MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Hasil Wawancara Kepada Seorang Pencari Rumput

diposting oleh alhada-fisip11 pada 13 November 2012
di Penelitian - 0 komentar

Informan                                 : Mujahiddin

Usia Informan                         : 25 tahun

Kategori Informan                  : Pencari rumput

 

Saya sebagai anggota kelompok 7, saat itu mendapat tugas untuk melakukan wawancara mendalam (indepth interview) kepada salah seorang warga yang berprofesi sebagai pencari rumput. Siang itu pada tanggal 1 Desember 2011 hari Kamis sekitar pukul 14.15 saya memulai perjalanan untuk mencari warga yang berprofesi sebagai pencari rumput. Tempat yang saya rasa pas untuk menemukan pencari rumput adalah di sawah, tertujulah langkah saya ke sawah di sebelah Balai Desa Wiyurejo. Saya pun menemukan beberapa pencari rumput dan segeralah saya menghampiri mereka. Satu orang bersedia untuk menjadi informan saya, yaitu mas Mujahiddin. Wawancara pun saya mulai.

 

Pewawancara     : “Selamat Pagi mas, saya Dea mahasiswa semester 3 dari Universitas Airlangga Surabaya yang sedang melakukan Kuliah Lapangan Sosiologi Pedesaan di Pujon dan kebetulan desa anda termasuk wilayah yang diteliti oleh kelompok kerja saya. Sebelumnya terima kasih atas waktunya untuk bersedia saya wawancarai. Maaf, dengan mas siapa ya?”

Informan            : “Iya mbak pagi, saya Mujahiddin , oh..nggih monggo mbak tidak apa-apa. Tapi saya sambi mbabat rumput ya mbak?”

Pewawancara     : “Iya mas silakan, monggo sambil santai saja mas. Saya mulai pertanyaan pertama, asal mula menjadi seorang pencari rumput itu bagaimana? Seperti alasannya gitu mas.”

Informan            : “Saya 25 tahun mbak. Ya gimana ya mbak, emang sudah turun temurun, saya juga ingin sekali membibit jadi ya berawal dari nyari rumput ini pelan-pelan.”

Pewawancara     : “Oh gitu ya mas. Berarti dari orang tua anda  juga sudah dari dulu mencari rumput ya mas. Kalau boleh tau juga, anda ini sudah menikah?”

Informan            : “Iya mbak, mbah saya juga merumput, pokoknya keluarga saya sebagian besar juga mencari rumput. Bisa merumput juga karena dulu sering diajak bapak ke sawah membabat rumput mbak. Jadi bisanya ya cuma seperti ini. Saya juga masih lajang mbak”.

Pewawancara     : “Hehe ya gak apa-apa mas yang penting halal to, bisa buat makan juga Alhamdulillah mas. Jadi anda ini masih tinggal sama orang tua ya mas. Lalu mas keuntungan jadi pencari rumput itu apa mas?”

Informan            : “Ya lumayan mbak, kalau cari rumput itu sudah pasti lakunya soalnya hampir semua warga disini kan juga peternak mbak jadi hewan ternaknya sudah jelas butuh rumput kan mbak. Hasil dari jual rumput juga lumayan mbak. Saya di rumah juga punya satu pedhet jadinya ya sebagian juga saya bawa pulang untuk makan pedhet saya”.

Pewawancara     : “Oh masnya juga punya sapi pedhet di rumah, tapi gak bisa diternakkan ya mas. Trus kalau dari penghasilannya sendiri dari pencari rumput itu per bulannya berapa mas kalau boleh tau?”

Informan            : “Ya itu Alhamdulillah juga mbak, meskipun gak banyak banget yang penting kan harus disyukuri ya mbak. Saya perbulan itu gak pasti mbak, kadang Rp300.000,00  Rp400.000,00  Rp500.000 juga pernah mbak”.

Pewawancara     : “Wah kalau segitu sih buat saya juga sudah lumayan mas, apalagi anda juga belum menikah jadi sudah lebih dari cukup. Biasanya hasil dari jual rumput itu digunakan untuk apa mas?”

Informan            : “Iya mbak, pokoknya disyukuri mbak dapatnya berapapun kudu bersyukur. Hasilnya ya buat bantu orang tua mbak, meskipun sedikit yang penting ikhlas, saya tabung juga sebagian mungkin bisa beli sapi lagi buat ternak, buat modal nikah juga mbak hehe”.

Pewawancara     : “Wah masnya ini benar-benar menyiapkan masa depan ya hehe. Tadi kan keuntungan-keuntungan dari mencari rumput ya mas, berarti selain keuntungan pasti ada kerugiannya yam as, nah itu kerugiannya apa aja mas?”

Informan            : “Ruginya itu ya macam-macam mbak. Sering jatuh pas nyari rumput itu sudah pasti, disengat belalang, kadang ada juga rumput-rumput yang tajam itu nusuk di jari-jari tangan. Yawes semacam kecelakaan-kecelakaan kecil gitu mbak.”

Pewawancara     : “Bahaya juga ya mas kalo gitu, tapi emang setiap pekerjaan itu pasti ada resikonya ya mas, yang penting kudu sabar. Trus hambatan-hambatannya itu apa aja mas, misalnya seperti resiko mencari rumput itu apa?”

Informan            : “Kalau hambatannya itu juga macam-macam mbak. Apalagi kalau cuacanya sudah tidak bersahabat, kayak pas musim kemarau gitu kan tanahnya tandus jadi rumput-rumputnya mengering mbak sehingga panen rumputnya gagal”.

Pewawancara     : “Wah iyaya mas, berarti gak segampang itu ya mas, gak cuma sekedar membabat rumput. Susah juga ya mas kerjaannnya. Tapi mas selain mencari rumput, kegiatan anda biasanya sehari-hari di rumah itu apa mas?”

Informan            : “Iya mbak, banyak kendalanya. Saya biasanya angon sapi saya mbak ya yang pedhet itu , kadang juga bantu bapak saya ngerawat sapi juga kan bapak saya juga peternak sapi mbak, dandan-dandan rumah, serabutan gitu mbak. Tapi setiap harinya saya ya pencari rumput ini.”

Pewawancara     : “Owalah termasuk orang sibuk ya anda ini hehe. Tapi mas kegiatan anda apa cuma di kalangan keluarga saja? Maksud saya bagaimana tentang kehidupan sosial anda di kampung?”

Informan            : “Lebih sering memang dalam kegiatan keluarga mbak, kalau di kampung sih ya kayak pada umumnya aja sekedar nonggo, tapi kalau di keluarga ada bapak saya yang ikut KOPSAE karena bapak saya kan peternak, saya juga pencari rumput jadinya ya sangat erat hubungannya dengan KOPSAE.”

Pewawancara     : “Berarti memang sudah berhubungan ya mas antara pencari rumput dan peternak dalam KOPSAE, jadi sejauh apa mas keterlibatan anda dalam KOPSAE?”

Informan            : “Oh ya sudah pasti mbak, apalagi disini memang sebagian besar warganya peternak jadinya ya pasti sangat berhubungan dengan KOPSAE. Kalau pencari rumput seperti saya sih ya istilahnya cuma kecipratan karena bapak saya kan anggotanya, tapi saya bukan anggota.”

Pewawancara     : “Begitu ya mas, jadi memang sebagian besar warga disini menjadi anggota KOPSAE. Berarti anda bukan termasuk anggota ya?”

Informan            : “Tentu mbak. Iya mbak yang jadi anggota bapak saya.”

Pewawancara     : “Lho mas tadi anda menyebutkan kalau anda kecipratan karena bapak anda anggota KOPSAE itu gimana maksudnya mas?”

Informan            : “Ya bapak kan anggota, jadi pasti punya simpanan di KOPSAE nanti tiap tahunnya ka nada pembagian hasil, itu saya dikasih juga sama bapak lha wong saya anaknya mbak hehe.”

Pewawancara     : “Jadi seperti itu ya mas. Meskipun anda bukan anggota KOPSAE tapi anda ikut merasakan manfaat dari KOPSAE itu sendiri ya.”

Informan            : “Lho ya jelas mbak, KOPSAE kan tujuannya mensejahterakan anggotanya, bapak saya anggotanya berarti saya ikut sejahtera hehe.”

Pewawancara     : “Alhamdulillah ya mas. Anda ini kan pencari rumput, lalu hubungan sosial anda dengan pemilik sapi ataupun peternak itu bagaimana mas?”

Informan            : “Tentu sangat ketergantungan dan sangat berhubungan mbak, apalagi saya pencari rumput tentu mereka pemilik sapi dan peterenak selalu membutuhkan rumput saya untuk memberi makan sapi mereka. Begitu juga saya, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya dimana bapak saya sendiri adalah peternak susu yang hasil susunya bersedia untuk dibagi dua bersama saya.”

Pewawancara     : “Iya mas memang sudah seharusnya saling menguntungkan ya. Lalu mas, dari sistem pembayarannya sendiri oleh pemilik sapi terhadap anda itu bagaimana mas?”

Informan            : “Macam-macam mbak. Kalau udah pelanggan tetap saya dibayar tiap minggu, kalau cuma pembeli biasa ya langsung bayar, kadang juga ada mbak yang bayar pake susu sapi gitu jadi seperti barter gitu mbak.”

Pewawancara     : “Berarti itungannya per kilo gitu mas? Biasanya berapa mas per kilonya?”

Informan            : “Bukan mbak, itungannya ya per ikat gitu mbak. Saya jualnya per ikat Rp800,00. Tapi pembelinya tidak pernah beli seikat, mesti lebih dari 7 ikat. Saya perhari juga kadang bisa sampai laku lebih dari 20 ikat mbak. Gak pasti juga mbak.”

Pewawancara     : “Berarti penghasilannya juga tidak tentu ya mas? Ya sekitar yang anda sebutkan tadi Rp300.000,00-Rp500.000,00 per bulannya. Itu berapa mas biasanya pengeluaran untuk keperluan anda sehari-hari mas?”

Informan            : “Gak pasti juga mbak, kadang perhari bisa Rp10.000,00, Rp5000,00 juga pernah mbak. Kan saya belum nikah jadinya gak terlalu banyak. Sisanya saya kasihkan ke orang tua dan saya tabung mbak.”

Pewawancara     : “Lantas harapan anda sendiri untuk pemilik sapi ataupun peternak yang berhubungan dengan anda itu apa?”

Informan            : “Ya semoga selalu mau dan percaya kepada saya untuk tetap bekerja sama dengan saya meskipun saya hanya pencari rumput mbak.”

Pewawancara     : “Oke mas, saya ikut mendoakan. Pertanyaan terakhir nih mas, ada atau tidak keinginan anda untuk menuju ke keadaaan ekonomi yang lebih baik? Jika ada, apa bentuk usaha anda mas?”

Informan            : “Jelas ada to mbak. Saya ini sebenarnya dari dulu kepingin nyayur mbak, jadi petani sayur gitu mbak. Tapi ya masih belum mampu, gak kuat modalnya, saya juga gak punya lading ataupun sawah jadi ya pelan-pelan jadi pencari rumput dulu, sapa tau merambat ya mbak. Saya juga sengaja menabung mungkin bisa dijadikan modal untuk jadi petani sayur mbak.”

Pewawancara     : “Wah saya doakan ya mas seomoga apa yang mas inginkan bisa terwujud menjadi petani sayur, nanti kalau panen mungkin bisa dikirim ke saya hehe. Sekian dulu mas wawancaranya, saya banyak terima kasih pada anda atas waktu dan kesediaannya. Maaf juga mas jika sudah mengganggu waktu dan kegiatan anda. Mari mas, silakan dilanjutkan kembali aktivitasnya.”

Informan            : “Monggo mbak, saya juga terima kasih pada anda. Maaf juga jika ada kurangnya dalam menjawab pertanyaan anda. Hati-hati ya mbak.”

Pewawancara     : “Nggih mas, pareng.”

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :