MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Analisis Problema Sertifikat Seniman

diposting oleh alhada-fisip11 pada 30 May 2012
di Esay - 4 komentar

Problema Sertifikat Seniman

            Dari kasus yang dimuat pada Koran Tempo tanggal 09 Mei 2012 tentang “Problema Sertifikat Seniman” pada dasarnya berawal dari gagasan yang dilontarkan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan bidang kebudayaan (Wiendu Nuryanti) yang isinya mengenai pemberian sertifikat seniman pada seniman-seniman yang dianggap terampil dan berbobot. Tujuan dari pemberian sertifikat ini yaitu untuk membawa para seniman-seniman terampil dan memiliki bobot tinggi di Indon\esia seperti penari, dalang, sastrawan, penyanyi, pesinden, perupa, dan sebagainya kepada posisi “seniman utama”, artium magister, atau adi-seniman (adi = tinggi). Dengan predikat itu diharapkan para seniman termaksut akan memiliki peluang besar untuk hadir leluasa dikancah nasional maupun internasional. Gagasan seperti ini juga pernah dilontarkan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan 1990 (Fuad Hasan) yang isinya menganggap bahwa pada seniman yang bertitel Sarjana Seni, Magister Seni, Master of arts, dan bahkan profesor seni belum tentu memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan dengan para seniman yang tidak memiliki gelar akademis. Pada kenyataannya banyak seniman yang tidak memiliki gelar akademis namun tak henti-hentinya melahirkan karya-karya bermutu tinggi. Namun yang menjadi persoalannya bagaimana caranya pemerintah dapat mendata para seniman yang dimaksut yaitu para seniman yang terambil dan berbobot di seluruh Indonesia dari sabang sampai meraoke, dan bisakah pemerintah secara akuran dan bersih dari Nepotisme (kekerabatan) mencatat semua seniman yang dimaksut, itulah masalah yang timbul dari gagasan yang sebenarnya baik dan berupaya mengangkat para seniman profesional agar bisa lebih berkarya di dunia luas. Akan tetapi memang kasus nepotisme seperti ini sepertinya masih sangat sulit dihilangkn dari negara Indonesia tercinta ini.

            Menurut saya penghargaan yang nyata dan lebih kecil kemungkinan terjadi nepotisme yaitu penghargaan yang diberikan kepada para seniman berupa hak cipta, hal ini dikarenakan hak cipta dapat dilihat dengan jelas ciptaannya (kreasi/inovasi) dari karya-karya yang mereka ciptakan. Dan hak cipta juga suatu hal yang sangat penting untuk dipatenkan dan diberikan kepada para penbuat suatu karya seni sebagai suatu penghargaan nyata dari hasil karyanya. Sebenarnya sertifikat seniman yang akan diberikan pada para seniman yang terampil dan berbobot menurut saya memang perlu diberikan, hal ini dikarenakan untuk meningkatkan prestasi dan popularitas para seniman dari hasil karya-karya kreatif yang dihasilkannya. Seorang seniman yang kreatif dan berbobot tersebut dengan diberikannya sertifikat seniman, mereka akan semakin dipercaya dan dikenal oleh masyarakat luas, akibatnya mereka akan semakin terpacu dan termotivasi untuk menciptakan karya-karya seni yang lebih baik. Sehingga para seniman Indomesia akan semakin berkualitas dan mampu bersaing di dunia internasional. Akan tetapi sebelum diberlakukan (di sahkan) kebijakan ini, pemerintah hasrus bisa menjawab dan menjamin keterjangkauannya pencatatan seluruh seniman terampil dan berbobot di seluruh Indonesia dan bersih dari sikap nepotisme para aparat yang melakukan penilaian. Inilah tantangan terberat yang harus kita pecahkan demi tercapainya kemajuan kesenian Indonesia yang mampu bersaing di dunia Internasional.

            Menurut saya sertifikat seniman yang hendak diberikan kepada para seniman yang terampil dan berbobot ini merupakan salah satu harta kekayan Immaterial, yaitu hak-hak atas hal-hal yang tidak dapat dilihat/dirasa. Saya sebut sebagai salah satu harta kekayaan karena hal ini menyangkut hubungan antara subyek hukum (seniman) dengan obyek hukum (karya seni yang dihasilkan) dan hubungan hukum yang terjadi (bisa berupa hak cipta dan atau sertifikat seniman). Kasus “Problema Sertifikat Seniman” ini menurut saya masuk dalam ruang lingkup hukum harta kekayaan karena menyangkut suatu hubungan hukum kebendaan antara dua pihak atas dasar mana satu pihak berhak atas suatu prestasi, berdasarkan mana pihak lain wajib berprestasi dan bertanggung jawab atasnya. Dalam kasus ini seorang seniman berhak atas pengakuan dari prestasi yang telah ia ciptakan berupa karya seni (hak cipta), atau pengakuan terhadap kemampuan / prestasi yang ia miliki dalam menciptakan karya karya seni berbobot (berkualitas tinggi) yang berupa sertifikat seniman.

4 Komentar

Yeni Meitasari

pada : 01 June 2012


"LIKE THIS...!!"


Alhada

pada : 18 July 2012


"Thank you..."


svyfzgahNrYUvXyHODE

pada : 21 July 2012


"salah satu kelebihan dari anmsaii made in luarnegeri adalah sarat dengan pesan dan nasihat kehidupan, namun tidak menggurui,terimakasih kawan sudah berbagi pesan dibalik spongebob anime ;-)"


ThGaHeCKQTBJORWt

pada : 23 July 2012


"Liya Fadliany / Sukses buat TIM kesenian Sanggar Seni AL ASHRI massakar SUL-SEL pimpinan:ibu Ir.Hj.Aliah Erlina ,M,Si..dan di bawah bimbingan ibu HARIANTI TAHERA,S.Sos ."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :