MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Indepth Interview Kepada Seorang Pedagang

diposting oleh alhada-fisip11 pada 18 July 2012
di Penelitian - 1 komentar

          Lokasi yang mejadi sasaran penelitian adalah Desa Panglungan tepatnya di Dusun Arjosari. Desa tersebut memeliki daya tarik tersendiri yang mendorong kami untuk melakukan kegiatan penelitian pada tanggal 24 – 27 Mei 2012 dikarenakan penduduk yang tinggal di Desa tersebut memiliki tipe yang berbeda dengan tipe-tipe penduduk yang terdapat di tempat tinggal peneliti, selain itu peneliti juga menemukan lokasi yang tepat untuk melakukan indepth interview kepada salah satu pedagang yang tinggal di Desa Panglungan. Letak tidak jauh dari Balai Desa tempat peneliti menginap. Di Desa Tersebut keadaan Desanya masih sangat asri dan tidak tercemar polusi. Di kanan kiri nya masih banyak terdapat pepohonan dan rerumputan yang hijau. Rumah-rumah penduduk masih sedikit dan jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain masih tidak begitu dekat.

            Proses penelitian yang dilakukan peneliti terhadap salah satu penduduk yang berprofesi sebagai pedagang telah dilakukan pada tanggal 26 Mei 2012 pukul 16.00 WIB di Dusun Arjosari, Desa Panglungan bertujuan untuk menggali informasi tentang kehidupan bermasyarakat seorang pedagang Desa Panglungan yang akan dilaporkan pada laporan penelitian tipologi social guna melaksanakan tugas dari Dosen.

          Proses wawancara terhadap informan yang bernama Rumiati ningsih yang telah di lakukan di Dusun Arjosari, Desa Panglungan, kec Wonosalam, Jombang. Informan yang berprofesi sebagai pedagang ini tinggal disebuah rumah milik pribadi yang didepannya terdapat sebuah toko kecil-kecilan.Di rumah tersebut ia tinggal bersama suami dan 2 orang anak nya yang berumur 12 dan 15 tahun. Toko kelontong yang merupakan sumber penghasilan Bu Rumiati tersebut menyediakan berbagai macam kebutuhan sehari-hari, misalnya : nasi bungkus, sabun, odol, minyak, , makanan ringan, susu kedelai, teh anget , kopi, dll untuk dijual. Pekerjaan dagang yang ditekuninya telah berlangsung kurang lebih sejak 6 bulan yang lalu. Bersama beberapa saudaranya usaha dagang tersebut dijalankan.

          Pada saat peneliti melakukan wawancara terhadap responden, sebuah truk yang berisi cengkeh dalan jumlah yang banyak berhenti di depan toko tersebut dan turunlah 2 orang pria yang hendak membeli kopi di toko tersebut. Informan pun hendak melayani 2 orang pembeli tersebut dengan membuatkan kopi pesanan. Setelah selesai melayani 2 orang pembeli itu , wawancara pun dilakukan kembali.

          Peneliti pun menanyakan kepada informan , “Sinten bu tiyang niku? Nopo sering tiyang- tiyang kados wau ngopi teng warung njenengan? ” . Informan menjawab “Iku loh wong ate nyalurno cengkeh seng wis dipanen, yo sering nduk wong iku mrene. Opo maneh saiki kan wayahe cengkeh di panen. Malah enak lek wong” ngono iku mrene , akeh sing nukoni daganganku. Hehehe”.

          Warung bu Rumiati tidak pernah sepi karena letaknya pun strategis dekat dengan rumah penduduk. Tapi pembeli bukan hanya berasal dari penduduk sekitar , melainkan banyak juga dari sopir-sopir bus maupun truk yang biasanya hendak mampir untuk melepas lelah dan ngopi di warung tersebut. Barang dagangannya pun lumayan banyak dan bervariasi. Modal yang dikeluarkan juga tidak sedikit.

          Penghasilan yang didapat Bu Rumiati dari kegiatan dagang pun tidak begitu besar, maka dari itu ia dan suaminya pun melakukan pekerjaan sampingan sebagai buruh tani. Dulu informan sempat berjualan di sebelah barat Dusun Arjosari, namun karena dirasa usaha dagangnya sepi kemudian berpindah rumah di rumah yang ditempati sekarang.

          Peneliti bertanya , “ Ngoten niku nopo wonten bu sing ngutang teng mriki?” . Informan menjawab, “ yo pasti onok mbak. Wong biasane ngono iku ngutang yo ga mbalekno. Onok sampek sing ngutang nganti rong atus ewu loh mbak. Tapi yo’opo maneh, wong jeneng’e tangga yo sungkan aku ate nagih iku, mbok masi suwe ngono wes babah. Bedha karo wong kutha paling mbak, lek misale onok sing ngutang ngono paling yo ditagih. Lek wong kene sek onok sungkan mbak lek atene nagih iku.”

          Tidak sedikit pembeli yang berhutang kepada informan. Bahkan ada yang sampai sekarang hutangnya belum di lunasi, namun informan pun sungkan untuk menagihnya karena tetangga yang berhutang sudah dianggap sebagai saudara sendiri.

            “Ngono iku mbak lek wong’e eling opo lek wong’e duwe duwit yo sak sak e ae di wenehi. Aku gak nate nagih kok mbak.Gak wani mbak”, Ujar informan.

            Informan tidak pernah menagih hutang tetangga yang biasa membeli di warungnya karena sungkan dan sudah menganggap tetanganya itu bagaikan saudaranya sendiri.

            Letak warungnya tidak seberapa jauh dengan warung lainnya. Akan tetapi persaingan dagang tidak begitu nampak.

Sering juga Informan rugi karena dagangannya hanya sedikit yang laku. Tapi nasi bungkusan yang tidak laku dijual oleh informan biasanya dikonsumsi sendiri oleh keluarga informan.Hal yang seperti ini sering dialami oleh informan.

            “ Lek rugi yo tau mbak .Tapi lek panganan koyo sego bungkus kan yo iso di pangan dewe kanggo wong sak omah. Dadi yo mangan e melok warung mbak.”

            Ketika peneliti menanyakan kemungkinan informan memberikan sedikit dagangannya kepada tetangga yang membutuhkan uluran tangannya, informan pun menjawab

            “ Yo lek onok yo tak wenehi mbak, mesakke. Sering kok mbak bocah – bocah dolan mrene, anake wong ra nduwe ngono yo tak wenehi jajan. Lek aku dewe yo tetep nduwe rasa mesakke mbak dadi yo pastine tak wenehi mbuh jajan opo ta opo”

            Ketika proses wawancara berlangsung suaminya pun datang dengan membawa sebuah karung berisi rumput yang digunakan untuk memberi makan ternak orang.

            Peneliti pun bertanya, “ lho bu ngoten niku damel ternak e sinten bu rumpute niku?”

Informan menjawab, “ iku ngono gawe makani wedus sin nang mburi omah, iku sakjane wedus e tangga, tapine bapak sing ngrumat, lha sak wis e onok wedus seng manak, yo anak e iku di bagi loro aku karo seng nduwe wedus iku”

            Selain berdagang dan bertani, Informan dan keluarganya pun memelihara 5ekor kambing milik orang lain yang nanti ketika kambing tersebut beranak, anaknya di bagi 2 untuk pemilik kambing dan untuk informan.

            “ Bu ngoten niku nate mboten misal e mbagi kaleh kalian sing nggadah wedus terus sing nggadah wedus wonten selisih paham kalian ibu? “ Tanya peneliti.

            “ Yo nate mbak. Koyo toh wingenane nate salah paham mehgegeran mbak tapi yo aku ngalah ae mbak, isin lek geger iku” ungkap informan.

            Perselisihan antara pemilik kambing dan informan pun pernah terjadi, akan tetapi dengan penuh pengertian dan lapang dada, informan pun akhirnya memutuskan untuk mengalah.

            Dari keterangan yang telah peneliti dapatkan dari Bu Rumiati (informan) sebagai pedagang di desa setempat, masyarakat di desa Panglungan, kecamatan Wonosalam, kab. Jombang ini dapat disimpulkan bahwa penduduk setempat memiliki solidaritas sosial yang tinggi,hal tersebut dapat kita lihat dari cara bu Rumiati memberikan hutang berupa barang yang meski telah jatuh tempo waktu pembayarannya Bu Rumiati pun tidak menagihnya. Informan merasa bahwa tetangganya sudah dianggap sebagai saudara sendiri sehingga informan merasa sungkan untuk menagih hutangnya. Informan juga sering memberikan sesuatu kepada tetangga-tetangganya ketika informan memiliki rejeki lebih.

           Tidak hanya itu, dari wawancara yang dilakukan dapat diperoleh juga informasi tentang konflik antara informan dengan pemilik hewan ternak yang diternak oleh informan. Meski konflik itu terjadi, tapi antara informan dengan pemilik asli hewan tetap saling mengkontrol dan mencoba untuk mengalah dikarenakan malu dilihat tetangga ketika mereka sedang berkonflik. Hubungan informan dengan tetangga-tetangga sekitar tentu lah terjalin dengan baik, saling tolong menolong untuk dapat terciptanya kerukunan.

1 Komentar

isbKtZIT

pada : 07 August 2012


"bagus drama yg dibumbui sci-fi sanyag saja,tidak ada penjelasan kemana Ben sebenarnya.tebakan saya adalah,itu bukan mesin waktu.hanya mesin yg membawa Ben hilang dan tenggelam dalam ilusinya soalnya ternyata di masa depan Sandra ada bersama Jo.berarti Sandra di masa lalu tidak pernah bertemu Ben dan pergi bersamanya."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :