MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

Kisah Si Anak Cerdas Dibalik Jeruji Besi

diposting oleh alhada-fisip11 pada 26 July 2016
di Esay - 0 komentar

Walau sudah berkali-kali mendampingi anak yang bermasalah dengan hukum (ABH), karena saya bekerja sebagai pelaksana Program Kesejahteraan Sosial Anak dibawah naungan Kementerian Sosial Republik Indonesia dan ditempatkan di salah satu Dinas Sosial di Jawa Timur, baru kali ini saya menemukan kisah seorang anak di salah satu LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak) di Jawa Timur yang amat sangat menyentuh hati saya.

 

Pagi itu, saya bersama rekan-rekan saya mengadakan kunjungan ke salah satu LPKA di Jawa Timur untuk melihat kondisi anak-anak yang tinggal di LPKA tersebut. Setibanya di sana, kami menemui penjaga LPKA (sebut saja sipir) untuk meminta ijin melihat langsung kondisi anak dan berinteraksi langsung dengan mereka.

 

Akhirnya setelah mendapat ijin dari kepala LPKA, salah satu sipir yang ditugaskan mengantarkan kami masuk ke dalam LPKA dan menemani kami melihat kondisi anak-anak yang tinggal di sana. Sesampainya di salah satu kamar anak laki-laki berusia 8 tahun dengan inisial AR. Sang sipir dengan muka sedikit kesal mengatakan bahwa anak yang memiliki tinggi sepinggang orang dewasa tersebut seringkali membuat repot petugas LPKA. Dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu dan muka polos, anak tersebut menatap kami yang sedang berjalan di depan kamarny. Anak tersebut menatap kami dengan mata teduh dan dengan gerak-gerik yang sopan menggemaskan. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan melakukan indepth interview dengan anak ini untuk melengkapi salah satu berkas laporan kunjungan kami yang harus dibuat.

Sebelumnya saya meminta kepada sang sipir untuk mengambilkan berkas kasus anak yang berinisial AR ini. Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Setelah saya membaca berkas kasus itu, saya merasa semakin tertarik dan semakin penasaran untuk menggali lebih dalam informasi yang ada pada anak ini. Akhirnya saya melakukan wawancara mendalam dengan anak bertubuh kecil mungil ini dan mendapatkan hasil sebagai berikut:

 

Sebelum masuk LPKA ternyata anak ini adalah seorang juara kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat anak-anak. Kemampuan berhitung yang dia miliki juga lumayan menonjol. Bahkan di sekolah yang ada di dalam LPKA pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Nah Lantas kenapa anak yang berperawakan cerdas ini bisa masuk ke LPKA?

Ternyata anak ini masuk LPKA karena telah melakukan pembunuhan berencana. Kasus ini terjadi ketika AR, belum genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah setempat, dihabisi oleh kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu tinggi.

 

Berita penyebab kematian sang ayah yang dibunuh oleh seorang preman tersebut ternyata sampai di telinga AR. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan, AR mendatangi tempat mangkal preman pembunuh ayahnya tersebut. Bermodalkan pisau dapur anak pemberani ini menantang orang yang membunuh ayahnya.

 

"Siapa yang bunuh ayah saya!" Teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.

 

"Gue terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa oleh anak buah preman di belakangnya.

 

Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke perut si preman, dan pisau tersebut tepat mengenai ulu hati sang preman pembunuh ayahnya tersebut. Tak lama setelah mengalami penusukan, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. AR pun langsung lari pulang ke rumah setelah melakukan penusukan. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi oleh aparat penegak hukum setempat.

 

Info lain yang saya dapat adalah, anak berperawakan cerdas ini ternyata sudah tiga kali melarikan diri dari LPKA dengan cara yang menurut saya tergolong ajaib.

 

Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari LPKA itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam AR menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah. Akhirnya anak yang ketika diwawancarai mengenakan baju biru itu berhasil keluar dari LPKA.

 

Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang senang membaca ini pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat ya waktu wawancara AR ini usianya masih 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung udara panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras. Kebetulan pula di LPKA ini, disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, AR selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok LPKA itu menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. Akhirnya dia berhasil keluar untuk yang kedua kalinya.


Pelarian ketiga dilakukan seperti film Mission Imposible. AR yang ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpan di dalam kamarnya. Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, AR memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala LPKA menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu penjaga pun yang berani memeriksa ruang ini. Ketika tengah malam AR menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Akhirnya AR berhasil keluar untuk yang ketiga kalinya.

 

Lantas kenapa AR selalu tertangkap dan masuk ke dalam LPKA lagi? Ternyata kepintaran AR masih berada di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelarian yang ia lakukan didorong dari hasrat rindu terhadap ibunya. Anak ini keluar dari LPKA hanya untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari LPKA ia menumpang-numpang mobil/truk terbuka dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan, yaitu pulang menemui ibunya!

 

Karena itu pula pada pelarian AR yang ketiga, kepala LPKA yang juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput AR. Hasilnya dua hari kemudian AR kembali lagi ke LPKA sambil membawa surat untuk kepala LPKA yang ditulisnya sendiri.

 

"Ibu kepala AR saya minta maaf, tapi AR kangen sama ibu AR." Tulisnya singkat.

 

Seorang anak cerdas yang harus terkurung di dalam penjara. Tapi, saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan. Bagaimanapun juga ia juga telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, kebijakan bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si AR) pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti ini, dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa dipupuk dan dikembangkan untuk hal-hal lain yang lebih berguna. Hanya saja si AR itu hanya anak pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib setempat. Itulah yang namanya keadilan di negeri ini!

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   ">