MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Kontrol Sosial Dan Perilaku Menyimpang

diposting oleh alhada-fisip11 pada 20 April 2012
di Makalah - 6 komentar

 

 

KATA PENGANTAR




            Puji syukur kami panjatkan pada kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan tugas makalah sosiologi yang berjudul “KONTROL SOSIAL dan PERILAKU MENYIMPANG” tepat pada waktunya.

Kami menyadari bahwa makalah yang kami selesaikan ini masih jauh dari kesempurnaan. Seperti halnya pepatah “ tak ada gading yang tak retak “, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua kalangan yang bersifat membangun guna kesempurnaan makalah kami selanjutnya.

            Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Serta kami berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi semua kalangan.
Amin

                                                                                                Surabaya, 21 Oktober 2011

                                                                                                             PENYUSUN





BAB I

PENDAHULUAN  



A. Latar Belakang
          Di dalam masyarakat pasti banyak terdapat berbagai aturan yang berlaku dalam masyarakat baik aturan yang tertulis maupun tidak tertulis. Berbagai larangan yang berlaku sudah barang tentu tidak hanya berwujud rambu-rambu yang sederhana saja, melainkan juga terdapat rambu-rambu yang  jumlahnya lebih banyak dan kompleks. Rambu-rambu itu bisa berupa norma, nilai, aturan, undang-undang dan sebagainya. Semua rambu-rambu itu mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk mengatur dan mengarahkan perilaku dan hubungan antar-anggota masyarakat agar tidak saling merugikan atau menyimpang dari kesepakatan yang telah ditentukan sepanjang semua anggota masyarakat bersedia untuk mentaati dan tidak melanggar aturan yang berlaku. Oleh karena itu makalah ini kelompok kami menjelaskan mengenai kontrol sosial dan perilaku menyimpang.
 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah pengertian dari kontrol sosial ?
  2. Apa saja bentuk-bentuk dan sarana dari kontrol sosial ?
  3. Bagaimana akibat yang ditanggung bagi para pelanggar kontrol sosial ?
  4. Siapakah agen-agen dari kontrol sosial ?
  5. Apakah pengertian dari perilaku menyimpang ?
  6. Apa saja bentuk-bentuk dari perilaku menyimpang ?
  7. Bagaimana kategori perilaku yang dikatakan sebagai perilaku menyimpang ?
  8.  Apakah Sebab-sebab terjadinya perilaku menyimpang ?
  9. Apa sajakah teori-teori perilaku menyimpang ?
  10. Contoh konkrit kontrol sosial bagaimanakah yang kami identifikasi ?
  11. Contoh perilaku menyimpang bagaimanakah yang kami identifikasi ?

 

C. Tujuan

  1. Menjelaskan pengertian kontrol sosial
  2. Menjelaskan bentuk-bentuk dan sarana dari kontrol sosial
  3. Menjelaskan akibat yang ditanggung bagi para pelanggar kontrol sosial
  4. Menjelaskan agen-agen dari kontrol sosial
  5. Menjelaskan pengertian dari perilaku menyimpang
  6. Menjelaskan bentuk-bentuk dari perilaku menyimpang
  7. Mengidentifikasi perilaku yang dikatakan sebagai perilaku menyimpang
  8. Menjelaskan sebab-sebab terjadinya perilaku menyimpang
  9. Menjelaskan teori-teori perilaku menyimpang
  10. Mengidentifikasi contoh konkrit kontrol sosial
  11. Mengidentifikasi contoh perilaku menyimpang  

 




BAB II

PEMBAHASAN



A. Pengertian Kontrol Sosial
Kontrol sosial menurut para pakar :

  • Peter I. Berger

adalah berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggota yang membangkang.

  • Roucek & Warren

adalah proses yang terencana atau tidak terencan untuk mengajar individu agar dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan nilai-nilai kelompok tempat mereka tinggal.

  • Soejono Soekanto

adalah suatu proses baik yang direncanakan atau tidak, yang bertujuan untuk mengajak, membimbing bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang berlaku.
 
Jadi, Kontrol sosial dapat disimpulkan sebagai semua cara yang atau sarana yang digunakan untuk mengendalikan tingkah laku warga masyarakat agar mematuhi nilai-nilai dan kaidah yang berlaku.
   
B. Bentuk-Bentuk dan Sarana Kontrol Sosial
Pengendalian sosial (kontrol sosial) bisa dipahami dalam berbagai dimensi antara lain: berdasarkan sifatnya (preventif dan represif), cara pelaksanaannya (persuasif dan koersif), dan jumlah perilaku serta sasaran yang ditinjau (individu dan kelompok).

 Dilihat dari dimensi sifatnya
      1. Upaya Preventif : upaya pengendalian sosial yang dilakukan sebelum terjadinya penyimpangan sosial, yang dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran sosial.
Contoh: melalui proses sosialisasi tentang ajakan untuk men-ciptakan pemilu yang damai.
   
     2. Upaya Represif : upaya pengendalian sosial yang dilakukan setelah terjadinya pelanggaran sosial, yang dilakukan untuk mengembalikan kedamaian dan ketertiban masyarakat seperti semula.
Contoh: penjatuhan hukuman penjara terhadap pidana korupsi.

Dilihat dari dimensi cara pelaksanaannya
1.  Cara Persuasif : upaya pengendalian sosial yang dilakukan dengan menekankan tindakan yang sifatnya mengajak atau membimbing masyarakat agar bersedia bertindak sesuai dengan norma yang berlaku.
Contoh: seorang guru menasihati siswanya yang membolos sekolah.

2.  Cara Koersif : upaya pengendalian yang dilakukan dengan melakukan tindakan yang sifatnya memaksa masyarakat agar bertindak sesuai dengan norma yang berlaku.
Contoh: penggusuran PKL oleh petugas ketertiban.

Dilihat dari dimensi pelaku dan sasarannya
1. Pengendalian sosial yang dilakukan individu terhadap individu lain.
Contoh: seorang guru memperingatkan seorang siswa yang membolos sekolah.

2. Pengendalian sosial yang dilakukan individu terhadap kelompok.
Contoh: seorang polisi yang memperingatkan sekelompok remaja yang melanggar lalu lintas,

3. Pengendalian sosial yang dilakukan kelompok terhadap individu.
Contoh: beberapa orang polisi yang memperingatkan seorang remaja yang mengendarai mobil melebihi batas kecepatan.
 

4. Pengendalian sosial yang dilakukan kelompok terhadap kelompok lain
Contoh: penyuluhan yang dilakukan sekelompok relawan kepada para siswa agar menghindari pemakaian narkoba.

 C. Sarana Kontrol Sosial

1.    Sanksi ( punishment )
                       Sanksi ditujukan untuk menekan warga masyarakat dengan pemberian pembebanan penderitaan bagi siapa saja yang melanggar norma yang berlaku

Macam-macam sanksi: .

  1. Sanksi ekonomi, yaitu pembebanan penderitaan ekonomi. Seperti: denda, ganti rugi, dll.
  2.  Sanksi Fisik, yaitu pembebanan penderitaan fisik. Seperti: dipukul, dicambuk, dipacung, dll.
  3.  Sanksi Psikologis, yaitu pembebanan penderitaan kejiwaan. Seperti: dicemooh, diejek, dipermalukan di depan umumm dll.

 
2.      Penghargaan ( Reward )
                 Berfungsi sebagai sarana kontrol sosial yang bekerja secara preventif.



Macam-macam reward:
1.  Reward Ekonomi, misalnya: rangsangan diberi uang atau benda-benda ekonomi yang lain.
2.  Reward Fisik, misalnya: dibelai, dicium, dll.
3.  Reward Psikologis, misalnya: disanjung, dipuji, dll.

Akibat yang Ditanggung Bagi Pelanggar Kontrol Sosial

Adapun sanksi yang akan ditanggung atau diperoleh bagi para pelanggar kontrol sosial adalah sebagai berikut :

  • Mendapatkan sanksi berupa hukuman pidana, apabila pelanggaran  yang dilakukan tersebut melanggar hukum yang tertulis yang ada di Indonesia.

Misal: Pembunuhan berencana melanggar pasal 351 KUHP.

  • Mendapatkan sanksi berupa digosipkan/pengucilan di kalangan masyarakat sekitar, apabila pelanggaran tersebut melanggar norma dan nilai dalam masyarakat.

Misal: Seorang wanita bekerja di club malam yang setiap harinya selalu pulang di pagi hari. Maka dengan adanya hal itu, masyarakat sekitar menilai bahwa wanita tersebut dapat dikategorikan sebagai wanita nakal.

D. Agen-agen Kontrol Sosial

Di dalam masyarakat, terdapat lembaga sosial yang berperan penting dalam melaksanakan pengendalian sosial (kontrol sosial), diantara lembaga tersebut adalah:

1. Aparat Kepolisian
Pihak yang paling utama yang mempunyai mandat sebagai penegak hukum dan bertugas untuk mengatur ketertiban, keamanan, dan keselamatan masyarakat di berbagai tempat dan waktu.

2. Peradilan
Lembaga peradilan berfungsi memberikan putusan hukum kepada warga masyarakat yang melakukan pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku.
 
3. Tokoh Masyarakat
Tokoh masyarakat yaitu individu-individu yang dianggap mempunyai pengaruh atau wibawa tertentu oleh warga masyarakat lain. Orang tersebut biasanya disegani dan dihormati. Dia diharapkan mampu mencegah terjadinya berbagai perilaku menyimpang di masyarakat.


4. Adat Istiadat
Adat istiadat merupakan tindakan sosial yang ada di masyarakat yang masih memegang teguh tradisi. Warga masyarakat yang melanggar adat/tradisi akan dikenakan sanksi, sanksi tersebut bisa pengucilan dari warga masyarakat sekitar.

E.  Pengertian Perilaku Menyimpang
Pengertian perilaku menyimpang menurut para pakar:

  • Soerjono Soekanto

Perilaku menyimpang adalah penyimpangan terhadap kaidah-kaidah dan nilai-nilai dalam masyarakat.

  • John J. Macionis

Perilakun menyimpangan adalah pelanggaran terhadap norma-norma dalam      masyarakat.

  • Robert M.Z. Lawang

Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial, dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwewenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang,
 

          Jadi, dapat disimpulkan bahwa perilaku menyimpang  adalah suatu perilaku yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang dianggap melanggar kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku pada suatu masyarakat atau kelompok.

F. Bentuk-Bentuk Perilaku Menyimpang

          Perilaku menyimpang dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria atau sudut pandang.

Berdasarkan Sifatnya
1.      Penyimpangan bersifat positif adalah: penyimpangan yang mempunyai dampak positif terhadap sistem sosial karena mengandung unsur-unsur  inovatif, kreatif, dan memperkaya wawasan seseorang.
                      Contoh: Emansipasi wanita yang melahirkan wanita karir.

2.      Penyimpangan bersifat negatif adalah penyimpangan yang bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dianggap rendah dan selalu mengakibatkan hal yang buruk.
                      Contoh: penggunaan narkoba.


Berdasarkan Jenisnya

1.    Penyimpangan primer (primary deviation) adalah: penyimpangan yang dilakukan seseorang yang hanya bersifat temporer dan tidak berulang-ulang ,serta masih bisa dimaklumi dan si pelaku masih bisa di terima dalam masyarakat.
                       Contoh: karena sesuatu hal seseorang tidak bisa ikut serta dalam siskamling   
                                      Bersama.

2.      Penyimpangan sekunder (secondary deviation) adalah: perilaku menyimpang yang nyata dan seringkali terjadi, sehingga berakibat cukup parah serta menganggu orang lain.
Contoh: orang yang terbiasa minum-minuman keras dan selalu pulang dalam keadaan mabuk.

Berdasarkan Bentuknya
1.      Perilaku menyimpang yang bukan merupakan kejahatan adalah: suatu perilaku menyimpang yang tidak termasuk tindakan pidana.
Contoh: Orang tua yang masih suka bermain kelereng.
 
2.      Perilaku menyimpang yang merupakan kejahatan (crime) adalah: suatu perilaku menyimpang yang dikenakan sanksi pidana.
Contoh: Pencurian, pembunuhan.

3.      Kenakalan Remaja (Jouvenile Delequency) adalah: perilaku menyimpang yang umumnya dilakukan oleh remaja.
Contoh: Perkelahian antar remaja.

Berdasarkan Perilakunya
1.    Penyimpangan Individual Individual Deviation ) adalah penyimpangan yang dilakukan oleh orang yang telah mengabaikan dan menolak norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
 Contoh: seorang anak yang ingin menguasai warisan orang tuanya. Ia mengabaikan saudaranya yang lain. Ia menolak norma-norma tentpembagian warisan menurut adat masyarakat maupun menurut norma agama. Ia menjual semua peninggalan harta orang tuanya untuk kepentingan diri sendiri.

Penyimpangan yang bersifat individual sesuai dengan kadar penyimpangannya dibedakan atas:
1) Pembandel, yaitu penyimpangan karena tidak patuh pada nasihat orang tua agar mengubah pendiriannya yang kurang baik.
2) Pembangkang, yaitu penyimpangan karena tidak taat pada peringatan orang-orang.
3) Pelanggar, yaitu penyimpangan karena melanggar norma-norma umum yang berlaku. Misalnya orang yang melanggar rambu-rambu lalu lintas pada saat di jalan raya.
4) Perusuh atau penjahat, yaitu penyimpangan karena mengabaikan norma-norma umum sehingga menimbulkan kerugian harta benda atau jiwa di lingkungannya.    Misalnya pencuri, penjambret, penodong, dan lain-lain.
5) Munafik, yaitu penyimpangan karena tidak menepati janji, berkata bohong, berkhianat, dan berlagak membela.

2.    Penyimpangan Kelompok ( Group Deviation ) adalah : tindakan penyimpangan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tunduk pada norma kelompoknya, namun bertentangan dengan norma yang berlaku.
 Contoh: sekelompok orang yang menyelundupkan serta menyalahgunakan narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya.

G. Perilaku yang Digolongkan sebagai Perilaku Menyimpang

      Secara umum yang digolongkan sebagai perilaku menyimpang adalah sebagai berikut:
1.      Tindakan yang nonconform
yaitu: perilaku yang tidak sesuai dengannilai-nilai dan norma-norma yang ada.
Contoh tindakan nonconform:
-          Membolos sekolah,
-          Merokok di area parkir,
-          Membuang sampah sembaranagan,
2.      Tindakan Asosial
yaitu: tindakan yang melawan kebiasaan masyarakat dan kepentingan umum.
Contoh tindakan asosial:
-          Minum-minuman keras,
-          Menggunakan narkoba,
-          Terlibat di dunia prostitusi.
3.      Tindakan-tindakan kriminal
yaitu: tindakan yang nyata-nyata telah melanggar aturan hukum tertulis dan mengancam keselamatan orang lain.
Contok tindakan kriminal:
-          Korupsi,
-          Pembunuhan,
-          Pencurian.

H. Sebab-Sebab Perilaku Menyimpang
          Menurut Wilnes dalam bukunya yang berjudul Punishment and Reformation sebab-sebab penyimpangan atau kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut :

  • Faktor subjektif adalah: faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (merupakan sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir).
  • Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan). Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua dan anak yang tidak serasi.


Beberapa penyebab terjadinya perilaku menyimpang:

  1. Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan yang ada di masyarakat.. Seseorang yang tidak sanggup menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam kepribadiannya, ia tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak pantas. Keadaan itu terjadi akibat dari proses sosialisasi yang tidak sempurna.

Misalnya: karena seseorang tumbuh dalam keluarga yang retak (broken home). Apabila kedua orang tuanya tidak bisa mendidik anaknya dengan sempurna maka anak itu tidak akan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai anggota keluarga.

     2. Proses belajar yang menyimpang. Seseorang yang melakukan tindakan menyimpang karena seringnya membaca atau melihat tayangan tentang perilaku menyimpang. Hal itu merupakan bentuk perilaku menyimpang yang disebabkan karena proses belajar yang menyimpang.

Misalnya:  karier penjahat kelas kakap yang diawali dari kejahatan kecil-kecilan yang terus meningkat dan makin berani/nekad merupakan bentuk proses belajar menyimpang.

    3. Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkan terjadinya perilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia mengupayakan peluang itu sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang.

Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang umumnya berhubungan dengan beberapa kelompok. Jika pergaulan itu mempunyai pola-pola perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan ia juga akan mencontoh pola-pola perilaku menyimpang.


I. Teori-Teori Perilaku Menyimpang

  • Teori Pergaulan Berbeda ( Differential Association )

Teori ini dikemukakan oleh Edwin H. Sutherland . Menurut teori ini, suatu penyimpangan bersumber dari pergaulan dengan sekelompok orang yang telah menyimpang terlebih dulu. Penyimpangan type ini diperoleh melalui proses alih budaya (cultural transmission) .

        Contoh: perilaku siswa yang suka bolos sekolah. Perilaku tersebut dipelajarinya dengan melakukan pergaulan dengan orang-orang yang sering bolos sekolah. Melalui pergaulan itu ia mencoba untuk melakukan penyimpangan tersebut, sehingga menjadi pelaku perilaku menyimpang.

 

  • Teori Labelling

Teori ini dikemukakan oleh Edwin M. Lemert . Menurut teori ini, seseorang menjadi penyimpang karena proses labelling yang diberikan masyarakat kepadanya. Maksudnya adalah pemberian julukan atau cap yang biasanya negatif kepada seseorang yang telah melakukan penyimpangan primer (primary deviation )

Contoh: pencuri, penipu, pemabuk, dan sebagainya. Sebagai tanggapan terhadap cap itu, si pelaku penyimpangan kemudian mengidentifikasikan dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi lagi penyimpangannya sehingga terjadi dengan penyimpangan sekunder ( secondary deviation) . Alasannya adalah sudah terlanjur basah atau kepalang tanggung.

 

  • Teori Anomie

Teori ini dikemukakan oleh Robert Merton. Menurut teori ini, bahwa perilaku menyimpang adalah akibat dari adanya berbagai ketegangan dalam suatu struktur sosial sehingga ada individu-individu yang mengalami tekanan dan akhirnya berprilaku menyimpang.

 

  • Teori Konflik

  Teori ini dikembangkan oleh penganut Teori Konflik Karl Marx . Para penganut teori ini berpandangan bahwa kejahatan terkait erat dengan perkembangan kapitalisme. Sehingga perilaku menyimpang diciptakan oleh kelompok kelompok berkuasa dalam masyarakat untuk melindungi kepentingan mereka sendiri. Pandangan ini juga mengatakan bahwa hukum merupakan cerminan kepentingan kelas yang berkuasa dan sistem peradilan pidana mencerminkan nilai dan kepentingan mereka.

 

  • Teori Sosialisasi

Teori ini dikembangkan oleh Edwin H Sutherland. Teori ini berasumsi bahwa perilaku menyimpang adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atas suatu sikap dan tindakan yang dipelajari dari norma-norma yang menyimpang.

 

  • Teori Disorganisasi Sosial

Teori yang didasarkan pada karya William I. Thomas dan Florian Znaniecki, bahwa teori Disorganisasi sosial berasumsi perilaku menyimpang terjadi karena dalam masyarakat itu terdapat organisasi sosial atau tatanan sosial yang tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Dengan demikian disorganisasi sosial adalah kekacauan sosial.

 

J. Contoh Perilaku Menyimpang Pertama Yang Kami Amati Di lingkungan Sekitar (Kasus Pencopetan) 

          Perilaku menyimpang yang kami jadikan contoh yaitu kasus pencopetan di GRAND CITY MALL SURABAYA. pada tanggal 14 oktober 2011 pukul 21.00 wib tepatnya pada saat acara konser salah satu boy band terkenal di indonesia yaitu SMASH.kasus pencopetan tersebut di anggap menyimpang karena merugikan salah satu pihak berupa uang dan materi lainnya yang ada di dalam dompet korban pencopetan.kami mengamati kasus tersebut dari awal kejadian sampai terakhir.pada mulanya korban adalah pasangan remaja pria dan wanita yang hendak pulang setelah menyaksikan konser,tiba-tiba ada seorang lelaki muda yang berperawakan kecil dengan rambut pendek dan menggunakan pakaian kaos berwarna hitam dengan jaket kulit berwarna coklat serta menggunakan celana jeans mendekati si korban. Dan mengambil dompet yang ada di saku wanita tersebut yang berperawakan kecil,kurus,berambut lurus,dan berkulit putih.lantas pencopet tersebut membawa dompet itu kabur dengan wajah yang tenang seolah olah tidak terjadi apa-apa.namun wakita tersebut merasa bahwa ada yang mengambil dompetnya dan langsung berusaha mengejar pencopet tersebut dengan berteriak-teriak kemudian si pelaku pencopet tersebut berhasil di tangkap oleh petugas keamanan setempat. Dan seketika itu juga banyak orang yang berkerumunan mendekati kedua belah pihak yang berseteru. Dan dari pengamatan kami pencopet tersebut sebenarnya berkelompok dan telah merancang aksi tersebut dengan sistem yang sangat rapi.pencopet tersebut sepertinya sudah mempunyai sistem pembagian tugas yang telah direncanakan sebelumnya.ada bagian yang mengambil dompet,kemudian di salurkan ke temannya kemudian di salurkan lagi kepada temannya lagi dan begitu seterusnya.Dan menurut pengamatan kami yang terakhir pencopet tersebut memberikan kepada temannya yang menyamar sebagai tukang becak.sehingga setelah pencopet tersebut di tangkap oleh petugas keamanan setempat barang bukti yang mereka cari tidak di temukan di tubuh pencopet tersebut.sebenarnya korban tersebut yakin dan sudah menyakinkan pihak keamanan bahwa orang yang di periksa tersebut benar-benar adala sang pencopet yang telah mencopet dompetnya namun karena barang bukti tidak ada petugas keamanan tidak bisa berbuat banyak dan akhirnya melepas pencopet tersebut,akhirnya wanita tersebut hanya bisa menangis dalam pelukan kekasihnya yang sangat mesra dan mengharukan.

Bentuk-bentuk Penyimpangan dari kasus ini yaitu:

  • Dilihat dari Faktor Penyebab

Dorongan kebutuhan Ekonomi

Alasannya karena pencopet tersebut melakukan perilaku menyimpang untuk mencari uang demi terpenuhinya kebutuhan hidup termasuk makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Namun cara yang mereka lakukan salah dan tidak halal mungkin karena sempitnya lapangan pekerjaan sehingga mereka tidak mempunyai pekerjaan yang layak.

  • Dilihat dari Intensitasnya
    • Termasuk Penyinpangan Sekunder

Alasannya karena perbuatan mencopet sudah tidak bisa diterima oleh masyarakat dan pelaku dapat disebut sebagai pencopet

  • Dilihat dari Pelakunya
    • Termasuk Penyimpangan Kelompok

Alasannya karena pencopet tersebut melakukan aksinya tidak sendirian melainkan dengan teman / kelompoknya

  • Dilihat dari Sifatnya
    • Termasuk Penyimpangan Negatif

Alasannya karena merugikan orang lain dan berdampak buruk yaitu membuat konban kehilangan uang dan materi lain yang ada di dompet yang mengakibatkan korban rugi dan bersedih

  • Dilihat dari Bentuknya
    • Termasuk Kejahatan

Alasannya karena tindakan tersebut telah jelas melanggar norma dan nilai masyarakat serta termasuk kasus kriminal yang dapat dikenakan sanksi hukum

 

Bentuk-bentuk Kontrol Sosialnya yaitu:

  • Dilihat dari Sifat dan Tujuannya

Bersifat Represif

Alasannya karena pengendalian sosial tersebut dilakukan setelah terjadinya kasus pencopetan

  • Dilihat dari Asal Datangnya Pengaruh

Kontrol Sosial Berpribadi

Alasannya karena keadaan tersebut dapat tenang karena adanya seseorang yang berpengaruh yaitu petugas keamanan setempat (Satpam) yang menenagkan pertikaian tersebut

  • Dilihat dari Polanya

Pengendalian Individu Terhadap Kelompok

Alasannya karena petugas keamanan yang menyelasaikan kasus ini hanya satu sementara yang bertikai baik korban maupun pelaku lebih dari satu (Berkelompok)

  • Dilihat dari Resmi Tidaknya

Bersifat Tidak Resmi

Penyelasaian kasus ini hanya berbentuk kompromi dan penggeledahan yang dilakukan kepada tersangka tanpa melalui peraturan / hukum yang jelas

  • Dilihat dari Prosesnya

Secara Persuasif

Karena dilakukan dengan cara kompromi (Musyawarah) dengan saling brdialog tanpa melakukan tindakan kekerasan dan paksaan sedikitpun

  • Dilihat dari Caranya

Secara Informal melalui Kompromi

Disebut informal karena dalam penyelesaian kasus ini tanpa melalui lembaga khusus yang bersifat formal

  • Dilihat dari Lembaga yang Mengurusi

Diurus oleh Petugas Bagian Keamanan (Satpam)

Penyelasaian kasus ini dilakukan secara mediasi oleh petugas keamana setempat

            Penyebab dari adanya kasus pencopetan tersebut menurut kami adalah karena adanya kesempatan, motif ekonomi untuk mendapatkan penghasilan, pengaruh dari teman-temanya dan lain sebagainya. Dan agen kontrol sosial dalam kasus tersebut adalah petugas bagian keamanan di parkiran Grand City, karena sebagai wasit atau penengah dari kedua belah bihak dan juga sebagai penyelesai dari sengketa tersebut, walau pun hasilnya tidak memuaskan dan tidak bisa menemukan barang bukti yang di inginkan.

 

K. Contoh Perilaku Menyimpang Ke-2 yang Kami Temui Di Lingkungan Sekitar (Kasus Pembobolan Pagar Pembatas)

          Perilaku menyimpang ke-2 yang kami identifikasi yaitu Kasusu Pembobolan Pagar Pembatas yang dilakukan oleh para penonton konser pada acara Konser SMASH di Grand City Mall pada tanggal 14 Oktober 2011 sekitar pukul 20.30 WIB. Perilaku ini kami identifikasikan sebagai salah satu perilaku menyimpang karena bisa berakibat fatal dan membahayakan penonton lain yang sudah ada di dalam lokasi untuk melihat konser. Pada mulanya kami datang ke lokasi tepat pukul 19.00 WIB dengan santai dan kami anggap acara konser akan berjalan sebagai mana mestinya seperti kemarin. Kemudian sebelum kami menuju ke lokasi konser kami jalan-jalan dulu ke lokasi stan bazar yang ada di sana. Sampai tiba sekitar pukul 21.30 kami menuju ke lokasi konser dan ternyata pagar pembatas untuk masuk ke lokasi telah di tutup karena jumlah penonton yang melebihi kapasitas tempat. Suasana sempat ricuh karena perdebatan antara kelompok polisi sebagai pihak keamanan dan para penonton yang ingin masuk ke lokasi untuk melihat konser para idolanya. Dengan adannya kelompok polisi sebagai lembaga kontrol sosial akhirnya suasana menjadi cukup tenang dan tertib. Namun ketika SMASH sang idolanya itu tampil suasana berubah drastis menjadi kacau, risuh, dan tidak aturan. Semua penonton berusaha keras agar dapat melihat idolanya tersebut secara langsung dan jelas. Mereka berusaha menerobos pagar pembatas dengan melompat pagar dan menaiki meja-meja yang ada di dekat mereka, seakan tidak memperdulikan apa pun. Polisi berusaha menahan mereka semua yang berusaha masuk namun kerena jumlah penonton yang tidak sebanding dengan jumlah polisi banyak diantara mereka yang berhasil masuk dan menerobos pagar pembatas. Akibat dari penyimpangan sosial tersebut yaitu lebih dari 100 orang penonton pingsan karena sesak nafas, kepanasan, dan terhimpit-himpit oleh penonton lain. Akhirnya pihak managemend Jatim Fair mengambil keputusan untuk membubarkan dan mengakhiri konser tersebut. Sehingga Boy Band SMASH hanya menampilkan 3 buah lagu dan langsung mengakhiri konser mereka.

Bentuk-bentuk Penyimpangan dari kasus ini yaitu:

  • Dilihat dari Faktor Penyebabnya
    • Pelampiasan Rasa Kecewa

Karena para penonton tersebut kecewa tidak bisa melihat idolanya secara langsung, padahal mereka sudah susah payah datang ke Grand City demi melihat penampilan dari SMASH secara langsung dengan mengorbankan uang, waktu, dan lain sebagainya. Sehingga ketika mereka dihadang masuk oleh petugas keamanan mereka memberontak agar tetap bisa masuk untuk menonton konser Boy Band idolanya tersebut.

  • Dilihat dari Intensitasnya
    • Termasuk Penyimpangan Primer

Karena penyimpangan ini masih bisa diterima oleh masyarakat dan pelakunya tidak disebut sebagai pembobol / peloncat pagar

  • Dilihat dari Pelakunya
    • Termasuk Penyimpangan Kelompok

Karena dilakukan oleh kelompok sosial yang disebut kerumunan orang yang sedang menonton konser tersebut

  • Dilihat dari Sifatnya
    • Termasuk Penyimpangan Negatif

Kerena hal ini berdampak negatif atau merugikan diri sendiri maupun orang lain sebab dapat menimpulkan kepadatan tempat yang bisa berakibat terjadinya sesak nafas, rasa panas, dan pingsan

  • Dilihat dari Bentuknya
    • Termasuk Kenakalan Remaja

Karena perilaku menyimpang ini dilakukan oleh remaja yang sedang menonton konser idolanya

 

Bentuk-bentuk Kontrol Sosialnya yaitu:

  • Dilihat dari Sifat dan Tujuannya

Bersifat Represif

Karena kontrol sosial ini dilakukan setelah terjadinya kasus pembobolan pagar pembatas (melompat pagar) sehingga karena tidak direncanakan sebelumnya kontrol sosial ini tidak berjalan maksimal dan pelaku pelompatan pagar tidak dapat dihalau dengan maksimal

  • Dilihat dari Asal Datangnya Pengaruh

Kontrol Sosial Berpribadi

Pengaruh yang diberikan sebagai kontrol sosial untuk menangani kasus ini berasal dari pihak kepolisian

  • Dilihat dari Resmi Tidaknya

Bersifat Tidak Resmi

Penyelesaian kasus ini dengan cara paksaan dalam bentuk tindakan mendorong yang dilakukan oleh pihak kepolisian untuk mendorong penonton yang berusaha menerobos pagar pembatas tanpa ada hukum dan aturan yang jelas

  • Dilihat dari Prosesnya

Secara Koersif

Proses penyelesaian kasus ini dengan cara paksan dan tindakan fisik yaitu mendorong para pelaku pembobolan pagar pembatas yang dilakukan oleh pihak kepolisian

  • Dilihat dari Polanya

Pengendalian Kelompok Terhadap Kelompok

Kontrol sosial ini dilakukan oleh kelompok polisi untuk mengontrol prilaku menyimpang kelompok sosial penggemar SMASH yang berbentuk kerumunan

  •  Dilihat dari Caranya

Secara Informal melalui Intimidasi (Paksaan)

Cara pengendalian sosial dilakukan dengan fisik berupa pencegahan dan pendorongan para penonton yang hendak melompat pagar pembatas yang dilakukan oleh pihak kepolisian

  • Dilihat dari Lembaga yang Mengurusi

Diurus oleh Pihak Kepolisian

Dalam kasus ini pihak yang sebagai kontrol sosial yaitu sekelompok polisi yang menjaga berpencar mengelilingi pagar pembatas

Penyebab dari adanya kasus ini yaitu karena kurangnya kesadaran diantara para penonton akan pentingnya keselamatan diri mereka sendiri dan orang lain di sekitarnya. Mereka hanya mementingkan kepuasan sesaat untuk melihat langsung idolanya. Selain itu pihak managemant kurang bisa mengeola keadaan dengan baik. Seharusnya jumlah penjualan tiket dibatasi atau menyediakan lokasi yang lebih luas dan terbuka agar dapat menampug penonton yang banyak dengan kondisi yang memadahi.

 






BAB III

PENUTUP



A. Kesimpulan
Perilaku menyimpang merupakan suatu prilaku atau tindakan yang dilakukan seseorana atau kelompok orang yang melanggar norma-norma, nilai-nilai serta kaidah-kaidah yang berlaku dalam masyarakat yang mengakibatkan terjadinya gangguan terhadap ketertiban dan keamanan masyarakat. Perilaku ini umumnya disebabkan karena individu atau kelompok tersebut tidak dapat menyerap nilai-nilai dan norma-norma kedalam dirinya, sehingga ia tidak dapat membedakan mana prilaku yang pantas dilakukan dan mana prilaku yang tidak pantas untuk dilakukan.
Agar jumlah perilaku menyimpang itu tidak meningkat, maka diperlukan adanya suatu lembaga yang bertugas sebagai lembaga pengendalian sosial (pengontrol sosil), karena lembaga pengendalian sosial tersebut sangat penting dalam menyelesaikan perilaku menyimpang, supaya terciptanya kehidupan yang aman dan tertib dalam masyarakat tersebut. Beberapa diantara lembaga pengendalian sosial diantaranya: Aparat kepolisian, peradilan, adat istiadat, tokoh masyarakat, dan sebagainya.

B. Saran
Kami menyarankan agar kita selalu waspada terhadap perilaku menyimpang yang ada di sekitar kita. Sebab perilaku menyimpang terjadi tidak hanya karena adanya rencana sebelumnya namun juga karena adanya kesempatan. Selain itu kita juga harus membiasakan diri hidup sesuai dengan nilai dan norma yang dinut oleh masyarakat secara umum yang baik dan bermanfaat, demi terciptanya keteraturan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.



DAFTAR PUSTAKA


 

  • Narwoko J.Dwi,Bagong Suyanto.2011.Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
  • Saptono, Bambang Suteng.2006.Sosiologi untuk SMA Kelas X.Jakarta:Phibeta.
  • Sutomo dkk. 2007. Sosiologi Untuk SMA kelas X Semester 2. Malang: Gramedia Indotama

 

6 Komentar

hsApTXwBQFx

pada : 21 July 2012


"Hallo anak nongkrong blog,Numpang kealann lagi ma rumah baru nih mel, yg lama dah ilang dari peradaban dunia maya. Tlg di link lagi yak , jzk.SUKSES SELALU! :)-adr-"


yHEahmDRUsEknpbusE

pada : 23 July 2012


"Elf dan peri memang bdeebra, meskipun mereka serumpun. Elf mempunyai derajat lebih tinggi dari pada peri. Elf menyebut peri dengan sebutan Illid atau Illidan (sebutan elf untuk bangsa-bangsa selain high-elf). orc menyebut bangsa selain high-elf dengan sebutan Ilid sedangkan untuk high-elf mereka sebut Albai . Sebenarnya nona Khli tidak perlu repot-repot untuk menjadi seorang telepator karena ada tempat-tempat tertentu yg memang bisa dijadikan sebagai portal . Perpindahan yang dilakukan bangsa-bangsa elf tidaklah sesulit seperti bangsa manusia karena mereka memiliki kemampuan supranatural yang sangat tinggi. Mereka mampu membuat portal-portal yang dapat membawa mereka ke tempat lain dalam sekejap mata sesuai fasilitas portal yang mereka bangun. Saya kira cukuplah komentar yang saya tulis ini dalam menanggapi persoalan yang dihadapi nona Khli, terima kasih "


silvia

pada : 12 September 2012


"isiny sangat membuahkan hasil...
dan kata" ny mmudah untuk di mengerti..."


indah andria

pada : 12 November 2012


"wah menarik :)"


Natalia

pada : 06 January 2013


"Saya copas ya contoh perilaku menyimpangnya.."


Hyorim

pada : 30 August 2013


"terimakasih atas infonya, ^^"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :