MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

Ayat Al-Quran Hari Ini


Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Buat para Pemenang lomba web & blog Mahasiswa Universitas Airlangga Tahun 2013; 1.Mitha Erna Wati [FK] | 2.Muhammad Alhada Fuad [FISIP] | 3.Teguh Bagus Pribadi [FKH] | 4.Wahyu Afif Mufida [FK] | 5.Bagus Rizki Novianto [FPK] | => Terimakasih atas kunjungan Anda, jangan lupa kalau mau copy/paste harap cantumkan sumbernya ::..

Contoh Proposal Penelitian

diposting oleh alhada-fisip11 pada 05 July 2012
di Penelitian - 1 komentar

 

“BUDAYA PERKAWINAN MASYARAKAT PERANTAUAN BANJARMASIN DI SURABAYA”

 

A.        Latar Belakang Masalah

Perkawinan adalah suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan dapat dianggap sah jika dalam pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah hukum dan UU yang ada. Dalam suatu perkawinan, terlebih dahulu harus ada suatu kematangan dan persiapan fisik dan mental karena perkawinan bersifat sakral dan dapat menentukan jalan hidup dua orang manusia nantinya.

Pentingnya arti perkawinan dalam masyarakat terlihat dari adanya kenyataan bahwa suami-istri itu tidak hanya melibatkan si laki-laki dan wanita yang bersangkutan, akan tetapi juga segenap keluarga dari kedua belah pihak. Keterlibatan yang menuntut pertanggungjawaban keluarga tersebut tampaknya tidak hanya terbatas pada kelancaran segala proses perkawinan yang harus dilakukan sesuai dengan ketentuan tata cara adat, akan tetapi terus berlanjut tanpa adanya batas waktu dan tergantung pada kelangsungan hidup perkawinan anggota keluarga yang bersangkutan.

Dalam kaitannya dengan hubungan kemasyarakatan, perkawinan merupakan pranata yang sah yang harus dilalui oleh setiap masyarakat yang menghendaki adanya pengakuan penuh sebagai warga masyarakat yang bersangkutan. Seorang anggota masyarakat yang telah menikah akan diperlakukan sebagai warga masyarakat dengan segala hak dan kewajibannya, karena ia telah dianggap mampu bertanggung jawab sebagaimana tercermin pada kelarga yang menjadi tanggung jawabnya.

Peralihan dalam kehidupan tersebut biasanya ditandai dengan adanya upacara-upacara keagamaan untuk mendukung proses perkawinan tersebut. Upacara adalah sistem aktivitas atau rangkaian tindakan yang ditata oleh adat atau hukum yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang biasanya terjadi di dalam masyarakat yang bersangkutan, atau dengan kata lain suatu kegiatan pesta tradisional yang diatur menurut tata adat atau hukum yang berlaku di dalam masyarakat dengan tujuan memperingati peristiwa sesuai dengan ketentuan data yang bersangkutan.

Tiap suku bangsa atau suatu kelompok masyarakat akan mempunyai berbagai macam corak khas ritual atau upacara adat sendiri yang tentunya berbeda dengan upacara adat dari daerah lainnya. Biasanya taata cara pelaksanaannya dilakukan berdasarkan pada nilai-nilai dan aturan-aturan yang sesuai dengan kebudayaan itu sendiri itu tumbuh.

Di Banjarmasin sendiri perkawinan adalah suatu hal yang mempunyai tingkat kesakralan yang tinggi. Kesakralan tersebut dikaitkan dengan ritual-ritual perkawinan yang ditujukan untuk penguasa alam/tuhan yang maha esa. Jika salah satu ritual tidak dilakukan maka dianggap sebagai suatu hal yang tidak patut dilakukan dan dianggap tidak menghormati penguasa alam dan leluhur-leluhur yang ada. Maka dari itu ritual-ritual dari perkawinan tersebut harus dilakukan demi tercapai suatu perkawinan yang sakinah menurut masyarakat Banjarmasin itu sendiri.

Kesakralan perkawinan adat Banjar tersebut terlihat dari banyaknya ritual-ritual yang dilakukan sebelum dan pada saat pernikahan.sebelum pernikahan, biasanya pada malam harinya, masing-masing mempelai berada di rumah masing-masing. Di rumah masing-masing, mempelai mengadakan acara siraman. Siraman dilakukan dengan cara memandikan pengantin tersebut dengan air yang dicampur dengan bunga-bungaan. Proses memandikan pun dilakukan secara berurutan oleh para orang tua. Pertama kakek dan nenek yang bertugas menyiramkan air bunga tersebut ke badan si pengantin, lantas kemudian orangtua yaitu ayah dan ibu. Pada saat keluarga menyiramkan air bunga ke tubuh pengantin, biasanya diselingi bacaan-bacaan doa dalam hati agar ritual tersebut tentunya membawa berkah. Setelah dilakukannya ritual siraman, pengantin masuk ke dalam rumah, ia duduk di tengah ruangan. Kemudian dilakukan ritual kembali dengan menggunakan bahan-bahan / peralatan-peralatan untuk mendukung ritual tersebut. Seperti contohnya dengan menggunakan lilin, cermin, sisir, dan berbagai macam bunga sebagai perantara dalam melakukan ritual-ritual perkawinan tersebut. Lilin yang menjadi bahan utama dalam ritual tersebut pun dinyalakan di tengah-tengah nampan, kemudian diletakkan benda-benda lain seperti cermin, sisir dan bermacam macam bunga-bungaan di sekitar lilin yang menyala tersebut. Kemudian nampan tersebut di putar mengelilingi tubuh si pengantin sebanyak 3x. setelah nampan tersebut berputar sebanyak 3x, nyala api lilin yang terdapat di nampan tersebut kemudian di tiup oleh si pengantin. Masing-masing bahan tersebut memiliki simbol tersendiri. Seperti misalnya lilin, disimbolkan sebagai cahaya yang dapat menerangi suatu perkawinan. Cermin disimbolkan sebagai sesuatu yang dapat memperlihatkan kebaikan dan keburukan dari suatu kepribadian pengantin tersebut sehingga diharapkan dapat membuang keburukan dari sang pengantin dan juga dapat menjauhkan kedua mempelai dari pertengkaran-pertengkaran dalam rumah tangganya kelak. Selain itu, cermin diharapkan dapat memperlihatkan atau selalu menampakkan kebaikan-kebaikan dalam masa menjalani hidup berumah tangga. Sisir disimbolkan sebagai sesuatu yang dapat menata kehidupan perkawinan dengan baik. Bunga disimbolkan sebagai sesuatu yang nantinya dapat mewangikan kehidupan perkawinan tersebut. Sedangkan makna dari meniup lilin adalah sebagai symbol doa,ditiupnya lilin tersebut menandakan si pengantin berdoa agar makna-makna yang tecermin dari bahan-bahan ritual tersebut dapat terkabul dalam kehidupan perkawinannya.

Besok paginya, sekitar pukul 7 pagi, masing-masing mempelai mengadakan resepsi di rumah masing-masing. Seperti acara resepsi pada umumnya, dalam resepsi tersebut terdapat tenda, pelaminan, dan acara perjamuan makan pada umumnya. Namun yang berbeda adalah masing-masing pengantin masih berada di rumah masing-masing, mengadakan resepsi masing-masing. Selain itu, mempelai juga masih menggunakan pakaian biasa, dan masih belum menggunakan pakaian pengantin adat Banjarmasin. Sang pengantin, menjamu tamu dengan saling mengobrol dengan para tamu yang hadir. Pada saat itulah para tetangga berdatangan untuk memberikan selamat pada pengantin tersebut. Sekitar pukul 9 pagi, masing-masing pengantin mulai berdandan dan mulai memakai pakaaian adat Banjarmasin. Sekitar pukul 10 pagi, mempelai laki-laki beserta keluarganya (kecuali ayah dan ibunya) pergi menuju rumah mempelai perempuan. Sesampainya di rumah mempelai perempuan, diadakan ritual sungkeman. Kedua mempelai laki-laki dan perempuan tersebut duduk bersimpuh di hadapan kedua orang tua pengantin perempuan, dan melakukan ritual sungkeman tersebut, setelah sungkeman, kedua pengantin tersebut melakukan ritual saling menyuapi kue-kue tradisional asal Banjarmasin, yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi foto-foto di kamar, di atas ranjang yang telah berhias bermacam-macam aksesoris dan pernak-pernik. Setelah prosesi foto-foto tersebut lantas mempelai laki-laki mengajak mempelai perempuan beserta keluarga (kecuali ayah dan ibu dari mempelai perempuan) untuk mengunjungi rumah sang mempelai laki-laki. Sesampainya di rumah mempelai laki-laki, ritual yang sama pun dilakukan di rumah tersebut. Sungkeman, saling menyuapi makanan, dan prosesi foto-foto pun dilakukan kembali di rumah mempelai laki-laki. Setelah prosesi tersebut selesai maka sang mempelai laki-laki dan keluarganya mengantarkan kembali mempelai perempuan ke rumahnya. Dan lantas mempelai laki-laki tersebut dan keluarganya kembali pulang ke rumah. Prosesi pernikahan pun selesai dilaksanakan. Prosesi atau ritual menjemput dan mengantarkan tersebut disebut tradisi “Behantaran”.  Behantaran berasal dari kata hantar yang berarti antar/mengantarkan. Prosesi ini selalu dilakukan pada saat perkawinan. Sehingga dapat dikatakan prosesi ini adalah prosesi yang sangat penting.

Setelah prosesi tersebut, kedua mempelai boleh bertemu kembali di rumah baru mereka ataupun secara bergiliran tinggal di rumah pasangan masing-masing. Biasanya seminggu pertama mereka berdua tinggal di rumah si mempelai perempuan. Lantas seminggu kemudian tinggal di rumah mempelai laki-laki. Hal tersebut dilakukan agar kedua belah pihak pengantin dapat saling mengenal dan bersilaturahmi pada keluarga masing-masing.minggu ketiga perkawinan biasanya mereka tinggal di rumah baru mereka, tinggal disana selamanya dan membina rumah tangga tanpa lagi kembali ke rumah orang tua.

Akad nikah pada masyarakat suku Banjarmasin biasanya dilakukan beberapa hari atau bahkan seminggu sebelum resepsi diadakan. Namun tidak menutup kemungkinan akad nikah dilakukan pada saat “Behantaran” dilaksanakan. Yaitu pada saat di rumah mempelai wanita ataupun apada saat di rumah mempelai pria.

Ritual-ritual tersebut masih dilakukan di kalangan masyarakat pada saat melaksanakan acara pernikahan. Bahkan ritual tersebut dianggap sebagai suatu kewajiban. Namun bagi masyarakat Banjarmasin yang merantau atau bermigrasi ke Surabaya, ritual-ritual tersebut sudah mulai berkurang atau bahkan sudah memudar. Hal tersebut dikarenakan banyak faktor. Mulai dari perkawinan eksogami, misal seorang Banjarmasin yang menikah dengan orang yang bersuku Jawa, yang pada akhirnya membuat anggota mempelai/keluarga mempelai yang dari Banjarmasin akhirnya merelakan untuk melaksanakan ritual pernikahan dengan adat Jawa. Namun ada juga yang dikarenakan mempelai merasa terlalu terbebani dengan serangkaian adat Banjarmasin yang terlalu susah untuk dilaksanakan. Namun tidak sedikit pula masyarakat Banjarmasin yang bermigrasi ke Surabaya, yang tetap  berprinsip pada adat-adat ritual itu sendiri, walaupun pada kenyataannya tidak semua/ tidak secara utuh ritual-ritual tersebut dilakukan dari awal sampai akhir. Ada beberapa ritual yang tetap dilakukan, namun ada beberapa ritual juga yang sengaja tidak dilakukan dengan alasan efisiensi waktu dan tenaga. Ada juga suatu alasan yang menyatakan bahwa tidak perlunya mengadakan perkawinan beradatkan Banjarmasin dikarenakan agar semakin sedikit pula uang yang akan dikeluarkan demi prosesi pernikahan tersebut. Karena sebenarnya untuk dapat menikahi seorang wanita yang memiliki suku Banjarmasin, maka pihak laki-laki harus memberikan “uang jujuran”. Uang jujuran tersebut diberikan oleh pihak laki-laki kepada orang tua si perempuan sebagi tanda anak perempuannya telah “dibeli” atau telah dilamar. Uang jujuran tersebut dianggap sebagai mahar perkawinan. Jumlah uang jujuran tersebut ditentukan oleh kedua orang tua perempuan. Berapa besar jumlah uang yang ditawarkan tergantung dari berapa besar keinginan orang tua mendapatkan uang tersebut. Uang tersebut biasanya digunakan untuk membeli perlengkapan rumah tangga seperti lemari, tempat tidur, dan beberapa barang-barang untuk memenuhi rumah baru untuk pengantin. Semakin besar orang tua menginginkan kehidupan yang mewah buat anak perempuannya setelah menikah, maka semakin besar pula uang jujuran yang ditawarkan. 

Ritual-ritual tersebut yang setidaknya membutuhkan modal yang cukup besar, membuat masyarakat Banjarmasin yang ada di Surabaya sedikit demi sedikit mulai meninggalkan ritual-ritual tersebut. Hal tersebut sedikit banyak juga mempengaruhi tingkat kesakralan dalam perkawinan Banjarmasin tersebut. Dimana dalam ritual-ritual tersebut memiliki masing-masing makna. Jika ritual yang dilakukan tidak secara keseluruhan, maka akan mengurangi makna-makna dari ritual itu sendiri.

Masyarakat Banjarmasin adalah masyarakat yang sebagian besar beragama islam. Maka dari itu, masyarakat Banjarmasin sangat menjunjung tinggi ajaran-ajaran agama Islam. Pengaruh agama dalam masyarakat cukup kuat, baik dalam cara berfikir, berbuat maupun dalam melakukan komunikasi dan menjaga tali silaturahmi dengan orang lain. Sesuai dengan ajaran agama yang dianut oleh masyarakat, perilaku dalam masyarakat pun banyak dipengaruhi oleh ajaran agama Islam. Kuatnya pengaruh agama Islam tersebut terlihat dari kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan, seperti halnya dalam prosesi akad nikah.

Dalam hal pencarian jodoh, dalam masyarakat Banjarmasin pada dahulunya, jodoh bagi anak-anaknya adalah hak para orang tua dan kakek maupun nenek untuk menentukan siapa yang berhak untuk menikah dengan anaknya.tanpa meminta persetujuan anak yang bersangkutan, orang tua dan anggota keluarga yang lain tersebut berhak menentukan jodoh bagi anak-anaknya.biasanya penjodohan ini dilakukan dengan cara memilihkan jodoh dari yang sudah dikenal dekat dengan pihak keluarga, ataupun masih ada hubungan darah dengan keluarga tersebut. Kedekatan ikatan tersebut dimaksudkan agar tetap dapat mengukuhkan tali silaturahmi antara keluarga besar tersebut. Selain itu penjodohan ini juga tak luput dari keinginan untuk tetap mempertahankan kekayaan keluarga hanya pada keluarga besar saja dan harta warisan tidak jatuh ke keluarga lain. Biasanya anak yang akan dijodohkan tidak dapat menolak untuk menerima penjodohan tersebut, karena bagi seorang anak menuruti keinginan orang tua merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan. Orang tua adalah orang yang sangat penting bagi seorang anak. Perintah orang tua merupakan amanah yang harus dilaksanakan. Seorang anak menganggap bahwa jika ia tidak menuruti dari pilihan orang tua, maka kehidupan rumah tangganya kelak akan tidak tenteram. Pemikiran bahwa semua orang tua tidak akan pernah mencelakakan anaknya sendiri selalu terdapat dalam pandangan seorang anak. Sehingga jika terdapat pertentangan antara seorang anak dan orang tuanya, maka anak tersebut yang akan mengalah, dan akan menuruti keinginan orang tuanya. Namun sesuai perkembangan jaman, penjodohan tersebut tidak lagi dilakukan. Pada saat ini orang tua tidak lagi menentukan suatu patokan apakah anaknya harus menikah dengan sesama orang Banjarmasin juga atau tidak. Pemilihan jodoh mutlak ditentukan oleh perasaan dari sang anak itu sendiri. Terlepas dari mana saja suku atau asal sang pasangan anak, maka tidak akan menjadi suatu permasalahan. Seorang anak bebas meneentukan siapa-siapa saja yang akan menjadi pasangan hidupnya kelak. Tugas orang tua hanyalah mengadakan suatu pengamatan pada sang calon menantu tersebut. Dengan melihat bibit, bebet dan bobot dari calon menantu tersebut.

Ketika melakukan suatu proses pelamaran terhadap seorang gadis, biasanya pada pihak laki-laki terlebih dahulu mengadakan suatu pengamatan terhadap calon isteri tersebut. Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui apakah calon isteri atau gadis yang akan dilamar tersebut berasal dari keluarga yang baik-baik. Proses penyelidikan tersebut dinamakan “basasuluh”. Kebiasaan basasuluh tersebut tetap dilakukan meskipun sang laki-laki sudah mengenal secara baik sang gadis. Pada dasarnya masalah pergaulan bebas pada saat ini yang menjadikan kegiatan basasuluh ini dianggap sebagai suatu keharusan, demi menjaga aturan-aturan agama Islam tetap terjaga dalam kepribadian-kepribadian individunya tersebut. Tata cara basasuluh ini biasanya pertama kali dilakukan dengan cara mendatangi rumah sang calon istri, yang kemudian orang tua sang laki-laki bertanya pada orang tua sang calon istri, apakah sang gadis sudah ada yang melamar atau belum. Segala macam pertanyaan dan pembicaraan mengenai status si gadis pun dilakukan, sebagai bukti bahwa gadis yang dilamar itu telah disetujui oleh pihak keluarga laki-laki. Jika pada saat pembicaraan tersebut memperoleh kata mufakat untuk saling menjodohkan anak masing-masing, maka akan dengan segera ditentukan seberapa besar “uang jujuran”. Biasanya penentuan seberapa besar uang jujuran tersebut ditentukan setelah kedatangan keluarga pihak laki-laki ke rumah keluarga pihak perempuan untuk yang kedua kalinya. Jika keluarga laki-laki menyanggupi untuk membayar uang jujuran yang ditawarkan oleh keluarga mempelai perempuan maka akan dengan segera kedua belah pihak dari keluarga tersebut menentukan tanggal perkawinan. Dalam penentuan tanggal perkawinan ini pula ditentukan segala rangkaian kegiatan dalam prosesi akad nikah dan resepsinya kelak. Apa-apa saja barang-barang yang akan dipergunakan, dimana pelaksanaan perkawinan, dll.

Semakin tinggi derajat keluarga sang wanita, maka semakin besar pula sang mempelai laki-laki membayar uang jujuran. Jika seorang mempelai wanita merupakan seorang yang kaya raya, maka orang tuanya dengan sangat pasti akan meminta uang jujuran yang tinggi. Sesuai dengan keinginan orang tua, seberapa tinggi orang tua menginginkan anaknya memiliki kehidupan yang mewah setelah pernikahansemakin tinggi uang jujuran, maka semakin banyak pula barang-barang yang ingin dibeli untuk melengkapi rumah baru sang pengantin.

Dalam hal perkawinan, banyak masyaraakat Banjarmasin yang menikahkan anaknya pada usia muda. Karena mereka menganggap diatas umur 17 tahun, adalah umur yang matang dalam melakukan perkawinan. Para orang tua menganggap jika anaknya sudah berumur diatas 17 adalah masa-masa terakhir orang tua untuk merawat anak tersebut. Yang kemudian diharapkan anaknya akan menikah dan memiliki keluarga sendiri. Menurut pandangan orang tua seorang anak harus dapat mandiri demi menjalankan kehidupan sendiri atau dalam artian menikah nantinya. Seorang anak laki-laki dituntut harus mampu berusaha mencari nafkah, sehingga kelak dapat membiayai kebutuhan hidup rumah tangganya. Apabila seorang anak laki-laki sudah dapat mencari nafkah sendiri, maka akan semakin cepat pula anak laki-laki tersebut akan menikah. Selain itu, anak perempuan juga dianggap harus pandai kerja di dapur dan telaten mengurus anak. Sejak dini para orang tua sudah mengarahkan anak-anaknya agar bisa berusaha mendapatkan penghasilan yang baik dan mengajarkan kemandirian. Sehingga ketika menikah kelak, anak-anak tersebut sudah benar-benar siap dalam menghadapi perkawinannya.

Setelah diadakan perkawinan, maka anak-anak tersebut diharuskan untuk tinggal sendiri di rumah baru, sehingga anak-anak tersebut tidak lagi tergantung pada orang tuanya masing-masing.

Sistem kekerabatan yang dianut dalam masyarakat Banjarmasin adalah sistem keturunan bilateral. Yaitu sistem keturunan yang berdasarkan garis keturunan ayah dan ibu. Namun dalam hal perwalian nikah, seorang ayah tetap akan menjadi sebagai wali mempelai. Namun jika tidak ada seorang ayah untuk menjadi wali mempelai, maka tugas menjadi wali mempelai akan digantikan oleh saudara laki-laki yang telah dewasa. Kalau tidak ada juga, maka akan digantikan oleh saudara laki-laki ayah dan seterusnya.

Perkawinan yang terdapat pada orang-orang Banjarmasin ada yang monogami dan ada pula yang poligami. Masyarakat Banjarmasin yang berada di Banjarmasin sendiri masih ada sebagian yang menganut perkawinan poligami. Namun seiring perkembangan jaman, migrasi ke Surabaya menyebabkan orang-orang Banjarmasin tersebut sudah jarang dan bahkan tidak ada lagi yang menganut sistem perkawinan poligami. Kebanyakan telah menggunakan sistem perkawinan monogami.

 

B. Rumusan Masalah

berdasarkan penjelasan diatas, maka permasalahan yang ingin diteliti adalah :

  1. Bagaimana proses perkawinan adat suku Banjarmasin yang berada di Surabaya jika dibandingkan dengan perkawinan adat di Banjarmasin?
  2. Mengapa terjadi perbedaan ciri-ciri perkawinan adat bagi masyarakat Banjarmasin yang berada di Surabaya dengan masyarakat yang berada di Banjarmasin?
  3. Bagaimana sistem pemilihan jodoh bagi masyarakat Banjarmasi yang ada di Surabaaya?

 

C. Tujuan Penelitian

Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan kemasyarakatan, menjadikan masyarakat pada saat ini sedikit tidak mengindahkan tradisi yang sudah dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Sehingga pada saat ini masyarakat kurang memahami mengenai upacara adat. Orang yang memahami mengenai seluk beluk ritual upacara adat dan menerapkannya dalam kehidupannya sangatlah terbatas jumlahnya. Sehingga dikhawatirkan upacara adat yang mempunyai nilai luhur ini secara sedikit demi sedikit akan semakin menghilang dari kebudayaannya sendiri. Dimana ritual-ritual perkawinan Banjarmasin dikhawatirkan akan tergeser dengan nilai-nilai ritual dari luar yang tidak sesuai dengan ritual Banjarmasin itu sendiri. Mereka hanya mengerti mengenai upacara adat perkawinan Banjarmasin hanya karena melihat dan menyaksikan jalannya upacara adat tersebut, namun kurang memahami makna apa yang tersirat dalam rangkaian kegiatan pelaksanaan upacara tersebut. Maka dari itu penelitian ini ingin menjelaskan mengenai adat perkawinan masyarakat Banjarmasin yang berada di Surabaya. Apakah masih menggunakan adat-adat ritual suku Banjarmasin secara keseluruhan atau sudah mulai memudar. Jika sudah memudar, hal-hal apa saja yang menjadi penyebab hilangnya rutual-ritual tersebut. Selain itu dalam penelitian ini juga ingin mengetahui apakah berkurangnya ritual-ritual yang dilakukan tersebut dapat mengurangi kesakralan dari pernikahan itu sendiri.

 

D. Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan motivasi bagi masyarakat untuk tetap dapat melestarikan, mengembangkan dan menjaga budaya-budaya dan ritual-ritual dari daerahnya sendiri, mekipun telah bermigrasi. Karena dengan tetap adanya budaya-budaya asli, maka akan dapat mengurangi dampak-dampak buruk dari luar yang bisa mengancam kelestarian suatu budaya. Selain itu dengan adanya penelitian ini diharapkan masyarakat dapat mengetahui macam-macam budaya yang kemudian dapat memupuk kepribadian masyarakat yang Bhineka Tunggal Ika. Walaupun berbeda-beda suku, namun diharapkan tetap dapat bersatu dengan menjunjung tinggi kebudayaan yang ada.

 

E. Kerangka Teori

Perkawinan Adat  adalah ikatan hidup bersama antara seorang pria dan wanita, yang bersifat komunal dengan tujuan mendapatkan generasi penerus agar supaya kehidupan persekutuan atau clannya tidak punah, yang didahului dengan rangkaian upacara adat. Upacara perkawinan adat dianggap sebagai upacara peralihan, yang melambangkan peralihan status dari masing masing mempelai, yang tadinya hidup sendiri-sendiri berpisah, setelah melampaui upacara yang disyaratkan menjadi hidup bersatu sebagai suami istri, yaitu suatu keluarga baru yang berdiri serta mereka bina sendiri.

Perkawinan adat ini tak lepas sari suatu kebiasaan yang scara turun temurun sejak dahulu telah dilakukan. Kebudayaan adalah merupakan kompleks nilai, gagasan utama serta keyakinan yang mendominasi kehidupan masyarakat. Salah satu bentuk peranan kebudayaan dalam masyarakat dapat terlihat pada pola kebiasaan dan interaksi sosial yang mengatur hubungan kekeluargaan antara sesame manusia.

Berkembangnya ilmu dan teknologi baru serta adanya pengaruh globalisasi yang menyentuh kehidupan masyarakat Banjarmasin yang berada di Surabaya, menyebabkan pula terjadinya pergeseran-pergeseran nilai budaya pada orang Banjar yang merantau di Surabaya tersebut. Adat-adat yang biasanya masih sering dilaksanakan ketika di Banjarmasin, ketika berpindah tempat/merantau ke Surabaya, sifat-sifat modernnya yang akan lebih terlihat. Dari sana kebudayaan-kebudayaan asli dari suku Banjar tersebut mulai sedikit demi sedikit memudar seiring berkembangnya jaman.

Sistem nilai budaya dalah suatu rangkaian dari konsep abstrak yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga suatu masyarakat mengenai apa yang harus dianggap penting dan berharga dalam hidupnya. Dengan demikian suatu system nilai budaya itu biasanya merupakan bagian dari kebudayaan yang berfungsi sebagai pengarah dan pendorong kelakuan manusia. Konsep nilai budaya itu sendiri sulit dirumuskan dan hanya dapat dirasakan dan sering konsep nilai budaya amat mendarah daging pada mereka dan sulit diubah. Kalau system nilai budaya itu merupakan pengaruh dari tindakan manusia maka pedomannya yang nyata adalah norma-norma, hukum dan aturan yang biasanya bersifat tegas dan konkrit.

 

F. Metode Penelitian

Metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Metode kualitatif yang dilakukan dengan cara observasi dan wawancara mendalam. Metode kualitatif merupakan metode yang digunakan peneliti secara alamiah menggunakan konteks khusus untuk memahami kejadian yang dialami oleh subjek penelitian seperti perubahan perilaku, tindakan, persepsi, dan motivasi yang secara holistik atau keseluruhan dengan mendeskripsikan melalui kata-kata dan bahasa (Moleong, 1992).

Dengan menggunakan metode kualitatif, peneliti berusaha mendeskripsikan serta memahami tingkah laku masyarakat Banjarmasin yang berada di Surabaya, dalam hal ini tingkah laku adat perkawinannya. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha menggambarkan secara tepat, keadaan, sifat individu, dan untuk menentukan adanya hubungan antara satu gejala dengan gejala lainnya dalam masyarakat (Koentjaraningrat, 1997). Penelitian ini juga didukung oleh kajian pustaka yang berhubungan dengan adat istiadat dan tata cara perkawinan dalam masyarakat Banjarmasin yang berada di Surabaya.

 

G. Lokasi Penelitian

Lokasi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah seluruh daerah Surabaya yang mencakup warganya yang berasal dari Kalimantan Selatan. Lokasi penelitian diambil karena di Surabaya merupakan kota terbesar kedua yang hampir selalu disinggahi oleh pendatang-pendatang dari berbagai daerah seperti contohnya pendatang dari Banjarmasin. Kebiasaan masyarakat Banjarmasin yang selalu melakukan perantauan ke berbagai daerah contohnya ke Surabaya lah yang menjadikan kota ini dipilih sebagai tempat penelitian.

 

H. Pemilihan Informan

Informan dipilih secara acak berdasarkan latar belakang sukunya, yaitu berasal dari Banjarmasin yang sekarang bertempat tinggal di Surabaya. Pada penelitian ini, diawali dengan memilih informan pangkal yaitu orang-orang yang dimintai keterangan untuk memperoleh keterangan yang lain guna mendapatkan informasi sehubungan dengan permasalahan yang diajukan (Koentjaraningrat, 1991:130) dan juga beberapa informan lain.

Selain itu pada saat berlangsung penelitian, orang tersebut yang berketurunan asli Banjarmasin ataupun pendatang baru dari Banjarmasin tersebut masih hidup dan terlibat langsung dalam lingkungan kebudayaan Banjarmasin yang masih kental terlihat sehingga mereka dengan baik dapat memberikan gambaran yang benar kepada peneliti. Informan yang dipilih tentunya mengetahui secara baik tata cara perkawinan adat Banjarmasin dan kemungkinan menerapkan kembali adat tersebut meskipun telah berada di Surabaya.

 

I. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data di lapangan dilakukan dengan metode :

  1. Wawancara mendalam (indepth interview)
  2. Observasi atau pengamatan
  3. Penelaahan terhadap dokumen tertulis

 

J. Teknik Analisis Data

Dalam menganalisis data dilakukan dengan beberapa proses, yaitu:

  1. Proses memilah-milah data

Seluruh data yang diperoleh kemudian dipilah-pilah yaitu data dari observasi, data wawancara, dan juga data dari buku-buku,artikel, serta penelitian-penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti sebelumnya yang menunjang dalam pelaksanaan penelitian ini.

      2. Proses mengelompokkan data

Data yang sudah dipilah tersebut kemudian dikelompokkan kembali sesuai dengan tujuan penelitian, lalu dilakukan verifikasi.

      3. Proses analisis data

Dalam hal ini peneliti melakukan pemeriksaan terhadap hasil temuan data di lapangan berdasarkan teori-teori yang digunakan oleh penulis.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Syarifuddin, dkk

1986                Dampak Modernisasi Terhadap Hubungan Kekerabatan Daerah Kalimantan Selatan. Jakarta: Depdikbud

 

Syaifuddin, dkk

1986                Pembinaan Budaya dalam Lingkungan Keluarga Daerah Kalimantan Selatan, Banjarmasin: Depdikbud

 

Syarifuddin, dkk

            1996             Wujud, Arti dan Fungsi Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli Bagi Pendukungnya Daerah Kalimantan Selatan, Banjarmasin: Depdikbud

Usman, A. Gazali,

             1996               Integrasi Nasional Suatu Pendekatan Budaya Daerah Kalimantan Selatan, Banjarmasin: Depdikbud

1 Komentar

SquPFerBorNlRRg

pada : 21 July 2012


"(untuk yg nomer 4) setiap bagain dari suatu konstruksi benda mempunyai peran penting. Bagian kayu dari pensil (bagain luar) sangat penting untuk menjaga kekokohan arang di dalamnya, bila kualitas kayu tak baik maka arang di dalam bisa rapuh dan mudah patah saat di raut. Bila arang saja tanpa bungkus kayu, maka memegangnya akan sangat tidak nyaman karena seluruh tangan bisa tercoreng. Jadi menurutku, tidak ada istilah bagain terpenting' karena semuanya penting. Walau ada hal yg lebih penting lagi, yaitu bagaimana, untuk apa pensil itu digunakan."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Pengunjung

    947590