MUHAMMAD ALHADA FUADILLAH HABIB

Belajar dari Masyarakat

**_* *_* *_* *_* *_* *_**

Find Me on Facebook


    ..:: Selamat Datang di ALHADA'S WEBSITE ..::.. Semoga ALHADA'S WEBSITE Bermanfaat Bagi Semua Kalangan ..::.. Jangan Lupa Kalau Mau Mengambil Isi dari Website Ini Harap Mencantumkan Sumbernya ..::.. http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id ..::.. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ::..

INTEGRASI SOSIAL DAN MIGRASI

diposting oleh alhada-fisip11 pada 10 January 2015
di Esay - 0 komentar

Globalisasi ditandai dengan kemunculan banyaknya transnational corporations yang mendorong integrasi yang terakselarasi dan interdependensi ekonomi dunia. Kemunculan TNC tersebut menawarkan kecanggihan teknologi, fleksibilitas dan mobilitas yang menurut Van Hear (1998:251) menurunkan keamanan dalam hal ketersediaan pekerjaan. Hal ini terjadi karena ada pengalihan dari cara konvensional ke cara yang lebih modern yang dapat menggantikan peran manusia sebagai pekerja. Ancaman ini kemudian ditambah dengan kemunculan media global yang membentuk pola-pola konsumsi dan membuka wawasan dengan memberikan informasi dari bagian negara yang lain, terutama tentang kota-kota global seperti Hongkong, London, New York, Los Angeles, Singapura, Sydney, dan Toronto.


UNHCR mengidentifikasi bahwa setidaknya ada delapan kategori migran, yaitu (1) pengungsi, (2) orang-orang dalam kondisi yang mengharuskan pengungsian, (3) orang-orang yang harus pindah secara internal, (4) orang-orang yang terpaksa direlokasi, (5) repatrian, (6) orang-orang yang sebelumnya terdeportasi, (7) migran ilegal, serta (8) migran ekologi (Van Hear, 1998:233). Selain migrasi-migrasi yang tidak berdasarkan atas keinginan sendiri, globalisasi mendorong terjadinya migrasi dengan harapan untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Di beberapa negara, seperti Indonesia dan Filipina, sektor industri migrasi telah dikelola secara komersil dan profesional. Industri migrasi ini meliputi agen travel dan pengiriman, kosultan dan penasehat, ahli hukum, agen pernikahan dan adopsi, hingga penyelundup dan penyedia dokumen palsu (Hugo 1995; Lim 1987; Spaan 1994 dalam Van Hear 1998:257). Perpindahan penduduk dalam skala yang tinggi ini menghasilkan sebuah diaspora baru, walaupun sebetulnya jumlah migran yang keluar dari negaranya hanya mencapai 100 juta orang atau hanya sekitar 2% dari total populasi dunia. Migrasi tidak hanya menuntut pendatang (newcomers) untuk beradaptasi pada situasi yang baru, tetapi juga menuntut penduduk setempat untuk beradaptasi terhadap para pendatang.


Migrasi yang terjadi mungkin berujung pada terjadinya tiga hal, yaitu (1) membentuk komunitas transnasional, (2) meningkatkan diaspora yang sudah terbentuk, serta (3) kembalinya penduduk ke tempat asalnya (Van Hear, 1998:238-239). Komunitas transnasional terbentuk ketika masyarakat pendatang dapat berbaur dan melebur dengan penduduk asal. Jika suatu masyarakat hanya berpindah ke tempat lain (melakukan migrasi) tetapi tetap berkelompok dengan sesama etnisnya maka bukan masyarakat transnasional ataupun masyarakat kosmopolitan, tetapi perbesaran dari budaya parochial. Tidak semua migran serta-merta akan merasa nyaman tinggal di negara tujuan, terutama para migran yang harus melakukan migrasi atas alasan yang berada di luar kendali dan keinginannya, seperti akibat bencana, konflik, dan perang. Banyak di antara mereka yang karena menemui konflik baru di tempat tujuan, diskriminasi, insecurity, kesenjangan ekonomi, atau pemikiran sederhana bahwa kehidupan akan lebih baik ketika mereka berada di negara asal, memutuskan untuk kembali ke negara asalnya ketika ada kesempatan. Kembalinya orang-orang golongan ini pun tidak selalu menjamin bahwa kehidupannya akan langsung membaik karena hal ini sangat bergantung pada proses recovery dan resettlement mereka.


Van Hear (1998:246) mengatakan bahwa komunitas transnasional memungkinkan adanya kemunculan dual alliegance, terhadap negara asalnya dan negara tujuannya. Populasi transnasional cenderung dikenal sebagai golongan orang-orang yang sangat bersemangat, pengusaha-pegusaha yang enerjik, serta inovator budaya. Hal ini terjadi karena pada migran cenderung merasa bahwa mereka perlu mengapresiasi lingkungan yang telah mengakomodasi mereka ketika mereka jauh dari tempat asal mereka. Banyak di antara masyarakat transnasional yang bahkan mempercayai bahwa family as firm, bahwa tidak peduli apa posisi dan jenis kelaminnya, semua anggota keluarga harus bersama-sama berusaha untuk menjamin kesejahteraan keluarga. Hal ini jelas meningkatkan produktivitas sumber daya manusia. Selain itu, para migran cenderung untuk menyimpan aset kekayaan mereka dalam bentuk liquid karena mobilisasi mereka yang cukup tinggi. Success has never been so closely associated with mobility (Lasch 1995:5 dalam Van Hear 1998:254). Hal ini menunjukkan bahwa perpindahan penduduk yang tinggi berpengaruh positif pada perkembangan ekonomi.


Brain drain  diartikan sebagai aktivitas emigrasi para pekerja yang berbakat (Skeldon, 2005:4). Beberapa contoh disebutkan oleh Docquier dan Rapoport (2011:37-43), yaitu emigrasi dokter-dokter Afrika, pengiriman para ilmuwan dan peneliti dari Eropa ke Amerika Serakat, serta menyebarnya spesialis IT dari India di seluruh dunia. Van Hear tidak membahas tentang brain drain sama sekali, tetapi lebih fokus pada pembahasan pekerja dan buruh. Meskipun begitu, penulis percaya bahwa brain drain tengah benar-benar terjadi dalam era globalisasi ini. Terlepas dari apa faktor pendorong dan penariknya, serta alasan yang melatarbelakangi perpindahan mereka, ada satu alasan yang sangat jelas, bahwa interkonektivitas dan kemudahan akses yang diciptakan globalisasi memudahkan emigrasi ini terjadi.


Dengan terbukanya akses tersebut pula, setiap orang seharusnya dapat memiliki hak penuh untuk bermigrasi atau tetap tinggal di tempat asalnya, tetapi bukan karena mereka harus melakukan hal tersebut. Jika orang tersebut memutuskan untuk bermigrasi, maka ia akan berhadapan dengan masyarakat setempat yang belum tentu dapat menerima kedatangannya. Jika ia memutuskan untuk tetap tinggal, maka ada kemungkinan pula bahwa ia harus bersedia beradaptasi dengan masyarakat pendatang yang mungkin mendatangi daerahnya. Gesekan-gesekan inilah yang menjadi tantangan terbesar dalam migrasi dalam kaitannya dengan globalisasi, dan hal inilah yang membuat integrasi sosial antara masyarakat asal dan migran masih sulit terwujud (Jumlah Kata: 855).

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :