal mulai memudar karena bercampur dengan aneka budaya di tempat kerja,dan sosialitanya.

 

Maka sudah saatnya melihat keluarga dengan lebih luas, tanpa terbatas pada ikatan perkawinan saja.Jangan terlupakan bahwa keluarga di zaman modern ini menjadi sebuah institusi yang bisa dalam bentuk sekelompok pekerja, sekelompok permainan, sekelompok tim dengan hobi yang sama,sekelompok persaudaraan dan kelompok- kelompok lain.Dalam bentuk- bentuk seperti itulah pengaruh yang menjalar ke sesamanya lebih efektif.Baik itu pengaruh budaya, pembinaan mental, lingkungan, saling melindungi, ekonomi, dan yang utama juga adalah pengaruh informasi. Kita seakan terlena bahwa kehidupan keluarga seperti ini kadang bisa mengalahkan interaksi dalam keluarga inti.

 

Coba renungkan, berapa jam, berapa hari kita bisa secara aktif dan berkualitas berinteraksi dengan keluarga inti? Bisa jadi, anak balita yang kita tinggalkan di rumah lebih banyak interaksinya dengan para baby sitter karena lebih dari 9 jam di dekatnya. Tak sedikit para orang tua lebih dari separuh hari melakukan interaksi berkualitas dengan tim kerjanya, dengan teman sosial lainnya, karena sesampainya di rumah sudah letih dan waktunya banyak untuk beristirahat. Nyaris lenyap interaksi berkualitas untuk saling menularkan nilai nilai luhur, cara pandang ”versi keluarga”. Atau bisa sebaliknya, pembantu rumah tangga yang fresh dari desa ke kota bisa mendadak berkembang mental dan kepribadiannya, karena intensif berinteraksi dengan ibu majikan di rumah yang senantiasa mengatur ini dan itu dengan tata nilainya.

 

Tak terasa, hampir kedelapan fungsi keluarga menurut Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1994 (yakni: fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, melindungi, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi,pembinaan lingkungan) bisa seolah tergantikan oleh institusi keluarga dalam bentuk lain yang di luar ikatan perkawinan. Tentu saja, Anda sudah pasti menjawab yang tak tergantikan adalah fungsi reproduksi.Tapi untuk urusan membangun mental bangsa,sosialisasi program-program keluarga atau sebaliknya untuk meredam gosip nasional, klarifikasi gunjingan (rumours) menjadi perlu untuk mempertimbangkan fungsi keluarga yang realistis seperti keberadaan institusi keluarga di atas. Keluarga adalah media, bahkan setiap individu adalah media.

 

Siapa yang didengar dan dipercaya akan menjadi media pengaruh yang ampuh dan meluas.Sehingga apa pun pengaruh yang diharapkan bisa menjadi efektif hanya karena ”media hidup” (bukan terbatas pada media secara harfiah). Perluasan pengaruh yang terjadi di luar keluarga tak ayal karena adanya interaksi keterlibatan, komunikasi yang relatif lebih banyak di luar ”rumah”ketimbang di dalam. Dampaknya,jelas nyata.Di mana individu lebih sering berinteraksi, di sanalah akan lebih banyak memberi kesempatan pikirannya untuk berkembang, Kemudian hal itu bisa masuk menjadi memori dalam pikiran, berkembang menjadi nilai hidup hingga tercermin dalam sikap dan perilaku.

 

Menyadari pergeseran pola kehidupan sosial di zaman modern ini, tentu setiap keluarga yang sesungguhnya, juga tak ingin kehilangan peran.Untuk itu mari kita rekatkan lagi interaksi keterlibatan dan komunikasi di antara kita sesama anggota keluarga. Dengan keterlibatan yang baik,akan menghasilkan komitmen yang lebih erat. Tanpa adanya keterlibatan (emosi dan interaksi) maka komitmen tak bisa diharapkan. Perlahan dan pasti, mari bergeraklah semua untuk keterlibatan masing-masing diri kita dalam keluarga. Merekatkan lagi yang renggang, memperjelas lagi nilainilai luhur, budi pekerti, moral dan saling mengingatkan lagi untuk jalin komunikasi sesama dan vertikal pada Sang Pencipta.

 

Karena bagaimanapun yang melekat secara formasi adalah keluarga yang berdasar ikatan perkawinan, sedangkan lainnya akan senantiasa berubah (pindah kerja,pindah tempat tinggal,berganti komunitas). Dalam keluargalah, awal pembentukan nilai-nilai luhur kehidupan, bilamana tertanam dengan kuat maka akan menjadi prinsip hidup yang dipertahankan walaupun berada dalam lingkungan atau institusi keluarga baru. Lingkungan jangan menyetir diri menjadi sesat, melainkan kita cipta bersama agar menjadikan individu berkembang dewasa.

 

 

 

BAB III

Penutup

Kesimpulan

            Makalah yang mengangkat judul tentang Keluarga Modern di Indonesia ini berisi tentang banyak hal yang menjelaskan tentang apa itu definisi keluarga, definisi modern, definisi keluarga modern, karakteristik keluarga modern, serta memberikan studi kasus tentang keluarga modern di Negara Indonesia.

            Berdasarkan hasil diskusi kelompok untuk dapat menjawab 4 rumusan masalah tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut,

Pertama,  Keluarga merupakan kelompok primer yang terpenting dalam masyarakat. Secara historis keluarga terbentuk paling tidak dari satuan yang merupakan organisasi terbatas, dan mempunyai ukuran yang minimum, terutama pihak-pihak yang pada awalnya mengadakan suatu ikatan.

Kedua, tentang istilah atau kata modern berasal dari kata latin yang berarti “sekarang ini ”. Dalam pemakaiannya kata modern mengalami perkembangan, sehingga berubah menjadi sebuah istilah. Kalau sebuah ” kata” hanya mengandung makna yang relatif sempit, sedangkan sebuah ” istilah”  akan mengandung makna yang relatif lebih luas. Modern sebagai sebuah istilah dalam  masyarakat kita sudah mulai familiar, walaupun masih banyak yang verbalisme.

Ketiga, keluarga modern adalah suatu bentuk keluarga yang mengikuti trend (peradaban terbaru) sebagai akibat dari penyesuaian-penyesuaian terhadap gejala-gejala baru yang disebabkan oleh semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Keempat, karakteristik dari keluarga modern, Pergeseran dari extended family menjadi nuclear family karena anggotanya semakin menurun.Keluarga yang mengedepankan peningkatkan level pendidikan dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Mencapai pendidikan yang tinggi dan masuk dalam pasar kerja berarti mengubah siklus hidup dari orientasi yang tradisional ke modern. Adanya pekerjaan perempuan di luar keluarga sehingga pembagian kerja dalam rumah tangga berubah. Diasumsikan keluarga modern itu sama dengan keluarga konjugal, keluarga konjugal itu berdiri sendiri, tempat tinggal juga secara sendiri, tidak bersatu dengan kerabat luas. Seacar psikologis, satuan yang kecil ini menjadi semakin berdikari. Ini berarti juga bahwa hubungan emosional di antara suami istri lebih sentral dalam kehidupan keluarga yang memang menyebabkan hubungan mereka menjadi akarab. Akan tetapi kemungkinan keluarga pecah juga lebih besar karena yang mengikatnya adalah terutama suami istri itu saja.

 

Saran

Dari masalah yang telah dikaji diatas, dapat diketahui bahwa keluarga modern itu juga memiliki kelemahan dibanding dengan keluarga tradisional yang mana keluarga modern lebih bersifat individualis dibanding keluarga tradisional. Keluarga tradisional lebih dekat serta lebih akrab hubungan kekeluargaannya dibandingkan dengan keluarga modern. Oleh sebab itu, kita yang mana telah dikategorikan sebagai keluarga modern hendaknya tetap menjaga nilai nilai keharmonisan dan nilai kekeluargaan yang utuh pada keluarga kita terutama juga keluarga besar. jangan sampai kita merupakan contoh nyata dari pribahasa “bagai kacang lupa kulitnya”. Pekerjaan tetap penting dan haruslah dikejar untuk kemapanan hidup, akan tetapi, keluarga tetaplah yang harus di nomer satukan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA


  • Garna, Judistira K. 1992. Teori-Teori Perubahan Sosial. Bandung: Universitas Padjajaran
  • Goode, William J. 2006. Sosiologi Keluarga. Jakarta: Bumi Aksara
  • Johnson, Doyle P. (diindonesiakan oleh Robert M.Z. Lawang). 1996. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT Gramedia
  • Ihromi, T.O, 1999.  Bunga rampai sosilogi keluarga. Jakarta; Yayasan Obor Indonesia
  • Jalius.2009.Pengertianmodern,http://jalius12.wordpress.com/2009/10/18/pengertian-modern/, Maret 2013

 


1 Komentar

Kang mujib

pada : 07 April 2015


"Thanks gan, ijin copy buat bikin referensi"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :