MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Indahnya Berperilaku Baik

diposting oleh alhada-fisip11 pada 17 November 2012
di Naskah Drama - 0 komentar

 

 

Tema                    :     Pengaruh pergaulan

Alur                        :   Maju

Narator                   :   Sylma (N.S.) dan Azis (N.A.)

Penokohan             :  

 

- Antagonis :  - Shella:   Tomboy, nakal, perokok, keras kepala, sombong

 

                    - Dio: Nakal, pemabuk, brutal, keras kepala, anak orang kaya

 

                    - Rizky: Nakal, pemabuk, brutal, keras kepala

 

 - Protagonis :     - Mukti: Taat, peduli, selalu mengalah, menerima apa adanya, sabar

 

                        - Ayyub: Orang tua yang sabar, sakit-sakitan, pasrah

 

                        - Aziz: Ustad yang suka menolong, menasihati, bijaksana

 

                        - Vinsa: Tenaga medis, suka menolong

 

                        - Muti: Penjual sayuran keliling

 

                         - Suci: Ibu yang bekerja menjadi TKW di luar negeri untuk mencari uang yang dipergunakan untuk membiayai sekolah anaknya dan pengobatan suaminya yang sakit

 

                        - Sylma: Pengusaha #bule, mencari tenaga kerja, suka membantu

 

#nb                        :Pada waktu adegan 2 ‘warga menggebuki segerombolan.....’ itu semua pemain masuk untuk menjadi para warga yang menggebuki selain azis(karena setelah berperan), sylma (karena narator dalam adegan 2), ayyub dam mukti

 

Amanat                :Pergaulan bebas dapat menghancurkan masa depan. Berhati-hatilah dalam memilih pergaulan dan pendidikan harus ditanamkan sejak kecil agar dapat mendasari perilaku seorang anak

 

Pembukaan       :- bersama-sama mengucapkan “Assalamualaikum Wr.Wb”

                         - sylma : kami dari kelompok satu akan menyajikan sebuah drama tentang pengaruh pergaulan, dengan judul “Indahnya Berperilaku Baik”. Silahkan Menikmati,,,

 

 

Indahnya Berperilaku Baik

 

  • Adegan 1

                                N.S. : (Dalam suatu keluarga sederhana yang kurang mampu, hiduplah seorang bapak yang sakit-sakitan bernama Ayyub, bersama kedua anaknya yang memiliki sifat yang berbeda. Mereka bernama Shella dan Mukti. Shella adalah anak yang brutal karena ia merasa tidak mendapat kasih sayang dari ibunya dan ia pun stres. Sedangkan sang adik, Mukti, ia adalah anak yang penyabar dan taat. Suatu waktu, Shella bersama teman-temannya mabuk dan mengobrak abrik dagangan seorang penjual sayuran keliling)

Muti         : “Sayur sayuuur ! Dijamin kebersihannya. Sayuur ! Mari beli mari beli !”(berjalan dengan membawa dagangan sambil menjajakan dagangan)

Dio            : “Hei, tuh ada tukang sayur ! Yuk kita godain !” (Suara keras)

Shella       : “Haha, yuuk ! Mari menuju sasaraaaan ! Haha” (Tertawa dan berjalan menuju penjual sayur)

Rizky         : “Yuuk !!” (Menyetujui dan cara bicara lebay)

                   ......Berjalan menuju penjual sayur

Shella       : “Hei buk ! #bruk (memukul gerobak), serahin semua uang ibu atau kita akan habisi dagangan ini ! Haha” (membentak dan tertawa)

Muti         : “Dasar anak brutal ! Mau apa kalian? Aku gak akan menyerahkan uangku. Dasar anak gatau sopan santun !” (membentak)

Rizky         : “Bukan urusanmu ! Mana uang ibu ! Serahin sekarang !” (membentak dan memaksa)

Muti         : “Gak ! Gak akan !” (Bersuara keras)

Dio            : “Hmm, Okey ! Mari kita habisiii !!” (Berteriak)

                   ......Brak ! Brak ! Mengobrak abrik dagangan

                   N : (Tidak lama kemudian, ustadz datang menghampiri mereka)

Aziz           : “Astaghfirullahaladzim.. HENTIKAN ! Ada apa ini? Apa yang kalian lakukan?” (Bertanya-tanya dan kaget)

Dio            : “Gausa ikut campur ! Uda tau kita ngobrak ngabrik, malah tanya lagi. Aneh !” (Membentak dan ekspresi nglecehin)

Aziz           :  “Astaghfirullahaladzim.. Sesungguhnya semua yang kalian lakukan ini adalah perilaku yang sangat tercela dan merugikan orang lain. Kalian bersenang-senang dahulu lalu bersakit-sakit kemudian. Kalian bahagia di dunia tetapi belum tentu di akhirat nanti kalian bahagia. Ingat itu !” (sabar, tegas)

Shella       :  “Haha, sok alim dia ! Terserah Ustadz Aliiim. Ini bukan urusan Bapak Ustadz. Bapak memilih ikut campur urusan kami atau kami hajar di tempat?!” (nglecehin, membentak)

Aziz           :  “Oke, saya akan pergi. Semoga kalian lekas sadar apa yang telah kalian perbuat !” (tegas)

Shella       :  “Nah gitu dong !! No BACOD !!” (membentak keras)

 

  • Adegan 2

                                N.S. : (Tidak lama kemudian, para warga berdatangan untuk melihat kejadian ini dan ada sebagian warga yang menggebuki segerombol anak yang brutal tadi)

Warga      : “Hei hei hei !! Ada apa ini?!” (kaget dan bertanya-tanya)

Muti         :  “Ini pak, bu, dagangan saya di obrak abrik dengan mereka” (mengadu dan merasa sedih)

Warga      :  “Dasar anak-anak brutal, gak tau etika ! Mereka harus diberi pelajaran” (bersuara keras dan menekan)

                   .....Para warga menggebuki segerombolan anak itu ‘brak brak brak’

 

  •  Adegan 3

                      N.S   : (Walaupun dengan adanya kejadian ini, segerombolan anak brutal itu tidak merasa kapok. Mereka selalu mengulanginya jika bertemu penjual sayuran itu... Pada suatu hari, Shella, anak pertama dari Bapak Ayyub itu tidak pulang ke rumah sampai larut malam. Mukti, sang adik, mencari sang kakak sendirian karena Bapak Ayyub khawatir sekali dengan sang kakak)

Mukti       :  “Ya Allah, kemana ya kakak ku ini.. Kok tidak pulang pulang.. Kakaaaak ! kakaaak ! Suasana di sini singup sekali. Kakaaak !” (berteriak dan sedikit takut dengan keadaan)

                   ...Krsss, krssss #terdengar suara orang berjalan

Mukti       :  “Siapa? Ada orangkah? Ya Allah, lindungilah hambamu ini..” (ketakutan)

Azis           :  “Assalamualaikum nak, ada apa kamu malam-malam seperti ini belum pulang dan berteriak-teriak?” (Muncul di belakang Mukti dan mengagetkannya. Padahal tidak punya niat untuk mengageti)

Mukti       :  “Wa’alaikumsalam. MasyaAllah. Oh pak ustadz. Saya kaget sekali dengan kedatangan bapak yang tiba-tiba. Saya lagi mencari kakak saya yang tidak pulang-pulang pak ustadz. Padahal sudah larut malam. Bapak saya mengkhawatirkannya di rumah” (terkejut)

Azis           :  “Adik sendirian saja?” (lembut)

Mukti       :  “Iya Pak Ustadz” (menundukkan kepala)

Azis           :  “Mari bapak temani mencari kakak kamu” (lembut)

Mukti       :  “Jika Pak Ustadz tidak keberatan, saya tidak akan menolak pertolongan bapak” (senyum senang)

Azis           :  “Saya tahu tempat kakak kamu nongkrong dengan teman-temannya” (menekan)

Mukti       :  “Dimana, Pak?” (cara ngomong menekan dan seperti orang penasaran)

Azis           :  “Di gudang yang sudah lama tidak terpakai di dekat tempat pembuangan sampah” (sedikit tegas tapi tidak membentak)

Mukti       :  “MasyaAllah.. Mari kita ke sana, pak” (mengajak dan menekan)

Azis           :  “Mari..” (lembut)

 

  • Adegan 4

                                N.S. : (Mereka berdua langsung menuju tempat yang dikatakan oleh pak ustadz. Dan Mukti pun terkejut)

Mukti       :  “Kakak? Mengapa kakak mabuk-mabukan seperti ini?”  (kaget dan marah tapi tidak terlalu membentak)

Shella       :  “Ini seru hloo.. Mau ikut? Ke sini doong ! Haha” (tertawa melecehkan)

Mukti       :  “Kakak! Ini adalah perbuatan yang sangat buruk ! Sadar kak ! Kalau bapak tau tentang ini, pasti bapak sangat shock dan penyakinya kambuh lagi”  (menekan dan membentak)

Shella       :  “Biarin deeeh.. Biar sekalian aja cepat diambil sama yang kuasa !” (menekan dan santai)

Mukti       :  “Kakak !! Istighfar kak ! Mengapa kakak berkata seperti itu?! Dasar anak durhaka !!” (membentak)

Azis           :  “Istighfar nak istighfar..” (lembut)

Shella       :  “Mukti ! Mengapa kamu bawa bapak ini? Dia selalu mengganggu hidupku dan selalu ikut campur urusanku ! Aku benci itu !” (membentak)

Mukti       :  “Sebenarnya dia tidak ikut campur !! Tapi dia ingin menolong kita” (menjelaskan dengan lembut)

Azis           :  “Sudah Mukti sudah.. Lebih baik saya pergi saja” (lembut tapi tegas)

Mukti       :  “Saya ikut Pak Ustadz. Saya akan pulang. Saya sudah capek mengurusi orang seperti kakak saya yang tidak tau malu ini !! (marah dan nada menekan)

Shella       :  “Terserah apa yang kalian bicarakan. Cepat pergi !!” (membentak)

 

  • Adegan 5

                                N.S. : (Sang adik dan Ustadz pun kembali ke rumah dan meninggalkan sang kakak. Sesampainya di rumah..)

Ayyub      :  “Mana kakak kamu?” (tegas)

Mukti       :  “Saya belum menemukannya, Pak” (menundukkan kepala)

Ayyub      :  “Mengapa k0amu tidak menemukannya !! Kasian kakak kamu ! Cari sampai ketemu” (membentak)

 

  • Adegan 6

                         N.A. : (Karena sang adik tertekan, ia tak tahan lagi untuk mengatakan yang sebenarnya)

Mukti       :  “Sebenarnya saya sudah menemukan kakak. Dia mabuk-mabukan bersama teman-temannya. Mengapa bapak selalu peduli dengan anak seperti dia?!” (menekan)

Ayyub      :  “Haaa !! Apa benar yang kamu katakan?!” (terkejut. Setelah berkata, penyakit Bapak Ayyub langsung kambuh lagi)

Mukti       :  “Bapak?! Bapak tidak apa-apa? Bapak?!” (Kebingungan sekali)

                   .....Sang Bapak pingsan

Mukti       :  “Bapak?!” (berteriak)

                   .....Mukti langsung membawa bapaknya ke tempat duduk di ruang tamu

 

  • Adegan 7

                      N.A. : (Mukti sangat kebingungan. Hari semakin larut malam. Tidak ada puskesmas yang buka. Ia berteriak-teriak di depan rumah untuk meminta tolong kepada orang yang mendengarnya dan peduli. Tidak lama kemudian, ada orang yang mendengar dan datang menghampiri Mukti. Inialh kelanjutan ceritanyaa..)

Vinsa        :  “Ada apa adik? Kok teriak malam-malam?” (kaget)

Mukti       :  “Iiii iiitu bapak saya pingsan. Penyakitnya kambuh” (gagap karena takut akan keadaan bapaknya)

Vinsa        :  “Emm, coba saya priksa.” (lembut)

Mukti       :  “Ibu seorang dokter?” (terkejut)

Vinsa        :  “Iya..” (Menjawab sambil memeriksa)

Mukti       :  “Alhamdulillah ada pertolongan darimu Ya Allah..” (mengusap kedua tangan ke muka/bersyukur)

Vinsa        :  “Oh ini tidak apa-apa. Hanya penyakitnya sedikit kambuh. Tapi setelah ini sadar dan normal lagi” (menjelaskan dengan lembut)

Mukti       :  “Oh iya, terimakasih banyak ya bu..” (tersenyum)

Vinsa        :  “Iya sama-sama” (lembut dan tersenyum)

 

  • Adegan 8

                   N.A. : (Keesokan harinya, ada pengusaha dari luar negeri yang mencari tenaga kerja untuk kantornya. Hari itu, ia ingin berjalan-jalan dan kebetulan, ia jalan-jalan di kampung Bapak Ayyub karena ia ingin mencoba ke sana setelah mendengar cerita tentang kedua anak Bapak Ayyub yang pengangguran dari beberapa orang. Tidak sengaja waktu di jalan, pengusaha bertemu Mukti)


Sylma       :  “Selamat siang, ini benar adik Mukti, bukan?” (penasaran)

Mukti       :  “Iya, benar sekali. Ada apa ya? Anda siapa?” (bingung dan bertanya-tanya)

Sylma       :  “Senang bertemu denganmu. Saya pengusaha dari Australia yang baru mendirikan sebuah perusaah kecil-kecilan di daerah sini. Benarkah adik masih pengangguran?” (menjelaskan dengan ramah dan tegas)

Mukti       :  “Iya benar” (masih bingung apa yang terjadi)

Sylma       :  “Apa adik berseida untuk bekerja di kantor saya?” (lembut)

Mukti       :  “Sebelumnya saya minta maaf, saya tidak dapat menjawab sekarang, mungkin 3 atau 4 hari lagi” (menjelaskan dengan kebingungan)

Sylma       :  “Oh, okey, saya akan datang ke kampung ini4 hari lagi. Sampai jumpa” (tegas)

Mukti       :  “Sampai jumpa” (lembut)

 

  • Adegan 9

                      N.A. : (Mukti tidak terlalu terfikir oleh tawaran itu. Ia ingin sekali menyadarkan kakaknya yang bersifat buruk itu. Ia sudah kehabisan cara untuk menyadarkan kakaknya) N.S. : (Sampai dia mempunyai ide untuk datang ke rumah Sang ustadz dan meminta tolong kepada Sang ustadz agar ustadz mau membantu untuk menyadarkan kakaknya)

Mukti       :  “Assalamualaikum, ustadz?”

Azis           :  “Wa’alaikumsalam. Oh Mukti, silahkan masuk. Ada apa?”

Mukti       :  “Saya ingin meminta tolong kepada bapak agar bapak membantu saya untuk menyadarkan kakak saya. Saya harap bapak dapat membantu”

Azis           :  “Oh iya pasti akan saya bantu”

Mukti       : “Nanti sore apakah bapak bersedia untuk datang ke rumah untuk memberi nasihat-nasihat kepada kakak saya?”

Azis           :  “InsyaAllah nanti saya akan datang ke rumah adik”

Mukti       :  “Terima kasih Pak Ustadz”

Azis           : “Sama-sama nak”

Mukti       : “Kalau begitu saya permisi dulu. Wassalamualaikum”

Azis           :  “Wa’alaikumsalam”

 

  • Adegan 10

                      N.S. : (Hari ini kebetulan Shella, sang kakak, tidak keluar rumah dan tidak pada keadaan mabuk seperti biasanya pada saat Pak Ustadz datang ke rumahnya. Pak Ustadz banyak memebri pengarahan kepada sang kakak agar sang kakak sadar apa yang telah ia lakukan)

Azis           :  “Assalamualaikum”

Mukti       :  “Wa’alaikumsalam. O pak ustadz. Mari silahkan duduk pak. Saya panggilkan kakak dulu”

Azis           :  “Oh iya nak..”

Mukti       :  “Kakak, pak ustadz ingin bertemu dengan kakak. Yang meminta dia datang itu aku. Dia mau memberi tahu kepada kakak tentang banyak hal”

Shella       :  “Oh ya dek”

                   ...Shella menuju ruang tamu

                      “Ada apa Ustadz?”

Azis           :  “Saya ingin berbicara banyak hal kepada kamu”

Shella       :  “Oh ya, bilang aja”

Azis           :  “Sebelumnya saya mau tanya, apa ananda sadar apa yang selama ini ananda lakukan?”

Shella       :  “Hm ya begitulah. Kenapa emang?”

Azis           :  “Ananda tahu bahwa hidup hanya sekali saja?”

Shella       :  “Hm ya”

Azis           : “Ananda tahu jika kita banyak melanggar larangan Allah maka kelak akan di masukka ke dalam api neraka yang sangat panas?”

Shella       :  “Hm ya. Kenapa sih?”

Azis           :  “Jika ananda mengetahui itu, seharusnya ananda tau apa yang harus ananda lakukan. Seperti membahagiakan orang tua, memperbanyak amal, melakukan kebaikan, dan lain lain. Apa ananda sudah melakukan itu semua?”

Shella       :  (menunduk malu) “Belum sama sekali”

Azis           :  “Lalu, apa saja yang ananda lakukan selama ini? Ananda ingat pengorbanan orang tua ananda? Sampai-sampai ibu ananda pergi ke luar negeri untuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup ananda”

Shella       :  (menangis dan berkataa..) “Saya telah berada pada jalan yang salah. Iya saya ingat. Saya sangat menyesal telah melakukan semua ini. Tidak seharusnya saya melakukan ini”

Azis           :  “Kalau begitu baguslah. Sebelum waktunya terlambat, ananda dapat bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan kepadanya”

Shella       :  “Apa Tuhan mau menerima maafku?”

Azis           :  “Sesungguhnya Allah itu Maha Pemaaf. Ia akan memaafkan jika kamu bertaubat dan meminta mapunan dengan sungguh sungguh kepadanya”

Shella       :  “Saya janji Pak Ustadz, saya aka memperbaiki tingkah laku saya selama ini”

Azis           :  “Alhamdulillah. Ananda harus janji kepada Allah dan diri sendiri. Bukan kepada orang lain”

Shella       :  “Ia Pak Ustadz. Terima kasih banyak Pak Ustadz”

Azis           :  “Berdirilah. Tidak seharusnya ananda sujud kepada saya. Seharusnya ananda bersujud kepada Allah”

Shella       :  “Iya Pak Ustadz”

 

  • Adegan 11

                      N.S. : (Mukti, adik sang kakak tersebut sangat senang mendengarnya. Ia berlari menuju ruang tamu dan mendekap sang kakak. Melihat kejadian ini, Pak Ustadz sangat terharu melihatnya dan tak kuat menahan tangisnya..)

Mukti       :  “Kakaaaak” (berlari lalu mendekap sang kakak)

Shella       :  “Iya adek” (masih dalam keadaan menangis)

Mukti       :  “Alhamdulillah kakak telah sadar”

Azis           :  “Mmm, kalau begitu tugas saya sudah selesai. Permisi, Wassalamualaikum”

Shella,Mukti :    “Wa’alaikumsalam”

Shella       :  “Ini semua juga berkat bantuan kamu, adek. Terimakasih ya.. Kakak Ingin mencari pekerjaan untuk mengisi kesibukan kakak agar kakak tidak berbuat hal yang negative lagi”

Mukti       :  (tersenyum bahagia dan mengagetkan sang kakak) Aku tahu pekerjaan apa yang dapat kita lakukan bersama. Lihat saja besok”

Shella       :  (tertawa dalam keadaan menangis) “Benarkah?”

Mukti       :  “Iya, benar. Aku serius”

Shella       :  “Okelaah” (senyum bahagia)

 

  • Adegan 12

                      N.A. : (Keesokan harinya, tepat hari keempat setelah pengusaha menghampiri Mukti dan ia datang kembali)

Sylma       :  “Selamat siang”

Shella       :  “Selamat siang, silahkan masuk. Mencari siapa ya?”

Sylma       :  “Apa benar ini rumahnya Mukti?”

Shella       :  “Oh iya, benar. Sebentar, akan saya panggilkan”

                   ...Menuju ruang belakang

                      “Adik, ada yang mencari tuh”

Mukti       :  “Siapa?”

Shella       :  “Gak tau tuh, bule”

Mukti       :  “Oh iya. Ayo kakak ikut aku ke ruang tamu”

Shella       :  “Ngapain?”

Mukti       :  “Udah ayo ikut aja”

                   ...Menuju ruang tamu

Sylma       : “Hai, bagaimana?”

Mukti       : “Emm, begini. Bapak saya lagi sakit. Saya harus menjaga bapak saya di rumah. Saya mohon maaf sekali tidak dapat menerima tawaran pekerjaan ibu. Tapi kakak saya sangat membutuhkan pekerjaan. Bolehkah saya digantikan oleh kakak saya?”

Sylma       :  “Oh tentu saja boleh”

Shella       :  “Mukti? Ini serius?”

Mukti       :  “Ya serius lah kak”

Sylma       :  “Boleh tau siapa nama kakaknya?”

Mukti       :  “Oh iya, nama kakak saya Shella”

Sylma       :  “Oh, nama yang bagus. Okey, kalau begitu, besok Shella sudah boleh mulai kerja. Ini kartu nama perusahaan saya. Di situ ada alamat perusahaan. Shella bisa langsung datang ke alamat itu besok. Saya tunggu”

Shella       :  “Oh iya ibu”

 

  • Adegan 13

                   N.A. : (Akhirnya keluarga Bapak Ayuub menjadi keluarga yang rukun dan damai. 5 tahun kemudian, ibu dari kedua anak Pak Ayyub pulang dari Hongkong. Ia mengira bahwa keluarganya tetap seperti dahulu. Tapi perkiraan itu salah. Keluarganya telah berubah menjadi keluarga yang lebih baik. Ibu mereka, Ibu Suci, sangat senang dengan keadaan ini) N.S. : (Karena anaknya yang bernama Shella itu sudah mempunya penghasilan tetap, jadi Ibu Suci tidak kembali ke Hongkong laig dan menetap di Indonesia untuk selamanya. Akhirnya keluarga mereka berkumpul utuh kembali dan menjadi keluarga yang bahagia)

Suci           :  “Ibu bangga dengan kalian berdua. Kalian memang anak-anak yang sangat baik”

Shella       :  “YA iyalah, anak siapa?”

Pak Ayyub dan Mukti : “Hahahaha”

                   N.S. : (Mereka pun kini dapat tertawa bersama dan mereka hidup bahagia..)

 

PENUTUPAN     : - sylma : mari kita tutup drama ini dengan mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin. Semoga amanat dari drama ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin

    - bersama-sama : wassalamualaikum wr. wb

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :