MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Indepth Interview Kepada Seorang Sesepuh Desa

diposting oleh alhada-fisip11 pada 18 July 2012
di Penelitian - 1 komentar

          Untuk mengetahui tipe dari masyarakat di desa Panglungan, kecamatan  Wonosalam, kabupaten Jombang, salah satunya diukur dengan kategori tindakan sosial yang mereka lakukan. Menurut teori dari Max Weber, secara garis besar tipe masyarakat dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan tindakan sosial yang mereka lakukan yaitu tindakan rasional dan tindakan tradisional.Adapun yang dimaksud dengan tindakan sosial tipe rasional adalah suatu tindakan sosial yang melandaskan diri kepada pertimbangan-pertimbangan manusia yang rasional ketika menangani lingkungan eksternalnya (juga ketika menangani orang-orang lain di luar dirinya dalam rangka usahanya memenuhi kebutuhan hidup). Dengan perkataan lain, rasional adalah suatu tindakan social yang ditujukan auntuk mencapai tujuan semaksimal mungkin dengan menggunakan dana serta daya seminimal mungkin. Sementara itu, yang dimaiksud dengan tindakan tradisional adalah suatu tipe tindakan social yang didorong dan berorientasi kepada tradisi masa lampau. Dalam hal ini secara teoritik masyarakat yang menganut tindakan sosial yang rasional, merupakan salah satu ciri tipe dari masyarakat kota, dan sebaliknya masyarakat yang menganut tindakan sosial yang tradisional merupakan salah satu ciri masyarakat desa.

            Untuk mengetahui tipe tindakan sosial yang mereka anut, dalam hal ini saya akan melihat dari kepercayaan mereka terhadap kekuatan-kekuatan magis terutama yang berhubungan dengan sesepuh desa, yaitu apakah mereka masih mengandalkan dan percaya terhadap sesepuh desa yang biasanya dianggap memiliki kemampuan khusus baik dalam hal pemilihan hari baik, mengobati penyakit, memimpin acara selamatan untuk mendapatkan keselamatan masyarakat, memberikan tumbal, pemberian nama, dan sebagainya.

            Untuk mengetahui siapakah orang di desa ini yang dianggap sebagai sesepuh desa, saya bertanya kepada pak Kasun (kepala dusun) desa Panglungan yang bernama pak Warsito, kemudian beliau menunjukkan kepada saya bahwa pak Buaji yang tinggal di desa Panglungan Rt 04, Rw 06 itulah salah satu sesepuh desa di desa ini.

            Pada hari Sabtu tanggal 26 Mei 2012 pukul 14.00, saya berangkat ke rumah pak Buaji untuk melakukan wawancara mendalam terhadap beliau. Setibanya di sana, saya bertemu dengan istri dan anak beliau dan mereka mengatakan bahwa pak Buaji sedang tidak berada di rumah karena sedang mendapat undangan untuk memimpin upacara pernikahan salah satu warga desa yang tidak jauh dari tempat itu. Karena penasaran dengan bentuk upacara di desa ini, akhirnya saya menyusul dan melihat secara langsung upacara pernikahan di desa yang berada di daerah pegunungan ini. Akhirnya setelah sekitar 1 Jam, upacara perkawinan tersebut selesai dan saya langsung menuju ke rumah pak Buaji, karena menurut keterangan istri beliau setelah solat magrib orang yang dianggap sebagai sesepuh desa tersebut akan memimpin upacara pernikahan di tempat lain. Sesampainya di sana saya menunggu kedatangan sesepuh desa tersebut sekitar setengah jam, dan akhirnya sekitar pukul 15.30 saya bertemu dengan beliau. Pria yang berusia 60 tahun tersebut menyambut saya dengan cukup ramah dengan suara yang pelan. Tanpa membuang-buang waktu lagi saya langsung mewawancarai pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani pemilik lahan sawah ini, untuk menjawab beberapa pertanyaan yang telah saya persiapkan sebelumnya.

            Menurut beliau, orang-orang yang akan melakukan hajatan berupa manten (pernikahan) sebagian besar akan meminta nasihat kepada beliau tentang hari dan tanggal terbaik untuk melangsungkan akad nikah tersebut. Hari dan tanggal terbaik tersebut dihitung berdasarkan neton masing-masing pasangan yang berpedoman pada kitab primbon yang tidak semua orang bisa malakukannya. Selain itu, dalam hal pemberian nama pada anak yang baru lahir, pria berambut botak tersebut juga masih sering dimintai saran/nasihat tentang nama terbaik yang akan diberikan kapada putra/putri warga desa setempat. Dalam hal melangsungkan pernikahan, beliau juga sering kali diundang untuk memimpin upacara adat pernikahan yang istilahnya memimpin acara banca’an dengan memberikan do’a-do’a dan ritual-ritual dengan maksut untuk menjaga keselamatan pada waktu prosesi pernikahan dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti hujan, dan malapetaka. Menurut keterangan pria berperawakan kurus tinggi ini, dalam upacara pernikahan, warga desa biasanyamenyuguhkan hiburan berupa acara “Bantengan”, yaitu sebuah acara berupa orang yang diberi kostum hewan banteng, setiap karakter banteng dimainkan oleh dua orang yang satu sebagai kepala dan yang satu sebagai ekor. Uniknya dalam acara ini, orang yang berkostum banteng tersebut sebelumnya diberikan ritual-ritual khusus dengan bakaran kemenyan dan bunga-bunga. Lalu orang tersebut dirasuki makhuk halus dan akhirnya bertingkah polah seperti layaknya orang yang kemasukan siluman banteng. Setelah beberapa lama banteng jadi-jadian yang berjumlah empat ekor tersebut diambil salah satu oleh pawangnya dan disadarkan, kemudian pengantin pihak laki-laki memagang banteng yang sudah sadar tersebut dan menarik lehernya kemudian dibawa berjalan menuju rumah mempelai wanita seakan mempelai laki-laki telah menaklukkannya. Makna dari upacara ini yaitu melambangkan kekuatan dan kejantanan mempelai pria dalam melindungi keluarganya kelak. Beruntunglah dalam upacara pernikahan seperti ini selain mendapat keterangan dari pak Buaji, penulis juga menyaksikan prosesi adat istiadat pernikahannya secara langsung dan juga menyaksikan ketika pria berbahasa halus ini diminta untuk memberikan do’a-do’a khusus dalam ritual pernikahan salah satu penduduk desa.Selain acara hiburan diatas, acara-acara hiburan lain yang sering juga dilakukan oleh warga setempat yaitu acara “Jaranan”, “Wayang Kulit”, “Karawitan”, dan sebagainya yang masih berbau kesenian tradisional yang masing-masing mempunyai makna tersendiri.

            Selain dalam hal adat istiadat pernikahan, pria bergigi ompong ini kerap pula dimintai pertolongan oleh warga desa sekitar untuk mengobati penyakit-penyakit yang diyakini sebagai penyakit akibat hal-hal ghaib seperti kesurupan, santet, guna-guna, dan sebagainya. Menurut keterangan beliau, cara beliau menyembuhkan biasanya dengan menggunakan air minum yang sebelumnya telah diberikan do’a-do’a tertentu. Namun sayang sekali beliau tidak bersedia untuk memberikan keterangan do’a apakah yang dibaca ketika menyembuhkan penyakit tersebut. Dalam hal pembangunan rumah dan keselamatan tanah pekarangan,pria berkulit sawo mentah ini sering kali dimintai untukmemilihkan hari terbaik dalam pembangunan rumah, dan beliau juga sering dimintai warga desa untuk melakukan ritual-ritual khusus (istilahnya pemberian tumbal rumah/pekarangan) dengan maksut agar tanah/rumah tersebut terhindar dari balak (mala petaka).Kemudian, pria yang kerap disapa pak Buaji ini sering juga diundang oleh masyarakat untuk memimpiun acara-acara selamatan seperti netonan, selapanan, sepasaran, dan sebagainya. Selain itu, beliau juga beberapa kali dimintai do’a (istilahnya syarat) untuk kelancaran anak dari warga desa yang hendak melakukan ujian. Beliau memberikan kertas yang telah diberi do’a dan tulisan-tulisan tertentu (istilahnya rajah) yang kemudian dicelupkan ke air minup siswa/siswi yang bersangkutan, dengan harapan lancar dan otaknya encer dalam menjalankan ujian.

            Menurut keterangan pria yang memiliki 3 orang anak ini, upah yang diberikan warga desa kepadanya relatif beragam dan beliau tidak mematok harga tertentu, namun seiklas orang yang memberikan. Menurutnya, ia merasa ikhas membantu masyarakat tanpa mementingkan upah kerena untuk kerukukan sesama dalam menjalin kehidupan bertetangga yang tentram. Hal tersebut dikarenakan suatu saat beliau / keluarga beliau pasti akan membutuhkan orang lain untuk membantunya.

            Menurut pria yang memiliki satu orang istri ini, di desa Panglungan ini setiap malam satu Syuro pasti diadakan selamatan (ritual-ritual khusus) di makan mbah Betur yang diyakini sebagai “Danyang” atau yang babat alas desa panglungan ini. Mereka melakukan ritual tersebut kerena sudah merupakan kebudayaan yang turun-temurun dilakukan dari nenek moyang mereka. Hal tersebut dilakukan dengan harapan mendapatkan berkah dan keselamatan di desa mereka.Sebagian dari masyarakat juga masih menganggap makam tersebut sebagai tempat yang keramat dan masih banyak masyarakat yang melakukan “Nazhar” di makam ini. Contohnya yaitu ketika ada seorang warga yang sakit kemudian mereka berjanji akan malakukan selamatan di makam tersebut jika penyakitnya sembuh, dan setelah banar-benar sembuh mereka akan melakukan selamatan di makam tersebut. Beruntung sekali, ketika penulis hendak menuju ke rumah pak Buaji ini, tanpa disengaja penulis melihat tiga orang lelaki sedang melakukan ritual khusus di makam mbah Betur ini, dan mereka terlihat merunduk-runduk di hadapan makam tersebut. Selanjutnya yang saya kagetkan menurut keterangan dari pak Buaji biasanya banyak diantara siswa baik SMP maupun SMA yang melakukan ritual khusus di makam tersebut untuk mendapatkan kelulusan dalam ujiannya.

            Dari keterangan yang telah saya dapatkan dari pak Buaji sebagai sesepuh desa setempat,masyarakat di desa Panglungan, kecamatan  Wonosalam, kabupaten Jombang ini, dapat saya simpulkanbahwa mereka masih menggunakan tindakan sosial yang bersifat tradisional hal tersebut dapat kita lihat dari tindakan sosial yang mereka lakukan yang masih menganut tradisi nenek moyang yang tidak rasional, sehingga dalam hal tindakan sosial yang mereka lakukan, masyarakat tersebutdapat saya katakan masih masuk dalam tipe masyarakat pedesaan.

1 Komentar

iGHSfkjUkvtVwb

pada : 08 August 2012


"Halo,tlg nanya,usia saya 34 thn,gula darah terakhir puasa 150,2 jam 350.Ayah saya jg ditebaes.saya tidak mengkonsumsi obat2an ditebaes,tdk pernah kontrol ke dokter.yang mau saya tanyakan,jempol kaki kiri saya kok mati rasa ya?apa ada hubungannya dgn ditebaes?apa saja gejala komplikasi ditebaes dan bagaimana pencegahannya?terima kasih atas jawabannya."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :