MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

FUNGSI KOTA

diposting oleh alhada-fisip11 pada 11 January 2013
di Pengetahuan Akademik - 9 komentar

 

Dengan menyimak definisi kota yang diutarakan oleh para ahli dan juga mengenai klasifikasi kota seperti yang telah dijelaskan di depan, tentu dapat melihat apa fungsi kota. Oleh karenanya, dapatlah dibuat kategori kota seperti yang dikemukakan oleh  NOEL  P. GIST  sebagai berikut :

  1. Production Center
  2. Center of trade and commerce.
  3. Political Capitol.
  4. Cultural Center.
  5. Helath and Recreation.
  6. Divercified cities.

Demikianlah fungsi kota secara garis besar, yang sekaligus menunjukkan tujuan yang ingin dicapai oleh suatu kota.

 

POLA LOKASI  dan  RUANG KOTA

Kota sebagai lingkungan hidup manusia, bergerak dalam arti selalu terjadi perubahan yang dinamis, sesuai dengan budaya dan peradaban manusia dan meluas sebanyak dengan jumlah manusia yang berada di dalamnya. Jadi, kota sebagai pemukiman penduduk akan selalu menyesuaikan diri dengan mereka yang mendiaminya. Jika jumlah penduduknya meningkat banyak, tentu lahan yang diperlukan untuk tempat tinggal pun akan bertambah juga. Begitu pula jika peradaban manusia berubah, maka lingkungan  hidupnya pun akan mengalami perubahan dengan lingkungannya, atau mengubah lingkungannya agar dapat memenuhi keperluan manusia.

 

Ekologi kota mempunyai pola tertentu, sesuai dengan tujuan penduduknya dalam membina atau membangun kota mereka. Seperti ada “kota” di wilayah pantai, “kota” pegunungan, atau “kota” yang berada di dataran rendah. Begitu pula ada kota pelabuhan, kota perdagangan, atau kota industri serta kota sebagai pusat rekreasi, dan lain-lain, tentu mempunyai pola pengaturan tertentu.

 

Pertumbuhan dan perkembangan kota sejalan dengan prinsip umum lokasi dan pertumbuhan, sehingga sebuah kota dalam beberapa tahun kemudian menjadi sebuah kota besar, bahkan menjadi kota metropolitan ; sedangkan kota lainnya tidak secepat itu perkembangannya, tetap sebagai kota semula tidak banyak mengalami perubahan.

 

Bagi setiap kota, diperlukan adanya kemudahan yang maksimal bagi penyesuaian warga atau penduduknya, meskipun pada kenyataannya tidak semua kota menempati lokasi yang ideal seperti itu. Tetapi, kemudian dalam jangka panjang para pengelola kota berusaha menyediakan prasarana dan sarana melalui perencanaan menuju ideal. Sejalan dengan fungsi kota, maka dalam kompetisi di bidang ekonomi secara bebas, maka bagi kota yang mempunyai predikat “commercial city”, lebih cenderung untuk menempati lokasi yang dapat dilakukan pertukaran barang-barang dan jasa-jasa secara mudah dari sumber barang (produsen) dan mereka yang memerlukan (konsumen), baik bagi penduduk kota atau bagi mereka di sekitarnya (dari luar).

 

Kota industri (factory city), cenderung mempunyai lokasi yang secara ekonomis dan efisien dapat dikumpulkan faktor-faktor produksi (barang-barang atau bahan baku, tenaga kerja dan peralatan yang lain), serta pembuangan limbah pabrik, serta pendistribusian hasil pabrik ke pasaran atau konsumen.

 

Kota sebagai pusat pemerintahan (capital city), membutuhkan lokasi yang tepat sebagai sarana pembangunan pusat pemerintahan, sehingga para pejabat mudah dikumpulkan  atau mudah komunikasi, serta penyediaan barang-barang lain serta jasa-jasa yang diperlukan untuk mendukung tugas pekerjaan. Begitu pula untuk tempat tinggal para pejabat pemerintahan tersebut, tidak diabaikan. Dengan demikian, lokasi kota yang baik memerlukan efisiensi yang lebih besar untuk penyesuaian manusia dengan alam lingkungannya.

 

Dari gambaran di atas, maka prinsip umum yang dijadikan pedoman dalam upaya manusia untuk menyesuaikan diri pada alam lingkungan atau penyelarasan dengan sekitarnya yang berkaitan dengan ekologi kota, ialah :

1. Prinsip ongkos minimum, dengan mempertimbangkan empat faktor, yaitu :

a. Perbedaan antara kegunaan dan harga tanah, bahan mentah, tenaga kerja serta modal.

b. Perbedaan permintaan dan berbagai pasar akan hasil (produksi) dengan harga penjualan.

c. Ongkos transportasi bagi orang (tenaga kerja) serta barang-barang.

d. Perbedaan harga dan ongkos penempatan barang-barang setengah jadi (gudang) dengan aspek keamanan atau resiko yang harus ditanggung.

 

2. Prinsip lokasi median (median location).

     Untuk mendapatkan gambaran tentang ongkos minimum dari transportasi misalnya, maka jarak lokasi antara bahan baku untuk industri dengan pasar atau tempat pendistribusian produksi yang dihasilkan, menjadi pertimbangan dalam memilih lokasi yang tepat. Loksai yang paling tepat dapat ditentukan di tengah-tengah atau median dari segala arah. Dengan demikian, dapat ditentukan letak zona atau lokasi pasar, pertokoan, pusat pendidikan, budaya, rekreasi, pemerintahan, dan lain-lain dari suatu kota menurut ukuran tertentu.

 

3. Faktor lain yang merupakan penentuan lokasi ialah, jalur transportasi.

Pengaruh transportasi  bagi  interseksion  dari  unit-unit  pemukiman  penduduk, sangat besar artinya dalam penentuan lokasi. Apakah untuk keperluan pabrik, atau untuk keperluan yang lain. Sebab, pertemuan antar rute transportasi merupakan median yang sangat strategis dan efisien bagi banyak keperluan.

 

Demikianlah, penentuan lokasi di kota ini sangat bervariasi. Seperti telah dikemukakan, prinsip ongkos minimum, efisiensi dan kemudian lokasi median, jalur transportasi, sumber bahan baku, pemasaran dan jumlah penduduk, merupakan faktor yang harus diperhitungkan.

 

STRUKTUR  KOTA

Studi tentang kota adalah penting dan menarik. Seperti telah dikemukakan di depan, apabila berbicara mengenai kota, maka berbagai aspek mengenai gejala kota tidak mungkin untuk diabaikan begitu saja. Oleh karena itu, perlu diperhatikan pula mengenai hal ihwal tentang lokasi kota, kedudukan kota, serta hubungan kota dengan daerah sekitarnya. Hal ini lebih berkaitan dengan proses perkembangan kota itu sendiri pada tahap yang lebih lanjut. Berbicara mengenai Struktur Kota, maka dapatlah dibedakan dalam tiga macam :

- Struktur Kota secara Demografi.

- Struktur Kota secara Ekonomi.

- Struktur Kota secara Segregasi.

 

Struktur Kota secara Demografi.

Ekspresi demografis dapat ditemukan di kota-kota besar. Banyak penduduk dari luar kota hilir mudik ke kota untuk keperluan berdagang atau keperluan lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan sehari-hari. Jenis kelamin dalam hal ini mempunyai arti penting, karena semua kehidupan sosial dipengaruhi oleh proporsi jenis kelamin. Suatu kenyataan bahwa, pada umumnya kota lebih banyak dihuni perempuan daripada laki-laki. Keadaan ini dapat diterangkan dengan melihat sifat yang berbeda-beda antara kota satu dengan yang lainnya, di mana di kota besar perempuan dapat bekerja di bidang jasa yang tidak banyak memeras tenaga. Dari segi umur, penduduk kota lebih banyak dihuni oleh orang-orang yang tergolong dalam usia produktif. Daerah inti kota, menjadi daerah pusat kerja penduduk usia produktif.

 

Struktur Kota secara Ekonomi.

Kota memiliki berbagai jenis mata pencaharian, khususnya di bidang non-agraris, seperti :  di bidang perdagangan, pegawai, jasa, dan lain-lain. Dengan demikian, struktur suatu kota dari segi ekonomi akan mengikuti fungsi dari kota tersebut. Akan tetapi, jarang sekali kota mempunyai fungsi tunggal, kecuali kota yang sengaja didirikan untuk kegiatan industri.

 

Struktur Kota secara Segregasi.

Dari segi segregasi, maka di dalam kota terjadi adanya pemisahan atau pengelompokan yang timbul akibat adanya perbedaan suku, pekerjaan, strata sosial, tingkat pendidikan, dan beberapa sebab lainnya. Pemisahan atau pengelompokan tersebut, dapat terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja. Pemisahan yang disengaja, terjadi karena berkaitan dengan perencanaan kota. Adapun pemisahan yang tidak disengaja, terjadi akibat arus urbanisasi yang memanfaatkan ruang kosong yang ada di daerah perkotaan, sehingga menimbulkan apa yang dinamakan dengan ”slum areas”. Apabila pengelompokan ini terdiri dari orang-orang yang satu suku dan mempunyai kesamaan kultur dan status ekonomi, maka luas, bentuk dan letaknya dapat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi fisik yang ada. Pengelompokan semacam ini, disebut dengan ”natural areas”

 

 

  • Sumber: Soembodo, Benny, 2012. Ekologi KotaSurabaya: PT. Revka Petra Media

9 Komentar

xqhJhijQmKhRKatPOX

pada : 16 January 2013


"This arctile is a home run, pure and simple!"


JURjTdTI

pada : 16 January 2013


"The honesty of your potisng is there for all to see"


jTkZQYMksMe

pada : 16 January 2013


"Great thinking! That ralely breaks the mold!"


BLsrOHmXbsNvbLxsQvy

pada : 16 January 2013


"That's a crackerjack answer to an interesting qeuisotn"


UvANUKAngsxCPnTaqWJ

pada : 16 January 2013


"Now we know who the snesbile one is here. Great post!"


CPMkIwXasEygNOEGKwl

pada : 16 January 2013


"I will be putntig this dazzling insight to good use in no time."


zRttQFMpGkOqq

pada : 16 January 2013


"sy pernah buru2 ke bone hanya karna tape :Dceritanya, sehbais lebaran idul adha sepupu ingin makan tape tapi keluarga di makassar tidak ada yang membuat tape, akhirnya siang2 setelah sholat Ied, kami berangkat ke bone menjelang maghrib sampai di sana dan langsung menyinggahi 3 rumah keluarga dan semuanya menghidangkan tape nyamanna hahahaha besoknya tancap makan tape lagi wakakakaka"


qJqjKomykPsPyhd

pada : 16 January 2013


"That's an epxret answer to an interesting question"


DaVUarycigmYQrr

pada : 16 January 2013


"Nggak banyak orang yang tahu tennatg Nawala ini. Malah cenderung melecehkannya, terutama kalau aksesnya diblok trus muncul tulisan Nawala . Hehehe..*turut mendukung PiwinG*"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :