MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Indepth Interview Kepada Seorang Guru

diposting oleh alhada-fisip11 pada 18 July 2012
di Penelitian - 3 komentar

          Wawancara mendalam adalah salah satu tugas dari rangkaian kegiatan kuliah lapangan tipologi sosial yang saya lakukan beberapa minggu lalu. Tepatnya di desa Pangklungan Kecamatan Wonosalam , Jombang. Saya tiba di tempat saya mengina sekitar pukul 11 siang, saya menginap di balai pertemuak kantor Desa Pangklungan. Setelah tiba kelompok saya, yaitu kelompok 3 melakukan briefing sebelum berpencar mencari responden masing-masing.

          Pencarian responden pertama saya lakukan dengan teman saya, Mariam  dan Diah Putri. Saya bertanya pada ibu penjaga warung d depan kantor desa dimana tempat tinggal Ibu Endang, dan ibu penjaga warung itu memberi tahu rumanya yang ternyata dekat kantor desa. Bu Endang adalah responden Mariam, setelah saya sampai di depan rumah Ibu Endang saya bertanya kepada Mariam apakah dia butuh di temani, dan dia menjawab “yawes ayo”. Lalu saya memasuki rumah Bu Endang bersama Mariam dan Diah Putri.

          Setelah beberapa kali mencoba mengetuk dan mengucapkan salam, keluarlah seorang ibu memakai daster dan kerudung. Sebelum kami memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dan tujuan kami kemari beliau sudah dengan ramah mempersilahkan kami duduk. Beliau adalah Bu Endang. Setelah kami memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan kami, beliau menyambutnya dengan sangat ramah. Kemudian Mariam memulai wawancaranya...

          Sebenarnya saya sudah ingin meninggalakan mariam dan mencari responden saya sendiri. Tapi cara Bu Endang menjawab pertanyaan Mariam juga dongeng-dongen tentang sedikit sejarah hidupnya membuat saya tertarik dan enggan untuk pergi.

          Sewaktu survey lokasi, saya berhenti di sebuah masjiduntuk sholat ashar, masjid tersebut berada di sebelah kanan rumah Bu endang dan tepat di depan sebuah sekolah, sdan saya sempat melihat di belakang masjid tersebut ada sebuah yayasan yakni Yayasan Faser.

          Setelah mendengar cerita dari Bu Endang, ternyata Beliau dulunya adalah seorang Guru. Awal ceritanya beliau melihat kondisi Desa Pangklungan yang belum ada sekolahan, sehingga beliau bersama saudara-saudaranya mendirikan sebuah sekolah, yaitu MI Faser yang berada tepat di depan majid yang saya singgahi sewaktu survey.

          Beliau mendirikan sekolah gratis dan membuat asrama bagi siswa dan guru. Setelah beberapa lama, sekolahnya sukses berkembang, beliau mendirikan MTs dan Aliyah. Beliau dulu mengajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Tampaknya beliau sangat peduli dengan pendidikan dan terlihat pula beliau kritis terhadap permasalahan negara kita, terbukti dari kepekaanya terhadap lingkungan Desa Pangklungan yang belum memiliki sekolah, kemudian beliau mendirikan sekola. Selain itu beliau juga mengetahui berita-berita terkini tentang kasus Nazarudin, angelina Sondakh, dan kasus-kasus lainnya.

          Melihat keramahan beliau dan juga sejarah hidupnya, saya berniat menjadikan beliau sebagai responden saya wawancara mendalam, yaitu seorang guru. Karena akan sangat menarik mengangkat kisah beliau. Lalu ada yang bertanya (saya lupa tepatnya siapa yang mengajukan pertanyyan ini) “ jadi dulunya Ibu seorang guru ?” dan beliau menjawab “iya bisa dibilang begitu, tapi swasta, belum negeri” sambil tersenyum.

          Dan setelah itu pula teman saya yang mendapat wawancara mendalam dengan pekerja swasta berkata “ jadi Ibu swasta ya? Nanti saya mau wawancara mendalam denagn Ibu”. Dan saat itu pula saya mengalami gejolak aneh, seperti kelilangan sesuatu. Mungkin kehilangan responden wawancara mendalam. Dan saya langsung berpamitan untuk menuju sekolah MI Faser. Mencari responden wawancara mendalam saya sendiri.

          Sekitar pukui 12.30 saya memasuki area MI Faser, lokasi ini adalah rekomdasi dari Bu Endang. Saya langsung memasuki ruang guru dan bertemu dengan dua oarang guru yang sedang berbincang. Setelah mengucapkan salam dan dipersilahkan duduk saya menyampaikan tujuan saya. Berbeda dengan penyambutan Bu Endang yang sangat ramah, saya disambut dengan mimik muk yang mengisyaratkan kesombongan.

          Saya langsung berkenalan dengan dengan seorang bapak. Namanya pak suhadi, sebenarnya saat itu ada dua orang orang guru ang ada disana. Namun fokus saya tertuju pada Pak Suhadi. Pak Suhadi berusia 48 tahun. Warga asli desa pangklungan. Riwayat pendidikannya mulai sekolah dasar hingga Aliyah di Yayasan Faser. Beliau juga mengenal Bu Endang, beliau bilang Bu Endang sempat menjadi gurunya.

          Setelah tamat Aliyah beliau melanjutkan pendidikannya di Kota Jombang, beliau mengambil D2 bahasa indonesia. Setelah kembali ke Desa Pangklungan beliau memutuskan untuk mengabdi pada Yayasan Faser yang telah memberinya banyak ilmu. Lalu Pak Suhadi menjadi guru kelas IV di Mi Faser.

          Wawancara sempat terhenti karena tiba-tiba segerombolan murid masuk ruangan dan bergantian mencium tangan Pak Suhadi. Sewaktu Pak Suhadi menyalami anak-anak Ibu guru yaang juga ada di ruangan itu mengatakan bahwa Pak Suhadi adalah seorang wakil kepala sekolah bidang kurikulum.

          Selanjutnya saya bertanya tentang guru-guru yang ada di MI Faser ini. Guru Di Mi Faser ini 95% sudah menempuh perguruan tinggi. Kepala sekolahnya sendiri baru diangkat mendi pegawai negeri dan di tempatkan di sekolah tingkat SMP Faser yang juga seudah di tetapkan sebagai sekolah negeri, Yaitu MTsN Faser. Lokasinya berada tepat di belakang MI Faser. Ibu Kepala sekolah jarang sekali meninggalkan ruangannya di MTsN Faser karena banyaknya urusan, sehingga Pak Suhadilah yang sekrang lebih banyak mengurusi MI Faser.

          Lalu pertanyya tentang kesadaran pendidikan warga disana. Menurut Pak Suhadi dan Ibu guru yang saya tidak tahu namanya, kesadaran akan pentingnya pendidikan pendidikan sudan mulai meninggakat, banyak warga menyekolahkan anaknya ke tingkat yang lebih tinggi dari pendidikan terakhir orang tuanya. Namun, tetapadabeberapa yang putus sekolah, hal ini biasanya dikarenakan faktor ekonomi. Meskipun biaya sekolah murah bahkan banyak yang gratis, ada beberapa keluarga yang kesusahan dalam memenuhi keutuhan sehari-hari sehingga mereka memanfaatkan tenaga anak mereka untuk bekerja dan menambah sedikit pemasukan keluarga. Ada juga beberapa yang memang masih minim kesadran akan pentingnya pendidikan. Mereka puas dengan anaknya yang bersekolah hanya sampai ingkat SMP dan hanya bekerja serabutan. Sungguh sangat disayangkan ilmu yang mereka serap selama sekolah tidak dimaksimalkan.

          Karena kesadaran akan pentingnya pendidikan meningkat, maka terjadi persaingan  antar sekolah yang ada di desa pangklungan ini. Saat ini sudah ada beberapa ssekolah negeri. Untuk menarik minat orang tua murid mendaftarkan ke sekolahnya. Sekolah-sekolah berupaya meningkatkan mutu pendidikannya selain itu juga mengembangkan bakat-bakat siswanya melalui akstra kulikuler.

          Salah satunya MI Faser ini. Di sini ada Ekstar kulikuler baru, yaitu Drumband. Ekskul ini belum dimiliki sekolah lain di Desa Pangklungan ini. Mi Faser juga sering mengikutsertakan siswanya dalam ajang lomba matematika di tingkat jombang. Dan telah memiliki beberapa piala penghargaan atas prestasi memenangkan lomba tersebut. Pak Suhadi dengan semangat dan penuh kebanggaan menceritakan hal tersebut.

          Tak heran jika setiap tahunnya MI Faser ini mengalami peningkatan jumlah muruid. Selain karena alasan tersebut, MI Faser mendi tujuan orang tua murid mensekolahkannya adalah karena sekolah tingkat SMP yang dekat dengan pusat desa adalah MTsN Faser. Kaitannya dengan ini adalah agar siswa-siswa yang masuk MTsN Faser tidak kesulitan dengan pelajaran agama yang lebih banyak dibanding sekolah negeri lain. Dan pelajaran ini diajarkan di MI Faser, seperti tajwid,Fiqih, dan Bahasa Arab.

          Mi Faser juga sering mengadakan kegiatan yang diminati anak-anak seperti karnaval, pelepasan siswa-siswi dengan pentas seni yang melibatkan kreatifitas siswa dalam menyampaikan kreasinya.

          Setelah saya rasa cukup wawancara mendalam saya dengan Pak Suhadi saya beramitan dan berniat kembali ke posko, yaitu kantor Desa Pangklungan. Namun, saat melewati rumag Bu Endang saya putuskan untuk masuk kembali dan ikut mendengarkan cerita beliau.

          Walaupun masih terasa ada yang mengganjal saat ingat tidak bisa menjadikan beliau sebagai responden wawancara mendalam saya, saya tetap menikmati dongeng-dongen beliau yang disampaikan dengan senyum yang selalu ramah.

3 Komentar

qwudxXKiehc

pada : 07 August 2012


"saya bisa tebak, pasti di kiri kan?*xixixiii.. udah nanya duluan di sms, ngaku nya nebak..*berarti kita beda loaski arloji, saya di kanan krn kl di kiri ga kuat. beraaattt, kuatir jalan nya miring [WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us '0 which is not a hashcash value.enakan di kiri karena tangan kanan biasa untuk nyomot makanan tanpa melihat jam"


DODqEqdRXSBaVvQjMnz

pada : 09 August 2012


"saya suka pengen pake arolji, tapi sayang kalo pake suka bikin gerah kadang gatel, kenapa ya pakdhe??? salam dari bogor[WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us '0 which is not a hashcash value.mungkin suka makan ikan asin atau teri mas"


mikes

pada : 04 December 2012


"guru, pahlawan tanpa tanda jasa yang terlupakan"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :