MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Patron-Client Relationship

diposting oleh alhada-fisip11 pada 13 November 2012
di Pengetahuan Akademik - 1 komentar

 

 

Topik : Struktur Sosial Petani

Tema : Hubungan Patron-klien Masyarakat Desa

 

Patron-klien Dalam Struktur Ekonomi Desa


Struktur sosial adalah tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Perlunya pengamatan untuk mengetahui betul hakekat struktur sosial dalam masyarakat. Khususnya dalam hal ini peneliti ingin meneliti mengenai hubungan sosial patron-klien yang terjadi di masyarakat desa yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Dalam pengambilan topik peneliti merujuk pada konsepsi James C. Scott dalam bukunya Moral Ekonomi Petani yang di dalamnya banyak menjelaskan mengenai hubungan patron-klien ini. Alasan peneliti mengambil topik ini karena peneliti merasa tertarik dan  melihat sebagai suatu fenomena yang unik terhadap hubungan patron-klien itu sendiri. Meskipun di masa sekarang suatu pekerjaan dilandasi atas dasar atau bersifat kontrak namun ternyata ada fenomena patron-klien yang dari kedua pihak saling berhubungan timbal balik saling menguntungkan satu sama lain tanpa harus merasa rugi. Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan penjelasan berikut.

 

Pada awal penjelasannya, Scott menjelaskan mengenai perilaku ekonomis keluarga petani yang bahwasanya perilaku ekonomis yang khas dari keluarga petani yang berorientasi subsistensi merupakan akibat dari kenyataan bahwa berbeda  dari satu perusahaan kapitalis, ia sekaligus merupakan satu unit konsumsi dan unit produksi. Di kebanyakan masyarakat petani yang pra-kapitalis, kekhawatiran akan mengalami kekurangan pangan telah menyebabkan timbulnya apa yang mungkin dapat dinamakan secara tepat suatu “etika subsistensi”. Yaitu etika yang terdapat di kalangan petani Asia Tenggara yang merupakan konsekuensi dari satu kehidupan yang begitu dekat dengan garis batas. Satu panen yang buruk hanya tidak akan berarti kurang makan. Agar dapat makan orang mungkin terpaksa mengorbankan rasa harga dirinya dan menjadi beban orang lain, atau menjual sebagian dari tanahnya atau ternaknya sehingga memperkecil baginya untuk mencapai subsistensi yang memadai tahun berikutnya. Secara kasarnya dapat dikatakan bahwa masalah yang dihadapi keluarga petani adalah bagaimana dapat menghasilkan beras yang cukup untuk makan keluarga, untuk membeli beberapa barang kebutuhan seperti garam dan kain, dan untuk memenuhi tagihan-tagihan yang tak dapat ditawar-tawar lagi dari pihak-pihak luar. Perilaku ekonomis petani bersumber pada kenyataan bahwa perjuangan untuk memperoleh hasil yang minimum bagi subsistensi berlangsung dalam konteks kekurangan tanah, modal, dan lapangan kerja di luar.

 

Scott memandang wajar sekali bahwa petani yang setiap musim bergulat dengan lapar dan segala kosekuensinya. Petani seperti ini mempunyai pandangan yang agak berbeda tentang soal mengambil resiko dibandingkan dengan penanam modal yang main “di tingkat atas”. Dalam hal ini Scott menggunakan perumusan ekonomi yang eksplisit tentang perilaku petani yang menghindari resiko. Model ekonomi ini mempunyai nilai substansif yang besar untuk memahami pola-pola inovasi, seperti melakukan investasi berupa pembuatan sumur pompa, mengubah cara-cara bertanam, atau menggunakan bibit padi unggul. Mempelajari soal bagaimana petani membentuk kehidupan ekonominya untuk menjamin subsistensi yang stabil akan membantu kita untuk memahami bagaimana persoalan-persoalan yang sama telah mempersatukan sebagian besar dari kehidupan sosial dan politik mereka. Sikap menghindari resiko itu juga dikemukakan untuk menjelaskan mengapa petani lebih suka menanm tanaman subsistensi dari pada tanaman bukan pangan yang hasilnya untuk di jual. Menurut Hla Myint adalah hal yang rasioal sekali bagi petani-petani di negari-negeri yang terlalu padat penduduknya yang mempunyai margin yang sangat kecil untuk mengambil resiko di atas tingkat subsistensi mereka untuk merasa puas dengan hasil yang lebih rendah dari produksi subsistensi daripada memilih hasil-hasil yang lebih besar, tapi lebih banyak resikonya dari produksi untuk diuangkan.

 

Tekanan struktural bagi para petani dari pola hubungan yang semakin komersial di dalam proses produksi, mungkin akan lebih jelas sebagaimana dikemukakan James C. Scott, terutama di kalangan petani di Asia tenggara yang mengemukakan semakin memburuknya “perimbangan pertukaran” (balance of exchange)  antara pemilik dan penyewa. Menurutnya, apabila dalam jangka waktu tertentu kita meneliti barang dan jasa yang diberikan oleh pemilik kepada penyewa dan sebaliknya yang diberikan oleh penyewa kepada pemilik, akan kita lihat satu pergeseran yang pasti dalam pertukaran itu, yang merugikan penyewa. Pada umumnya, pemilik tanah memberikan jasa-jasa yang lebih sedikit sementara ia menuntut jasa-jasa yang sama besarnya atau lebih, dari penyewa atau buruh. Dalam pengertian ini, tata hubungan itu secara obyektif menjadi lebih eksploitatif. Selain itu hal ini juga di jelaskan oleh Alfian dalam bukunya Kemiskinan Struktural bahwasanya tekanan struktural di kalangan petani sedemikian ini –yang diderita oleh para petani yang kehilangan sumber produksi utama mereka –disebut dengan kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia untuk mereka.

 

Seperti yang di katakan James C. Scott dalam bukunya Moral Ekonomi Petani bahwa ikatan antara pelindung (patron) dan klien, satu bentuk asuransi sosial yang terdapat di mana-mana di kalangan petani Asia Tenggara merupakan satu langkah jauh lainnya dalam jarak sosial dan seringkali moral, teristimewa apabila sang pelindung bukan warga desa. Seorang patron menurut definisinya adalah orang yang berda dalam posisi untuk membantu klien-kliennya. Klien yang mengandalkan pada perlindungan dari seorang patron yang lebih berpengaruh, sekaligus juga berkewajiban untuk menjadi anak buahnya yang setia da selalu siap melakukan pekerjaan apa saja yang diberikan kepadanya. Jadi dalam hal ini Scott menjelaskan bahwa arus patron-klien yang dideteksi oleh James Scott itu berkaitan dengan kehidupan petani yaitu penghidupan subsistensi dasar yaitu pemberian pekerjaan tetap atau tanah untuk bercocok tanam, jaminan krisis subsistensi, patron menjamin dasar subsistensi bagi kliennya dengan menyerap kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh permasalahan pertanian (paceklik,dll) yang akan menggnggu kehidupan kliennnya. Selain itu juga perlindungan terhadap tekanan dari luar, makelar, dan pengaruh. Dari tindak perlindungan itulah patron juga mendapatkan keuntungan atau hadiah dari kliennya sebagai imbalan atas perlindungannya terhadap klien. Klien dalam memberikan jasa dan reward kepada patronnya itu merupakan kesadaran yang sepertinya sudah mendarah daging pada diri klien. Jadi secara otomatis klien akan memberikan jasa yang semaksimal mungkin dan kemudian dari hasil kerjanya tersebut klien memberikan suatu reward kepada patron. Hubungan timbal balik seperti ini menurut Scott dinamakan hubungan Patronase. Agar hubungan patronase ini dapat berjalan dengan mulus, maka diperlukan adanya unsur-unsur tertentu yaitu diantaranya bahwa apa yang diberikan oleh satu pihak adalah merupakan sesuatu yang berharga di mata pihak lain, baik berupa pekerjaan, barang, jasa, atau semacamnya. Kemudian unsur yang kedua yaitu adanya hubungan timbal-balik, dimana pihak yang menerima bantuan merasa mempunyai suatu kewajiban untuk membalas pemberian tersebut.

 

Untuk mendukung penjelasan di atas, Scott juga mengemukakan ciri-ciri mengenai hubungan patron-klien yaitu sebagai berikut :

  1. Adanya ketidaksamaan (inequality) dalam pertukaran timbal balik. Hubungan ini bersifat tidak seimbang, karena patron berperan sebagai si pemberi dan selalu memberikan apapun kepada klien agar mereka bisa tetap hidup dan loyal (bergantung) kepada patron.
  2. Adanya tatap muka (face to face character). Sifat tatap muka memberikan gambaran kepada kita bahwa hubungan Patron – Klien yang saat ini sedang kita bicarakan lebih contong kepada hubungan yang emosional dan intim. Dalam beberapa kasus, hal ini dibuktikan dengan adanya panggilan akrab antara patron dan klien yang menyebabkan unsure rasa (chemistry) tumbuh dalam hubungan tersebut.
  3. Bersifat luwes dan meluas (diffuse flexibility). Hubungan yang terjalin semata-mata tak hanya terikat pada hubungan timbale balik antara majikan dan buruh atau pemilik tanah dan penggarap tanah. Jikalau patron dank lien dulunya adalah teman teman sekolah, atau tetangga hubungan ini dimungkinkan akan meluas.

 

Untuk memperkuat penjelasan dari topik yang diambil peneliti, maka peneliti mengambil contoh dari penelitian yang dilakukan oleh Rususun(1984), dan Kaiki (1989), pada masayarakat nelayan di Maluku Tengah yang mengatakan bahwa ikatan patron-klien telah tercipta sejak sebelum masa kolonial, yang terbentuk di dalam ikatan tenase-masnait, dimana tenase sebagai pemilik modal atau pemilik produksi (patron) dan masnait sebagai anak buah atau para pekerja (klien).

 

Selain contoh di atas ada juga penelitian yang dilakukan oleh Michael Moerman tentang pertanian pedesaan di sebuah desa di Muangthai Utara tepatnya penduduk desa Ban Ping memberikan salah satu bukti yang paling meyakinkan bahwa petani lebih mengutamakan soal-soal subsistensi dari pada keuntungan. Kehidupan mereka untuk sebagian besar terbagi antara dua bidang sawah yaitu yang satu untuk memenuhi kebutuhan subsistensi, sedangkan yang satu lagi didominasi oleh hasrat memperoleh keuntungan. Kesimpulan dari studi Moerman itu adalah bahwa di sawah yang satu tidak ada persoalan tentang prioritas bertanamuntuk subsitensi, meskipun menanam padi untuk dijual bagaimanapun lebih menguntungkan.Penduduk desa hanya mengurus sawah yang ditanami padi untuk dijual setelah mereka salesai mengerjakan sawah subsistensi mereka. Bagaimanapun besarnya ambisi kewiraswataan petani, rasionalitas mereka tidak mengizinkan tanaman komersil yang membahayakan subsistensi mereka.

 

 

Daftar Pustaka

  • James C. Scott, Moral Ekonomi Petani; Pergolakan dan subsistensi di Asia Tenggara. Diterjemahkan oleh Hasan Bahari, disunting oleh Bur Rasuanto ; (Jakarta: LP3ES, 1981). Hal. 101-103.
  • Selo Sumarjan, kemiskinan Struktural dan Pembangunan, dalam Kemiskinan Struktural, oleh Alfian et. Al. (Jakarta; Yayasan Ilmu-ilmu Sosial, 1980) hal, 5.
  • Scott, James, C. 1972. “Patron-Client Politics and Political Change in Southeast Asia” The American Political Science Review 66 (1) Dalam Darmawan Salman Tahap Transisi Dalam Transportasi Industrial Pada Masyarakat Maritim di Sul-Sel.
  • Kaliki, Rusdi. Pola Hubungan Kerja Antara Tenase dan Masnait, Studi Kasus Pada Unit Penangkapan Rurehe di Desa Luhu, Kec.Seram Barat, Kab. Maluku Tengah. (Skrispsi) Ambon: FISIP-Unpati.

 

1 Komentar

galang

pada : 13 November 2012


"Ini sungguh Woww...
kayak pernah tahu posting ini, bagus dan Cetar membahana badai.."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :