MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Sejarah Perkembangan Sosiologi

diposting oleh alhada-fisip11 pada 24 March 2013
di Pengetahuan Akademik - 0 komentar

 

 

..........  Sosiologi termasuk ilmu yang paling muda dari ilmu-ilmu sosial yang dikenal. Seperti ilmu yang lain, perkembangan sosiologi dibentuk oleh setting sosialnya, dan sekaligus menjadikan setting sosialnya ini sebagai basis masalah pokok yang dikaji. Awal mula perkembangan sosiologi bisa dilacak pada saat revolusi Perancis, dan revolusi industri yang terjadi sepanjang abad ke-19 yang menimbulkan kekhawatiran, kecemasan sekaligus perhatian dari para pemikir di waktu itu tentang dampak yang ditimbulkan dari perubahan dahsyatnya di bidang politik dan ekonomi kapitalistik di masa itu.

 

            Tokoh yang sering dianggap sebagai “Bapak Sosiologi” adalah August Comte, seorang ahli filsafat dari Perancis yang lahir tahun 1798. August Comte mencetuskan pertama kali nama sociology dalam bukunya yang tersohor Positive Philosophy yang terbit tahun 1838. Istilah sosiologi berasal dari bahasa Laitin socius yang berarti “kawan” dan bahasa Yunani logos berarti “kata” atau “berbicara”. Jadi, sosiologi berarti berbicara mengenai masyarakat. Menurut Comte, di dalam hierarkhi ilmu, sosiologi menempati urutan teratas diatas astronomi, fisika, ilmu kimia, dan biologi. Pandangan Comte yang dianggap bara pada waktu itu adalah ia percaya bahwa sosiologi harus didasarkan pada observasi dan klasifikasi yang sistematis, dan bukan pada kekuasaan serta spekulasi.

 

            Istilah sosiologi menjadi lebih populer  setelah abad kemudian berkat jasa Herbert Spencer ilmuan dari Inggris yang menulis buku Principles of Sociology (1876). Spencer menerapkan teori evolusi organik pada masyarakat manusia dan mengembangkan teori besar tentang evolusi sosial yang diterima secara luas beberapa puluh tahun kemudian.

 

            Banyak ahli sepakat bahwa faktor yang melatar belakangi kelahiran sosiologi adalah karena adanya krisis-krisis yang terjadi di dalam masyarakat. Laeyendecker (1983), misalnya, mengaitkan kelahiran sosiologi dengan serangkaian perubahan dan krisis yang terjadi di ropa Barat. Proses perubahan dan krisis yang diidentifikasi Laeyendecker antara lain: tumbuhnya kapitalisme pada akhir abad ke-15, perubahan-perubahan di bidang sosial politik, perubahan berkenaan dengan revormasi Martin Luther, meningkatnya individualisme, lahirnya ilmu pengetahuan modern, berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri, dan revolusi industri abad ke-18 serta terjadinya revolusi Perancis. Sosiologi acapkali disebut sebagai “ilmu keranjang sampah” (dengan nada memuji), karena membahas ihwal atau masalah yang tidak dipelajari ilmu-ilmu yang sebelumnya dan karena kajiannya lebih banyak terfokus pada problem kemasyarakatan yang timbul akibat krisis-krisis sosial yang terjadi.

 

            Sejak awal kelahirannya, sosiologi benyak dipengaruhi oleh filsafat sosial. Tetapi, berbeda dengan filsafat sosial yang banyak dipengaruhi ilmu alam dan memandang masyarakat sebagai “mekanisme” yang dikuasai hukum-hukum mekanis, sosiologi lebih menempatkan warga masyarakat sebagai individu yang relatif bebas. Para filsuf sosial seperti Plato dan Aristoteles umumnya berkeyakinan bahwa seluruh tertip dan keteraturan dunia dan masyarakat langsung berasal dari suatu tertip dan keteraturan yang adi-manusiawi, abadi, tak terubah, dan ahistoris. Sementara sosiologi justru mempertanyakan keyakinan lama para filsuf ini, dan sebagai gantinya muncullah keyakinan baru yang dipandang lebih mencerminkan realitas sosial yang sebenarnya. Para ahli sosiologi telah menyadari bahwa bentuk kehidupan bersama adalah ciptaan manusia itu sendiri. Bentuk-bentuk masyarakat, gejala pelapisan sosial, dan pola-pola interaksi yang berbeda, sekarang lebih dilihat sebagai hasil inisiatif atau hasil kesepakatan manusia itu sendiri.

 

..........  Sosiologi baru memperoleh bentuk dan diakui eksistensinya  sekitar abad ke-19, tidaklah berarti bahwa baru pada waktu itu orang-orang memperoleh pengetahuan tentang bagaimana masyarakat dan interaksi sosial. Jauh sebelum August Comte memproklamasikan kehadiran sosiologi, orang-orang telah memiliki pengetahuan akan kehidupannya yang diperoleh dari pengelaman. Hanya karena belum terumus menurut metode-metode yang mantap, pengetahuan orang-orang itu disebut pengetahuan sosial: bukan pengetahuan ilmiah atau ilmu.

 

..........  Mengapa pengetahuan ilmiah tidak bisa digolongkan sebagai ilmu? Berbeda dengan pengetahuan ilmiah yang bisa diuji kembali kebenarannya, pengetahuan sosial memiliki sejumlah keterbatasan dan kelemahan. Leo nardus Laeyendecker (1983) menyebut ada tiga keterbatasan dari pengetahuan sosial, yakni: pertama, karena pengetahuan sosial diperoleh orang dari lingkungannya yang relatif terbatas. Kehidupan masyarakat di luar lingkungan pergaulannya, mereka sama sekali tidak memahaminya. Kedua, karena pengetahuan sosial diperoleh secara selektif menurut emosi-emosi dan karakteristik pribadi masing-masing orang, sehingga besar kemungkinan atau sekurang-kurangnya bukan tidak mungkin muncul bias. Ketiga, karena pengetahuan sosial acap kali diperoleh secara tidak sengaja, main-main, dan karenanya kurang dipikirkan secara mendalam dan tidak selalu ditinjau secara kritis.

 

..........  Perkembangan sosiologi yang makin mantap terjadi tahun 1895, yakni pada saat Emile Durkheim seorang ilmuan Perancis menerbitkan bukunya Rules of Siciological Method. Dalam buku yang melambangkan namanya ini, Durkheim menguraikan tentang pentingnya metodologi ilmiah didalam sosiologi untuk meneliti fakta sosial. Durkheim saat ini diakui banyak pihak sebagai “Bapak Metodologi Sosial”, dan bahkan Reiss (1968), misalnya, lebih setuju menyebut Emile Durkheim sebagai penyumbang utama kemunculan sosiologi. Durkheim bukan saja mampu melambungkan perkembangan sosiologi di Perancis, tetapi ia juga telah berhasil mempertegas eksistensi sosiologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan ilmiah yang memiliki ciri-ciri terukur, dapat diuji, dan objektif.

 

..........  Menurut Durkheim, tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang ia sebut sebagai fakta-fkta sosial, yakni sebuah kekuatan dan struktur yang bersifat eksternal, tetatapi mampu mempengaruhi perilaku individu. Dengan kata lain, fakta sosial merupakan cara-cara bertindak, berpikir, dan berperasaan, yang berada di luar individu, dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikan. Fakta sosial disini maksudnya tidak hanya bersifat material, tetapi juga non material, seperti kultur, agama atau institusi sosial.

 

..........  Pendiri sosiologi yang lain, Max Weber memiliki pendekatan yang berbeda dengan Durkheim. Menurut Weber, sebagai ilmu yang mencoba memahami masyarakat dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya, sosiologi tidak semestinya berkutat pada persoalan pengukuran yang sifatnya kuantitatif dan sekedar mengkaji pengaruh faktor-faktor eksternal, tetapi yang lebih penting sosiologi bergerak pada upaya memahami di tingkat makna, dan mencoba mencari penjelasan pada faktor-faktor internal yang ada di masyarakat itu sendiri. Pada batas-batas tertentu, Weber dengan demikian mengajak para sosiolog keluar dari pikiran-pikiran ortodok yang acapkali terlalu menekankan pada obyektifitas dan kebenaran eksklusif, dan secara terbuka mengajak untuk mengakui relativitas interpretatif. Secara substansial, pendekatan yang ditawarkan Weber memang berbeda dengan Durkheim. Tetapi justru karena itulah perkembangan sosiologi kedepannya tidak pernah stagnan, apalagi mati. Sebagai sebuah ilmu yang relatif baru, perkembangan sosiologi justru selalu mencoba mencari bentuk dan memperbaiki berbagai kekurangan yang ada.

 

..........  Memasuki abad ke-20, perkembangan sosiologi makin variatif. Dipelopori tokoh-tokoh ilmu sosial kontemporer terutama Anthony Gidden, fokus minat sosiologi dewasa ini bergeser dari structures ke agency, dari masyarakat yang dipahami terutama sebagai seperangkat batasan eksternal yang membatasi bidang pilihan yang bersedia untuk anggota masyarakat tersebut, dan dalam beberapa hal menentukan perilaku mereka, menuju ke era baru: memahami latar belakang sosial sebagai kumpulan sumber daya yang diambil oleh aktor-aktor untuk mengejar kepentingan mereka sendiri.

 

..........  Sosiologi sampai pada taraf yang belum pernah terjadi sebelumnya, dimana kini sosiologi telah menerima pandangan hermeneutika, menekankan bahwa realitas sosial secara intrinsik adalah bermakna (diberi makna oleh aktor yang memproduksinya), dan bahwa untuk memahami realitar tersebut maka seseorang harus merekonstruksi makna yang diberikan aktor tersebut.

 

..........  Diera tahun 2000-an ini, perkembangan sosiologi semakin mantap dan kehadirannya diakui banyak pihak memberikan sumbangan yang sangat penting bagi usaha pembangunan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Bidang-bidang kajian sosiologi juga terus berkembang makin variatif dan menembusa batas-batas disiplin ilmu lain. Misalnya mencatat sejumlah bidang kajian sosiologi yang saat ini telah dikenal dan bayak dikembangkan diantaranya: sosiologi terapan, sosiologi budaya, perilaku kelompok, perilaku menyimpang, sosiologi industri, sosiologi kesehatan, metodologi dan statistik, sosiologi hukum, sosiologi politik, sosiologi militer, perubahan sosial, sosiologi pendidikan, sosioloogi perktaan, sosiologi pedesaan, sosiologi agama, dan sosiologi ekonomi. Di tahun-tahun berikut, seiring dengan perkembangan masyarakat yang semakin kompleks, bisa diramalkan bahwa perkembangan sosiologi juga akan semakin beragam dan semakin penting. Menurut Ferri & Stein (2008) dalam bukunya The Real Word, An Introduction to Sociology menyatakan bahwa bidang kajian sosiologi tadak lagi sebatas hanya mengenai kelompok, interaksi sosial, dan stratifikasi sosial, tetapi juga mengkaji persoalan perubahan sosial, perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat modern atau post-modern.

 

 

  • Sumber: Suyanto, Bagong, 2013. Sosiologi Ekonomi Kapitalis dan Konsumsi di Era Masyarakat Post-Modernisme. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :