MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

Ayat Al-Quran Hari Ini


Analisis Sosiologis Terhadap Karya Sastra Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata

diposting oleh alhada-fisip11 pada 18 November 2012
di Penelitian - 0 komentar

 

 

LATAR BELAKANG

 

Secara garis besar peneliti mengemukakan beberapa latar belakang dan alasan-alasan penting telaah wacana sosiologis pada Novel Laskar Pelangi karya Andrea hirata. Alasan-alasan tersebut meliputi beberapa pertimbangan: Dari sisi sumber data, karya sastra ini tergolong karya sastra ‘Indonesia’s Most Powerful Book’, sehingga banyak yang memperoleh pujian dan komentar positif, sebagaimana disinyalir oleh Damono (Damono dalam Hirata, 2008) yang mengatakan bahwa karya sastra ini tergolong memiliki ramuan penglaman dan imaginasi yang menarik, yang menjawab inti pertanyaan kita tentang hubungan-hubungan antar gagasan sederhana, kendala, dan kualitas pendidikan dewasa ini. Oleh karena itu, novel Laskar Pelangi termasuk katagori ‘high cultural context’, atau memiliki nuansa wacana budaya yang tinggi, sehingga termasuk katagori layak unuk diteliti.

 

Penelitian dan analisis ilmiah dan karya tulis pada karya sastra memang sudah banyak dilakukan, namun cenderung hanya ditelaah dari sisi surface structure atau masih sebatas pada telaah struktur dan tekstual semata. Telaah yang demikian, menghasilkan telaah yang belum mencapai makna yang maksimal, dan kurang menyentuh pada aspek makna kontekstual yang secara sosial dan fungsional terkair dengan fenomena yang ada di masyarakat, sekalipun tidak menafikkan elemen fiksionalitas sebagai ornamen stilistik yang menjadikan karya sastra semakin indah untuk dinikmati dan diapresisiasi secara sosial fungsional karya yang komplek dan menyentuk fenomena kemasyarakatan (literary is sosiocultural bounds).

 

Cumings menegaskan bahma karya sastra pada hakeketnya sebagai model dan potret kehidupan nyata yang ada di masyarakat, dan sebagai wacana dan sarana komunikasi sosial (cultural and pragmatical bounds, Cuming, 2005:5). Dengan kata lain, karya sastra memilik standard ganda; secara tekstual karya sastra merupakan wacana yang berdemensi estetika, dan secara kontekstual karya sastra merupakan meniatur potret struktur sosial budaya manusia dan segala pernik-pernik yang melekat pada karya dimaksud.

 Untuk mendapatkan pemaknaan total, diperlukan telaah yang tidak saja berdemensi tekstual (mikro semata), tetapi seharusnya diintegrasikan dengan kontekstualitas fenomena kehidupan, agar terbangun pemaknaan yang lebih komprehensif dan natural, yang meliputi baik elemen mikro kesastraan dan kebahasaan maupun elemen makro kesastraan.

 

Sejalan dengan adanya wacana kesastraan bukanlah teks yang otonom, paradigma itu dipengaruhi adanya dinamika  transpsransi dan era kesejagatan perkembangan teori bahasa dan kesusasteraan yang semakin integral, dan seiring dengan perkembangan pendekatan penelitian posmoderen yang mengisyaratkan pentingya telaah multidisiplin, maka pemaknaan teks dan konteks menjadi kajian yang memiliki spektrum lateral dan pemahaman yang multikultutal (Darma, 2005)

 

Telaah blending ini diharapkan dapat menjembatani kebuntuhan telaah dan opini yang menganggap bahwa telaah sastra dan linguistik seolah-oleh kedunya sebagai disiplin ilmu yang tak dapat dirujuk, padahal kedua telaah tersebut memiliki objek material dan bahan dasar yang sama yaitu, elemen linguistik sebagai bahan bakunya. Sementara, elemen rekaan imajinatif merupakan demensi sensualitas yang selalu melekat pada penutur dan penulis karya sastra, sehingga karya sastra yang dihasilkan merupakan karya kebahsaan yang indah (basa rinengga). Demensi inilah merupakan wahana keunikan dan keindahan tindak tutur karya sastra.Telaah blending juga memungkinkan adanya ketercapaian pemaknaan lateral; pemaknaan yang demikian dapat menghantarkan pada pemaknaan yang integral dan mendalam, sehingga meghasikan pemaknaan yang melibatkan prinsip pemaknaan tektual, kontekstual dan intertekstual (Gonzalez, and Tanno, 1999:5)

 

Dikemukakan Preminger dkk. (1974: 981) bahwa kebahasaan dan kesastraan tidak lepas dari tindakan sebagai parole (laku tuturan) dari suatu langue (bahasa : sistem linguistik) yang mendasari “tata bahasanya” harus dianalisis. Penelitian harus menandakan satuan-satuan minimal yang digunakan oleh sistem tersebut; penelitian harus menentukan kontras-kontras di antara satuan-satuan yang menghasilkan arti, (hubungan-hubungan paradigmatik) dan aturan-aturan kombinasi yang memungkinkan satuan-satuan itu untuk dikelompokkan bersama-sama sebagai pembentuk-pembentuk struktur yang lebih luas (hubungan-hubungan sintagmatik). Dikatakan selanjutnya oleh Preminger bahwa studi wacana sosiologis sastra adalah usaha untuk menganalisis sebuah sistem wacana kebahasaan dan kesasteraan yang melibatkan analisis mikro sampai analisis makro dalam perspektif wacana sosiologis. Telaah yang demikian dimulai dari telaah teks kebahasaan dan kesatraan yang dapat menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai arti  secara gramatikal dan selanjutnya diperoleh makna (intended Message) yang lebih mengakar dengan  kontes sosiologis sebuah wacana (discourse is cultutal bound), karena karya sastra merupakan ‘memetic’ atau refleksi dari wacana social (Supratno, 2005)

 

Karya sastra merupakan sebuah sistem yang mempunyai konvensi-konvensi sendiri. Dalam sastra ada jenis sastra (genre) dan ragam-ragam, jenis sastra prosa dan puisi, prosa mempunyai ragam : puisi lirik, syair, pantun, soneta, balada dan sebagainya. Tiap ragam itu merupakan sistem yang mempunyai konvensi-konvensi sendiri

 

Pemaknaan tersebut semestinya memerlukan konteks ungkapan wacana kesasteraan . Dalam menganalisis karya sasta, peneliti harus menganalisis sistem tanda itu dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan tanda-tanda atau struktur tanda-tanda dalam rangka sastra itu mempunyai maknam sebagai perwujudan bahwa karya sastra secara substansial diramu dengan bahan dasar ‘bahasa’ yang dirancang dari konstruksi dengan ‘linguistic enginering’, sehingga melahirkan bahasa yang memiliki estetika tinggi (bahasa sastram / bahasa rinenggo), sebagai contohnya, genre novel merupakan sistem tanda, yang mempunyai satuan-satuan tanda (yang minimal) seperti kosa kata, bahasa kiasan yang sensual, diantaranya : personifikasi, simile, metafora, dan metonimi. Tanda-tanda itu mempunyai makna  berdasarkan konvensi-konvensi (dalam) sastra, yang dapat berupa ungkapan-unkapan perbandingan kias, perbandingan dan disampaikan secara elegan, mataporik, dan estetik, sehingga melahirkan efek kompetensi estetika yaaang menimbulkan rasa haru, senang, bahagia, tegang, celamas, iba dan bahkan menjadikan pembaca hanyut dalam perangkap pikiran, idiologi, dan persaan pencipta karya sastra.yang berprinsip pada ketidaklangsungan and ambiguitas. Hal ini, sejalan dengan pandangan Robert Frost yang mengatakan bahwa karya sastra memiliki prinsip ‘saying one thing meaning another’ artinya mengatakan sesuatu, tetapi bermakna lain. Oleh karena itu. Untuk memperoleh pemaknaan yang diharapkan (intended meaning) secara tektual dan kontekstual sebuah wacana kesastran sangat diperlukan aspek-aspek budaya, ideologi, religi, politik dan bahkan aspek psikologi (Cummings, 2005:42).

 

Arti atau makna satuan itu tidak lepas dari konvensi-konvensi sastra pada umumnya ataupun konvensi-konvensi tanda-tanda kebahasaan. Seperti telah diterangkan, tanda-tanda itu mempunyai arti atau makna disebabkan oleh konvensi-konvensi tersebut. Konvensi itu merupakan perjanjian masyarakat, baik masyarakat bahasa maupun masyarakat sastra, perjanjian tersebut adalah perjanjian tak tertulis, disampaikan secara turun temurun, bahkan kemudian sudah menjadi hakekat sastra sendiri. Sastrawan dalam menulis karya sastranya terikat oleh hakikat sastra dan konvensi-konvensi tersebut. Tanpa demikian, karya sastra tidak dapat dibumikan maknanya secara optimal sampai ke akar-akarnya, seiring dengan paradigm posmoderen.

 

Pandangan wacana diatas, mengilhami peneliti untuk melakukan analisis wacana sosiologis karya sastra yang menggunakan pendekatan integral telaah kesastra dan kebahasaan, dengan maksud agar dapat dimaknahi secara tekstual maupun kontekstual, sehingga memperoleh  pemaknaan secara terpadu yang tercermin dalam fenomena karya sastra, terutama karya sastra sebagai wahana / kendaraan penulis untuk menghantarkan pikiran, perasaan dan imiginasi pengarang yang terkait dengan fenomena sosial secara dal perspektif sosiologi sastra.

 

 

Bagi teman-teman yang menginginkan laporan hasil analisis karya sastra novel Laskar Pelangi penuh (full), silahkan mendownloadnya di bawah ini:

 

DOWNLOAD LAPORAN HASIL ANALISIS

 

 


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :