MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

PENGERTIAN KOTA

diposting oleh alhada-fisip11 pada 11 January 2013
di Pengetahuan Akademik - 0 komentar

 

Kita yang hidup pada zaman mutakhir ini, dapat dengan mudah mengamati dan menggambarkan apakah ”kota” itu sesuai dengan tolok ukur atau fokus perhatian kita masing-masing. Oleh karena itu, tidak dirisaukan jika terdapat banyak definisi tentang ”kota” yang mungkin satu dengan yang lainnya berbeda. Jika direnungkan, dari sejarah masa lampau, ”kota” itu tidak berbeda dengan ”desa”, atau ”kota” terjadi dari ”desa”, sebagai tempat pemukiman manusia.

 

Jadi, aspek ”manusia” dan ”masyarakat” – nya yang menciptakan lingkungan tempat bermukimnya, kemudian menjadi desa atau kota, sesuai dengan perkembangan budaya mereka. Jika dilihat dari segi tersebut, maka kota adalah suatu ciptaan peradaban umat manusia. Kota sebagai hasil dari peradaban lahir dari pedesaan, tetapi kota berbeda dengan pedesaan. Pedesaan sebagai ”daerah yang melindungi kota”. Kota seolah-olah mempunyai karakter tersendiri, mempunyai jiwa, organisasi, budaya atau peradaban tersendiri

 

Ada lagi yang melihat peradaban kota dan desa atau pedesaan, seperti yang dikemukakan oleh MUMFORD : ”Kota sebagai tempat pertemuan yang berorientasi keluar”. Sebelum kota menjadi tempat pemukiman yang tetap, pada mulanya kota sebagai suatu tempat orang pulang balik untuk mengadakan kontak, memberi dorongan untuk kegiatan rohaniah dan perdagangan, serta kegiatan yang lain; jadi ada dinamika yang berbeda sekali dengan desa. Desa adalah suatu bentuk pemukiman yang lebih kaku dan lebih berorientasi ke dalam serta bersifat memusuhi orang luar.

 

Dari berbagai definisi dan karakteristik mengenai kota, maka diperoleh pengetahuan bahwa terbentuknya kota dan masyarakat kota sangat bervariasi, tetapi dapat diperkirakan sebagai berikut :

  1. Semula tempat pemukiman penduduk yang kemudian disebut desa. Lama-kelamaan tumbuh dan berkembang secara alamiah, dan dengan kriteria tertentu menjadi sebuah kota. Proses terjadinya bermacam-macam, secara lambat atau dalam jangka waktu yang panjang, dan ada juga secara cepat atau dalam waktu yang relatif pendek, sudah menjadi sebuah kota.
  2. Diawali dengan sebuah tempat sebagai pertemuan antara warga desa di sekitar daerah itu, baik untuk keperluan tukar-menukar barang, tempat pengumpulan barang atau bahan-bahan tertentu, tempat jual beli, dan sebagainya; lalu ada yang bermukim di sekitar tempat itu dan kemudian pemukiman menjadi semakin besar. Berdatanganlah penduduk dari daerah sekitar ke tempat itu, dan (setelah memenuhi kriteria tertentu) kemudian menjadi sebuah kota, bahkan menjadi satu kota besar.
  3. Secara sengaja dibangun oleh pemerintah dengan suatu perencanaan di suatu lahan kosong, sesuai dengan tujuan tertentu, misalnya membangun kota industri, sebagai pusat pemerintahan, kota dagang, dan sebagainya.

 

Dari berbagai ragam rumusan para ahli tentang kota, baik dari sosiologi maupun geografi, dapat diketahui dasar pemikiran dan kriteria yang dipakai untuk menyebut suatu ”kota” dan atau ”gejala kota”. Ada yang memandangnya dari aspek morfologi, dari aspek ekonomi, dan dari aspek geografi serta hukum.

  1. Dari aspek morfologi, antara kota dengan pedesaan terdapat perbedaan bentuk fisik, seperti membangun bangunan tempat tinggal yang berjejal dan mencakar langit serta serba kokoh. Tetapi pada prakteknya, kriteria ini sukar dipakai untuk pengukuran, karena banyak kita temukan bagian-bagian kota tampak seperti desa. Misalnya, daerah pinggiran kota.
  2. Dari aspek penduduk, secara praktis jumlah penduduk ini dapat dipakai ukuran yang tepat untuk menyebut kota atau desa, meskipun juga tidak terlepas dari kelemahan-kelemahan. Kriteria jumlah penduduk ini dapat secara mutlak atau dalam arti relatif, yakni kepadatan penduduk dalam suatu wilayah.
  3. Karakteristik kota dari aspek sosial, gejala kota dapat dilihat dari hubungan-hubungan sosial di antara penduduk atau warga kota, yakni yang besifat kosmopolitan. Hubungan sosial yang bersifat impersonal, sepintas lalu, terkotak-kotak, bersifat sering terjadi hubungan karena kepentingan dan lain-lain, orang lain bebas memilih hubungan sendiri.
  4. Dari aspek ekonomi, gejala kota dapat dilihat dari cara hidup warga kota, yakni bukan dari bidang pertanian atau agraria sebagai mata pencaharian pokoknya, tetapi dari bidang-bidang lain di segi produksi atau jasa. Kota berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi, perdagangan, industri, dan kegiatan pemerintahan serta jasa-jasa pelayanan yang lain. Ciri yang khas suatu kota ialah adanya pasar, pedagang dan pusat perdagangan.
  5. Dari aspek hukum pengertian kota yang dikaitkan dengan adanya hak-hak dan kewajiban hukum bagi penghuni atau warga kota, serta sistem hukum tersendiri yang dianut, untuk menunjukkan suatu wilayah tertentu yang secara hukum disebut kota.

 

Berbagai definisi tentang kota, menimbulkan adanya dikotomi antara kota dan desa. Dikotomi kota – desa menimbulkan adanya pengertian yang tumpang tindih antara kota dan desa. Walaupun kota berasal dari desa, tetapi kota berbeda dengan desa. Secara garis besar, ada dua aspek yang dapat secara tegas memberi batasan antara kota dan desa. Dua aspek tersebut, adalah :

 

-      Aspek Ekonomi.

      Kota adalah pusat kegiatan ekonomi, di mana kota sebagai tempat penyedia barang dan jasa bagi daerah belakangnya (hinterland). Selain itu, perekonomian di kota lebih bercorak pada industri, sehingga kota cenderung memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi daripada desa. Keadaan ini, menjadi daya tarik tersendiri bagi penduduk desa untuk pindah ke kota, sehingga menyebabkan kepadatan penduduk kota semakin tinggi. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa suatu daerah di mana menjadi pusat ekonomi bagi daerah lain, dengan kepadatan penduduk dan pendapatan per kapita yang tinggi, disebut dengan kota.

 

-      Aspek Sosial.

      Dari aspek sosial, kota dilihat berdasarkan hubungan sosial di antara warga kota. Hubungan sosial di kota, didasarkan pada adanya kepentingan individual. Selain dari hubungan sosial, aspek sosial di kota dapat dilihat dari tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan di kota lebih tinggi dibanding tingkat pendidikan di desa. Hal ini yang kemudian mendorong adanya spesialisasi pekerjaan di kota. Spesialisasi ini, membuat masyarakat kota semakin terkotak-kotak, dan inilah yang menjadi pendorong hubungan sosial di kota didasarkan atas kepentingan semata.

 

Menurut JAMES A, QUINN, ada dua dasar yang sering dipakai dalam hal pembagian kota, yaitu legal city dan natural city. Legal City atau kota menurut hukum yakni wilayah yang secara hukum sebagai satu kesatuan kota. Ia terdiri dari beberapa wilayah kecil yang kemudian digabungkan menjadi satu jumlah minimal tertentu dalam pemerintahan kota yang dilegalkan oleh pemerintah. Ini dianut oleh para ahli hukum dan politik serta pemerintahan yang menunjukkan wilayah teritorialnya.

 

Adapun Natural City atau kota alami ialah wilayah atau daerah yang menunjukkan suatu fenomena kota dan merupakan unit tersendiri, sehingga jelas batas-batasnya dengan wilayah di luarnya atau tetangganya yang masih bercorak desa. Fenomena tersebut misalnya : segi ekonomi masyarakatnya, hubungan sosialnya, sistem pelayanan sosial, suasana kehidupan dan penghidupan warganya yang modern.

 

Ada dua sebutan atau istilah yang seringkali rancu penggunaannya, yakni kota searti dengan ”city”, dan daerah perkotaan atau ”urban”. Urban yaitu : suatu daerah yang memiliki suasana kehidupan dan penghidupan modern, yang menyerupai ciri-ciri kota atau menuju ke arah kota. Di dalam Sosiologi Perkotaan, untuk penerjemahan ”Urban Sociology” atau Sosiologi Masyarakat Kota, dan jika digabungkan menjadi Sosiologi Masyarakat Kota – Desa. Untuk istilah desa yang searti dengan village, sering pula rancu dengan rural atau pedesaan, yakni daerah yang berada di seputar atau di sekeliling kota atau hinterland.

 

 

  • Sumber: Soembodo, Benny, 2012. Ekologi Kota. Surabaya: PT. Revka Petra Media

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :