MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Masjid Abah

diposting oleh alhada-fisip11 pada 17 November 2012
di Naskah Drama - 1 komentar

 

 

Semua  :               “Assalamualaikum wr.wb.”

Sylma    :               “Kami dari kelompok satu akan menyajikan sebuah drama dengan judul Masjid Abah. Silahkan menikmati”

                N: (Pada suatu ketika ada seorang pengusaha kaya nasrani yang datang ke rumah seorang pemilik masjid yang kurang mampu, ia datang bersama anak sulungnya)

Dio         :               “Selamat pagi, anyone here? Apa ada orang disini?” (Berwibawa tetapi dengan gaya sok kaya)

Azis        :               “Wa’alaikumsalam. Ada apa? Silahkan duduk” (Lembut tetapi tegas)

Vinsa     :               “Aduh  Pi, panas banget kok  gak ada Acnya sih?” (Cara ngomong agak lebay tap gak over, manja dan sok kaya)

Dio         :               “Saya datang kesini dengan tujuan ingin membeli masjid anda sebesar 25 juta” (biasa dan tegas)

Azis        :               “Mengapa anda ingin membeli masjid saya?” (Kaget, bingung dan cara ngomong tegas)

Dio         :               “Saya ingin membangun realestate karena lingkungan ini masih asri” (Sok dan ekspresi dio bangeeeet^^)

Azis        :               “mmmm..” (bingung tapi gak keliatan culun alias tetep berwibawa)

Dio         :               “Saya tambah menjadi 100 juta” (Memaksa dan tegas)

                N : (Sang pemilik masjid kebingungan harus berkata apa dan istrinya pun menghampirinya dengan membawa minuman)

Suci        :               “Ada apa bah?” (lemah lembut dan tidak terlalu keras tapi tidak terlalu pelan. Bisa dibilang sedengan)

Azis        :               “Iniii, ada yang mau membeli masjid kita” (menunjuk ke dio tapi gak pakek satu jari. Tapi 5 jari)

Suci        :               “Wadu, jangan baah..” (menolak tapi tidak membentak, tetep sopan dan suara sedengan)

Azis        :               “Mmm, akan saya pikirkan bersama keluarga dulu. Besok anda bisa datang lagi” (Menegaskan tapi dengan cara halus)

Dio         :               “Oke. Saya harap anda menyetujuinya. Jika tidak, lihat saja apa yang akan terjadi. Hidup kalian akan menderita. Permisi. Selamat pagi” (Membentak tapi tidak terlalu keras #karena suara dio sudah keras^^ Ekspresi ngancem tapi jangan kayak hantu yaa cara ngancemnya. hehehe)

Vinsa     :               “Bye kismiiiiin..” (agak lebay cara ngomongnya, sikap bisa dibilang endel, sok kayanya tetep dimunculin yaa^^)

Azis        :               “Astaghfirullahaladzim, Wa’alaikumsalam, selamat pagi”(Mengelus dada dan cara berbicara lembut tapi tetap tegas)

                N : (Setelah pengusaha keluar dari rumah, abah, umi, dan kedua anaknya berdiskusi tentang penjualan masjid)

Azis        :               “Mi, bagaimana ini?”(raut muka kebingungan)

Suci        :               “Aku sarankan jangan dijual bah”(menggelengkan kepala dan ekspresi agak sedih. Cara ngomong tetep lembut tapi buat suci kerasin dikit yaa. Tapi kerasnya jangan mbentak^^)

Ayyub   :               “Saya setuju, karena ini satu-satunya warisan dari kakek kita”(ekspresi mengIYAkan dancara ngomong seperti menjelaskan dengan sopan tapi agak menekan)

Sylma    :               “Tidak !! Itu harus dijual. 100 juta itu jumlah yang banyak” (membentak tapi tidak terlalu keras dan menentang. Ekspresi agak mangkel gituuu..)

Azis        :               “Ya, itu benar ! Kita dapat membangun rumah kita dan itu cukup untuk kehidupan kita dalam jangka waktu lama”(MengIYAkan tapi ekspresi agak menunjukkan keraguan dan suara berdinamika dari keras ke lembut. Karena itu menyatakan keraguan)

Sylma    :               “Betul tuh !” (MengIYAkan dengan semangat)

Suci        :               “Jangan baah, masjid ini warisan kita satu-satunya” (Sedih dan menentang dengan lembut)

Ayyub   :               “Iya bah, jangan” (sedih dan memohon)

Sylma    :               “Oke ! Baiklah, aku akan keluar dari rumah kecil ini”(mengancam dan membentak tapi tidak terlalu over)

Suci dan Azis      :               “Jangan nduk jangan. Istighfar”(menunjukkan sifat kesabaran dan penasihat tapi agak menekan)

Sylma    :               “Itu bukan urusan kalian”(acuh)

                N : (Abah dan umi bingung harus melakukan apa. Ia tak mau putri satu-satunya meninggalkan rumah. Merekapun berdiskusi berdua sampai larut malam hingga mempunyai keputusan yang pasti. Keesokan harinya, sang pengusaha datang bersama anak bungsunya)

Muti      :               “Ada apa pi? Kok kita ke sini?”(bingung dan ekpresi bertanya tanya)

Dio         :               “Papi mau beli’ masjid itu. Ini rumah orang yang punya masjidnya”(gaya sok jangan dilupakan yaa^^ tapi berwibawa)

Muti      :               “Loh? Pi? Kok masjid yang dibeli’? itu kan tempat ibadah orang islam piii..”(menentang)

Dio         :               “Yang penting papi bisa mendirikan realestate di sini. Uda, kamu gausah ikut campur urusan bisnis papi. Tugasmu cuman belajar”(tidak peduli dan cara ngomong santai)

Muti      :               “Hm. Okelaaah..”(pasrah dengan ekspresi seorang muti nek nesu^^)

Dio         :               “Selamat siang. Apa ada orang di sana?”(berteriak sedikit. Tapi jangan over)

Azis        :               “Wa’alaikumsalam. Oh, bapak. Silahkan duduk pak”(tegas tapi lembut)

Dio         :               “Bagaimana dengan tawaran saya kemarin?”(sok bangeet)

Azis        :               “Ya, saya setuju”(ekspresi sedih dan mengiyakan dengan tidak semangat)

Dio         :               “Terima kasih. Ini uangnya, cash dan lunas. Sekali lagi terimakasih ya pak”(sok sambil menyerahkan koper berisi uang)

                N : (Umi tak kuasa menahan tangisnya karena masjid adalah satu-satunya peninggalan ayahandanya. Ia menangis tak ada henti setelah berdiskusi sampai hari itu juga. Setelah sang pengusaha pulang dengan hati yang berbunga bunga, anak sulung si abah menghampiri abah dan berkata...)

Ayyub   :               “Abah?! Mengapa abah menjual masjid itu?”(terkejut, agak mbentak, marah tapi tetep sopan)

Azis        :               “Ini semua demi adik kamu. Abah tidak mau adik kamu pergi dari rumah ini. Dan pengusaha itu mengancam sesuatu”(pasrah dan sedih)

Ayyub   :               “Tapi kan ada cara lain bah. Mengapa abah lakukan ini?” (marah dan agak mbentak. Ayyub banget deh. Cocok nih^^)

Azis        :               “Abah bingung nak mau melakukan apa”(pasrah)

Suci        :               (Sambil menangis tersedu sedu berkata) “Sudah nak, ikhlaskan saja. Mungkin ini yang terbaik untuk kita semua”

Ayyub   :               “Ya sudah, kalau itu memang mau kalian bah, mi”(pasrah dan sedih #murung)

Sylma    :               (Datang tiba-tiba) “Horeee !! Gitu dong bah, mi. Kan kita jadi punya uang banyaaaaak”

Ayyub   :               “Dasar anak kecil, gak tau mana yang baik dan yang buruk. Bisanya cuman egois !!”(membentak dengan keras)

                N : (Setelah semuanya terjadi, adik sang umi datang. Mau tau kelanjutan ceritanya? Ikuti terus drama kita)

Rizky      :               “Assalamualaikum”(agak mbentak)

Azis        :               “Wa’alaikumsalam. Oh, kamu dik. Ada apa dik?”(terkejut, lembut tapi tegas)

Rizky      :               “Saya gatrima kalo kakang menjual masjid abah saya. Itu kenang-kenagan terakhir kita dari abah saya. Seharusnya kakang tidak melakukan itu”(membentak, menentang, tapi tidak over)

Azis        :               “Habis bagaimana lagi dik. Aku tak tau lagi apa yang harus aku lakukan”(pasrah dan sedih)

                N : (Sang abah menceritakan semua kejadian mulai awal kepada adiknya umi. Adik sang umi hanya terdiam)

Rizky      :               “Hm. Yasudah, lain kali pikirkan lebih hati hati. Saya mengikhlaskan semua ini meskipun sebenarnya berat sekali untuk mengikhlaskan. Semoga masjid itu tidak jadi dibangun menjadi realestate dan jika Allah mengijinkan, semoga masjid itu tetap utuh menjadi masjid dan dikelola dengan baik.”(penasihat, berwibawa dan menghembuskan nafas panjang)

Azis        :               “Iya dik”(sedih dan murung)

Rizky      :               “Kalo begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum”(sedih dan lembut)

Azis        :               “Wa’alikumsalam”(sedih)

                N : (Di lain tempat, sang pengusaha kaya mengalami kecelakaan mendadak dan ia meninggal. Anak anaknya tak tau masalah harta orang tuanya. Akhirnya mereka membuat keputusan mngembalikan lahan-lahan yang pernah orangtuanya beli dari orang yang kurang mampu dan sisanya dibagi kepada anak yatim. Jadi, masjid yang barusan papi mereka beli dari sang abah, dikembalikannya pula. Ketiga anak pengusaha mendatangi rumah sang abah)

Muti, Shella, Vinsa           :               “Selamat sore”(lemas, menyesal, sedih)

Ayyub   :               “Selamat sore. Ada apa ya? Silahkan masuk”(menunjukkan kejengkelan)

Shella    :               “Kami bertiga adalah anak dari sorang pengusaha yang telah membeli masjid kalian”(menerangkan dengan lembut tapi keluarkan karater tomboy2 gimanaa gitu yaaa^^)

Ayyub   :               “Oh, ada apa ke sini? Mau membeli rumah kami jugak?”(jengkel, nyindir)

Shella    :               “Bukan, bukan begitu.Kami di sini bertujuan untuk mengembalikanlahan dan masjid kalian”(bersikap menjelaskan dan menyesal)

Ayyub   :               “Kalian jangan bercanda. Memangnya ada apa?”(menegaskan)

Shella    :               “Papi kami meninggal kemarin sore dan kita bingung harus melakukan apa dengan harta-harta papi kami.(ekspresi sedih dan pasrah)

Muti      :               “Jadi kami memutuskan untuk mengembalikan lahan dan bangunan yang pernah dibeli papi kita dengan paksa kepada yang punya dan sisanya untuk anak yatim piatu”(ekspresi sedih. Bersikap menjelaskan)

Ayyub   :               “Bagaimana dengan ibu kalian?”(ekspresi heran)

Shella    :               “Ibu kita sudah lama tiada”(sedih)

Ayyub   :               “Oh. Ini serius?”(masih bingung dan bertanya tanya)

Vinsa     :               “Kita serius”(menekankan kata2)

                N : (Anak sulung sang abah langsung memanggil kedua orang tuanya dan menceritakan apa yang terjadi. Merekapun langsung sujud syukur di tempat)

Azis        :               “Alhamdulillah mi”(bersyukuuuur banget)

Suci        :               “Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah”(bersyukur banget jugak^^)

                N : (Sylma tidak sengaja mendengar perbincangan mereka. Ia pun ikut senang mendengarnya dan ia meminta maaf kepada kedua orang tua mereka)

Sylma    :               “Maaf ya bah, mi”(menyesal dan tersenyum gembira)

Azis        :               “Iya, tidak apa apa. Sudah kami maafkan kok nduk”(menunjukkan sabar, lembut tapi tetep tegas)

                N : (Mereka pun akhirnya hidup bahagia setelah melalui beberapa masalah yang mereka hadapi dengan ketabahan dan keikhlasan)

Sylma    :               “BAIKLAAAH !! Sekian drama yang kami sajikan. Semoga kalian bisa mengambil makna dari cerita ini”

SEMUA    :               “TERIMA KASIH DAN SAMPAI JUMPAA !!” :D

1 Komentar

mujaimin

pada : 11 November 2015


"Semoga amal slalu mengalir orang yg membutuhkan file ini "


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :