MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Teori dan Pendekatan yang Mendasari Penelitian Kualitatif

diposting oleh alhada-fisip11 pada 13 March 2013
di Pengetahuan Akademik - 0 komentar

 

..........  Penggunaan metode penelitian kualitatif pertama-tama dikenal dalam studi-studi dari Chicago school di tahun 1910-1940. Selama periode ini penelitian-penelitian Universitas Chicago menghasilkan penelitian-penelitian dengan pengamatan terlibat (participant observation) dan berdasarkan pada catatan-catatan pribadi (personal documents). Sampai dengan tahun 1960-an, masyarakat ilmiah telah terbiasa dengan metode-metode participant observation, indepth interview, dan personal documents. Berbagai penelitian kualitatif yang dilakukan tersebut berakar dari sebuah paradigma yang disebut paradigma interpretatif. Pada perkembangan selanjutnya, metode penelitian kualitatif banyak digunakan dalam studi-studi antropologi, sosiologi, dan studi psikologi sosial.

            Setidaknya ada tiga teori dan pendekatan yang termasuk dalam paradigma interpretatif, yaitu pendekatan fenomenologi, interaksi simbolis, dan etnomenologi. Perspektif fenomenologi (phenomenology) yang memiliki sejarah panjang dalam filosofi dan sosiologi mempelajari bagaimana kehidupan sosial ini berlangsung  dan melihat tingkah laku manusia yang meliputi apa yang dikatakan dan diperbuat sebagai hasil bagaimana manusia mendefinisikan dunianya. Berdasarkan pemikiran ini maka untuk mengerti sepenuhnya bagaimana kehidupan sosial tersebut berlangsung maka harus memahami dari sudut pandang pelaku itu sendiri. Ahli-ahli yang menganut pendekatan ini ialah Edmund Husserl, Alfred Schutz, dan Max Weber dengan verstehen-nya.

            Selanjutnya, dari sudut pandang teori dan pendekatan interaksi simbolis, semua perilaku manusia pada dasarnya memiliki social meanings (Makna-makna sosial). Makna-makna sosial dari perilaku manusia yang melekat pada dunia sekitarnya itu penting untuk dipahami. Blumer mengembangkan tiga premis sehubungan dengan hal tersebut, yaitu: (1) Manusia bertindak terhadap sesuatu (orang) berdasarkan bagaimana mereka membari arti terhadap sesuatu (orang) tersebut; (2) “Meanings” atau makna merupakan produk sosial yang muncul dari interaksi sosial; dan (3) “Social Actor” memberikan makna melalui proses interpretatif.

            Hal tersebut mengandung arti bahwa dalam interaksi sosial penafsiran merupakan hal yang esensial yang mempengaruhi definisi sosial.  Konsep diri merupakan definisi yang diciptakan melalui interaksi dengan orang lain. Jadi, untuk mempelajari tingkah laku manusia kita harus memahami sistem makna yang diacu oleh orang yang dipelajari.  Peneliti harus memahami definisi sosial dan proses pendefinisiannya. Ahli-ahli yang menganut pendekatan ini ialah Charles Horton Cooley, George Herbert Mead, dan Herbert Blumer.

            Sedangkan pendekatan etnomenologi lebih merujuk pada bidang masalah yang diteliti, yaitu tentang bagaimana individu menciptakan dan memahami kehidupannya sehari-hari. Dalam hal ini yang ingin dipahami adalah bagaimana orang-orang melihat, menerangkan, dan menguraikan keteraturan dunia tempat hidupnya. Fokus penelitiannya adalah realitas sosial dari kehidupan manusia sehari-hari. Jadi yang dipentingkan adalah hal-hal yang nyata dan apa adanya menurut yang dilihat dan diketahui. Karena itu pendekatan etnomenologi cenderung memfokuskan pada masalah-masalah mikro dan penelitian tidak ubahnya sebagai “Juru Potret”. Ahli-ahli yang melakukan studi etnomenologi diantaranya adalah Garfinkel, dan D. Lawrence Wieder.

            Mendasarkan pemikiran pada pendekatan-pendekatan tersebut maka peneliti harus dapat “menangkap” proses interpretasi dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang orang yang diteliti. Pendekatan ini berasumsi bahwa peneliti tidak mengetahui arti segala sesuatu dari orang-orang yang  sedang diteliti. Menggunakan pendekatan-pendekatan ini peneliti berusaha mendalami aspek “subyektif” dari perilaku manusia dengan cara “masuk” ke dunia konseptual orang-orang yang diteliti. Dengan cara tersebut diharapkan peneliti dapat mengerti bagaimana makna sosial dan wacana-wacana dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.
            Pemahaman mengenai dasar teori dan pendekatan dari penelitian kualitatif sangatlah penting sehingga dapat dipahami mengapa metode penelitian kualitatif berbeda dengan metode penelitian kuantitatif. Dari hal tersebut dapat dipahami mengapa penelitian kualitatif mengajukan research questions yang berbeda. Selain itu, penelitian kualitatif juga mencari jawaban yang berbeda dari kehidupan sosial yang diteliti. Kerena itu penelitian kualitatif memerlukan prosedur penelitian yang berbeda.

            Sekian dulu penjelasan dari saya mengenai teori dan pendekatan dalam penelitian kualitatif. Untuk mengetahui karakteristik dari penelitian kualitatif lebih jauh lagi, tunggu postingan saya selanjutnya yang IngsyaAllah besok akan membahas karakteristik dari penelitian kualitatif secara lebih mendalam.

 

  • Sumber: Hendrarso, Emy Susanti. 2011. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :