MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Hasil Wawancara Kepada Seorang Perangkat Desa

diposting oleh alhada-fisip11 pada 13 November 2012
di Penelitian - 0 komentar

Informan                     : Muk Roji

Umur   Informan         : 42 tahun

Kategori Informan      : Perangkat desa

Keterangan      : Y = informan

                          R = pewawancara

 

Y         : Permisi Bapak, maaf mengganggu, bisa minta nama lengkapnya bapak?

R         : nama lengkap Muhammad Roji.

Y         : pak Muhammad Roji, umurnya berapa pak?

R         : 42 tahun.

Y         : berkeluarga disini ya pak?

R         : ya, disini.

Y         : tinggal disini juga ya pak?

R         : ya, tinggal di sini. Di desa Wiyurejo.

Y         :bapak bisa menceritakan bagaimana awal mula bapak bisa menjadi sekretaris desa?

R         : awalnya pada waktu saya masih kuliah di Universitas Muhhamdiyah kalo gak salah semester terakhir, itu kan di sini ada kekosongan perangkat yaitu posisi sekretaris desa. Terus karena mungkin pada waktu itu kepala desa masih diduduki bapak Muhammad Sirot. Terus beliau menawari saya untuk mengisi posisi terus.

Y         : tapi pemilihan itu ada seleksinya ya pak?

R         : ya, kan waktu itu pertamanya mau dibuat calon tunggal saja, yaitu saya. Tapi saya tidak enak. Desa ini luas pak, masyarakatnya banyak. Lebih baik dibuka secara umum, siapa yang menginginkan untuk mendaftar boleh-boleh saja, jadi secara demokratis lah. Saya juga tidak mau menjadi perangkat karena atas dasar kasihan,lebih baik secara penilaian yang obyektif. Saya ini ingin maju tapi secara sportif. Kalah menang tidak jadi masalah buat saya. Akhirnya seiring berjalannya waktu, dibuka pendaftaran umum. Saya termasuk menjadi salah satu pendaftar. Lalu di dusun Kalangan ini, ada dua lagi pendaftar. Jadi ada 3 calon. Kemudian pada waktu itu di kecamatan Pujon ini masih ada namanya pembantu Bupati, dimana pada waktu itu menjadi pelaksana. Saya pada waktu itu pula ketepatan dengan seleksi di Mulyorejo. Jadi ada 6 peserta.

Y         : bagaimana system pemilihannya pak, apakah voting, musyawarah, atau nyoblos?

R         : oh kalau dulu kita memakai mekanisme ujian. Jadi seperti tes gitu mas. Tes tertulis, wawancara, dan sebagainya. Praktek mengetik dan juga pidato. Tapi Alhamdulillah setelah mengikuti mekanisme dari tim pembantu Bupati. Pada waktu itu pembantu Bupatinya bernama pak Syarih Taniawi, orangnyadari Madura. Saya akui pada waktu itu orangnya sangat obyektif. Artinya dia tidak ada unsure yang macem-macem lah, terkait dengan pemilihan ini. Dia hanya ingin obyektif, siapa yang nilainya paling tinggi dialah yang menjadi pemenangnya. Dari proses tersebut akhirnya saya terpilih secara sah menjadi sekretaris desa Wiyurejo mulai tahun 1993 sampai sekarang (2011).

Y         : selama 18 tahun itu, apakah ada pemilihan sekretaris desa lagi atau tidak?

R         : tidak ada mas. Karena dalam SK tidak ada batasan waktu. Kita mengikuti Undang-Undang mengenai jangka waktu penjabatan sekretaris desa. Dalam Undang-Undang tersebut tidak ada batasannya. Untuk pergantian berdasar Undang-Undang, menjadi perangkat desa itu batasannya selama 12 tahun, kalau sekretaris desa kebetulan sejak Undang-Undang mengenai perekrutan kita sudah menjadi PNS. Jadi kita sudah di PNS kan.

Y         : oh kalau sudah di PNS kan, berarti bisa transfer-transfer ke desa lain?

R         : untuk sementara setelah di SK kan menjadi PNS kita selama 6 tahun istilahnya harus tetap dulu di tempat, kita tidak bisa berpindah atau macem-macem, nanti setelah 6 tahun kita bisa entah dipindah-jabatkan, atau di rolling.

Y         : bapak dulu mendapat kabar ada pemilihan sekretaris dari kepala desa ya. Berarti bapak sudah lama tinggal disini?

R         : wah sudah lama mas, sudah dari lahir.

Y         : bapak bisa ceritakan bagaimana kontribusi bapak selama menjabat menjadi sekretaris desa?

R         : kami hanya membantu-bantu dalam bidang administrasi dan bidang yang sifatnya umum. Melaksanakan tugas keseharian dalam hal pengolahan data-data. Tugas lapangan juga kami kerjakan, istilahnya itu tugas-tugas pelayanan. Pelayanan dalam tahun-tahun yang lalu itu identik dengan carik (sekretaris desa). Orang-orang atau masyarakat kalau butuh surat kan ke carik, jarang ke perangkat yang lain. Baru-baru ini kita melatih perangkat-perangkat yang lain agar bisa melayani juga, makanya kita siapkan perangat-perangkat seperti ini (computer). Dulu untuk membuat surat saja harus menunggu saya mas. Tapi sekarang perangkat-perangkat yang lain sudah agak mulai bisa mas.

Y         : kalau sistem pemilihan kepala desa bagaimana pak?

R         : kalau kepala desa pemilihan mas. Nyoblos gitu mas. Kan jabatan kepala desa termasuk jabatan politik mas. Jabatan politik harus melalui pemilihan mas. Itu setiap 6 tahun sekali mas. Tapi macem-macem sih, dulu 8 tahun sekali. Mengikuti Undang-Undang aja mas. Kalau sekarang 6 tahun. Kalau ada perubahan mungkin berubah lagi. Karena para kepala desa di kabupaten minta diperpanjang masa jabatannya. Kalau itu direspon, mungkin masa jabatannya bisa berubah. Tetap tapi cara pemilihannya, dipilih oleh warga desanya.

Y         : pada waktu pemilihan tersebut ada berapa calon pak?

R         : kalau kemarin itu lumayan banyak mas, 5 kalau gak salah.

Y         : persyaratannya menjadi kepala desa apa pak?

R         : ada persyaratan yang sifatnya formalitas, itu harus dipenuhi. Ijazah pendidikan.

Y         : ijazah pendidikan minimal apa ya pak?

R         : minimal SLTP mas.

Y         : oh begitu jadi mungkin itu saja ya pak yang formal?

R         : ya lainnya seperti surat pernyataan.

Y         : apa salah satu persyaratannya harus warga asli desa wilayah yang dipilih?

R         : oh iya mas, kepala desa harus warga sini.

Y         : apa kepala desa bisa berpindah-pindah seperti sekretaris desa?

R         : oh gak bisa mas. Sekretaris saja. Harus 6 tahun dulu di tempat baru bisa berpindah, jadi terserah pihak Kabupaten mau kemana saya akan dipindah.

Y         : apa sekretaris desa juga harus minimal menjalani pendidikan SLTP pak?

R         : iya mas minimal SLTP.

Y         : bagaimana dengan pemilihan perangkat desa pak?

R         : kalau perangkat desa pemilihannya berdasar Undang-Undang yang baru itu masa jabatannya 12 tahun, penunjukkan langsung oleh kepala desa. Jadi awalnya dimusyawarahkan dulu mas. Lalu di setujui oleh DPD, lalu langsung dibuatkan SK oleh kepala desa. Kalau dulu perangkat desa itu pemilihan mas. Tapi sekarang mekanisme itu hanya untuk kepala desa.

Y         : dengan system penunjukan untuk pemilihan perangkat desa, apakah ada yang cemburu dengan orang yang terpilih?

R         : kalau kecemburuan itu sudah pasti.

Y         : lalu bagaimana cara bapak mengatasi kecemburuan itu?

R         : macem-macem lah mas namanya masyarakat. Menurut saya yang penting jangan sampai adu fisik lah.

Y         : apakah ada sampai terjadi adu fisik?

R         : tidak ada mas. Yah namanya masyarakat banyak maklumlah, begitu ada yang diangkat, sisi lain ada yang setuju sisi lain ada yang tidak setuju. Bahkan ada yang menekan gitu ada mas. Yang penting bagi kami, kami memahami bahwa penunjukan itu hak prerogratif dari masyarakat desa. Tetapi begitu dipilih oleh kepala desa dan masuk ke balai desa, para perangkat desa itu menjadi binaan saya. Saya tidak melihat latar belakang mereka siapa, yang sudah disahkan oleh kepala desa, yang penting sekarang apakah mereka bisa bekerja dengan baik. Para perangkat yang menjadi binaan saya otomatis masuk dalam wilayah saya, saya berhak menegur, mengasih saran. Ini merupakan wilayah professional mas. Hal peneguran dan pemberian saran saya lakukan pelan-pelan mas, harus tau kondisi latar belakang siapa orang tersebut.

Y         : bagaimana dengan hubungan sosial bapak dengan perangkat desa maupun warga yang lain?

R         : ya, lumayan dekat lah mas, namanya juga pelayan masyarakat. Selain itu juga saya kan warga asli sini mas. Beda mas menjadi perangkat dengan menjadi bos di perusahaan, kita siapapun disini yang masuk menjadi perangkat desa itu merupakan pelayan masyarakat. Bagaimanapun kita berupaya memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat secara obyektif. Kita memberikan pelayanan semaksimal mungkin. Jadi saya lebih merasa lego ketika saya bisa memberikan apa yang masyarakat butuhkan. Jadi semisal pengurusan KTP dan KK kan harus ke catatan sipil. Contohnya jika masyarakat ingin pergi mengurus sendiri kesana, monggo. Jika ingin titip kami juga monggo.

Y         : berapa jumlah pengurus di balai desa ini ya pak?

R         : semuanya ada 10 orang mas

Y         : apa bapak kenal dengan para peternak-peternak di desa ini pak?

R         : ya sebagian kenal, sebagian juga tidak. Kadang saya juga kesusahan mengingat-ingat nama banyak itu mas

Y         : apakah di desa inipernah terjadi konflik antar warganya?

R         : namanya desa apalagi penghuninya bernama manusia dan jumlahnya tidak sedikit, satu desa itu kira-kira 5000, bahkan bisa 5000 keatas, kalau tidak ada masalah itu justru tidak mungkin, masalah itu pasti. Keluarga saja hanya 4 orang, masalah itu pasti ada, apalagi 1 desa.

Y         : seperti apa macam konflik itu, apakah antar peternak, antar petani, atau bagaimana?

R         : sebetulnya masalah itu sifatnya temporer, kondisional lah, hanya momen-momen tertentu saja. Contohnya kapan itu ada pilkades, yang namanya pilkades kan satu posisi direbutkan 5 orang. Bagi mereka yang menjadi pendukung calon yang tidak jadi, mereka bikin ulah. Ulahnya itu mengoreksi kesalahan tekni dari pihak panitia penyelenggara, atau mungkin factor-faktor lain. Atau mungkin calon yang sudah dipilih ini diintimidasi agar mundur. Untuk masalah politik-politik ini saya masih mengatakan dalam batas yang wajarlah.

Y         : kalau konflik dalam peternak bagaimana pak?

R         : saya rasa selama ini masih belum ada, dingin-dingin aja.

Y         : apakah bapak ikut turun tangan ketika ada konflik?

R         : yah namanya perangkat kita ikut terlibat bagaimana caranya meminimalis supaya tidak terjadi konflik.

Y         : dalam birokrasi balai desa ini ka nada ketuanya, apakah peran anda hanya di balik layar saja?

R         : ya seperti itu mas. Jadi kita merapatkan untuk mengambil keputusan sebelum kepala desa bertindak. Jadi bagaimanapun masalahnya, sebesar apapun masalahnya, kita upayakan agar masalah itu diselesaikan secara kekeluargaan. Dasar penyelesaian kita secara agama dan kekeluargaan. Tujuan kita bagaimana agar masyarakat rukun. Konflik kan terjadi kalau kita cermati ada suatu motivasi tertentu yang membentuk suatu konflik. Jadi jika kita mengetahui apa motivasi dibalik konflik tersebut, kita bisa secara focus menyelesaikannya. Jadi kita tidak melebar kemana-mana, kita berusaha membonsai agar masalah itu tidak berkembang. Ketika mencari solusi, kita ajak ngomong bareng-bareng maunya apa terus caranya bagaimana.

Y         : berarti sering juga ya warga yang mempunyai masalah, lalu masalah itu dibawa ke balai desa?

R         : ya sering mas, seperti masalah tanah. Lalu seperti kemarin hari itu, disini kan kaya akan sumber air mas, terus kan yang namanya sumber air itu berada diluar wilayah kami (balai desa Wiyurejo) tapi bagaimanapun yang namanya sumber air itu kan dikuasai Negara. Jadi siapapun yang menggunakan kan silahkan saja asal ada ijin dari pihak terkait. Nah disini kasusnya air tersebut diambil oleh PDAM. Padahal itu kan untuk Kop Sae kemudian masyarakat Pujon. Ya kita tidak akan rakus, sebetulnya kita sudah cukup dengan air. Kan PDAM air untuk dijual, mereka punya rencana untuk menambah debit air. Tapi mereka mengatakan kepada warga untuk memperbaiki pipa paralon. Yang ditakutkan masyarakat terutama masyarakat pengguna air irigasi itu kekurangan air. Jadi pada saat mau dipasang, para masyarakat demo ke PDAM, sehingga pemasangan itu tidak jadi dilakukan. Ini salah satu contoh dari konflik=konflik yang pernah ada.

Y         : jadi warga lebih percaya kepada perangkat desa ya pak?

R         : ya kadang-kadang tidak juga.

Y         : apakah pernah ada sampai berakhir di kepolisian?

R         : ya warga itu sebetulnya mereka mempunyai tujuan yang baik, cuma kadang-kadang dalam aksinya kalau emosi tidak terkontrol. Contohnya dalam kasus PDAM tadi, mereka sebetulnya juga tidak ingin kebutuhan air ini diambil begitu saja takutnya nanti justru kita yang pakai untuk irigasi ini kekurangan. Pokoknya sepanjang petani tida diutik-utik dalam hal kebutuhan pertanian, mereka tidak mempersoalkan.

Y         : apakah ada konflik antar individu yang tidak menemui solusi ketika membawa masalahnya ke balai desa, melanjutkan masalahnya ke polisi?

R         : disini sifatnya kan gini mas, kita ini hanya mediator saja, menjadi penengah. Sepanjang bisa diselesaikan secara kekeluargaan, kita juga membantu masalah itu toh misalkan kalau kita cermati mungkin masalah itu termasuk dalam kategori pidana, perdata, juga criminal. Jika bisa diselesaikan secara kekeluargaan, cukup diselesaikan disini (balai desa). Kalau tidak kita juga tidak bisa memaksa, karena itu hak. Kalau kita memaksa yang bersangkutan, katakanlah gak trimo, atau menemui jalan buntu, mereka bisa melaporkan ke polisi.

Y         : bagaimana suka duka bapak selama menjabat menjadi sekretaris desa?

R         : suka dukanya banyak mas. Enaknya gini aja mas, kalau dilihat dari panggilan jiwa orang kan macem-macem ya, ada yang pengabdian, ada yang pengabdian yang tidak termasuk dalam pelayanan seperti ini tapi dengan dasar ekonomi. Sepanjan orang itu bisa melaksanakan pengabdian itu, mereka akan merasakan puas. Enaknya ya itu mas, saya merasa puas. Kepuasan tersendiri. Istilahnya gini, selama kita bisa melaksanakan pengabdian itu, saya sudah senang.

Y         : kalau dukanya gimana pak?

R         : kalau dukanya tidak seimbang dengan enak e. Namanya perangkat desa kan lain dengan pejabat, orang proyek, atau orang kantoran. Kalau perangkat desa itu kita menghadapi langsung masyarakat. Dan kita tau masyarakat itu beragam kepribadian, apalagi yang kita hadapi masyarakat pinggiran seperti ini. Yang jelas dari segi SDM masyarakat Wiyurejo ini katakanlah menengah kebawah. Menghadapi masyarakat yang seperti ini benar-benar harus sabar, al kita harus mempunyai trik-trik tersendiri.

Y         : lalu siapa yang langsung terjun ke lapangan jika ada masalah, seperti penyuluhan dan sebagainya?

R         : untuk hal ke lapangan atau yang kaitannya dengan warga, itu biasanya langsung kepala desa. Kadanag pada momen-momen seperti tahlilan.

Y         : lalu selama ini, apa ada hambatan bapak selama menjabat menjadi sekretaris desa? Kan bapak sudah menjabat selama 18 tahun, apa ada warga yang iri dengan hal ini?

R         : kalau soal pergantian sekretaris desa itu para warga tidak mempersoalkan masalah masanya. Cuman masyarakat selama ini kalau yang saya tau ya sejak saya diangkat sebagai sekretaris desa tahun 1993 itu diawal periodenya pak Jiwo pada saat menjabat kepala desa berjalan normal saja. Namun seiring dengan berjalannya waktu di periode kedua ada factor-faktor yang membuat perubahan sikap dari bapak kepala desa. Namanya korps perangkat desa kan hanya beberapa orang, kan kita tau orang itu kan macem-macem, ada orang yang cari amannya saja. Ada seseorang yang tidak suka dengan jabatan saya yang menghasut kepala desa dengan opini-opini yang negative. Pada saat itu kepala desa menyikapinya kurang bijak, ya itu tadi namanya orang kan macem-macem, namanya kepala desa juga manusia, ada keterbatasan, tidak sempurna. Pada akhirnya kepala desa itu mengambil sikap yang malah merugikan orang lain, bahkan merugikan umum juga. Ya itu kita kembali lagi, manusia itu tidak ada yang sempurna. Walaupun toh yang namanya kepala desa, diapun juga manusia. Ya kembali lagi ke factor manusia itu mas, kita tidak tau jika sekarang mereka teman, besok menjadi lawan. Imbasnya pada waktu perjalanan saya sebagai sekretaris desa memasuki periode ke-2, masyarakat kurang percaya kepada saya, karena saya dinilai tidak bisa bekerja sehingga ada beberapa kelompok-kelompok yang menghendaki saya turun. Mereka juga tidak salah, memang pada waktu itu pembagian kerjanya hanya terpusat pada kepala desa. Saya tidak diberi kewenangan apapun oleh kepala desa. Kepala desa pada saat itu arogan mas, aku kepala desane mau opo. Akhirnya saya bertahan, dengan prinsip saya begini, saya tidak ambil pusing dengan semua itu, saya berpikir begini, saya tidak ada waktu bekerja di kantor sebagai pelayan masyarakat, apalagi kantor ini pada waktu dulu kurang berfungsi mas, jadi perangkat desa itu bekerja di rumah masing-masing. Kalau di kantor kan sepi, gak ada pekerjaan, alat-alat kantor juga tidak ada, dan juga pada waktu itu masyarakat masih senang ke rumah perangkat desa untuk mengurus sesuatu. Dengan berjalannya waktu juga, saya isi jam-jam saya daripada nganggur tidak bisa bekerja dengan efektif, saya manfaatkan waktu untuk bertani. Jadi keseharian saya dipandang masyarakat terkesan santai, kok nyangkul ae gak tau nang kantor. Sehingga masyarakat mempunyai persepsi bahwa saya tidak bisa bekerja. Alasan sebenarnya ya itu tadi mas, ada pembonsaian pembagian kerja dari kepala desa. Terus dengan berjalannya waktu. Walaupun saya gak di kantor mas, namanya perangkat itu kan tetap kita pelayanan dimanapun, termasuk di rumah. Jadi fungsi sebagai perangkat yang menjadi pelayan, saya melayani warga yang memerlukan bantuan atau pelayanan di rumah saya.

Y         : apakah dengan berjalannya waktu warga mulai mempercayai bapak?

R         : ya dengan berjalannya waktu akhirnya gini mas, saya tetap konsisten dengan pengabdian dan pelayanan saya sebagi sekretaris desa kepada masyarakat. Dengan berjalannya waktu juga sampai ada beberapa kelompok yang mempengaruhi kelompok lain, bagaimana caranya untuk menggulingkan saya dengan berbagai cara, rapat gini gini. Senjata saya Cuma satu, silahkan saya dilengserkan, atas dasar apa dulu. Jadi begini, saya sebagai perangkat, saya memiliki perangkat-perangkat yang lain. Lalu apakah perangkat-perangkat yang lain itu lebih sregep dari saya? Lalu jika atas dasar saya malas tidak bisa bekerja, tapi saya harus tahu alasannya. Kenapa jika saya harus dilengserkan dari posisi saya, kenapa perangkat-perangkat yang lain tidak dipermasalahkan?

Y         : apakah bapak berusaha mempertahankan jabatan bapak?

R         : buat apa kita mempertahankan jabatan, saya ikhlas kok. Kita tidak tahu kapan kita mati, besok apa nanti. Saya ingin menjalankan amanat ini dengan maksimal, dalam arti saya ingin bekerja secara efektif. Dalam arti luas, job description dikembalikan ke porsi masing-masing. Mana itu tugas saya, mana itu tugas kepala desa, dan yang mana tugas perangkat yang lain itu dinormalisasikan. Mana yang menjadi kewenangan saya tolong dikembalikan. Saya ingin hanya itu saja, tidak ingin yang lebih. Yang penting saya lepas jabatan dan orang lain bisa menghormati. Sepanjang saya tidak melakukan kesalahan.

Y         : terakhir pak, bapak tadi mengakatan bahwa bapak lebih mementingkan kepuasan dalam bekerja. Apakah itu berarti bahwa bapak mengesampingkan pendapatan bapak?

R         : kadang kan gini mas, sebagai orang yang pada waktu itu saya direkrut menjadi sekretaris desa dengan kondisi ekonomi Wiyurejo serta kondisi ekonomi keluarga saya. Saya anggap saya masuk kesini (balai desa sebagai sekretaris) sebagai peluang awal lah. Karena resikonya orang kuliah di desa seperti saya ini ya, lain dengan kota, kalau di desa ini sekolah apalagi kuliah, wuaduh, tantangannya sudah luar biasa mas. Jangan kuliah, SMA saja, wih dukur tenan to sekolah e, gawe opo. Masyarakat itu begitu, apalagi kuliah. Waktu itu saya itu mungkin di Wiyurejo itu jadi sorotan mungkin karena yang termasuk orang miskin tapi kuliah itu mungkin Cuma saya. Sehingga sorotan masyarakat itu macem-macem, keluargane ngono ae kuliah. Tapi saya gini mas saya punya pemikiran yang lain dari orang-orang itu, saya kuliah bukan berarti saya mencari pekerjaan, tidak itu mas. Saya hanya ingin, istilahnya apa ya, usia di saat saya SMA ini mau ngapain. Saya itu ingin menimba ilmu sebisa mungkin lah, setinggi mungkin sesuai dengan kemampuan saya. Jika perkuliahan saya diukur dari ekonomi bukan logika,rasanya gak mungkin. Tapi saya yakin saja, saya pasti bisa. Terus gini, saya jalani kuliah sampai terakhir, sampai KKN, kemudian saya mendapat tawaran. Kenapa saya ambil saja tawaran menjadi sekretaris desa itu, karena persepsi masyarakat orang itu kalau kuliah sudah pasti dapat pekerjaan yang layak. Terus apalagi kalau sudah kuliah lalu nganggur, masyarakat lebih dingin. Jadi saya piker saya ambil saja, tawaran tidak akan dating untuk kedua kalinya. Disamping itu kita mempunyai penghasilan, disamping itu jika ada hal-hal yang kita dapatkan dari pekerjaan ini kita nikmati dan syukuri sebagai berkah dari Yang Maha Kuasa, berapapun serta apapun

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :