MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Indepth Interview Kepada Seorang Petani Kaya

diposting oleh alhada-fisip11 pada 18 July 2012
di Penelitian - 2 komentar

Assalamualaikum Wr. Wb.

            Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Sosiologi, mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan akademik untuk melakukan analisis dan memetakan situasi problematik terhadap berbagai fenomena sosial yang ada dan berkembang di masyarakat. Oleh sebab itu, metode pembelajaran pun tidak hanya diselenggarakan secara tatap muka yang formal dan terjadwal di dalam kelas akan tetapi ada juga kegiatan-kegiatan di luar kelas yang salah satunya adalah kuliah lapangan. Kuliah lapangan ini sebagai bentuk realisasi kegiatan intrakurikuler mata kuliah Tipologi Sosial dari jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga yang akan memberikan bekal pengetahuan dan pengalaman kepada mahasiswa mengenai proses analisis dan identifikasi tipe, karakteristik, struktur sosial dan budaya pada masyarakat pedesaan di daerah Kecamatan Wonosalam, Jombang, sekaligus sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mendapatkan informasi data secara benar tentang kondisi masyarakat pedesaan yang sesungguhnya.

            Saya adalah mahasiswa semester dua program studi Sosiologi FISIP UNAIR. Dalam mata kuliah Tipologi Sosial diadakan kuliah lapangan yang pada kesempatan ini dilaksanakan pada tanggal 24 sampai 27 Mei 2012. Kebetulan kelompok saya mendapat tempat kuliah lapangan tepatnya di desa Panglungan, kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Di desa Panglungan ini keadaan geografisnya cukup bagus karena berada di wilayah pegunungan. Dan mayoritas pekerjaan masyarakat sebagai petani. Masyarakatnya pun cukup ramah terhadap pendatang seperti saya. Dalam mata kuliah Tipologi Sosial ini, saya juga mendapat tugas untuk melakukan wawancara mendalam atau biasa disebut sebagai Indepth Interview. Dalam melaksanakan Indept Interview diharapkan mahasiswa bisa menggali informasi sedalam-dalamnya atau mungkin malah menemukan fakta yang menarik yang bisa kita jadikan acuan untuk menelaah teori yang dipakai dalam melakukan penelitian.

            Saya tergabung di kelompok 3 dan mendapatkan bagian setting social desa Panglungan. Indepth interview ini saya lakukan pada hari ketiga kuliah lapangan tepatnya pada tanggal 26 Mei 2012. Kebetulan saya mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai lebih mendalam salah seorang petani kaya di desa Panglungan. Pada pukul 15.00 WIB saya menuju rumah responden yang akan saya interview mendalam. Rumah responden, Bu Endang, tidak jauh dari tempat kami menginap, balai desa, sekitar 40 meter. Saya mengetahui kediaman Bu Endang sebelumnya dari istri Pak Kasun, Pak Warsito. Bu Endang mempunyai 3 orang anak, 2 laki-laki dan satu perempuan. Sesampainya di depan pintu rumah Beliau, saya mengucapkan salam. Keluarlah seorang wanita paruh baya mengenakan jilbab membukakan pintu dan menjawab salam saya. Beliau menyambut saya dengan senyuman penuh kehangatan dan langsung mempersilahkan masuk ke dalam rumahnya yang nyaman dan terlihat penuh dengan kasih sayang. Kemudian dipersilahkan saya duduk di sofanya yang empuk.

            Pada awalnya saya gugup karena ini pengalaman pertama saya melakukan wawancara mendalam. Tetapi setelah mendapatkan keramahan dari Beliau akhirnya saya merasa releks melakukan wawancara ini. Setelah saya memperkenalkan diri saya dan menjelaskan tujuan saya, Beliau semakin ramah dan komunikatif. Saya menjadi lebih bersemangat melakukan wawancara ini. Beliau tidak sekalipun terganggu dengan kehadiran saya, padahal jam saya datang adalah jam tidur siang, waktu orang beristirahat. Beliau menganggap hal ini sudah menjadi kewajibannya untuk memberikan informasi yang saya butuhkan. Beliau juga menanyakan tempat tinggal kami berada, bagaimana keadaannya, apakah kita tinggal di sana tidak merasa kedinginan. Sungguh saya senang ternyata Beliau peduli pada kita.

            Saya pun memulai perbincangan dengan beliau. Perbincangan santai tetapi penuh makna yang mendalam. Awalnya saya menanyakan sejarah bagaimana beliau menjadi petani di desa Panglungan ini. Beliau menjawab memakai Bahasa Indonesia dengan lancar karena disamping menjadi petani Bu Endang menjabat sebagai seorang guru di yayasan yang didirikannya sendiri. Beliau menjelaskan bahwa sebagian besar lahan perkebunan yang beliau miliki saat ini adalah peninggalan dari ayah beliau, Pak Kusnan, yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Desa Panglungan. Beliau saat ini hanya meneruskan dan mengelolahnya lebih maju dan berkembang lagi. Dan beliau juga memperluas lahan yang telah ada dengan membeli lahan-lahan baru untuk dijadikan perkebunan. Beliau menjelaskan dengan detail bagaimana ayah beliau mendapatkan tanah/lahan tersebut. Pada awalnya seluruh tanah di Wonosalam ini adalah lahan Belanda dan semua perkebunan juga milik Belanda. Belanda tau bahwa Wonosalam adalah tempat yang subur dan banyak menghasilkan hasil kebun. Maka dari itu Belanda mengusai tempat tersebut. Ayah beliau adalah seorang Tentara Militer Republik Indonesia. Perkebunan dan lahan di Wonosalam ini adalah salah satu tempat persembunyian para Tentara Militer RI tersebut dalam menghadapi perang melawan Belanda. Ayah beliau ditugaskan di Wonosalam. Ayah beliau ditugasi untuk merebut kembali lahan yang ada di Wonosalam. Setelah berperang melawan Belanda, akhirnya Tentara Militer RI menang dan dapat merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi milik warga pribumi. Setelah Belanda dapat diusir dari bumi Wonosalam, semua lahan Belanda dijadikan milik warga pribumi. Lahan-lahan tersebut yang sudah direbut dari tangan Belanda lalu diberi nama Tanah Bumi Angus. Dan para Tentara Militer RI mendapatkan hadiah masing-masing 1 bidang tanah, sekitar 5 hektar. Dan pemerintah daerah juga sudah meregistrasikan 1 bidang tanah tersebut bagi Tentara Militer RI.

            Selanjutnya saya menanyakan berapa luas lahan yang beliau miliki saat ini. Beliau lalu menjelaskan bahwa lahan yang diwariskan oleh ayah beliau seluas 5 hektar selebihnya beliau membeli sendiri tanah/lahan tersebut. Beliau membeli lahan seluas 8 hektar, jadi luas tanah/lahan yang dimiliki beliau sekarang 13 hektar. Dulu harga tanah/lahan lebih murah daripada harga sapi, maka dari itu banyak masyarakat yang berinvestasi dengan membeli sapi, tetapi Bu Endang tidak, Beliau lebih memilih membeli tanah/lahan. Pilihan Beliau tetap, sekarang harga tanah/lahan jauh di atas harga sapi. Menurut pemaparan Beliau lahan yang dimiliki beliau tidak berkumpul menjadi satu melainkan berpencar. 7 hektar ada di dekat rumah beliau, sekitar 10 km dan 6 hektar lainnya berada di tempat yang agak jauh dari rumah beliau.

            Selanjutnya saya menanyakan tanaman apa sajakah yang ditanam Beliau di lahan perkebunannya tersebut. Beliau menjelaskan bahwa lahan yang berada di dekat rumahnya, 2 hektar Beliau tanami jabon , tanaman keras seperti sengon laut, jati, dan lain-lain. Dan 5 hektar yang lain Beliau tanami kopi, coklat, cengkeh, dan lain-lain. Sedangkan lahan 6 hektar yang berada agak jauh dari rumah Beliau, 4 hektar Beliau tanami jabon, 2 hektar Beliau tanami pete, durian, dan lain-lain. Beliau menambahkan bahwa lahan yang berada agak jauh dari rumahnya ini, seluas 6 hektar, adalah usaha kerjasama dengan koperasi setempat. Saya awalnya agak tidak begitu paham tetapi Beliau menjelaskan lagi apa yang dimaksudkan kerjasama ini. Tanaman jabon yang ditanam di lahan ini akan panen atau bisa ditebang 6 tahun setelah ditanamnya. Lalu apabila sudah panen, hasilnya akan dibagi dengan koperasi. Beliau mendapat 40% sedangkan koperasi mendapatkan 60% dari hasil tersebut. Dengan kata lain Beliau berinvestasi uang melalui lahan koperasi tersebut.

            Saat saya sedang asyik wawancara seorang anak kecil, cucu Beliau, menghampiri Beliau sambil menangis mencari ibunya. Lalu dengan ramahnya Beliau izin kepada saya untuk menemani cucunya menemui ibunya. Dan saya mempersilahkan Beliau dengan penuh kesopanan. Tidak lama berselang Beliau datang dan duduk di sebelah saya lagi untuk melanjutkan wawancara.

            Selanjutnya saya bertanya tentang pegawai atau buruh tani yang Beliau miliki. Beliau menjelaskan bahwa Beliau hanya mempunyai 3 pegawai/buruh tani yang rutin setiap harinya mengurusi perkebunan Beliau. Para pegawai tersebut tidak lain adalah tetangga-tetangga sekitar kediaman Bu Endang. Tetapi, lanjut Beliau, ketika panen datang Beliau membutuhkan banyak orang sebagai pegawainya, bisa membutuhkan tambahan 6-8 orang dalam sekali panen, biasanya warga sekitar bekerja untuk Beliau pada saat panen datang, tidak lain mereka adalah tetangga Beliau sendiri. Dan upah yang diberikan Beliau untuk mereka Rp25.000,- sampai Rp30.000,- per hari.

            Saat saya wawancara, terlihat anak Bu Endang dan cucunya yang kira-kira masih berumur 3 tahun keluar rumah dan sempat menegur saya untuk berpamitan. Saya merasa keluarga Bu Endang sangat ramah dan hangat terhadap tamu sekalipun orang asing seperti saya.

            Dan saya melanjutkan pertanyaan mengenai berapa penghasilan Beliau saat panen tiba. Beliau menjelaskan dengan bermacam-macam karena harga jual hasil panen satu dengan yang lain berbeda. Tanaman keras (yang akan dijadikan kayu) milik Beliau sekali panen/tebang menghasilkan 2000-3000 batang, yang satu batangnya berharga jual Rp150.000,-. Tetapi tanaman keras tersebut panen 6 tahun sekali. Sedangkan tanaman kopi panen setahun sekali dan kurang lebih hasil panennya mencapai 3 kwintal, harga jualnya Rp6.000.000,-. Dan hasil panen dari tanaman coklat, durian, dan pete milik Beliau tidak diambil, tetapi Beliau memberikannya kepada pegawainya sebagai upah kerja mereka. Sedangkan tanaman cengkeh Beliau menghasilkan Rp50.000.000,- per tahun, Beliau menjualnya berbentuk cengkeh basah.

            Berbicara mengenai cengkeh, Bu Endang teringat sesuatu dan berbagi cerita dengan saya. Wonosalam khususnya desa Panglungan sangat terkenal sekali dengan hasil panen cengkehnya. Ternyata pencetus budidaya tanaman cengkeh di Wonosalam adalah Alm. Pak Kusnan yaitu ayah dari Bu Endang. Dulu tanaman cengkeh di wonosalam kurang begitu ada dan bahkan belum ada petani cengkeh. Alm. Pak Kusnan mencoba bereksperimen menanam dan membudidayakan tanaman cengkeh di Wonosalam. Alm. Pak Kusnan memperoleh bibit dan memperoleh pengetahuan dari rekannya di Maluku. Dulu Alm. Pak Kusnan pernah ditugaskan di Maluku. Tidak gampang memang membudidayakan cengkeh. Alm. Pak Kusnan berkali-kali mengalami kegagalan. Dan yang paling menyesakkan masyarakat sekitar tidak mendukung budidaya tanaman cengkeh karena menurut mereka tidak ada gunanya. Mereka belum mengetahui manfaat dari cengkeh tersebut. Mereka lebih memilih menanam tanaman yang jelas dikonsumsinya seperti jagung, kopi, dan lain-lain. Alm. Pak Kusnan dengan gigih mencoba menanam cengkeh, saat Alm. Pak Kusnan menanam cengkeh di air dengan keadaan geografis Wonosalam, akhirnya percobaan Alm. Pak Kusnan berhasil. Setelah berhasil panen ternyata harga jual cengkeh tinggi, sejak saat itu masyarakat Wonosalam mengikuti Alm. Pak Kusnan untuk bertani cengkeh. Selain pencetus menanan cengkeh di Wonosalam, Alm. Pak Kusnan juga pencetus menanam buah durian di Wonosalam. Dan sampai sekarang durian menjadi ikon Wonosalam karena buah durian dari Wonosalam berbeda dengan durian-durian yang ada di daerah lain.

            Saya melupakan sesuatu, saya lupa menanyakan pendapatan dari hasil panen perkebunan yang bekerja sama dengan koperasi. Beliau menjawab bahwa belum ada pendapatan dari hasil panen kerja sama dengan koperasi karena Beliau bergabung dengan koperasi baru-baru ini. Hasil panen terasa 6 tahun kedepan, lanjutnya.

            Setelah saya menuntaskan wawancara yang mendalam ini dan saya menjadi paham tentang kehidupan Beliau, saya pamit untuk kembali ke balai desa tempat kita menginap untuk melanjutkan mengerjakan tugas. Beliau mengantarkan saya sampai depan pintu. Saya mengucapkan salam dan Beliau menjawab. Kemudian saya tidak langsung kembali ke balai desa tetapi saya memutuskan untuk ke masjid sebelah rumah Bu Endang untuk sholat ashar. Lalu Bu Endang menghampiri saya di masjid, ternyata jaket almamater saya tertinggal di rumah Beliau. Saya malu. Saya sampai lupa membawa jaket tersebut karena saking asiknya mewawancarai Bu Endang yang penuh keramahan.

            Dari wawancara mendalam saya ini, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa keluarga Bu Endang tidak hanya memikirkan keluarganya sendiri tetapi juga dengan warga sekitar. Terlihat dengan keluarga Bu Endang membangun yayasan pendidikan untuk warga sekitar dan memperkerjakan warga sekitar di perkebunannya dengan upah yang sewajarnya. Dan terlihat upaya-upaya keluarga Bu Endang dalam membenahi desa tersebut menuju keadaan yang lebih baik. Alm. Pak Kusnan juga pernah menjabat sebagai Kepala Desa Panglungan selama berperiode-periode. Warga merasa Warga serasa bahagia, sejahtera, dan senang atas kepemimpinan Alm. Pak Kusnan. Keluarga Bu Endang mengubah menjadi lebih baik desa Panglungan dengan upaya-upaya yang bisa mereka lakukan. Keluarga Bu Endang ini dapat mencerminkan bagaimana kearifan masyarakat desa. Masyarakat yang selalu hidup berdampingan dan saling membantu satu sama lain. Meskipun keluarga Bu Endang kaya, warga di sekitarnya juga ikut merasakan kekayaan Beliau. Dan seharusnya kita sebagai mahasiswa Sosiologi FISIP UNAIR harus biasa mencontoh keluarga Bu Endang, hidup selain bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan juga harus bermanfaat bagi orang lain.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

2 Komentar

NPupiKRBNXPszgS

pada : 07 August 2012


"Assalaamu'alaikum PakdePertama kali menjejak ke laman pakde ini. Subhanallah sama aja sih hobi kita pakde. Saya kalau beli jam suka nmgupul jenis sapphire. Walau mahal tetapi puas menggunakannya dalam aktiviti lasak. Jarang beli jam selagi baterinya belum habis/mati. Kalau habis riwayat baterinya saya biasa beli jam baru. Kalau ganti bateri, maka tidak nmgupul jam. Salam mesra dari saya di Sarikei, Sarawak.[WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us '0 which is not a hashcash value.Walaikum salam wr.wb.Iya benar, saya suka beli jam tapi jarang memakainya,hanya untuk koleksi saja.Terima kasih atas kunjungan mbak Fatimah.alam hangat dari Surabaya"


YGEqwIybEEKTUHi

pada : 09 August 2012


"nyengar nyengir itu perlu pakde, snyeum ditahan ga keluar nanti sakit jantungtertwa sebelum tertawa kena pajakwong tidur ama makan aja kena pajak pakde[WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us '0 which is not a hashcash value.jangan ditahan sayang karena saya senang menatap cengiranmu yang aduhai itu"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :