MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

PARAFILIA (PERILAKU SEKSUAL TIDAK NORMAL)

diposting oleh alhada-fisip11 pada 10 January 2015
di Esay - 0 komentar

Parafilia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan penyimpang seksual. Parafilia merupakan permasalahan menyangkut kontrol terhadap impuls, baik secara langsung dan intens terhadap fantasi seksual, mendesak, dan perilaku yang melibat objek, aktivitas dan situasi tertentu yang tidak lazim. Objek, aktivitas dan situasi merupakan suatu kebutuhan bagi individu sebagai pemenuhan kebutuhan seksualnya.

 

Penyimpangan seksual berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM);

…dorongan seksual secara berulang-ulang, dorongan seks yang mendesak, atau perilaku yang melibatkan; 1) objek bukan manusia, 2) menimbulkan penderitaan dan nyeri pada seseorang atau pasangannya, atau 3) anak-anak atau orang-orang yang tidak menginginkannya. Gangguan ini setidaknya lebih atau sekurang-kurang 6 bulan.

 

Parafilia merupakan penyimpang seksual, dimana individu melakukan aktivitas seksual yang tidak biasa dilakukan oleh orang-orang pada umumnya, melanggar batas norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.

 

Parafilia berasal dari bahasa Yunani, para yang berarti “lebih” dan philia berarti “teman”, atau “bersenang-senang”. Parafilia merupakan gangguan mental merujuk pada dorongan seksual, atau respon seksual terhadap objek atau situasi yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.

 

Istilah parafilia pertama sekali disebutkan oleh seorang psikoterapis bernama Wilhelm Stekel dalam bukunya yang berjudul Sexual Aberrations pada tahun 1925. Pemakaian istilah itu tidak begitu menyebar hingga tahun 1950an dan ketika DSM (1980an) menggunakan istilah tersebut barulah istilah tersebut menjadi sering digunakan dibeberapa media.

 

Jenis parafilia
302 .4 Eksibisionisme
302 .81 Fetishisme
302 .89 Frotteurism
302 .2 Pedofillia
302 .83 Masokisme seksual
302 .84 Sadisme seksualisme
302 .3 Fetishisme transvestik
302 .82 Veyourisme
302 .9 Parafilia YTT

 

  1. Eksibisionisme: Pelaku  ekshibisionisme  akan  memperoleh  kepuasan  seksualnya  dengan  memperlihatkan alat kelamin  mereka kepada orang  lain  yang sesuai  dengan  kehendaknya.  Bila  korban  terkejut,  jijik  dan  menjerit  ketakutan,  ia  akan  semakin  terangsang.  Kondisi  seperti  ini  sebagian besar pelakunya adalah pria, modusnya dengan memperlihatkan alat kelaminnya yang bisa dilanjutkan  dengan  masturbasi  hingga  ejakulasi.  Bisa juga pelaku  tanpa  rasa  malu  menunjukkan  alat kelaminnya kepada orang  lain sekedar untuk  menunjukkannya dengan  rasa bangga.
  2. Fetishism: merupakan ekspresi seksual seseorang di mana subyek sangat memuja atau menyukai sesuatu hal yang di luar normal dari lawan jenisnya. Benda tersebut bisa berupa benda mati yang dimiliki lawan jenis yang disukainya atau bagian tubuh dari lawan jenisnya. Contohnya, celana dalam lawan jenisnya yang digunakan untuk masturbasi atau menyukai bagian kaki dari lawan jenis. Individu ini mampu ereksi dan bahkan ejakulasi walau tidak disentuh sedikitpun selama benda yang menjadi arousal (pemicu hasrat) muncul di hadapannya.
  3. Froteurisme: suatu bentuk parafilia di mana seorang individu laki-laki  mendapatkan  kepuasan  seksual  dengan  cara  menggesekkan  atau menggosokkan alat kelaminnya ke tubuh perempuan di tempat publik  atau umum.
  4. Pedophilia: merupakan orang yang senang berhubungan dengan anak-anak di mana anak tersebut masih belum mencapai masa puber dan perbedaan umur anak minimal 5 tahun dengan pelaku.
  5. Sadism & Masochism: merupakan ekspresi seksual yang bisa dikatakan saling melengkapi. Individu yang cenderung ekspresi seksualnya untuk mendapatkan arousal dengan cara menyakiti pasangannya ataupun menyiksa pasangannya selama hubungan intim, dapat dikatakan ia merupakan seorang sadistic. Sedangkan, individu yang mendapat arousal dari perasaan disiksa atau disakiti oleh pasangannya merupakan seorang masochist.
  6. Voyeurisme: istilah  voyeurisme  disebut  juga  scoptophilia  berasal  dari  bahasa  Prancis  yakni  vayeur  yang  artinya  mengintip.  Pengidap  kelainan  ini  akan  memperoleh  kepuasan  seksual  dengan  cara  mengintip  atau  melihat  orang  lain  yang  sedang  telanjang,  mandi  atau  bahkan  berhubungan  seksual.  Setelah  melakukan  kegiatan  mengintipnya,  penderita tidak melakukan tindakan lebih lanjut terhadap korban yang  diintip. Pelaku hanya mengintip atau melihat, tidak lebih. Ejakuasinya  dilakukan  dengan  cara  bermasturbasi  setelah  atau  selama  mengintip  atau  melihat  korbannya.  Dengan  kata  lain,  kegiatan  mengintip  atau  melihat  tadi  merupakan  rangsangan  seksual  bagi  penderita  untuk memperoleh kepuasan seksual, atau seringkali, cukup dengan mengintip saja dia sudah puas secara seksual.
  7. Incest: hubungan  seks  yang dilakukan dengan  sesama  anggota  keluarga  sendiri  non  suami istri, seperti antara ayah dan anak perempuan, ibu dengan anak laki-laki,  saudara  laki-laki  dengan  saudara  perempuan  sekandung, kategori incest sendiri sebenarnya cukup luas, di beberapa kebudayaan tertentu  hubungan  seksual  yang  dilakukan  antara  paman  dan keponakan atau sepupu atau bahkan galur seketurunan (family) dapat dikategorikan sebagai perbuatan incest.
  8. Nekrofilia: Bentuk  parafilia  dimana  individu  pelaku nekrofilia  memiki orientasi kepuasan seksual  melalui kontak  fisik  yang  bersifat merangsang atau hubungan seksual dengan pasangan yang dipilih adalah jenasah atau orang yang telah meninggal. Bisa dengan menggali kuburan, membunuh terlebih dahulu, atau dibuat tidak berdaya dengan obat atau bahan yang bisa membuat pingsan atau meninggal saat itu juga.
  9. Zoofilia  adalah  salah  satu  bentuk  parafilia  dimana  terdapat  orang  atau  individu  yang  terangsang  melihat  hewan dan selanjutnya melakukan hubungan seks dengan hewan.
  10. Perilaku seksual kompulsif: adalah pengulangan tindakan erotik tanpa kenikmatan. Kompulsi seksual ini bisa berupa telepon seks yang tanpa akhir, one-night stand (affair singkat), atau masturbasi beberapa kali dalam sehari, penderitanya seringkali mengaku merasa “tidak terkendali” sebelum aktivitas dan merasa bersalah atau malu setelahnya. Apapun kepuasan seksual yang didapatnya, tindakan tersebut adalah dangkal dan hambar.

 

Inilah salah satu ekspresi seksual yang mungkin menjadi kontroversial di kalangan masyarakat. Karena ekspresi seksual yang ditunjukkan masih sangatlah sedikit dan bisa dikatakan aneh bagi sebagian orang. Namun terlepas dari itu semua, selama ekspresi seksual yang dilakukan tidak mengganggu diri sendiri dan orang lain, mungkin saja hal tersebut tidak akan menjadi suatu permasalahan yang besar.

 

Sebagian besar parafilia mengidap pada pria lebih banyak dibandingkan wanita (20:1).Parafilia erat kaitannya dengan perilaku agresivitas, perilaku pendiam dan kejahatan. Beberapa jenis paraphila seperti pedophilia, eksibisionisme, veyourisme, sadisme dan frotteurism digolongkan sebagai kejahatan seksual (kriminalitas).

 

Gejala Umum

Perilaku-perilaku tersebut (berdasarkan kriteria DSM diatas) dapat berupa;

  1. Objek bukan manusia seperti sepatu, baju dalam, bahan kulit atau karet, binatang, parfum (aroma tertentu), air, cat dan sebagainya.
  2. Menimbulkan penderitaan seperti perilaku mencekik, memukul, menyiksa, tetesan lilin dan sebagainya. Perilaku tersebut bertujuan menyakiti pasangannya sehingga individu mendapatkan kepuasan.
  3. Anak-anak atau orang yang tidak menginginkan seperti anak-anak kecil, orang yang tidak berdaya atau orang yang tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diintip dan sebagainya.
  4. Aktivitas dan situasi seperti; bertingkah atau berperilaku menyerupai profesi tertentu, memakai kostum seragam tertentu

 

Beberapa jenis parafilia dikategorikan sebagai kejahatan seksual. Beberapa agama (terutama Islam) seks sangat dilarang, secara umumnya orang berpendapat parafilia juga merupakan dosa.

 

Seiringan perkembangan psikologi, parafilia menjadi etiologi penting yang masih terus dipelajari dampak-dampak parafilia yang mempengaruhi fungsi pribadi individu terhadap fungsi dan situasi sosial. Beberapa jenis parafilia juga kadang menjadi kontroversi dan perdebatan dalam suatu komunitas tertentu atau masyarakat. Perbedaan pendapat berupa sebagai bentuk penyimpangan seksual atau variasi seksual, atau menjadi hak-hak privasi individu dalam penyaluran seksual. Contoh; perilaku homoseksual dan masturbasi.

 

Pada awalnya perilaku homoseksual tertera sebagai bagian dari parafilia dalam DSM I dan II, namun pada DSM III dan IV homoseksual sudah tidak ada dalam terdaftar dan sudah tidak dianggap lagi sebagai bentuk penyimpangan seksual.

 

Masturbasi merupakan hal yang paling sering menjadi pembicaraan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pria dan wanita pernah melakukan masturbasi. Secara psikologis masturbasi memberi pengaruhi yang tidak baik terhadap beberapa orang, masturbasi memberi pengaruh adiktif yang berakibatkan pada gangguan seperti kesulitan berkonsentrasi, kompulsi, dan perasaan bersalah (dosa).

 

Hanya sembilan kategori parafilia yang disebutkan oleh DSM yakni; eksibisionisme, fetishisme, frotteurism, pedofillia, masokisme seksual, sadisme seksualisme, fetishisme transvestik, veyourisme dan yang terakhir digolongkan parafilia yang tidak digolongkan, tidak terdefinisi, lainnya. Jenis-jenis parafilia lainnya kadang disebutkan oleh beberapa media dengan pengertian yang berbeda-beda, bahkan beberapa diantaranya sengaja diciptakan sebagai bentuk pengungkapan media yang positif.

 

Mengenai jumlah jenis parafilia yang ada masih dalam perdebatan para ahli, beberapa jenis parafilia diantaranya disebutkan dan disebarkan oleh pecandu pornografi yang menyebutkan tingkah-lakunya sebagai bentuk lain dari parafilia.

 

Faktor Penyebab

Faktor penyebab langsung terbentuknya penyimpangan seksual parafilia tidak diketahui secara pasti, beberapa dugaan kemunculan gangguan ini;

  1. Pengalaman pelecehan dan kekerasan seksual dimasa kanak-kanak
  2. Keterdekatan dengan situasi atau objek tertentu secara berulang kali dengan aktivitas seksual
  3. Hambatan perkembangan dan kesulitan dalam menjalin hubungan dengan beda jenis
  4. Kecanduan pornografi, beberapa tayangan nyeleneh (aneh) akan memberikan daya tarik seperti magnet yang dapat mempengaruhi psikologis ketergantungan
  5. Pengaruh dari pasangan seksual
  6. Pelampiasan stress yang tidak tepat sehingga menimbulkan kebiasaan dan pengulangan secara terus-menerus.
  7. Rasa ingin mencoba yang diakibat penyampaian informasi atau persepsi yang salah

 

Pemaparan seks yang prematur atau traumatik, dalam bentuk penyiksaan seksual (sexual abuse) pada masa anak-anak. Kira-kira 75 persen pria yang diterapi di National Institute for Study, Prevention, and Treatment Sexual Trauma, di Baltimore, adalah korban penyiksaan seksual pada masa anak-anaknya. Karena alasan yang belum dimengerti, seorang anak perempuan yang mengalami penyiksaan seksual lebih sering terinhibisi secara seksual, sedangkan anak laki-laki lebih sering mewujudkan perilaku parafilia.

 

Penekanan yang berlebihan terhadap keingintahuan alami tentang seks, karena alasan religius atau alasan lain. Anak laki-laki yang diajari bahwa seks adalah kotor dan menerima hukuman karena keingintahuannya terhadap seks mungkin menjadi pria dengan perilaku fetishisme.

 

Penderita sendiri rata-rata tidak merasa atau menganggap dirinya sakit atau mengidap kelainan seksual sampai mendapat perhatian dokter akibat perbuatan seksual itu menimbulkan konflik di sekitarnya.

 

Pendekatan pada penderita hendaknya dengan penuh pengertian, tidak dengan menghakimi atau mempersalahkan. Juga dicoba menyelami perasaan dan jiwa mereka karena seperti disebutkan tadi acap kali gangguan itu terbentuk dari keinginan dan pengalaman masa lalu.

 

Treatment

Langkah-langkah yang dapat ditempuh;

• Psikoterapi

Teknik yang dapat dipakai adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT), terapi dapat dilakukan secara individual dan terapi kelompok, latihan yang diberikan adalah meningkatkan ketrampilan sosial, latihan fisik, latihan konsentrasi, mengatasi depresi, dan treatmen hormon

 

• Medikasi

Pemberian obat antiandrogen yang bertujuan untuk menormalkan level hormon testeron. Obat-obat yang digunakan seperti medroxyprogesterone dan cyproterone. Bila individu juga disertai gangguan kecemasan dan depresi jenis SSRIs (selective serotonin reuptake inhibitors) menjadi obat pilihan dokter; fluoxetine atau fluvoxamine

 

Pencegahan Sendiri

• Stress reduction secara tepat. Tidak melakukan aktivitas seksual yang aneh-aneh sebagai pelampiasan stres. Lakukan hal-hal positif agar penyaluran stres tidak merusak perilaku dan kebiasaan lainnya, perilaku menyimpang dapat teradiktif bila penyaluran stres dengan aktivitas seksual setiap kali dilakukan bila stress menimpa.

 

• Perkuatkan iman, bagaimanapun iman merupakan benteng terbaik sebagai pencegahan penyimpangan perilaku.

 

• Self control. Mengontrol dorongan rasa ingin tahu, mencoba atau pengaruh teman dengan penuh kesadaran dan pengetahuan akan dampak-dampak buruk dari perilaku tersebut

 

• Tidak surfing atau melihat pornografi yang bebas bisa di dapat dari internet atau media lainnya.

 

• Membiasakan hidup sehat untuk mengurang stres, termasuk olahraga teratur, nutrisi yang seimbang dan pengalaman spiritual dan religius.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :