MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Filsafat

diposting oleh alhada-fisip11 pada 20 April 2012
di Makalah - 2 komentar

 

KATA PENGANTAR



       Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah,  karena berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas “Filsafat Ilmu Pengetahuan”, suatu permasalahan yang  sedang di bicarakan dalam mata kuliah Ilmu Filsafat ini

       Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam  pemahaman masalah Filsafat Ilmu Pengetahuan dan sekaligus melakukan apa yang menjadi tugas  mahasiswa  yang mengikuti mata kuliah “Ilmu Filsafat”. Dalam proses pendalaman materi ini,  tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi, dan saran, untuk itu rasa terima kasih kami ucapkan kepada Dosen Ilmu Filsafat dan teman-teman.

       Demikian makalah ini kami buat semoga bermanfaat bagi kita semua. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna maka segala kritik dan saran yang membangun akan kami terima.

 

                                                                                                Surabaya, 25 September 2011

 

                                                                                                              PENYUSUN

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG
 Dalam perkembangan manusia yang dimulai dari zaman pra aksara menuju zaman yang moderen secara tidak langsung juga mengubah pandangan pola pikir manusia yang menyangkut berbagai hal dan dalam suatu pemikiran itu dalam konsep yang berbentuk modern sering disebut ilmu filsafat

Sedangkan perkembangan filsafat itu sendiri dimulai sekitar 1000 SM dimana pada saat itu  pola pemikiran manusia yang mulai terbuka akan hal-hal yang bersifat realistis dan mulai ditinggalkan paham-paham yang bersifat animisme, dinamisme, dll yang mempunyai suatu pemikiran bahwa manusia itu tercipta berdasarkan sesuatu yang kebetulan dan mempercayai sesuatu yang bersifat fatamorgana atau tidak nyata

Sehingga secara tidak langsung tumbuhlah berbagai masyarakat yang bersifat neomoderalis, tapi selain itu terjadi masyarakat yang bersifat tertinggal, dimana pola pikir manusia yang masih terkotak-kotak yang dibatasi dengan sesuatu yang bersifat mitos, dan dari permasalahan tersebut terjadi fenomena yang sangat unik, Maka dari itu kelompok kami mencoba untuk memaparkan tentang fenomena pemikiran manusia yang kami kaji dengan suatu metode modern yang berbasis pada filosofi-filosofi yang berkembang sesuai dengan pola kehidupan yang mulai merasakan revolusi-revolusi yang berpengaruh pada struktur kehidupan masyarakat tersebut

 


 

BAB 2

PEMBAHASAN


 
A.   Apa itu Filsafat?
Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.

Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.

Pengertian Filsafat Secara Etimologi


Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”.

Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".

Munculnya Filsafat


Filsafat, terutama Filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada [agama] lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas.

Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.

Buku karangan plato yg terkenal adalah berjudul "etika, republik, apologi, phaedo, dan krito"

 
B.     ILMU PENGETAHUAN
Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.

Contoh: Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (materiil saja), atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak matahari dan bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat.

Ilmu Pengetahuan Secara Etimologi


Kata ilmu dalam bahasa Arab "ilm" yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan sebagainya.

Syarat-syarat ilmu


Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus tentang apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.

  1. Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
  2. Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
  3. Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
  4. Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.




C.     Apa Itu Filsafat Ilmu Pengetahuan?
       Filsafat ilmu pengetahuan adalah salah satu cabang filsafat. Filsafat pertama-tama adalah sikap: sikap mempertanyakan, sikap bertanya, yaitu bertanya dan mempertanyakan segala sesuatu, mempertanyakan apa saja. Dengan kata lain filsafat sesungguhnya adalah metode, yaitu cara, kecenderungan, sikap bertanya tentang segala sesuatu. Sikap bertanya itu sendiri adalah filsafat, termasuk mempertanyakan “Apa itu filsafat?” Karena itu, ketika kita bertanya “Apa itu filsafat?” kita sesungguhnya berfilsafat dan dengan demikian memperlihatkan secara paling konkret hakikat filsafat itu sendiri.

       Memang pada akhirnya setiap pertanyaan menemukan jawabannya. Tetapi, jawaban ini selalu dipertanyakan lagi. Karena itulah, filsafat dianggap sebagai sesuatu yang bermula dari pertanyaan dan berakhir dengan pertanyaan. (Memang hakikat filsafat adalah bertanya terus-menerus). Filsafat adalah sikap bertanya itu sendiri. Bahkan pertanyaan itu sendiri merupakan sebuah jawaban. Dengan kata lain, filsafat adalah sebuah sistem pemikiran, atau lebih tepat cara berpikir, yang terbuka: terbuka untuk dipertanyakan dan dipersoalkan kembali. Filsafat adalah sebuah tanda dan bukan sebuah tanda seru. Filsafat adalah pertanyaan dan bukan pertanyaan.

       Filsafat berbeda dari ideologi dan dogma. Ideologi dan dogma cenderung tertutup, cenderung menganggap kebenaran tertentu sebagai tidak bisa dipersoalkan dan diterima begitu saja. Sebaliknya, filsafat dan ilmu pengetahuan pada umumnya tidak menerima kebenaran apapun sebagai sesuatu yang telah selesai.

       Memang betul bahwa secara etimologis filsafat itu berarti cinta akan kebenaran; suatu dorongan terus-menerus, suatu dambaan untuk mencari dan mengejar dambaan. Tetapi, dalam pengetian ini, yang pertama-tama mau diungkapkan adalah bahwa filsafat adalah sebuah upaya, sebuah proses, sebuah pencarian, sebuah quest, sebuah perburuan tanpa henti akan kebenaran. Karena itu, cinta (philo) dalam philosophia, tidak dipahami pertama-tama sebagai kata benda yang statis, yang given, melainkan sebagai sebuah kata kerja, sebuah proses. Dalam arti itu, filsafat adalah sebuah sikap yang dihidupi, yang dihayati dalam pencarian, dalam quest, dalam pertanyaan terus-menerus.

       Dalam filsafat ilmu pengetahuan, sikap ini muncul dalam bentuk sikap kritis yang ingin meragukan terus kebenaran yang telah ditemukan. Karena itu pula, apa yang disebut sebagai kebenaran dan yang pada titik tertentu diyakini sebagai kebenaran selalu akan diliputi tanda tanya. Konkretnya dengan berfilsafat, dengan berupaya mencari kebenara, pada akhirnya orang semakin memahami makna segala sesuatu, termasuk makna kehidupan ini, justru karena pencarian terus-menerus tadi.

       Pemahaman yang semakin jelas tentang filsafat. Pertama, filsafat dipahami sebagai upaya, proses, metode, cara, dambaan untuk terus mencari kebenaran. Dambaan ini muncul dalam sikap kritis untuk selalu mempersoalkan apa saja untuk sampai pada kebenaran yang paling akhir, yang paling mendalam. Kedua, filsafat dilihat sebagai upaya untuk memahami konsep atau ide-ide. Dengan bertanya orang lalu berpikir tentang apa yang ditanyakan. Dengan bertanya orang berusaha menemukan jawaban atas apa yang ditanyakan. Maka, muncul ide atau konsep tertentu yang dapat menjawab pertanyaan tadi. Tetapi yang menarik, sebagaimana telah dikatakan di atas, filsafat sebagai sebuah sikap terus mencari, akan mempertanyakan kembali konsep atau ide tadi untuk lebih memahaminya lagi.  Maka akan terjadi proses mempertanyakaun konsep atau ide yang diajukan atas sebuah pertanyaan, dan terus berulang hingga akhirnya akan sampai pada sebuah jawaban final, yang paling ultima, yang paling mendasar, yang paling akhir yang dianggap paling benar.

       Jawaban yang paling akhir dan paling benar itu tidak pernah akan ditemukan. Maka proses bertanya dan bertanya terus-menerus itu akan bergulir terus tanpa henti sebagaimana hakikat filsafat itu sendiri. Yang ditemukan hanyalah jawaban-jawaban sementara dalam bentuk konsep atau ide atau pemikiran tertentu yang kemudian dipertanyakan dan dikritik terus-menerus. Karena itu, filsafat pun akan terus berlangsung tanpa henti. Filsafat tidak pernah menemukan titik akhirnya, sebagai sebuah pencarian dan perburuan akan kebenaran yang tidak mengenal titik akhir. Berkaitan dengan inilah, filsafat sering disebut sebagai ilmu yang berupaya mencari “yang paling akhir”, “yang paling dalam”, dan “yang paling benar”.

       Dengan mengatakan bawha filsafat adalah upaya untuk memahami ide atau konsep, filsafat lalu di lihat pula sebagai “pemikiran tentang pemikiran” atau “berpikir tentang berpikir” (Thinking about thinking). Dengan kata lain, aktifitas seorang filsuf atau ahli filsafat adalah berpikir. Ketika Seorang filsuf sedang berpikir , sesungguhnya ia melakukan “dialog” dalam dirinya tentang apa saja. Ia bertanya dan berusa menemukan jawaban atas pertanyaanya sendiri, tetapi kemudian jawaban itu di sanggah, di kritik, dan di pertanyakannya lagi. Maka, terjadilah proses bertanya dan menjawab dan bertanya dan menjawab terus – menerus tanpa henti. Itulah filsafat, sebuah quest , sebuah pencarian, sebuah question tentang berbagai ide.

       Dengan demikian, filsafat, entah yang di pelajari di kelas, dibaca, didengar, atau dipraktekkan sendiri sesungguhnya mengajak kita untuk mempertanyakan, mempersoalkan, mengkaji, dan mendalami hidup ini dalam segala aspeknya. Sebagaimana di katakan dalam sokrates, “Hidup yang tidak dikaji tidak layak di hidupi,” Artinya, menjalani kehidupan ini tanpa mempersoalkannya sama dengan hidup sebagai orang buta. Maka, salah satu sikap yang akan muncul dengan sendirinya dari filsafat adalah sikap kritis, yakni tetap mempertanyakan apa saja, sikap tidak puas dengan jawaban yang ada, tidak percaya akan apa saja, dan selalu ingin tahu lebih dari yang sudah diketahui, atau sebagaimana dikatakan Rene Descartes, seperti yang akan kita bahas kemudian, sikap menyangsikan dan meragukan segala sesuatu, yang di anggap sebagai metode utama filsafat, dal ilmu pengetahuan pada umumnya.

       Filsafat itu sederhana sekali. Tidak lebih tidak kurang,hanya sikap yang selalu bertanya terus – menerus. Sesuatu yang begitu alamiah, tetapi sekaligus begitu sukar karena manusia selalu cenderung menjadi terbiasa dengan segala yang di alaminya sepanjang hidupnya. Apalagi, seperti dikatakan di atas, kita cenderung terbiasa dengan perintah, pertanyaan, dan larangan sampai hilang kecenderung bertanya, berfilsafat, kecenderungan mencari kebenaran dan lebih senang menerima apa saja yang ada sebagai benar begitu saja. Oleh karena itu pula, filsafat dan berfilsafah, yang sesunggunya sangat sederhana itu, menjadi sulit dan esotoris. Apalagi, karena cenderung bertanya terus – menerus itu kalau diikuti terus akan sampai pada pertanyaan–pertanyaan mendasar yang tidak pernah di tanyakan oleh manusia biasa hanya karena mereka menyepelekannya atau enggan mempertanyakan karena terlalu mendasar. Dalam situasi seperti itu, dibutujkan orang-orang khusus, yang secara khusus mengkhususkan aktifitasnya dengan melanjutkan tugas biasa tadi: Bertanya apa saja. Dari mereka inilah, yang kemudian dikenal dengan istilah khusus sebagai para filsuf, kita belajar banyak hal.

       Filsafat di sebut juga sebagai ratu dan induk semua ilmu pengetahuan; ratu yang memahkotai semua ilmu dengan sikap dasar selalu bertanya ini. Disebut induk karena dari sikap dasar bertanya ini lahirlah berbagain ilmu yang demikian banyak sekarang ini. Tapi, kedua, ada satu perbedaan dasar antara sikap bertanya dalam filsafat dan sikap bertanya dalam semua ilmu lainnya. Dalam filsafat, kita memepertanyakan apa saja dari berbagai sudut, khususnya dari sudut yang paling umum dan mendasar menyangkut hakikat, inti, penegertian paling mendasar. Sedangkan dalam ilmu pengetahuan, yang di pertanyakan hanya satu saja kenyataan yang di gulumi oleh ilmu itu dan di pertanyakan dari sudut pandang ilmu yang bersangkutan. Jadi,  yang di persoalkan filsafat adalah seluruh yaitu kenyataan dari sudut pandang yang paling mendasar.

 
D.    CABANG-CABANG FILSAFAT
Cabang-cabang ilmu filsafat ada banyak namun pada kesempatan ini kami hanya membahas mengenai:

1. Pengertian Epistemologi

Manusia dengan latar belakang, kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, dari manakah saya berasal? Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? Apa hakikat manusia? Tolok ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? Mana pemerintahan yang benar dan adil? Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih? Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Tuntutan fitrah manusia dan rasa ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya.

Pada dasarnya, manusia ingin menggapai suatu hakikat dan berupaya mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. Manusia sangat memahami dan menyadari bahwa:

1.      Hakikat itu ada dan nyata;

2.      Kita bisa mengajukan pertanyaan tentang hakikat itu;

3.      Hakikat itu bisa dicapai, diketahui, dan dipahami;

4.      Manusia bisa memiliki ilmu, pengetahuan, dan makrifat atas hakikat itu. Akal dan pikiran manusia bisa menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya, dan jalan menuju ilmu dan pengetahuan tidak tertutup bagi manusia.  



Apabila manusia melontarkan suatu pertanyaan yang baru, misalnya bagaimana kita bisa memahami dan meyakini bahwa hakikat itu benar-benar ada? Mungkin hakikat itu memang tiada dan semuanya hanyalah bersumber dari khayalan kita belaka? Kalau pun hakikat itu ada, lantas bagaimana kita bisa meyakini bahwa apa yang kita ketahui tentang hakikat itu bersesuaian dengan hakikat eksternal itu sebagaimana adanya? Apakah kita yakin bisa menggapai hakikat dan realitas eksternal itu? Sangat mungkin pikiran kita tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencapai hakikat sebagaimana adanya, keraguan ini akan menguat khususnya apabila kita mengamati kesalahan-kesalahan yang terjadi pada indra lahir dan kontradiksi-kontradiksi yang ada di antara para pemikir di sepanjang sejarah manusia?Persoalan-persoalan terakhir ini berbeda dengan persoalan-persoalan sebelumnya, yakni persoalan-persoalan sebelumnya berpijak pada suatu asumsi bahwa hakikat itu ada, akan tetapi pada persoalan-persoalan terakhir ini, keberadaan hakikat itu justru masih menjadi masalah yang diperdebatkan. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini. Seseorang sedang melihat suatu pemandangan yang jauh dengan teropong dan melihat berbagai benda dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda, lantas iameneliti benda-benda tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentangnya. Dengan perantara teropong itu sendiri, ia berupaya menjawab dan menjelaskan tentang realitas benda-benda yang dilihatnya. Namun, apabila seseorang bertanya kepadanya: Dari mana Anda yakin bahwa teropong ini memiliki ketepatan dalam menampilkan warna, bentuk, dan ukuran benda-benda tersebut? Mungkin benda-benda yang ditampakkan oleh teropong itu memiliki ukuran besar atau kecil?. Keraguan-keraguan ini akan semakin kuat dengan adanya kemungkinan kesalahan penampakan oleh teropong. Pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan keabsahan dan kebenaran yang dihasilkan oleh teropong. Dengan ungkapan lain, tidak ditanyakan tentang keberadaan realitas eksternal, akan tetapi, yang dipersoalkan adalah keabsahan teropong itu sendiri sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang jauh.

Keraguan-keraguan tentang hakikat pikiran, persepsi-persepsi pikiran, nilai dan keabsahan pikiran, kualitas pencerapan pikiran terhdap objek dan realitas eksternal, tolok ukur kebenaran hasil pikiran, dan sejauh mana kemampuan akal-pikiran dan indra mencapai hakikat dan mencerap objek eksternal, masih merupakan persoalan-persoalan aktual dan kekinian bagi manusia. Terkadang kita mempersoalkan ilmu dan makrifat tentang benda-benda hakiki dan kenyataan eksternal, dan terkadang kita membahas tentang ilmu dan makrifat yang diperoleh oleh akal-pikiran dan indra. Semua persoalan ini dibahas dalam bidang ilmu epistemologi.

 Dengan demikian, definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan, dasar dan pondasi, alat, tolok ukur, keabsahan, validitas, dan kebenaran ilmu, makrifat, dan pengetahuan manusia.[3]

2. Pokok Bahasan Epistemologi

        Dengan memperhatikan definisi epistemologi, bisa dikatakan bahwa tema dan pokok pengkajian epistemologi ialah ilmu, makrifat dan pengetahuan. Dalam hal ini, dua poin penting akan dijelaskan:

1.      Cakupan pokok bahasan, yakni apakah subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushûlî[4]. Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukkan batasan dari ilmu itu. Istilah-istilah ilmu tersebut adalah sebagai berikut:

a.       Makna leksikal ilmu adalah sama dengan pengideraan secara umum dan mencakup segala hal yang hakiki, sains, teknologi, keterampilan, kemahiran, dan juga meliputi ilmu-ilmu seperti hudhûrî[5], hushûlî, ilmu Tuhan, ilmu para malaikat, dan ilmu manusia.

b.      Ilmu adalah kehadiran (hudhûrî) dan segala bentuk penyingkapan. Istilah ini digunakan dalam filsafat Islam. Makna ini mencakup ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî.

c.       Ilmu yang hanya dimaknakan sebagai ilmu hushûlî dimana berhubungan dengan ilmu logika (mantik).

d.      Ilmu adalah pembenaran (at-tashdiq) dan hukum yang meliputi kebenaran yang diyakini dan belum diyakini.

e.       Ilmu adalah pembenaran yang diyakini.

f.       Ilmu ialah kebenaran dan keyakinan yang bersesuaian dengan kenyataan dan realitas eksternal.

g.      Ilmu adalah keyakinan benar yang bisa dibuktikan.

h.      Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang saling bersesuaian dimana tidak berhubungan dengan masalah-masalah sejarah dan geografi.

i.        Ilmu ialah gabungan proposisi-proposisi universal yang hakiki dimana tidak termasuk hal-hal yang linguistik.

j.        Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang bersifat empirik.

2.      Sudut pembahasan, yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat, maka dari sudut mana subyek ini dibahas, karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi, logika, dan psikologi. Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu. Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. Sisi ini menjadi salah satu pembahasan dibidang ontologi dan filsafat. Sisi pengungkapan dan kesesuian ilmu dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. Sementara aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu sebelumnya dan faktor riil yang menjadi penyebab hadirnya pengindraan adalah dibahas dalam ilmu logika. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap tingkatan dan pencapaian suatu ilmu. Sudut pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaan-perbedaan ilmu.

Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas pengetahuan, pembagian dan observasi ilmu, dan batasan-batasan pengetahuan[8]. Dan dari sisi ini, ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî juga akan menjadi pokok-pokok pembahasannya. Dengan demikian, ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan dan pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi.



3. Metode Epistemologi

Dengan memperhatikan definisi dan pengertian epistemologi, maka menjadi jelaslah bahwa metode ilmu ini adalah menggunakan akal dan rasio, karena untuk menjelaskan pokok-pokok bahasannya memerlukan analisa akal. Yang dimaksud metode akal di sini adalah meliputi seluruh analisa rasional dalam koridor ilmu-ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî. Dan dari dimensi lain, untuk menguraikan sumber kajian epistemologi dan perubahan yang terjadi di sepanjang sejarah juga menggunakan metode analisa sejarah.

b. Hubungan epistemologi dengan Filsafat. Pengertian umum filsafat adalah pengenalan terhadap eksistensi (ontologi), realitas eksternal, dan hakikat keberadaan. Sementara filsafat dalam pengertian khusus (metafisika) adalah membahas kaidah-kaidah umum tentang eksistensi[9]. Dalam dua pengertian tersebut, telah diasumsikan mengenai kemampuan, kodrat, dan validitas akal dalam memahami hakikat dan realitas eksternal. Jadi, epistemologi dan ilmu logika merupakan mukadimah bagi filsafat.


2. LOGIKA

Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat.Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur[1].Ilmu di sini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.

Ada cabang filsafat lain yang menaruh perhatian pada bahasa. Cabang itu sering disebut logika.Logika ialah studi tentang inference (kesimpulan-kesimpulan).Logika berusaha menciptakan suatu kriteria guna memisahkan inferensi yang sahih dari yang tidak sahih.Karena penalaran itu terjadi dengan bahasa, maka analisis inferensi itu tergantung kepada analisis statement-statement yang berbentuk premis dan konklusi.Studi tentang logika membukakan kenyataan bahwa sahih dan tidaknya informasi itu tergantung kepada wujud statement yang mengandung premis dan konklusi. Adapun yang dimaksud dengan wujud ialah jenis istilah yang terkandung di dalam statement dan juga cara bagaimana istilah itu disusun menjadi statement.

Logika sebagai ilmu pengetahuan

Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan di mana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya.

Logika sebagai cabang filsafat

Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis.Praktis di sini berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya.Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak.Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika.logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup mencari kebenaran

Dasar-dasar Logika

Konsep bentuk logis adalah inti dari logika.Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya.Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis).Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika formal.

Dasar penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif.Penalaran deduktif—kadang disebut logika deduktif—adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif.Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah.Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.Contoh argumen deduktif:

  1. Setiap mamalia punya sebuah jantung
  2. Semua kuda adalah mamalia
  3. ∴ Setiap kuda punya sebuah jantung


Penalaran induktif—kadang disebut logika induktif—adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.

Contoh argumen induktif:

  1. Kuda Sumba punya sebuah jantung
  2. Kuda Australia punya sebuah jantung
  3. Kuda Amerika punya sebuah jantung
  4. Kuda Inggris punya sebuah jantung
  5. ...
  6. ∴ Setiap kuda punya sebuah jantung

Tabel di bawah ini menunjukkan beberapa ciri utama yang membedakan penalaran induktif dan deduktif.

Deduktif

Induktif

Jika semua premis benar maka kesimpulan pasti benar

Jika premis benar, kesimpulan mungkin benar, tapi tak pasti benar.

Semua informasi atau fakta pada kesimpulan sudah ada, sekurangnya secara implisit, dalam premis.

Kesimpulan memuat informasi yang tak ada, bahkan secara implisit, dalam premis.


Logika sebagai matematika murni

Logika masuk ke dalam kategori matematika murni karena matematika adalah logika yang tersistematisasi.Matematika adalah pendekatan logika kepada metode ilmu ukur yang menggunakan tanda-tanda atau simbol-simbol matematik (logika simbolik). Logika tersistematisasi dikenalkan oleh dua orang dokter medis, Galenus (130-201 M) dan Sextus Empiricus (sekitar 200 M) yang mengembangkan logika dengan menerapkan metode geometri.Puncak logika simbolik terjadi pada tahun 1910-1913 dengan terbitnya Principia Mathematica tiga jilid yang merupakan karya bersama Alfred North Whitehead (1861 - 1914) dan Bertrand Arthur William Russel (1872 - 1970).

Kegunaan logika

  1. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
  2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
  3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
  4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis
  5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpkir, kekeliruan, serta kesesatan.
  6. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
  7. Terhindar dari klenik , gugon-tuhon ( bahasa Jawa )
  8. Apabila sudah mampu berpikir rasional,kritis ,lurus,metodis dan analitis sebagaimana tersebut pada butir pertama maka akan meningkatkan citra diri seseorang.


Macam-macam logika

Logika alamiah

Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif.Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir.Logika ini bisa dipelajari dengan memberi contoh penerapan dalam kehidupan nyata.

Logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran, serta akal budi.Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran.Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih aman.Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.
 

E.     KRITIK ILMU-ILMU
Pada awalnya, perbedaan filsafat dan ilmu pengetahuan sangatlah kecil. Pada zaman Yunani kuno hanya dibedakan empat ilmu, yaitu logika, ilmu pasti, ilmu pesawat dan kedokteran. Bahkan, kedokteran dan logika lebih dipandang sebagai seni atau keahlian. Mulai zaman renaisans (sekitar 1800 dan sesudahnya) menghasilkan ilmu-ilmu yang kebanyakan sekarang. Seperti sosiologi, psikologi dan psikoanalisis yang masih muda. Dan ada yang lebih muda lagi seperti ilmu ekologi (ilmu keseimbangan lingkungan hidup).

Ilmu dibagi menjadi tiga kelompok :

1.     Ilmu-ilmu formal             :Matematika, logika, dll

2.     Ilmu-ilmu empiris formal :Ilmu alam, ilmu hayati, dll

3.     Ilmu-ilmu hermeneutis    :Sejarah, ekonomi, dll

Beberapa orang mengatakan bahwa ilmu hermeneutis tidak ilmiah karena disini tidak dicapai kepastian. Misalkan sejarah, disini tidak diterangkan sesuatu melainkan hanya dimengerti sesuatu, hanya diberikan fakta-fakta dan tidak pernah dicapai suatu kepastian bahwa fakta ini benar. Orang lain mengatakan bahwa ilmu-ilmu empiris formal memang selalu bersifat hipotesis sehingga antara ilmu-ilmu empiris formal dan ilmu-ilmu hermeneutis tidak begitu penting. Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang termasuk kritik ilmu-ilmu. Teori-teori tentang pembagian ilmu-ilmu,tentang metode ilmu-ilmu, tentang dasar kepastian dan tentang jenis-jenis keterangan yang diberikan, tidak lagi termasuk bidang ilmu

Fenomenologi pengetahuan dan ilmu pegetahuan

Terbentuknya pengetahuan manusia adalah adanya subjek dan objek. Keduanya merupakan suatu kesatuan asasi bagi terwujudnya pengetahuan. Dalam sejarah filsafat pengetahuan dan ilmu pengetahuan terjadi perdebatan tentang mana yang lebih pokok dan yang lebih dulu. Subjek manusia dengan akal budinya, ataukah objek kenyataan yang diamati dan dialami di alam semesta ini. Muncul persoalan pengetahuan, apakah pengetahuan manusia berasal dari akal budi manusia atau pengalaman manusia akan realitas objektif di alam semesta ini, bersifat psikologis-subjektif atau objektif-universal, berkaitan dengan struktur kesadaran subjektif atau kenyataan real yang melekat pada objek dan lepas dari kesadaran subjektif tiap orang. Supaya terjadi pengetahuan subjek harus terarah kepada objek, dan sebaliknya objek harus terbuka dan terarah pada subjek.
Pengetahuan adalah peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Manusia sebagai subjek pengetahuan memegang peranan penting. Keterarahan manusia terhadap objek merupakan factor yang sangat menentukan bagi munculnya pengetahuan manusia. Pada awalnya melalui unsur jasmaniah, manusia memperoleh pengetahuan yang bersifat temporal, kongkret, jasmani-inderawi. Selanjutnya dengan bantuan akal budinya, pengetahuan tersebut dapat ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu abstrak dan universal. Pengetahuan yang bersifat abstrak umum dan universal tersebut melalui bahasa dapat dikomunikasikan secara universal, dibakukan, dan diwariskan kemudian direfleksikan kembali (dipelajari, dipersoalkan, didalami, diubah, dikembangkan dan ditemukan) menjadi pengetahuan baru atau lebih sempurna. Jadi ilmu pengetahuan muncul karena apa yang sudah diketahui secara spontan dan langsung, disusun dan diatur secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu yang bersifat baku. Dalam ilmu pengetahun ada pakem, ada cara, ada pola tertentu yang baku dan selalu bisa diikuti



 2.        Filsafat Pengetahuan dan Filsafat Ilmu Pengetahuan

       Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya, termasuk manusia dan kehidupannya. Sedangkan Ilmu Pengetahauan adalah keseluruhan sistem pengetahuan manusia yang telah di bakukan secara sistematis. Ini berarti pengetahuan lebih spontan sifatnya, sedangkan Ilmu Pengetahuan lebih sistematis dan reflektif. Dengan demikian, pengetahuan mencakup segala sesuatu yang di ketahui manusia tanpa perlu berarti telah di bakukan secara sistematis. Pengetahuan mencakup penalaran, penjelasan dan pemahaman manusia tentang segala sesuatu. Juga, mencakup praktek atau kemampuan teknis dalam memecahkan berbagai persoalan hidup yang belum di bakukan secara sistematis dan metodis.

       Filsafat ilmu pengetahuan adalah cabang filsafat yang mempersoalkan dan mengkaji segala persoalan yang berkaitan dengan ilmu penegtahuan.

       Sebelum munculnya ilmu pengetahuan, manusia telah berupaya menjelaskan dan memahami berbagai peristiwa tersebut melalui apa yang dikenal sebagai mitos atau cerita dongeng. Melalui cerita-cerita dongeng, manusia berupaya menjelaskan secara masuk akal (reasonable) makna berbagai peristiwa dan keterkaitannya dengan peristiwa lainnya. Melalui mitos-mitos itu manusia lalu memahami pada tingkat yang sangat sederhana, misalnya, dari mana asal usul bumi ini, dari mana munculnya manusia, bagaimana terjadinya gempa, guntur, kilat, dan seterusnya. Dengan pemahaman yang sangat sederhana itu, mereka dapat menata kehidupannya secara lebih baik.

       Melalui ilmu pengetahuan, berbagai peristiwa alam semesta lalu di jelaskan secara lain dalam kerangka teori atau hukum ilmiah yang lebih masuk akal, dan klebih biasa dibuktikan dengan berbagai perangkat metodis yang berkembang kemudian sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.
 

F.     Fokus Filsafat Ilmu Pengetahuan
       Ilmu pengetahuan merupakan karya budi yang logis dan imajinatif. Tanpa imajinasi dan logika dari seorang kopernikus, suatu gagasan besar tentang heliosentrisme tidak akan muncul. Begiti juga halnya jika kita berbicara tentang ilmuan-ilmuan lain. Metode-metode ilmu pengetahuan adalah metode-metode yang logis karena ilmu pengetahuan mempraktekan logika. Namun selain logika temuan-temuan dalam ilmu pengetahuan dimungkinkan oleh akan budi manusia yang terbuka pada realitis. Keterbukaan budi manusia pada realitas itu kita sebut imajinasi. Maka logika dan imajinasi merupakan dua dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu pengetahuan.

       Tak pernah ada imajinasi tanpa logika dalam ilmu pengetahuan. Keduannya akan berjalan bersamaan. Namun pendekatan pertama tidaklah cukup. Ilmu pengetahuan telah berkembang sebagai bagian dari hidup kita sebagai manusia dalam masyarakat. Dengan alasan itu, filsafat ilmu pengetahuan pelu mengarahkan diri selain kepada pembicaraan tentang masalah metode ilmu pengetahuan juga harus berbicara tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan masyarakat. Implikasi sosial dan etis dari ilmu pengetahuan akan dibicarakan dalam konteks ini. Topik yang dibicarakan disini antara lain adalah hubungan antara ilmu pengetahuan dengan life-world, antara ilmu pengetahuan dan politik, bagaimana harus membangun ilmu pengetahuan dalam masyarakat.

 
G.    Manfaat Belajar Filsafat Ilmu Pengetahuan
       Dengan mempelajari filsafat pengetahuan dan ilmu pengetahuan, khususnya cara kerja ilmu pengetahuan. Seseorang akan memperoleh manfaat yang besar sekali bagi kerjanya kelak di kemudian hari sebagai polisi, ahli hukum, wartawan, teknisi, ataupun sebagai manajer karena pekerjaan-pekerjaan ini - dan semua pekerjaan lainnya – pada dasarnya berkaitan dengan upaya memecahkan masalah tertentu. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan dibutukan demi memecahkan berbagai persoalan yang berkaitan dengan perkejaan masing-masing orang secara lebih rasional, tuntas, dan memuaskan. Yang dibutuhkan dari seseorang yang profesional dalam bidang perkejaannya adalah, pertama-tama, kemampuan untuk melihat masalah: dimana masalahnya, seberapa besar masalahnya, apa dampaknya, dan bagaimana mengatasinya. Ini sangat dibutuhkan dalam bidang pekerjaannya. Sesungguhnya, inilah yang dipelajari dalam kaitan dengan filsafat ilmu pengetahuan. Yang terutama di pelajari dalam masing-masing ilmu adalah kemampuan teknis dalam masing-masing ilmu untuk memecahkan persoalan dari sudut ilmu masing-masing, sedangkan filsafat ilmu pengetahuan lebih melatih mahasiswa untuk mampu melihat masalah, mampu melihat sebabnya, apa akibatnya, dan apa solusinya.

          Ilmu pengetahuan tidak hanya bersifat puritan-elitis, melainkan juga pragmatis. Dalam pengertian, ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti sekedar memuaskan rasa ingin tahu manusia. Melainkan juga bermaksud membantu manusia untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi manusia dalam hidupnya. Salah satu persoalan aktual yang dihadapi kita dalam konteks Indonesia sekarang ini adalah problem modernisasi. Problem modernisasi adalah bagaimana memecahkan masalah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, maupun penyakit dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ternyata, ilmu pengetahuan dan teknologi, terlepas dari akibat negatifnya yang pernah dialami manusia, sekurang-kurangnya hingga sekarang membantu mengurangi penderitaan manusia dan meningkatkan kesejahteraannya, melalui apa yang kita kenal sebagai proses modernisasi.

pengetahuan sendiri, melainkan merupakan suatu cabang dari filsafat.






BAB III

KESIMPULAN
 

 

Filsafat merupakan segala pertanyaan baik yang bisa terjawab maupun yang belum atau tidak akan pernah terjawab. Pengetahuan adalah kesan di dalam fikiran manusia yang terjadi dari hasil penggunaan pancainderanya. Ilmu pengetahuan merupakan kumpulan dari pengetahuan yang tersusun secara sistematis, metodis dan universal. Sedangkan filsafat ilmu pengetahuan adalah pertanyaan-pertanyaan yang tersusun secara metodis, sistematis, dan koheran yang dapat melahirkan ilmu pengetahuan- ilmu pengetahuan baru yang lebih bermanfaat.

Dengan mempelajari filsafat pengetahuan dan ilmu pengetahuan, khususnya cara kerja ilmu pengetahuan. Seseorang akan memperoleh manfaat yang besar sekali bagi kerjanya kelak di kemudian hari sebagai polisi, ahli hukum, wartawan, teknisi, ataupun sebagai manajer karena pekerjaan-pekerjaan ini - dan semua pekerjaan lainnya – pada dasarnya berkaitan dengan upaya memecahkan masalah tertentu. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan dibutukan demi memecahkan berbagai persoalan yang berkaitan dengan perkejaan masing-masing orang secara lebih rasional, tuntas, dan memuaskan.

 
 

 

DAFTAR PUSTAKA


  • Keraf, A.Sony dan M. Dua. 2001. Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis. Kanisius: Yogyakarta
  • Hamersma, Harry. 2008. Pintu Masuk ke Dunia Filsafat. Kanisius: Yogyakarta
  • Rapar, Jan Hendrik. Pengantar Logika. Asas-asas penalaran sistematis.Kanisus: Yogyakarta
  • http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2109405-fenomenologi-pengetahuan-dan-ilmu-pengetahuan/#ixzz1Ys9XASev
  • http://www.anneahira.com/ilmu/filsafat-ilmu.htm
  • http://isyraq.wordpress.com/2007/08/28/epistemologi-teori-ilmu-pengetahuan

2 Komentar

OCconFnNHsKvi

pada : 22 July 2012


"untuk sekarang yang saya tau tiap mjugaenkan GUP, SPM yang diajukan hanya dilampiri SPTB saja, untuk SPJ ga perlu lagi, biasanya SPJ itu diperlukan untuk laporan LKKA yang diminta oleh KPPN, namun karna skarang KPPN *di kota saya, ga tau klo di tempat lain* tidak meminta lagi laporan tsb, jadinya SPJ tidak sampai lagi ke tangan KPPN, akan tetapi, terkadang msh ad instansi internalnya yang msh meminta laporan tsb, contohnya di instansi saya, BMKG, masih ada membuat Laporan LKKA per bulannya, yang mana per selain SPM, SPP,SPTB juga dilampiri fotokopi SPJ atau bukti pengeluarannya tersebut, demikian, smoga bisa membantu"


PCelezjECCQjJAwWJh

pada : 23 July 2012


"sbenere patokannya DIPA dan POK seatkr masing2, ad ga kegiatan it tercantum, ke UP maksudnya jumlah UP ya? misal UP nya 50jt, iya brarti minimal untuk bs GU jumlahnya 75% dari jumlah UP, misal 75% dari 50 jt = 37,5 jt untuk selanjutnya apakah hanya itu2 sj, jawabannya relatif, tergantung apakah dalam perencanaan sesuai DIPA dan POK kegiatan2 it memang rutin ad setiap bulan, namun biasanya sperti ATK contohnya, tiap bulan slalu ad, tp balik lg ke Pemegang kebijakan, apakah mw dicairin anggaran kegiatan tsb tiap bulan atau 2 bulan sekali.. CMIIW :)"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :