MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Yogyakarta Dalam Konteks Sosiologi Perkotaan

diposting oleh alhada-fisip11 pada 11 March 2013
di Makalah - 1 komentar

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji sykur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena limpahan rahmat-Nyalah, penulis dimampukan untuk menyusun makalah ini dengan segala kendala dan halangan yang ada sesuai dengan garis-garis besar program pengajaran yang telah terlampir dalam rencana pengajaran Sosiologi Perkotaan.

 

Melalui makalah ini, kami berharap agar kami sendiri dapat memperoleh manfaat yang diharapkan dan bagi Mahasiswa dapat memperoleh ketuntasan belajar sekaligus akan memudahkan para Dosen dalam mengelola kegiatan pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode penyajian.

 

Makalah ini membahas tentang salah satu kota di Indonesia. Mengapa kota tersebut layak disebut sebagai kota dengan pembahasan-pembahasan yang gamblang serta melibatkan studi komparatif yang seolah berdialeg dan berdiskusi tentang apa itu kota. Turut membawakan representasi Karl Marx, Max Weber, dan beberapa tokoh Sosiologi lainnya dalam prespektif Sosiologi perkotaan.

 

Akhir kata penulisan berharap agar makalah ini dapat membantu dan memberikan wacana bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.

 

Surabaya, 5 Maret  2013

Penulis

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.        Latar Belakang Masalah

Begitu banyak bayangan kita tantang kota yang tanpa ada batasan yang jelas, yang mana dalam bayangan kita ketika ada istilah kota, maka yang kita bayangkan adalah sebuah wilayah yang selalu sibuk dengan segala aktivitasnya. Dan kota selalu dipandang sebagai pusat pendidikan, pusat kegiatan ekonomi, dan pusat pemerintahan. Namun, berdasarkan sejarahnya perkembangan kota itu berasal dari tempat-tempat pemukiman yang sangat sederhana. Begitupun mengenai ruang lingkupnya pasti terdapat batasan-batasan konkritnya juga.

 

Maka untuk itu dalam makalah ini kami mencoba memaparkan pengertian kota menurut para ahlinya serta aspek-aspek dari perkotaan. Yang nantinya dapat dijadikan sebagai pembanding dalam mencermati setiap keadaan di lingkungan kita.

 

 

B.        Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang yang sudah dipaparkan tadi, penulis ingin memberikan rumusan masalah diantaranya sebagai berikut :

  1. Bagaimana pengertian kota secara konkrit ?
  2. Bagaimana pengertian kota menurut para ahli ?
  3. Apa saja yang termasuk ruang lingkup dari kota ?
  4. Bagaimana keruangan kota menurut beberapa aspek ?
  5. Mengapa Kota Yogyakarta dapat disebut sebagai kota?

 

 

C.        Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini ialah selain untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Sosiologi Perkotaan, juga untuk memberikan gambaran serta pengetahuan secara umum mengenai Pengertian dari sosiologi perkotaan serta ruang lingkup kajiannya.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.        Pengertian Sosiologi Perkotaan

Sosiologi perkotaan merupakan bagian dari studi sosiologi tentang kehidupan sosial dan interaksi manusia di wilayah metropolitan. Sosiologi perkotaan mempelajari masyarakat perkotaan dan segala pola interaksi yang dilakukannya sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Materi yang dipelajari antara lain mata pencaharian hidup, pola hubungan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, dan pola pikir dalam menyikapi suatu permasalahan. Studi ini adalah disiplin sosiologi norma yang mempelajari struktur, proses, perubahan dan masalah di sebuah wilayah urban dan memberi masukan untuk perencanaan dan pembuatan kebijakan.

 

Seperti bidang sosiologi yang lainnya, sosiologi perkotaan juga menggunakan analisis statistik, pengamatan, teori sosial, wawancara, dan metode lain untuk mempelajari berbagai topik, seperti migrasi dan demografi, ekonomi, kemiskinan, hubungan ras, dan lainnya.

 

B.        Pengertian Kota Menurut Para Ahli

Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Kota bisa dibilang sebagai tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih. Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan. Berikut pengertian kota menurut beberapa ahli :

 

  1. Max Weber berpendapar bahwa “suatu tempat adalah kota apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar lokal. Barang-barang itu harus dihasilkan oleh penduduk dari pedalaman dan dijualbelikan di pasar itu. Jadi menurut Max Weber, ciri kota adalah adanya pasar, dan sebagai benteng, serta mempunyai sistem hukum dan lain-lain tersendiri, dan bersifat kosmopolitan.
  2. Cristaller dengan “central place theory”-nya menyatakan kota berfungsi menyelenggarakan penyediaan jasa-jasa bagi daerah lingkungannya. Jadi menurut teori ini, kota diartikan sebagai pusat pelayanan. Sebagai pusat tergantung kepada seberapa jauh daerah-daerah sekitar kota memanfaatkan penyediaan jasa-jasa kota itu. Dari pandangan ini kemudian kota-kota tersusun dalam suatu hirarki berbagai jenis.
  3. Sjoberg berpendapat bahwa , sebagai titik awal gejala kota adalah timbulnya golongan literati (golongan intelegensia kuno seperti pujangga, sastrawan dan ahli-ahli keagamaan), atau berbagai kelompok spesialis yang berpendidikan dan nonagraris, sehingga muncul pembagian kerja tertentu. Pembagian kerja ini merupakan ciri kota.
  4. Wirth, mendifinisikan kota sebagai pemukiman yang relatif besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Akibatnya hubungan sosialnya menjadi longgar acuh dan tidak pribadi (impersonal relation)
  5. Karl Marx dan F.Engels memandang kota sebagai “persekutuan yang dibentuk guna melindungi hak milik dan guna memperbanyak alat-alat produksi dan alat -alat yang diperlukan agar anggota masing-masing dapat mempertahankan diri”. Perbedaan antara kota dan pedesaan menurut mereka adalah pemisahan yang besar antara kegiatan rohani dan materi.
  6. Harris dan Ullman , berpendapat bahwa kota merupakan pusat pemukiman dan pemanfaatan bumi oleh manusia. Kota-kota sekaligus merupakan paradoks. Pertumbuhannya yang cepat dan luasnya kota-kota menunjukkan keunggulan dalam mengeksploitasi bumi, tetapi di pihak lain juga berakibta munculnya lingkungan yang miskin bagi manusia. Yang perlu diperhatikan, menurut Harris dan Ullman adalah bagaimana membangun kota di masa depan agar keuntungan dari konsentrasi pemikiman tidak mendatangkan kerugian atau paling tidak kerugian dapat diperkecil.
  7. Menurut ahli Geografi Indonesia, Prof. Bintarto, (1984:36) “kota dapat diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis, atau dapat pula diartikan sebagai benteng budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami dengan gejala-gejala pemutusan penduduk yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah belakangnya.”
  8. Menurut Arnold Tonybee, sebuah kota tidak hanya merupakan pemukiman khusus tetapi merupakan suatu kekomplekan yang khusus dan setiap kota menunjukan perwujudan pribadinya masing-masing dari tiap individu yang ada.

 

 

BAB III

RUANG LINGKUP SOSIOLOGI PERKOTAAN

 

Seperti disiplin ilmu lainnya, dalam sosiologi perkotaan juga memiliki berbagai ruang lingkup kajiannya tersendiri. Ruang lingkup dalam sosiologi perkotaan adalah mengenai kehidupan serta aktivitas masyarakat kota.

 

A.        Pengertian Masyarakat Perkotaan

Dalam masyarakat modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan. Sebenarnya perbedaan tersebut tidak mempunyai hubungan dengan pengertian masyarakat sederhana karena dalam masyarakat modern, seberapapun kecilnya desa, pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Pembedaan antara masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan, pada hakikatnya bersifat gradual. Agak sulit untuk memberikan batasan yang dimaksudkan dengan perkotaan karena adanya hubungan konsentrasi penduduk dengan gejala-gejala sosial yang dinamakan urbanisme.

 

Masyarakat perkotaan yang mana kita ketahui itu selalu identik dengan sifat yang individual, egois, matrealistis, penuh kemewahan, dikelilingi gedung-gedung yang menjulang tinggi, perkantoran yang mewah, dan pabrik-pabrik yang besar. Asumsi dasar kita tentang kota adalah tempat kesuksesan seseorang.

 

Masyarakat  perkotaan lebih dipahami sebagai kehidupan komunitas yang memiliki sifat kehidupan dan ciri-ciri kehidupannya berbeda dengan masyarakat pedesaan. Akan tetapi kenyataannya di perkotaan juga masih banyak terdapat beberapa kelompok pekerja-pekerja di sektor informal, misalnya tukang becak, tukang sapu jalanan, pemulung sampai pengemis. Dan bila kita telusuri masih banyak juga terdapat perkampungan-perkampungan kumuh tidak layak huni.

 

B.        Ciri-ciri Masyarakat Kota:

  1. Hubungan   dengan  masyarakat   lain   dilakukan   secara   terbuka   dengan suasana yang saling memepengaruhi.
  2. Keprcayaan yang kuat akan Ilmu Pengetahuan Teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
  3. Masyarakatnya   tergolong   ke   dalam  macam-macam   profesi yang   dapat dipelajari dan ditingkatkan dalam lembaga pendidikan, keterampilan dan kejuruan.
  4. Tingkat pendidikan formal pada umumnya tinggi dan merata
  5. Hukum yang berlaku adalah hukum tertulis yang sangat kompleks.

 

C.        Kehidupan Masyarakat perkotaan

Secara sosiologis penekanannya pada pola hubungan serta kesatuan masyarakat industri, bisnis, dan  wirausaha lainnya dalam struktur yang lebih kompleks.

 

Sedangkan secara fisik,  kota dinampakkan dengan adanya gedung-gedung yang menjulang tinggi, hiruk pikuknya kendaraan, pabrik, kemacetan, kesibukan warga masyarakatnya, persaingan yang tinggi, polusinya, dan sebagainya.

 

Masyarakat di perkotaan secara sosial kehidupannya cendrung heterogen, individual, persaingan yang tinggi yang sering kali menimbulkan pertentangan atau konflik. Munculnya sebuah asumsi yang menyatakan bahwa masyarakat kota itu pintar, tidak mudah tertipu, cekatan dalam berpikir, dan bertindak, dan mudah menerima perubahan, itu tidak selamanya benar, karena secara implisit dibalik semua itu masih ada masyarakatnya yang hidup di bawah standar kehidupan sosial. Untuk lebih memahami secara rinci mengenai kehidupan masyarakat perkotaan, berikut diuraikan beberapa ruang lingkup dari perkotaan :

 

ü  Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam

Bagi masyarakat kota cendrung mengabaikan kepercayaan yang berkaitan dengan kekuatan alam serta pola hidupnya lebih mendasarkan pada rasionalnya.

Dan bila dilihat dari mata pencahariannya masyarakat kota tidak bergantung  pada kekuatan alam, melainkan bergantung pada tingkat kemampuannya (capablelitas) untuk bersaing dalam dunia usaha. Gejala alam itu bisa dipahami secara ilmiah dan secara rasional dapat dikendalikan.

ü  Pekerjaan atau Mata Pencaharian

Kebanyakan masyarakatnya bergantung pada pola industri (kapitalis), bentuk mata pencaharian yang primer seperti sebagai pengusaha, pedagang, dan buruh industri. Namun ada sekelompok masyarakat yang bekerja pada sektor informal misalnya pemulung, pengemis dan pengamen.

ü  Ukuran Komunitas

Umumnya masyarakat perkotaan lebih heterogen dibandingkan masyarakat pedesaan. Karena mayoritas masyarakatnya berasal dari sosiokultural yang berbeda-beda, dan masing-masing dari mereka mempunyai tujuan yang bermacam-macam pula, diantaranya ada yang mencari pekerjaan atau ada yang menempuh pendidikan. Jumlah penduduknya masih relatif besar.

ü  Kepadatan penduduk

Tingkat kepadatan di kota lebih tinggi bila dibandingkan di desa, hal ini disebabkan oleh kebanyakan penduduk di daerah perkotaan awalnya dari berbagai daerah.

ü  Homogenitas dan Heterogenitas

Dalam struktur masyarakat perkotaan yang sering sekali nampak adalah heterogenitas dalam ciri-ciri sosial, psikologis, agama, dan kepercayaan, adat istiadat dan perilakunya. Dengan demikian struktur masyarakat perkotaan sering mengalami interseksi sosial, mobilitas sosial, dan dinamika sosial.

ü  Diferensiasi Sosial

Di daerah perkotaan, diferensiasi sosial relatif tinggi, sebab tingkat perbedaan agama, adat istiadat, bahasa, dan sosiokultural yang dibawa oleh para pendatang dari berbagai daerah cukup tinggi.

ü  Pelapisan Sosial

Lapisan sosialnya lebih didominasi oleh perbedaan status dan peranan di dalam struktur masyarakatnya. Di dalam struktur masyarakat modern lebih menghargai prestasi daripada keturunan.

ü  Mobilitas Sosial

Mobilitas pada masyarakat perkotaan lebih dinamis daripada masyarakat pedesaan. Kenyataan itu adalah sebuah kewajaran sebab perputaran uang lebih banyak terjadi di daerah perkotaan daripada di pedesaan.

ü  Interaksi Sosial

Dalam interaksi pada masyarakat perkotaan lebih kita kenal dengan yang namanya gesseslchaft yaitu kelompok patembayan. Yang mana ada hubungan timbal balik dalam bentuk perjanjian-perjanjian tertentu yang orientasinya adalah keuntungan atau pamrih. Sehingga hubungan yang terjadi hanya seperlunya saja.

ü  Pengawasan Sosial

Dikarenakan masyarakatnya yang kurang saling mengenal satu sama lain dan juga luasnya wilayah kultural perkotaan di tambah lagi keheterogenitasan masyarakatnya yang membuat sistem pengawasan sosial perilaku antar anggota masyarakatnya makin sulit terkontrol.

ü  Pola Kepemimpinan

Kepemimpinanya didasarkan pada pertanggung jawaban secara rasional atas dasar moral dan hukum. Dengan demikian hubungan antar pemimpin dan warga masyarakatnya berorientasi pada hubungan formalitas.

ü  Standar Kehidupan

Standar kehidupannya di ukur dari barang-barang yang dianggap punya nilai (harta benda). Mereka lebih mengenal deposito atau tabungan. Karena menurut mereka menyimpan uang dalam bentuk deposito dianggap lebih praktis dan mudah. Ditambah lagi kepemilikan barang-barang mewah lainnya.

ü  Kesetiakawanan Sosial

Ikatan solidaritas sosial dan kesetiakawanan lebih renggang, ikatan ini biasa disebut dengan patembayan. Artinya , pola hubungan untung rugi lebih dominan daripada kepentingan solidaritas dan kesetiakawanan.

ü  Nilai dan Sistem Nilai

Nilai dan sistem nilai di dalam struktur masyarakat perkotaan lebih bersifat formal, berdasarkan aturan-aturan yang resmi seperti hukum dan perundang-undangan.

 

C.        Keruangan Kota Jika dilihat dari Beberapa Aspek

Dalam konteks ruang kota merupakan suatu sistem yang tidak berdiri sendiri, karena secara internal kota merupakan satu kesatuan sistem kegiatan fungsional di dalamnya, sementara secara eksternal kota dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.

 

Kota ditinjau dari aspek fisik merupakan kawasan terbangun yang terletak saling berdekatan atau terkonsentrasi, yang meluas dari pusatnya hingga ke wilayah pinggiran atau wilayah geografis yang dominan oleh struktur binaan.

 

Kota ditinjau dari aspek sosial merupakan konsentrasi penduduk yang membentuk satu komunitas yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas melalui konsentrasi dan spesialisasi tenaga kerja, seperti produksi rumahan (Home Industry) dan UKM.

 

Kota ditinjau dari aspek ekonomi memiliki fungsi sebagai penghasil produksi barang dan jasa untuk mendukung kehidupan penduduknya dan untuk keberlangsungan kota itu sendiri.

 

Di indonesia kawasan perkotaan di bedakan berdasarkan strata administrasinya yakni :

  1. Kawasan perkotaan berstatus administratif daerah kota
  2. Kawasan perkotaan yang merupakan bagian dari daerah kabupaten
  3. Kawasan perkotaan baru yang merupakan hasil pembangunan yang mengubah kawasan pedesaan menjadi kawasan perkotaan, dan
  4. Kawasan perkotaan yang merupakan bagian dari dua atau lebih daerah yang berbatasan.

 

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN KOTA YOGYAKARTA

 

Jogja dikenal sebagai kota pendidikan, karena ratusan institusi pendidikan berjejalan di kota ini. Setiap tahun ribuan mahasiswa baru dari luar Jogja, bahkan luar Jawa datang ke Jogja untuk menuntut ilmu. Pemerintah Daerah dari luar Jogja menyediakan asrama bagi para mahasiswa daerah tersebut yang belajar di Jogja.



Sebagai konsistensi dari keberadaan beragam kelompok etnik tersebut, Jogja menjadi sangat heterogen dalam masyarakatnya. Data statistik menunjukan hampir 2% penduduk Jogja bukan orang Jawa. Maka pernikahan antar etnis pun tak ter-elakan. Uniknya orang luar Jawa yang menikah dengan orang Jawa merasa ‘nJawani’ (lebih Jawa) dibanding etnis aslinya.

 

Yogyakarta adalah tempat obyek wisata yang tidak asing lagi dimata orang ataupun di berbagai manca Negara. Disitu banyak berbagai tempat-tempat obyek pariwisata yang sangat penting, bersejarah dan mempunyai keunikan tersendiri dengan ciri-ciri khas unik yang melekat dan menjadi indentitas tersendiri bagi masing-masing
Tempat-tempat obyek pariwisata tersebut misalnya : Candi Borobudur, Candi Prambanan, Monumen Jogja Kembali (Monjali), Keraton Yogyakarta, Malioboro, Goa Jatijajar, Museum Dirgantara, dan Museum Kereta.

 

A.    Yogyakarta dan Para Ahli

Telah disebutkan sebelumnya beberapa pengertian mengenai kota oleh beberpa para ahli. Untuk menyebut apakah Yogyakarta merupakan daerah administratif yang dapat dikatakan sebagai “kota”, salah satu metode yang bisa digunakan ialah dengan melakukan komparasi antara definisi kota yang dipahami oleh beberapa ahli sosiologi dengan realitas yang nampak pada kota Yogyakarta.

 

  • Max Weber, berpendapat bahwa kota diidentikan sebagai pasar, dan sebagai benteng, serta mempunyai sistem hukum dan lain-lain tersendiri, dan bersifat kosmopolitan. Di Kota Yogyakarta sendiri, telah berdiri banyak mall-mall megah sebagai pusat perbelanjaan. Selain itu, masih ada juga pasar-pasar tradisional yang menjadi ciri kental dari daerah istimewa Yogyakarta ini. Meskipun daerahnya menjadi salah satu daerah yang unik dan spesifik, namun dalam hal ini Yogyakarta memberikan sumbangan besar bagi ekonomi negara terutama dalam bidang pariwisata.
  • Cristaller dengan “central place theory”. Kota sebagai pusat pelayanan, salah satu yang bisa kita ambil contoh disini adalah pusat pendidikan. Ya, sedikit banyak Kota Yogyakarta menjadi rujukan untuk melanjutkan pendidikan meunju tingkat universitas yang membuat banyak kaum pemuda melakukan urbanisasi dari desa ke kota dan menjadikan Kota Yogyakarta seolah sebagai salah satu pusat pendidikan di Jawa Tengah.
  • Wirth, mendifinisikan kota sebagai pemukiman yang relatif besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Keadaan ini setidaknya telah terjadi di Kota Yogyakarta. Fenomena urbanisasi dan pemujaan kota Yogyakarta sebagai salah satu kota pendidikan berimbas pada beragamnya jenis dan bentuk masyarakat yang ada. Hal ini kemudian membuat hubungan yang terjalin diantara individu yang ada menjadi beragam juga. Ada beberapa orang yang masih mempertahankan kesolidan hubungannya dengan lingkungannya, bahkan ada juga yang acuh tak-acuh terhadap lingkungannya.
  • Selain pengertian diatas, masih banyak pendapat dari para ahli yang bisa digunakan sebagai parameter untuk menyebut Yogyakarta sebagai salah satu bentuk perkotaan di Indonesia.

 

B.     Ciri-ciri Yogyakarta Sebagai Kota

Berikut beberapa ciri yang bisa digunakan sebagai parameter lain dalam memberikan gambaran mengapa daerah administratif Yogyakarta dapat kita klasifikasikan ke dalam salah satu jenis Kota yang ada di Indonesia:

 

  • Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam

Secara umum, orientasi masyarakat yang hidup dalam setting sosial kota Yogyakarta dapat kita sebut sebagai masyarakat yang kurang memperhatikan masalah alam. Pembangunan gedung-gedung mewah sebagai mall-mall atau tempat perbelanjaan serta renovasi ataupu pembangunan tempat pariwisata baru sedikit banyak telah memberikan gambaran kepada kita bahwa orientasi pengembangan kota bukan lagi terletak pada pelestarian alam secara keseluruhan, namun bagaimana memanfaatkan alam dan sumberdaya yang telah ada sehingga dapat terkonversi menjadi keuntungan yang berlimpah.

  • Pekerjaan atau Mata Pencaharian

Karena masyarakat semakin kompleks dan beragam, maka jenis-jenis pekerjaan pun juga berkembang menjadi semakin kompleks. Dalam hal ini, kompleksitas pekerjaan mungkin sedikit bisa kita sejajarkan dengan Surabaya maupun kota-kota besar lainnya. Karena, diversivitas dalam bidang pekerjaan bersifat menyeluruh di era globalisasi dan perkembangan teknologi yang kian pesat ini.

  • Ukuran Komunitas

Umumnya masyarakat perkotaan lebih heterogen dibandingkan masyarakat pedesaan. Karena mayoritas masyarakatnya berasal dari sosiokultural yang berbeda-beda, dan masing-masing dari mereka mempunyai tujuan yang bermacam-macam pula. Asumsi ini sangat cocok ketika kita mulai melihat relalitas tingkat urbanisasi di Kota Yogyakarta yang cukup tinggi. Salah satunya, ialah karena kebutuhan akan pendidikan dan dasilitas pendidikan yang layak yang ada di kota Yogyakarta, maka urbanisasi pun tidak bisa terhindarkan. Dari situlah, masyarakat mulai berubah menjadi bentuk lain yang mempunyai daya permisif yang cukup tinggi karena mereka sadar mereka hidup dari perbedaan latar belakang yang kental.

  • Kepadatan penduduk

Dengan batas administratif dan wilayah yang relatif sempit, namun Kota Yogyakarta mempunyai daya tarik tersendiri bagi beberapa orang. Terbukti dari tingginya tingkat urbanisasi. Kota Yogyakarta sendiri mempunyai tingkat kepadatan penduduk sebesar 13.253,4/km².

  • Homogenitas dan Heterogenitas

Tentu dengan tingginya tingkat urbanisasi dan kepadatan penduduk, masyatakat Yogyakarta bisa disebut sebagai masyarakat yang mempunyai heterogenitas yang tinggi.

  • Selain beberapa ciri diatas, masih banyak lagi ciri yang bisa digunakan sebagai tolok ukur untuk menyebut daerah administratif Yogyakarta sebagai salah satu kota di Indonesia.

 

C.    Yogyakarta Dipandang Dari Sisi Lain

Pengkategorisasian sebuah daerah bisa disebut sebagai sebuah kota dapat dilihat/ditinjau dari berbagai perspektif, termasuk kota Yogyakarta yang akan kami bahas dalam kesempatan kali ini. Kota Yogyakarta tersebut dapat disebut sebagai sebuah kota karena:

 

1. Secara Yuridis-Administratif Yogyakarta resmi tercantum dalam undang-undang sebagai  salah satu daerah yang disebut kota , dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

  • Utara: Berbatasan dengan Kecamatan Mlati dan Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman
  • Timur: Berbatasan dengan Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman dan Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul
  • Selatan: Berbatasan dengan Kecamatan Banguntapan, Kecamatan Sewon, dan Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul
  • Barat: Berbatasan dengan Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman dan Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

 

Selain itu kota yogyakarta secara resmi tercatat memiliki 14 kecamatan yaitu Kecamatan: Mantrijeron, Kraton, Mergangsan, Umbulharjo, Kotagede, Gondokusuman, Danurejan, Pakualaman, Gondomanan, Ngampilan, Wirobrajan, Gedongtengen, Jetis, Tegalrejo.

Dari sini sudah jelas bahwa Yogyakarta secara resmi tercatat dalam undang-undang sebagai salah satu kota di Indonesia.

 

2. Secara Fisik Morfologis Yogyakarta disebut sebagai kota karena yogyakarta merupakan sebuah daerah yang menampakkan fisik daerahnya sebagai sebuah kota, contohnya seperti pemukiman di kota yogyakarta yang sudah padat, banyak gedung-gedung bertingkat, banyak toko-toko besar (supermarket/hipermarket), dan jalan-jalan yang sudah ber-aspal.

 

 

Dari gambar diatas dapat kita ketahui bahwa daerah di yogyakarta menunjukkan pemukiman yang padat, banyak toko-toko, swalayan dan bangunan bertingkat yang secara padat berjajar di pinggir jalan dan dibangun secara permanen  untuk kegiatan jual beli dan juga industri kerajinan tangan dan juga industri makanan. Kemudian fasilitas-fasilitas umum di kota Yogyakarta juga sudah sangat modern dan beraneka ragam seperti Sekolah, Perguruan Tinggi, Rumasakit 24 jam, Bank, Money Changer, ATM, Apotek, Terminal, berbagai macam angkutan umum, dan lain sebagainya. Selain itu tidak jarang jalan-jalan di  kota jogyakarta mengalami kemacetan seperti layaknya kota-kota besar lain di Indonesia lainnya.

 

3. Ditinjau dari segi kepadatan penduduk, Yogyakarta juga masih masuk dalam kategori kota di Indonesia karena kepadatan penduduk tahun 2011 yang terdapat di kota Yogyakarta mencapai 15.197/km² dengan jumlah penduduk 490.433 jiwa dan luas wilayah 32,5 Km² hal ini berarti setiap 1 km² rata-rata dihuni oleh 15.197 penduduk sehingga kota Yogyakarta dapat dikatakan sebagai salah satu wilayah yang padat penduduknya seperti layaknya kota-kota besar lain di Indonesia.


4. Ditinjau dari Segi Sosio-Kultural Yogyakarta juga menampakkan kekotaannya, hal tersebut dapat kita lihat dari pengelompokan penduduk (Aglomerasi Penduduk) misalnya pengelompokan yang sesuai dengan jenis profesi yaitu para pedagang yang mengelompok berjualan di sepanjang jalan Malioboro, dan juga para pengrajin yang mengelompok tersendiri dalam sebuah wilayah pengrajin kerajinan tangan misalnya pembuat patung, asesoris, kaos, dan sebagainya. Pekerjaan masyarakat di kota Yogyakarta ini juga sangat beraneka ragam mulai dari pedagang, pengrajin, industri, PNS, peternak, petani dan sebagainya namun didominasi oleh sektor perdagangan dan juga kerajinan. Sementara itu, hubungan sosial diantara masyarakat di kota

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

A.        Kesimpulan

Berdasarkan analisis makalah diatas bisa kami tarik kesimpulan bahwa pengertian kota itu sangatlah beragam tergantung dari segi mana kita melihatnya, seperti yang sudah dipaparkan oleh para ahlinya di atas. Yang mana dalam kajian sosiologi perkotaan ini khususnya pembahasan mengenai ruang lingkupnya yaitu yang tidak jauh dari konteks masyarakat karena sosiologi selalu terkait dengan pola hubungan masyarakat. Maka ruang lingkup dari sosiologi perkotaan adalah mengenai kehidupan serta aktivitas dari masyarakat perkotaan itu sendiri.

 

Kemudian dalam kehidupan masyarakat kota bisa diuraikan dari beberapa ruang lingkup kajiannya, yaitu : lingkungan umum dan orientasinya, pekerjaan dan mata pencaharian, ukuran komunitas, kepadatan penduduk, homogenitas dan heterogenitas, deferensiasi sosial, pelapisan sosial, mobilitas sosial, interaksi sosial, pengawasan sosial, pola kepemimpinan, standar kehidupan, kesetiakawanan, nilai dan sistem nilai.

 

B.        Saran

Sebaiknya dalam mendalami sosiologi perkotaan yang pertama harus mengetahui dulu pengertian kota, dan juga aspek-aspek yang terkandung di dalamnya, agar untuk pembelajaran kedepannya bisa sepenuhnya dipahami.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

  • Ridwan Aziz. 2010. Desa dan Kota Dalam Kajian Sosiologi. http://kenalilahilmu.wordpress.com/2010/09/22/desa-dan-kota-dalam-kajian-sosiologi/ 5 Maret 2013.
  • Soekanto, Soerjono, “Sosiologi Suatu Pengantar”, Jakarta : Rajawali Pers, 2009.
  • Soembodo, Benny, 2012. Ekologi Kota. Surabaya: PT Revka Petra Media
  • Anonim. 2011. Pengertian dan Ruang Lingkup Sosiologi Perkotaan. http://sosiologiiainsupel.blogspot.com/2011/03/pengertian-dan-ruang-lingkup-perkotaan.html 5 Maret 2013.
  • http://www.jogjakota.go.id
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Yogyakarta
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi_perkotaan

 

1 Komentar

karimun jawa

pada : 06 December 2014


"makalah nya keren bro, Yogyakarta Dalam Konteks Sosiologi Perkotaan.
..andai judulnya seperti ini : "Karimunjawa Dalam Konteks Sosiologi Perkotaan", andai.. ^_^"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :