MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

DISKRIPSI KOTA

diposting oleh alhada-fisip11 pada 11 January 2013
di Pengetahuan Akademik - 6 komentar


Bagaimana suatu kota menjadi besar, terutama pengaruhnya terhadap daerah sekitarnya, akan menjadi pembicaraan pokok dalam Diskripsi Kota. Untuk melihat keadaan yang demikian, terlebih dahulu akan dibicarakan mengenai Pola Lokasi Kota berdasarkan luas dan ruang dari daerah perkotaan. Setiap Pola Lokasi Kota, timbul akibat perbedaan dari fungsi kota yang bersangkutan. Pola-pola yang ada, pada dasarnya ditandai dengan tersebarnya kota-kota itu di suatu wilayah yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Adapun Pola Lokasi Kota, pada umumnya dibedakan menjadi :

  1. Pola Liniair, yaitu kota-kota yang tersebar di sepanjang jalur transportasi.
  2. Pola Cluster, pola ini menunjukkan adanya ciri-ciri di mana terdapat pengelompokan kota dalam jumlah yang relatif besar.
  3. Pola Hirarkhi, pola ini mempunyai ciri-ciri di mana kota diatur berdasarkan kesamaan wilayah.

 

Di dalam pengembangan wilayah, pengaruh dari daerah perkotaan terhadap daerah sekitarnya tidak dapat diabaikan begitu saja. Semakin berkembang wilayah suatu kota, maka semakin luas pula wilayah pengaruhnya. Pengaruh kota terhadap daerah sekitarnya, biasanya tidak terlepas dari kegiatan atau fungsi yang ada di daerah perkotaan. Oleh karena itu, teori-teori yang berkaitan dengan pembangunan wilayah perkotaan, mencoba untuk menjelaskan bagaimana pengaruh kegiatan yang ada pada kota terhadap daerah sekitarnya (wilayah atau daerah pengrauhnya).

 

Berbicara mengenai Diskripsi Kota, ada empat teori yang saling berkaitan satu sama lain. Artinya, teori yang pertama akan menjelaskan teori yang kedua, yang kedua menjelaskan yang ketiga, dan teori ketiga menjelaskan teori yang keempat. Adapun teori-teori tersebut, adalah :

  1. ECONOMIC BASE THEORY
  2. LABOUR BASE THEORY
  3. CENTRAL PLACE THEORY
  4. GROWTH POLE THEORY

 

ECONOMIC BASE THEORY 

Teori ini sangat tepat untuk membicarakan mengenai perencanaan pertumbuhan kota yang potensial dalam jangka panjang, terutama pada kota-kota yang mempunyai fungsi tunggal. Pada pokoknya, teori ini membicarakan tentang majunya perekonomian kota yang diakibatkan oleh sektor industri. Akibat lebih lanjut, menyebabkan arus urbanisasi yang semakin besar. Pada akhirnya, akan mendorong perluasan perencanaan pertumbuhan kota ke daerah sekitranya, terutama yang berkaitan dengan kegiatan pelayanan jasa dari bidang industri.

 

Menurut  THOMPSON, perkembangan kota yang awalnya mempunyai fungsi tunggal, berubah menjadi kota dengan fungsi ganda akibat dari pertumbuhan ekonomi kota yang didukung oleh kegiatan industri. Perkembangan kota itu sendiri terbagi dalam 5 (lima) tahapan, di mana masing-masing tahapan menjelaskan bagaimana peran industri dalam mendukung perekonomian kota, sehingga kota menjadi kota metropolitan pada tahap yang ke 5 (lima). Dengan semakin majunya perekonomian kota, baik yang didukung dari sektor industri maupun sektor pelayanan bidang industri, pada tahap selanjutnya terjadilah perluasan industri ke daerah pedesaan.

 

LABOUR BASE THEORY

Pada saat kegiatan industri di daerah perkotaan sudah tidak lagi mapu menampung pembangunan industri akibat mahalnya harga tanah di daerah perkotaan serta tingginya upah buruh, maka terjadilah perluasan kegiatan industri ke daerah pedesaan. Di mana kegiatan, ini mempunyai hubungan yang erat dengan perluasan perekonomian kota yang menuju pada pembangunan industri di daerah pedesaan. Pembangunan industri di daerah pedesaan, pada pokoknya bukan merupakan pembangunan perekonomian daerah pedesaan. Hal ini disebabkan, kegiatan di bidang industri merupakan pekerjaan utama bagi masyarakat pedesaan, sedangkan kegiatan pelayanan di bidang industri tidak dimiliki oleh masyarakat pedesaan. Dengan demikian, secara normal dapat dikatakan bahwa, kegiatan industri di pedesaan menarik ”income in elastic industry”, di mana industri tidak menggunakan seluruh waktunya seperti di daerah pedesaan.

 

CENTRAL  PLACE  THEORY 

Lahirnya kota menyebabkan kota memiliki 3 (tiga) fungsi, yaitu :

-      fungsi melancarkan pengawasan (administratif-politis)

-      fungsi sebagai pusat pertukaran (komersial)

-      fungsi memproses bahan sumber daya (industrial).


Untuk lebih mendapatkan gambaran yang nyata mengenai akibat perluasan ekonomi daerah perkotaan, khususnya mengenai kegiatan pelayanan yang diberikan oleh penduduk kota kepada penduduk daerah sekitarnya (hinterland), teori ini cocok untuk melihat kegiatan tersebut. Secara garis besar, teori ini menggambarkan tentang cara kerja yang secara konsepsi serasi untuk pengertian kota sebagai pusat pelayanan. Oleh karena itu, teori CENTRAL PLACE ini disusun untuk menjawab 3 (tiga) pertanyaan utama yang berkaitan dengan pengertian kota sebagai pusat pelayanan, yaitu  :  Apakah yang menentukan

(a)    banyaknya,

(b)   besarnya, dan

(c)    persebaran kota.

 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka digunakan konsep Range (jangkauan) dan Threshold (ambang). Oleh karena itu, perkembangan suatu pusat pelayanan akan sangat tergantung pada konsumsi barang dari penduduk sekitar kota. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi barang tersebut, adalah :

-      Penduduk (distribusi, kepadatan dan struktur).

-      Permintaan dan penawaran serta harga barang.

-      Kondisi wilayah dan transportasi.

 

Lebih jauh digambarkan bahwa, kota sebagai pusat wilayah yang komplementari dari daerah sekitarnya, sehingga kota merupakan pusat yang menyediakan dan melayani (goods and services) daerah sekitarnya (hinterland). Agar kota dan daerah sekitarnya benar-benar merupakan suatu sistem yang saling berhubungan, maka semuanya itu tergantung pada batas sampai di mana aliran pertukaran uang yang dikeluarkan penduduk daerah sekitar kota untuk mendukung penyediaan kebutuhan dan pelayanan yang diberikan oleh penduduk kota. Di sini, teori CENTRAL PLACE berhubungan dengan Lokasi, Luas dan Fungsi dari pusat-pusat pelayanan.

 

WALTER CHRISTALLER, mengakui adanya hubungan ekonomi antara kota dan daerah sekitarnya, di mana fasilitas pertukaran penyediaan kebutuhan dan pelayanan adalah menguntungkan. Pendapat tersebut, adalah merupakan pelengkap dari teori Lokasi yang dikemukakan oleh von THUNEN, di mana lahan pertanian mengelilingi pusat-pusat pasar ; dan teori WEBER, mengenai lokasi pabrik yang mengelilingi pusat-pusat pasar. Pada dasarnya, teori WALTER CHRISTALLER ini ditujukan pada kegiatan tersier dari segmen perekonomian yang dikembangkan oleh penduduk kota itu sendiri (segi pelayanan jasa). Dengan demikian, maka teori CENTRAL PLACE tidak lain adalah, daerah yang berbentuk atau berwujud penyediaan kebutuhan dan pelayanan untuk penduduk di sekitar kota.


Untuk mendukung teorinya itu, WALTER CHRISTALLER mengemukakan 4 asumsi guna memperjelas konsepsi mekanis mengenai pengertian tentang peran kota sebagai pusat pelayanan. Di samping itu, untuk mengetahui urutan pengertian teori CENTRAL PLACE, dikemukakan adanya beberapa elemen sebagai berikut :

  1. THRESHOLD
  2. RANGE OF GOODS AND SERVICES
  3. COMPLEMENTARY REGION
  4. CONTENT HIRARCHY
  5. CENTRAL GOODS AND CENTRAL SERVICES.

 

Perlu diketahui bahwa, tidak semua wilayah perkotaan dapat disebut dengan CENTRAL PLACE. Tetapi, untuk mengetahui bagaimana bentuk distribusi dari pelayanan, harus diperhatikan berbagai faktor lokasi yang mempengaruhi lokasi kota. Pada umumnya, faktor lokasi berpengaruh terhadap berbagai macam aktivitas manusia di perkotaan. Apabila CENTRAL PLACE ini dihubungkan dengan penyebaran penduduk suatu daerah sekitar kota ; jika dasar populasinya melebar, maka distribusi penyediaan kebutuhan dan pelayanan juga akan melebar. Apabila karena sesuatu sebab penyebaran populasinya tak sama, maka melebarnya penyediaan kebutuhan dan pelayanan juga tidak sama.

 

GROWTH  POLES  THEORY 

Teori ini merupakan syarat pokok yang lebih baik dari beberapa konsep yang berhubungan dengan pembangunan perekonomian suatu wilayah, guna mendapatkan gambaran yang penting tentang kota. Secara teori maupun empirik, GROWTH POLES THEORY ini sangat baik digunakan untuk pembangunan perekonomian wilayah dibandingkan dengan ECONOMIC BASE THEORY  dan LABOUR BASE THEORY. Secara konseptual, GROWTH POLES ini sangat sesuai terutama dalam proses pertumbuhan ekonomi wilayah di negara berkembang. Banyak contoh telah menggunakan teori ini untuk menguraikan atau lebih menekankan pada perkembangan wilayah, di dalam konteks dari kehidupan kota-kota secara hirarkhi.

 

BERRY menghubungkan perkembangan wilayah dengan proses penyebaran inovasi, di mana inovasi baru disebarkan ke pusat-pusat yang lebih kecil. Selain itu, pusat pertumbuhan dapat digunakan untuk merencanakan perembesan ke daerah-daerah pinggiran secara efektif di dalam wilayah metropolitan. Dari keadaan di atas, timbul perubahan substansi pada daerah yang dipengaruhi, bukan pada industri, tetapi pada pemilihan tempat tinggal atau pemukiman yang bersih, aman dan bebas dari gangguan jalur transportasi. Hal ini menurut BERRY, akan menimbulkan akibat pada integrasi ekonomi keruangan yang begitu hebat.

 

PERROUX, yang pertama kali mengembangkan teori ini berdasarkan pengamatannya terhadap proses pembangunan. Sebenarnya, ia mengakui bahwa pembangunan di mana-mana tidak terjadi secara serentak, tetapi muncul di tempat-tempat tertentu dengan intensitas berbeda. Tempat-tempat itulah yang dinamakan dengan titik-titik pertumbuhan atau kutub-kutub pertumbuhan (GROWTH POLES). Dari sinilah pembangunan akan menyebar melalui beberapa saluran dan mempunyai akibat akhir yang berlainan untuk perekonomian secara keseluruhan.

 

Implikasi perencanaan GROWTH POLES ini terbukti berguna untuk segala kawasan, dan menunjukkan adanya perubahan yang signifikan di dalam kebijaksanaan pembangunan wilayah. Secara teori, adalah dinamik dan sesuai untuk semua tahapan dari proses pembangunan, di mana pendekatannya sangat realistis terutama untuk beberapa pendekatan tingkah laku pada prioritas waktu untuk alokasi sumber alam. Seperti dikatakan oleh PERROUX bahwa, pertumbuhan ekonomi suatu wilayah tidak seimbang tetapi terpusat secara disproporsional pada daerah-daerah tertentu. Tetapi efek dari perkembangan yang memusat dapat diawasi bentuk elemennya – propulsive industry – di mana menimbulkan pertumbuhan. Pertumbuhan menjadi besar dan cepat, sehingga derajat interaksinya sangat kuat (berhubungan dengan penjualan dan pembelian). Juga menambah pertumbuhan dari daerah yang bersangkutan, sehingga kutub-kutub pertumbuhan menjadi ekonomi metropolitan. Hal Ini disebut dengan Circulair and Cumulative Causation.


Pada keadaan yang demikian, pelayanan menjadi faktor infra-struktur yang penting di dalam mendorong konsentrasi dari kegiatan di negara-negara di mana industri kurang berkembang, juga menyesuaikan dengan rangkaian perkembangan ini. Banyak contoh bahwa, pendekatan GROWTH POLES telah digunakan untuk menguraikan proses perkembangan di dalam konteks dari kehidupan kota-kota secara hirakhi. Di mana perencanaan kota sebagai point yang berkenaan dengan penekanan perkembangan wilayah perkotaan. Di mana dalam proses pertumbuhan dari wilayah pusat (Core Region) lambat laun dipindahkan ke wilayah pinggiran (Peripheral Region). Dengan adanya pemindahan pusat kegiatan ini, muncul 6 (enam) akibat :

  1. akibat yang dominan (sumber-sumber alam yang ada di daerah pusat dipindahkan).
  2. akibat informasi (kecepatan interaksi dan inovasi pada daerah pusat).
  3. akibat psikologi (penampakan dan perkiraan yang lebih besar yang berhubungan dengan wilayah pusat).
  4. akibat modernisasi (mendukung perubahan lingkungan sosial).
  5. akibat linkage (akibat circulair and cumulatiove causation).
  6. aibat produksi.

 

Menurut HAN REDMANA, di dalam membahas teori ini harus mendasarkan diri pada teori CENTRAL PLACE – nya WALTER CHRISTALLER, di mana menurutnya teori GROWTH POLES ini digunakan untuk membahas perencanaan pembangunan nasional di Indonesia, yang pelaksanaannnya menggunakan pendekatan regional. Perencanaan pembangunan ini tidak lain adalah menyelaraskan antara ‘pembangunan nasional’ dengan ‘pembangunan regional’. Ini berarti bahwa, di dalam setiap kegiatan pembangunan, di samping pertimbangan-pertimbangan sektoral, harus pula diperhatikan pertimbangan-pertimbangan regional. Teori GROWTH POLES menyarankan perlunya untuk memusatkan investasi dalam sejumlah sektor kecil sebagai sektor kunci di beberapa tempat tertentu. Di dalam memusatkan usaha pada sejumlah sektor dan tempat yang kecil, diharapkan pembangunan akan menjalar ke sektor-sektor lain pada seluruh wilayah. Dengan demikian, sumber daya mineral dan manusia yang digunakan dapat dimanfaatkan lebih baik dan lebih efisien. Adapun sektor kunci yang dimaksudkan di sini adalah, sektor industri atau wilayah lain dengan kaitan ke belakang dan ke depan (backward and forward linkage). Sektor ini sering juga dinamakan dengan ‘kesatuan yang memimpin’ (leading sector) yang mempengaruhi perkembangan unit-unit lain dengan stimulasi ataupun hambatan.

 

Kesatuan yang memimpin tadi akan berubah menurut waktu, bergeser dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Di negara-negara maju, kegiatan-kegiatan tersebut mungkin saja dalam sektor jasa. Di samping itu, pengaruh dari leading sector memerlukan waktu tertentu untuk dapat dirasakan oleh sektor-sektor lainnya dan berbeda menurut sektor-sektornya, dan juga tergantung dari macam pengaruhnya. Faktor lain yang penting yaitu, reaksi penduduk terhadap sumber daya alam yang tersedia ; jika tidak ada reaksi, maka pembangunan tidak berhasil. Ringkasnya, teori kutub-kutub pembangunan itu meneranglan akibat dari sekelompok leading sector dengan istilah polarisasi. Isinya, proses pembesaran dari kutub atau makna komprehensifnya akibat stimulasi berasal dari integrasi ruang yang sedang berlaku.

 

Dari pembahasan di atas jelas bahwa, untuk penerapan teori GROWTH POLES, harus terlebih dahulu diketahui hirarkhi tempat-tempat pusat (CENTRAL PLACES). Tetapi, di samping untuk memilih kutub-kutub pertumbuhan diperlukan pengetahuan tentang peranan tempat pusat dalam waktu lampau, suatu pandangan ke depan dan pertimbangan-pertimbangan lokasi. Misalnya,  antara lain : keterjangkauan suatu tempat, tersedianya sumber daya dan perubahan dari perilaku dan sikap penduduk, serta aneka perubahan teknologi.

 

  • Sumber: Soembodo, Benny, 2012. Ekologi KotaSurabaya: PT. Revka Petra Media

6 Komentar

smKqOuQIEQIi

pada : 14 January 2013


"Diantara sekian byk angtoga AM, sprtx hanya sebagian kecil yg punya cerita atw foto2 kegiatan2 AM. Dan mungkin tak semuanya meninggalkan kesan yg bisa diceritakan. Tema ini sepertinya terlalu eksklusif terutama bagi angtoga pasif atau mereka yg baru akan bergabung dgn AM. IMHO.Hehe. Jadi untuk tahun ini saya tidak bisa ikut berpartisipasi dulu.Tapi tetap semangat untuk AM, smoga di umur yang makin bertambah ini, makin bisa menyatukan blogger dan komunitas inet lain di Makassar sehingga bisa menjadi sumber informasi positif ttg daerah yang kita cintai ini."


OEPsqwejhrXlQddak

pada : 16 January 2013


"I wanted to spend a mnitue to thank you for this."


oKsVxlriYbpgnmUeBxs

pada : 16 January 2013


"bagaimana jika nawala meubmat addons pada beberapa browser, sehingga saat ditemukan situs-situs yang terlarang, user hanya tinggal mengaktifkan addon tersebut dan data url segera terkirim secara otomatis ke pusat data nawala, tanpa harus mengisi formulir lagi.sekian terimakasih."


pDfWydQPEwmgK

pada : 16 January 2013


"If your arctiles are always this helpful, "I'll be back.""


sXPExlwUZRZq

pada : 16 January 2013


"to be blogger and why? . raanysa sudah gak peduli lagi dengan definisinya, mengutip sebagian kalimat di akhir postingan ini Blog sudah berhasil memenuhi beberapa kebutuhan mental saya secara pribadi alasan ini saya rasa ini alasan paling PAS untuk menjawab WHY? .Dengan blog saya (kadang-kadang sih) bisa bener-bener express my own feeling, itu yg membuat blog menjadi lebih memiliki hubungan emosional. :)"


xENekOxLwiL

pada : 16 January 2013


"dengan menulis di blog, saya bejlaar untuk menuangkan hal-hal yang saya ketahui, untuk membuat saya tahu, tentu saya harus mengeliminir hal-hal yang saya tidak ketahui..karenanya, saya ngeblog untuk mencicil ketidak tahuan saya..filosofis bukan?"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :