MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Dampak Masuknya Teknologi Mesin Selep di Pedesaan

diposting oleh alhada-fisip11 pada 10 October 2012
di Esay - 2 komentar

 

 

 

 

 

 

 

          Dalam kesempatan kali ini saya akan membahas tentang dampak masuknya teknologi mesin selep di pedesaan terutama di desa Ringinanyar, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Alasan saya memilih teknologi mesin selep dalam pembahasan kali ini karena saya berasal dari desa dan orang tua saya selain bekerja sebagai petani juga bekerja sebagai jasa penyelepan menggunakan teknologi mesin selep. Mesin selep yang dimiliki oleh orang tua saya spesialis untuk melembutkan berbagai macam biji-bijian dan memarut berbagai macam umbi-umbian dan juga kelapa.

            Mesin selep yang saya maksut di sini adalah sebuah teknologi dengan menggunakan mesin diesel berbahan bakar bensin. Satu mesin selep tersebut bisa digunakan untuk tiga kategori pekerjaan, yang pertama untuk melembutkan berbagai macam biji-bijian yang basah (telah direndam) untuk keperluan tertentu, keperluan-keperluan tersebut diantaranya untuk membuat kue jenang, apem, naga sari, mendut, rempeyek, krupuk, dan berbagai macam makanan tradisional lainnya. Jenis biji-bijian dalam kategori ini biasanya berupa beras, ketan, dan jagung. Adapun kategori yang ke-2 yaitu untuk melembutkan berbagai biji-bijian yang kering seperti biji kopi, ketan/beras/jagung/kedelai yang digoreng kreweng (tanpa minyak), kacang tanah goreng dan sebagainya. Biji-bijian tersebut biasanya digunakan untuk membuat bubuk kopi, bubuk campuran kopi, dan bubuk kedelai untu dimakan bersama sumpil (makanan khas blitar yang terdiri dari lontong, sayur lodeh, tahu kecil-kecil, sambel pecel, sedikit kecap, dan diberi taburan bubuk kedelai). Kemudian kategori ke-3 yaitu digunakan untuk memarut kelapa, ketela, kentang, lombok merah, buah nanas, buah apel, dan sebagainya, biasanya bahan-bahan tadi digunakan untuk membuat santan, bumbu trancaman, krupuk ketela, berbagai macam kue tradisional berbahan dasar ketela (dangglem, tiwul, gatot, dsb), membuat selai, dan keperluan lainnya.

            Untuk setiap kategori diperlukan alat yang beda, namun mesin penggerak (pemutarnya) cukup satu saja. Akan tetapi untuk menganti fungsi dari ketiganya hanya diperlukan mengganti roda tali karet ke masing-masing fungsi yang diinginkan. Misalnya, untuk menggunakan fungsi ke-3, roda tali karet tersebut di pasangkan di mesin diesel dan juga alat ke-3. Namun jika alat pertama yang akan digunakan, roda tali karet yang sebelumnya di pasang di fungsi ke-3 tersebut dilepas dan dipindah ke fungsi pertama, begitu seterusnya. Panjang masing-masing karet yang digunakan untuk menghubungkan dari mesin diesel ke ke-3 fungsi tersebut berbeda-beda, sehingga harus mempunyai 3 jenis karet sesuai dengan panjang yang dibutuhkan.

            Dalam beberapa musim usaha penyelepan yang ditekuni oleh orang tua saya ini sangat laris, bahkan sehari bisa menggiling 10 karung beras/kelapa/ketela/yang lainnya. Hal ini dikarenakan adanya tradisi pada masyarakat di desa Ringinanyar, tradisi-tradisi tersebut biasanya berupa tradisi musim manten (pernikahan), tradisi megengan (selametan menyambut bulan puasa), musim sunatan (khitan), selametan ketika menjelang panen, ketika panen, dan menjelang menanam tanaman di sawah, serta tradisi membuat aneka kue menjelang hari raya (lebaran). Karena tradisi tersebut, ramainya usaha penyelepan di daerahku ini tergantung musim, bahkan jika hari-hari biasa (ketika tidak ada selamatan) penhasilan dari hasil usaha selep ini Cuma enol (0) rupiah saja seharinya, namun saat ini kejadian semacam itu sudah mulai jarang, kerena masyarakat di desa saya sudah mulai bergantung dengan penggilingan dengan menggunakan teknologi selep ini.

            Berdasarkan dari pengakuan tetangga-tetangga saya, mereka saat ini banyak yang tidak memiliki alat deplok (alat untuk menghaluskan biji-bijian dengan cara ditumbuk), mereka sudah malas menggunakan alat tradisional ini dikarenakan membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak, sementara apabila menggunakan tenaga mesin selep hasilnya akan lebih cepat, tidak capek, dan biayanya juga relatif murah (Rp 1000/kg). Selain deplokan saat ini kebanyakan dari mereka juga tidak mempunyai alat parutan yang manual. Walaupun hanya satu kelapa untuk santan sayur misalnya, mereka membutuhkan jasa menyelipan agar lebih mudah. Akibat dari masuknya teknologi mesin selep ini, sekarang banyak remaja dan anak-anak yang tidak bisa mendeplok dan memarut secara manual seperti nenek moyang mereka dahulu. Hal itu terbukti dari pengakuan teman-teman perempuan saya di desa ini yang tidak bisa mendeplok dan memerut secara manual. Beberapa dari mereka mengaku bahwa memarut secara manual itu berbahaya kerena bisa melukai jari tangan, dan mendeplok secara manual itu berat dan bisa membikin capek sehingga keringatan. Ini beberapa dampak dari masuknya teknologi mesin selep secara internal dalam lingkup keluarga.

            Selain dalam lingkup keluarga, dampak dalam sekala besar juga terjadi dalam hal ketika hajatan besar yang membutuhkan bantuan banyak tenaga dari tetangga. Tetangga saya bernama mak Yem pernah bercerita kepada Ibu saya mengenai kejadian yang pernah dialami ketika rewang di rumah tetangga saya bernama lek Paelah, lek Paelah selaku tuan rumah pemilik hajatan manten (pernikahan) melarang mamarutkan kelapanya dengan menggunakan mesin selep karena alasan biaya. Lek Paelah menyuruh orang-orang yang rewang di rumahnya untuk memarut secara manual puluhan kelapa yang akan dibuat untuk keperluan berbagai macam makanan. Dengan berat hati orang-orang yang rewang tersebut menyetujui keputusan dari tuan rumah tersebut termasuk mak Yem tadi, setelah beberapa saat orang-orang yang rewang tersebut merasa pegal tangannya karena memarut kelapa yang sangat banyak tersebut (biasanya sekitar 80 biji kelapa), mereka melakukan protes secara halus dengan melama-lamakan dan sering berhenti dalam melakukan pekerjaan tersebut. Singkat cerita hampir seharian pekerjaan tersebut tidak selesai, dan otomatis pembuatan berbagai macam makanan yang memerlukan kelapa terpaksa harus molor. Dari cerita ini dapat kita lihat bahwa sekarang ini masyarakat di desa Ringinanyar sangat bergantung dengan mesin selep ini dan mereka males jika melakukan pekerjaan secara manual seperti dulu.

            Dari cerita diatas dapat kita simpulkan bahwa tingkat kegigihan masyarakat dalam bekerja mulai pudar dan mengandalkan teknologi modern, bahkan mereka tidak mau dan sebagian tidak bisa jika suruh bekerja secara manual.

            Saat ini, pemilik mesin selep di desa saya sudah mulai banyak yaitu mencapai 6 orang, sehingga saat ini usaha yang ditekuni oleh orang tua saya ini banyak saingannya dan mereka saling berebut pelanggan dengan memperbaiki kualitas hasil selepan, harga yang terjangkau, dan pelayanan yang memuaskan (sopan, ramah, dan supel) agar bisa memikat hati pelanggan.

            Selain dengan mesin selep beberapa dari mereka yang tergolong kaya telah membeli blender untuk menghaluskan kelapa atau biji-bijian dalam skala kecil (untuk keperluan masak sehari-hari), sehingga akibat dengan masuknya teknologi yang dapat menggantikan peran mesin selep ini para pengusaha mesin selep mangalami pengurangan jumlah pelanggan, sementara jumlah pengusaha mesin selep semakin bertambah, akibatnya pendapatan sehari-hari mereka menurun. Akan tetapi untuk sekala besar (misalnya untuk acara hajatan) belum ada teknologi lain yang dapat menggantikan peran dari mesin selep ini di desa saya.

            Ketegori mesin selep di desa saya ini ada dua macam, yang pertama yaitu mesin selep untuk menghaluskan dan memarut seperti yang telah saya jelaskan diatas, dan yang kedua yaitu mesin selep untuk mengupas padi dan memipil (merontokkan biji) jagung. Kategori mesin selep yang ke-2 ini sebenarnya lebih dahulu masuk ke desa Ringinanyar dari pada kategiri mesin selep yang pertama.

            Mesin selep kategori ke-2 ini ukurannya biasanya jauh lebih besar dibandingkan kategiri mesin seli yang pertama. Kategori mesin selep yang kedua biasanya ditaruh diatas kendaraan yang dinamakan ledok dan berkeliling mengitari pedesaan untuk mendapatkan pelanggan, beda dengan mesin selep yang pertama yang berada di rumah pemiliknya dan pelanggan yang harus datang ke rumah pemilik mesin selep. Mesin selep kategori ke-2 ini biasanya digunakan untuk mengupas padi, dan memipil jagung. Dalam hal upah, pemilik mesin selep ini tidak memungut biaya berupa uang melainkan dedak (kulit padi) yang diselepkan tersebut sebagai ganti upahnya, kecuali kalau jagung maka pelanggan harus membayar dengan uang. Inilah sistem pembayaran dari mesin selep kategori ke-2 yang berlaku di desa saya.

            Akibat dari masuknya mesin selep kategori ke-2 ini, sekarang hampir semua masyarakat di desa Ringinanyar tidak mempunyai lesung untuk mengupas padi, mereka sepenuhnya bergantung dengan mesin selep untuk mengupas padi. Begitu pula dengan jagung, dahulu perontokan jagung dari janggel (tengahnya itu) dilakukan secara manual dengan menggunakan jasa manusia (biasanya meminta tolong kepada tetanggangnya) kemudian memberi upah, istilah perontokan jagung ini di desa saya disebut mipil jagung. Dahulu ketika saya masih kecil (sekitar 5 tahunan) ketika msih duduk di bangku TK, saya masih ingat pernah mengganggu nenek saya yang sedang mipil jagung di bantu oleh tetangga-tetangganya. Mereka beramai-ramai dengan penuh kerukukan, ngobrol-ngobrol, dan bercanda tawa memipil berkarung-karung jagung dalam waktu yang cukup lama (tidak selesai dilakukan satu hari untuk memipil jagung dari hasil panen sawah yang luasnya sekitar satu bahu) milik nenekku. Saat ini kegiatan menumbuk padi di lesung dan memipil jagung secara manual sudah jarang atau bahkan tidak ada lagi di desa Ringinanyar ini. Mereka tidak bersedia melakukan hal tersebut kerena membutuhkan waktu yang lama dan juga tenaga yang banyak. Menurut beberapa tetangga saya mipil jagung secara manual itu membuat jari-jari tangan ngapal (mengeras dan sakit jika terkena tekanan), dan menggunakan tentunya juga akan membuat capek dan keringatan.

            Karena masuknya teknologi mesin selep ke desa Ringianyar, saat ini mereka sangat bergantung terhadap mesin ini dan seakan tidak akan bisa melakukan cara-cara tradisional seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka dahulu. Akibatnya saat ini masyarakat desa Ringinanyar menjadi manja dan sangat bergantung pada teknologi mesin selep tersebut.

            Beberapa dampak umum yang terjadi akibat masuknya teknologi mesin selep di desa Ringinanyar ini diantaranya yaitu: tenaga kerja yang dahulunya dapat dialokasikan untuk mengerjakan pemipilan jagung, penumbukan beras, dan sebagainya beralih ke tanaga mesin, sehingga jenis dan peluan pekerjaan di desa Ringianyar berkurang, berkurangnya rasa solidaritas dan intensitas bertemu diantara para tetangga di desa Ringinanyar karena dahulu mereka bisa saling tolong menolong dalam menumbuk beras dengan lesung, memipil jagung bersama-sama menggunakan tangan, dan sebagainya, kini mereka semua beralih menggunakan mesin selep yang dirasa lebih cepat dan lebih efisien. Kegigihan mereka dalam bekerja kini juga mulai luntur karena dimanja oleh teknologi-teknologi modern sehingga saat ini mereka sangat bergantung dengan teknologi tersebut.

 

Sumber: Pengalaman pribadi dan pengakuan masyarakat desa Ringinanyar, kecamatan Ponggok, kabupaten Blitar.

2 Komentar

Nabila

pada : 31 October 2012


"Thanks ya.. Tulisannya sangat membantu sekali dalam mengerjakan tugas sekolahku.."


Alhada

pada : 01 November 2012


"Iya, sama2_ Senang juga bisa membantu..."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :